4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Mereka Datang*


__ADS_3

Badan lele remek, pegel semua plus mata lengket susah melek. Kwkwkw. Inilah resiko gak punya Bibi, semuanya dikerjain sendiri. Kayaknya hari ini lele up 1 eps dulu buat rehat ya. Mudahan kembali waras. Baiklah ... kemarin sampai mana ya?


------- back to Story :


Malam itu, orang-orang berkumpul di luar pondok membuat api unggun dan makan malam bersama dengan persediaan makanan seadanya.


Arjuna malu untuk keluar, ia memilih untuk tetap berada di dalam pondok dengan roti gandum dalam genggamannya.


Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.


"Hei, kenapa kau mengurung diri di sini? Keluarlah, bergabung bersama kami," ajak Samuel, tapi Arjuna tak menjawab dan kembali tertunduk. Samuel mendekatinya. "Kau bisa memberitahukan pada kami tentang rencanamu di Meksiko nanti. Ingat, kau adalah bosnya, kau pemimpin tim. Kau memiliki tanggungjawab besar dalam misi yang kau rencanakan. Keselamatan kami ada pada rencanamu itu, Sea. Ini menyangkut nyawa dan kau memiliki beban ketika kami pulang dalam kantong mayat," tegas Samuel.


"Kenapa bebanku malah menjadi banyak setelah melibatkan kalian?" keluh Arjuna.


"Apa kau mengetahui latar belakang kami sebelum melakukan perekrutan? Kau ceroboh, Sea. Kau hanya memikirkan memiliki banyak anak buah, tapi tak mencari tahu siapa orang-orang itu. Kau percaya saja pada mereka. Bagaimana jika salah satu dari kami ada yang berniat membunuhmu? Ibarat kau ditusuk dari belakang," terang Samuel.


Mata Arjuna melebar. "Ada yang berniat mengkhianatiku? Membelot padaku? Katakan siapa?!" tanyanya curiga.


Samuel menghela nafas panjang. "Jadi seperti ini, saat kau memutuskan sesuatu?" tanya Samuel yang diakhiri kekehan dan lama-kelamaan, tawanya semakin kencang. Arjuna bingung. "Hahaha, sempit dan dangkal sekali. Kau langsung termakan dengan ucapanku begitu saja. Cara berpikirmu perlu diubah, Sea. Pantas saja kau menjadi pria bodoh seperti ini. Kau kuat di luar, tapi kosong di dalam. Hah ... sebaiknya kau jangan jauh-jauh dariku. Kau butuh penanganan serius. Cara berpikirmu lebih mengkhawatirkan ketimbang orang yang ingin bunuh diri," ucapnya lagi masih terkekeh geli-entah apa yang ia rasakan. Arjuna diam.


"Aku akan tetap di sini. Aku lelah dan ingin tidur," ucapnya terlihat malu-malu dan sesekali melirik Samuel yang tersenyum lebar padanya.


"Oke, oke. Selamat malam, Tuan Andreas," ucap Samuel sembari berjalan mundur perlahan mendekati pintu dan akhirnya keluar.


Arjuna menghembuskan nafas dalam. Ia beranjak dari dudukan dan mendatangi sebuah meja yang memiliki banyak alat untuk memahat kayu. Arjuna duduk di sana dan mengambil sebatang kayu ukuran kecil.


Pemuda tampan itu mulai menyerut kulit kayu menjadi pipih seperti lempengan. Ia lalu membuat bentuk wajah yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan.


Arjuna melakukannya dengan hati-hati dan begitu fokus hingga ia tak menyadari, jika semua orang yang berada di luar telah tertidur lelap di dalam kantong tidur mereka.


"Cantik sekali, seperti namamu," ucap Arjuna saat meraba sebuah wajah seorang gadis yang memiliki poni rata dan berambut pendek. Arjuna menjadikan lempengan itu sebagai liontin kalung.


Arjuna melongok dari pintu yang terbuka sedikit dan mendapati semua orang sudah tertidur pulas di sekitar api unggun.


"Seperti di Camp Militer," ucapnya lirih. Arjuna kembali masuk dan membaringkan tubuhnya di sebuah kasur kecil sederhana dan kembali memandangi liontin kayu buatannya itu. "Aku akan menjemputmu nanti, Naomi. Lalu ... kita akan hidup bahagia bersama. Aku merindukan tawa dan senyummu," ucapnya terlihat sedih dan mencium wajah kayu itu dengan mata terpejam.


Keesokan harinya, di mana bulan sudah memasuki Februari.


Orang-orang yang tidur di sekitar api unggun terusik dan mulai membuka mata meski masih terlihat begitu lelah.


Jose terkejut dan langsung duduk ketika mendapati Arjuna memasak di api unggun dengan wajah datar, mengaduk-aduk isi dalam panci-entah apa isinya.


"Pantas, ada aroma lezat. Kau memasak?" tanya Jose dengan mata melebar.


"Yah, hanya dari beberapa yang kutemukan di sekitar sini. Makanlah dan bersiap," jawab Arjuna santai sembari mengambil beberapa mangkok yang terbuat dari kayu lalu menuangkan bubur ke dalamnya.


Orang-orang mulai bangun meski rambut mereka berantakan seperti di terjang badai dan wajah penuh cap dari alas tidur mereka yang tidak rata.


"Lihatlah wajah jelek kalian. Cuci muka dan kita sarapan bersama," ucap Arjuna tersenyum geli sembari menyusun mangkok untuk anggota timnya.


Jose dan lainnya segera bangun dan berjalan menuju ke wastafel. Samuel duduk dalam kantong tidur dan menatap Arjuna lekat dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Wah, ini enak sekali. Bubur apa ini?" tanya Jose yang makan dengan lahap dan menyelesaikannya duluan.


"Bubur dengan daging kelinci. Lumayan untuk menunda lapar sampai kita nanti keluar dari hutan dan menemukan kota," jawab Arjuna santai.


"Sea. Apa rencana kita?" tanya Samuel sembari menikmati buburnya dengan santai. Arjuna tersenyum.


Siang itu, Arjuna memerintahkan Max dan Tulio untuk membeli beberapa perlengkapan yang Arjuna sudah tuliskan dalam sebuah kertas. Bahan-bahan sederhana, tapi dibutuhkan dalam jumlah banyak.


Greco, Jose dan Miguel, diminta untuk membuat rangka sebuah kayu dari design buatan Arjuna. Tiga pria itu membuat sebanyak 15 buah. Sisanya, membantu Arjuna memotong kayu runcing yang dibuat kemarin, di mana ia hanya memerlukan bagian tajamnya saja.


"Ah, aku mulai paham. Yang dikerjakan oleh Jose dan lainnya. Apakah mereka sedang membuat sebuah senjata? Lalu kayu runcing ini, membuat perangkap?" tanya Samuel menebak setelah ia mengamati dan mendengarkan instruksi Arjuna kepada anak buahnya.


"Kau pintar, Samuel. Aku akan membuat beberapa bom dan senapan sederhana, tapi cukup mematikan. Beruntung, saat pelajaran Kimia aku tak bolos," jawab Arjuna dan Samuel mengangguk dengan senyum terkembang terlihat bangga.


Di sisi lain. Kediaman Andreas di Pulau Coxen Hole.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Tuan Andreas ada di Honduras bersama anak buahnya. Kami sudah mengatakan yang sejujurnya, Tuan," ucap seorang wanita berambut cokelat ketakutan karena moncong pistol di arahkan padanya.


"Bagaimana dengan foto ini? Kalian pernah melihatnya?" tanya Biawak Putih menyodorkan selembar foto dan mata orang-orang yang berhasil dilumpuhkan oleh dua BIAWAK tersebut, melotot seketika.


"Ya! Itu Tuan Andreas Balconi," jawab wanita yang memakai baju pelayan.


Kening Biawak Putih dan Hijau berkerut.


"Yang di foto ini Andreas Balconi? Kok Ijo bingung ya, Kang?" tanya Biawak Hijau mengedipkan mata.


"Siapa nama pria yang ada di fotoku ini?" tanya Biawak Putih menatap wajah orang-orang yang ketakutan di ruang tamu.


"Yakin? Bukan Kim Arjuna?" tanya Putih memperjelas.


"Ah, ya! Itu-itu!" jawab semua orang serempak sembari mengangguk cepat dan wajah berbinar.


"Woo, Junet kampret. Pantes kita cari sampe ke ujung Pulau gak ketemu. Lha wong dia nyamar. Uasu tenan kok bocah gemblung kui," ucap Biawak Hijau emosi.


"Yang penting, kita sekarang tahu kalau Junet masih hidup dan ada di Honduras," jawab Putih masih mengarahkan pistolnya ke kepala seorang pria yang menjadi sanderanya.


"Hei, kamu! Antar kami ke tempat si Junet berada. Eh, i mean. Mr. Andreas. Bring us to him," pinta Biawak Hijau dan seorang pria berkulit cokelat mengangguk menyanggupi.


Di hari yang sama, Biawak Putih dan Hijau yang datang ke Pulau mengendarai sebuah yacht pinjaman dari Martin, segera meninggalkan Pulau menuju ke San Pedro Sula tanpa memberitahukan kedatangan mereka.


Menjelang petang. Rumah pondok disibukkan oleh rencana Arjuna untuk mempersenjatai anggota timnya yang berjumlah 10 orang termasuk dirinya untuk merebut Pabrik Ganja dan Narkoba milik ibunya-Vesper.


Arjuna membuat sebuah bom dan senjata tembak dengan bahan sederhana seperti botol bekas ukuran 1 liter, paku, besi silinder bekas, karet, tali pengikat, kayu, selang plastik, lem, kaleng beer bekas, isolasi dan sejenisnya.


Orang-orang itu seperti ter*ris kelas teri yang ingin melakukan teror dengan bom buatan yang dikamuflasekan dalam bentuk kaleng beer sehingga tak dicurigai.


Senapan tembak itu pun berpeluru paku tajam dan juga kayu runcing. Sepintas, semua buatan mereka seperti mainan.


__ADS_1


"Oh, aku tak menyangka jika bisa membuat senjata dengan cara seperti ini. Aku merasa pintar seketika," ucap Jose semangat saat membuat sebuah ikat pinggang dengan banyak kantong untuk isi amunisi peluru paku dan peluru kayu.


"Hem. Masalahnya, jika mereka memakai baju tempur lapis, ini tak akan mempan. Oleh karena itu, incar wajah dan bagian tubuh yang tak berperisai. Aku tak tahu kemampuan menembak kalian, jadi sebaiknya setelah ini, kita tes," sahut Arjuna yang kini sibuk mengecet senjata kayu menjadi warna hitam, menutupi warna asli kayu tersebut.


Orang-orang terlihat begitu senang mengerjakan hal baru di hari menjelang petang tersebut.


Hingga tiba-tiba, mata Arjuna menyipit dan ia menoleh ke belakang. Semua orang yang duduk mengelilinginya menghentikan aktivitas seketika.


"Ada ap—"


"Sttt. Ada yang datang. Apa kalian mengundang teman?" tanya Arjuna berbisik dan semua orang menggeleng.


Arjuna dengan sigap mengambil senjata kayu buatannya dan segera mengisinya dengan amunisi peluru paku.


Para pria itu bersiaga meski mereka masih belum tahu cara mengoperasikan senapan itu. Arjuna beranjak dan memompa senjata dalam genggamannya sembari berjalan mengendap ke arah ia mencurigai sebuah pergerakan.


"Junet!"


SHOOT! JLEB!!


"AGH! SAKIT, GUOBLOK!" pekik Biawak Hijau saat pahanya tertancap paku.


"Oh, Om Ijo? Kok ada di sini?" tanya Arjuna melotot.


"Kita cari kamu. Ini malah ditembak gimana sih? Iki opo meneh? Paku?" jawab Biawak Hijau mendesis kesal sembari mencabut paku di pahanya. "Tar kalo Ijo kena Tetanus gimana?" tanyanya marah sembari menunjukkan sebuah paku yang terkena noda darahnya dalam genggaman. Arjuna meringis.


"Wah, kamu tetep ganteng, Junet. Apa kabar? Gak kangen sama kita?" tanya Biawak Putih mendekat dengan senyum terkembang.


Arjuna balas tersenyum dan menyambut pelukan Biawak Putih yang datang kepadanya. Namun seketika, CLEB! BRUKK!


"Sea!" teriak Samuel saat leher Arjuna ditusuk oleh sebuah jarum suntik dan pemuda itu roboh seketika, tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Miguel mengarahkan senapan paku ke tubuh Biawak Putih.


"Oh, kalian anak buah Arjuna yang baru ya? Keliatan lemah sih, tapi lumayanlah," jawabnya dengan bahasa Indonesia dan orang-orang itu bingung.


Samuel memberanikan diri mendekati dua BIAWAK dengan kedua tangan ia angkat ke atas. Biawak Hijau dan Putih mengarahkan pistol ke tubuhnya.


"Kalian siapa? Kalian menggunakan bahasa seperti yang Sea biasa ucapkan. Apakah kalian ada hubungannya dengan pria Asia ini?"


"Ya. Aku Biawak Putih dan dia, Biawak Hijau. Kami utusan dari Vesper, Ketua 13 Demon Heads, ibu Arjuna," jawab Putih tegas dan semua orang terkejut seketika.


"A-apakah kalian ingin membunuh kami?" tanya Max panik.


"Kami akan putuskan setelah mendengar pengakuan kalian. Ingat, jangan coba-coba berbohong. Kami punya alat detektor kebohongan. Semua alat buatan kalian dari zaman purbakala. Alat-alat itu tak akan membunuh kami. Jadi, tentukan nasib kalian dari informasi yang kalian berikan," tegas Biawak Putih dan orang-orang itu mengangguk gugup.


***


ILUSTRASI


SOURCE : YouTobe (M.W.A Gaming)

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋



__ADS_2