4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Surat Terakhir


__ADS_3

Ternyata, temuan Jonathan menyelamatkan para mafia. Pager yang dikabarkan adalah sebuah bom, banyak ditemukan di markas serta kediaman para anggota Dewan.


Tentu saja, hal itu memberikan perasaan lega di hati semua orang kecuali anak-anak Vesper yang tak mengetahui hal tersebut.


Kastil Hashirama. Kyoto, Jepang.


"Sekarang bagaimana, Tuan Han?" tanya Alex dari sambungan video call di mana orang kepercayaan Han tersebut kini menempati mansion-nya di Amerika.


"Sun belum memberikanku kabar. Entah apa yang terjadi dengan anak itu, tapi hal ini membuatku cemas," jawab Han yang duduk di kursi kayu dengan Kai berdiri di depannya.


"Kabar di televisi sepertinya membuat kejutan yang berdampak pada perusahaanmu, Pak Tua. Lihat, Arjuna masuk dalam berita. Kali ini, dia akan sangat sulit untuk lolos dari incaran media dan polisi. Sudah dua kali hal ini terjadi," ucap Kai seraya menunjukkan layar ponsel ketika artikel media masa di Hong Kong menyebut Kim Arjuna terlibat dalam dunia mafia karena penyerang kali ini bersenjata.


Han terlihat pusing seraya memijat kepalanya. Namun tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Praktis, Han dan Kai menoleh.


Mereka melihat Vesper muncul dengan wajah pucat meski tetap tersenyum. Han memutus panggilan video call Alex begitu saja dengan tergesa.


"Aku mendengar nama Arjuna disebut. Apakah ... dia akan kemari?" tanya Vesper lirih.


Han dan Kai diam dengan wajah tertunduk. Sepertinya, sang Ratu menyadari perubahan ekspresi itu.


"Ah, tidak ya? Pasti ... dia sedang sibuk karena sebentar lagi Tessa akan melahirkan," sambung Vesper dengan wajah sendu.


Han dan Kai langsung sigap mendatangi istri mereka yang tampak bersedih.


"Apakah Fara dan King D mengganggu tidurmu, Sayang?" tanya Han seraya memegang tangan kiri Vesper yang semakin mengurus.


"Tidak. Namun, mereka sepertinya kasihan dengan kondisiku. Aku tak tega melihat wajah mereka yang sedih ketika menyuapiku. Sudah kukatakan pada mereka jika aku baik-baik saja, tapi King D malah menangis. Aku .. tak tahu harus bagaimana menenangkan mereka," jawab Vesper dengan mata berkaca.


Han dan Kai saling melirik.


"Biar aku yang bicara pada mereka nanti," sahut Kai dan diangguki oleh Vesper.


Han memapah sang isteri menyusuri koridor. Kai dengan sigap segera pergi mencari Fara dan King D untuk memberikan penjelasan, meski kali ini kenyataan pahit harus mereka dengar.


"Kak Han," panggil Vesper lirih.


"Ya?" jawabnya seraya menatap sang isteri sendu.


"Maukah kau berjanji padaku?" tanya Vesper lirih.


"Tentu saja. Apa itu?" tanya Han menatap Vesper lekat yang kini langkah mereka terhenti di persimpangan.


"Saat aku tiada nanti, aku ingin ... setiap lima tahun sekali, diadakan pertemuan besar seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Adakan acara itu di rumahku secara bergantian. Aku tak suka dengan kondisi seperti sekarang di mana kita malah terpecah dan persaudaraan kita seakan memudar, Kak Han. Aku merasa bersalah kepada para pendahulu karena aku menghancurkan ikatan itu," ucap Vesper penuh harap menatap Han lekat.


"Tentu saja. Aku akan mengabulkannya. Aku akan membuat pertemuan itu," tegasnya.


"Tolong tuliskan, dan kirimkan ke semua orang agar mereka tahu," pinta Vesper, dan Han mengangguk.


Han lalu mengajak Vesper kembali ke kamarnya. Vesper berbaring di kasur dengan Han duduk di samping ranjang menggunakan meja lipat untuk menulis surat itu dengan tangannya sendiri.


Han terlihat bersungguh-sungguh saat melakukannya. Ia memberikan cap Vesper pada bagian bawah surat itu. Han menunjukkan hasil tulisannya pada sang isteri dan Vesper tersenyum lebar.


"Terima kasih," ucap Vesper dengan mata berlinang.


Han tak bisa menahan air matanya. Ia mendatangi sang isteri dan memeluknya erat. Air mata kesedihan itu jatuh di yukata sang isteri yang terbaring lemah.


"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Kita sudah berjanji untuk bersama selamanya. Aku tak bisa hidup dengan mengingat kenangan bersamamu. Lebih baik aku menemanimu di neraka dan kita tersiksa bersama, dari pada harus hidup di dunia dengan tawa kepalsuan," ucap Han mengutarakan perasaannya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anak dan cucu kita, Kak Han? Arjuna, Lysa, Jonathan dan Sandara, masih membutuhkan bimbinganmu sebagai seorang ayah. Jangan mengikutiku. Aku akan baik-baik saja. Aku di sana tak sendiri. Akan ada nyonya Rose, komandan Zeno dan lainnya. Bahkan, aku bisa bertemu dengan kedua orang tuamu nanti. Jangan khawatir, akan kukatakan jika kau telah menjadi lelaki hebat melebihi yang mereka harapkan," ucap Vesper sendu seraya mengelus kepala suaminya lembut.


"Tidak. Aku ingin mengenalkanmu pada ayah ibuku dengan aku ikut bersamamu, Sayang. Diam, jangan bicara lagi. Aku tak mau dengar," tegas Han makin memeluk Vesper erat.


Sang Ratu tersenyum seraya memejamkan mata dan terus mengelus kepala Han. Perlahan, Han melepaskan pelukannya saat ia menyadari jika sang isteri telah tertidur.


Fisik Vesper makin melemah. Ia mudah sekali tidur, tapi mudah terbangun. Ia sering kehausan dan merasa lapar, tapi semua asupan yang masuk ke tubuhnya tak membuat sang Ratu bugar.


Nutrisi-nutrisi itu, seperti habis digerogoti oleh penyakitnya dan hanya memperlambat kematiannya saja.


Han menatap Vesper dengan air mata sudah menggenangi wajahnya. Ia tak bisa menghentikan air mata sialan itu yang tak bisa berhenti.


Han memilih beranjak dengan sebuah kertas yang telah disetujui Vesper. Namun, langkah Han terhenti saat ia melihat banyak orang telah berdiri di balik pintu kamarnya dengan wajah tertunduk.


"Jadi ... itu permintaan Nona Lily?" tanya Buffalo melihat kertas dalam genggaman Han.


"Yes," jawab Han yang tak menyangka jika orang-orang itu mendengarnya.


"Akan kuperbanyak. Akan kulanjutkan menulis," sahut Buffalo dengan mata berlinang.


"Ya, tolong," jawab Han seraya memberikan kertas itu dan Buffalo segera mengambilnya.


Buffalo pergi dengan mengusap matanya yang meneteskan air mata kesedihan.


"Kita harus bertindak, Han. Nona Lily tak bisa bertahan lebih lama lagi," tegas Agent V terlihat marah, tapi matanya berkaca.


"Kalau begitu ... bantulah cari pager itu di rumah anak-anak Vesper tanpa mereka sadari. Lakukan secara diam-diam," pinta Han, tapi para Agent yang datang berkumpul itu tampak enggan melakukannya. Han menatap mereka tajam. "Demi Lily. Demi agent kesepuluh kalian. Ingat perjuangan Lily saat di Colombia. Ingat yang ia korbankan untuk kalian. Jika kalian sungguh ingin melihatnya bahagia saat ajal menjemput, biarkan dia merasa anak-anaknya aman tanpa gangguan Miles," tegas Han menatap kawan-kawan seperjuangannya dulu ketika di Camp Militer. Para agent itu memalingkan wajah terlihat kesal akan sesuatu. "Aku tahu kalian membenci Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara. Namun, mereka anak-anak Lily. Jadi, demi Lily, tolong, amankan rumah-rumah itu. Tolong," ucap Han memohon.


Agent V menepuk pundak Han dengan anggukan. "Tak perlu memohon. Akan kami lakukan. Tolong jaga nona Lily sampai kami kembali."


"Tentu saja. Terima kasih, Kawan-kawan," ucap Han dengan senyuman dan para agent itu mengangguk pelan.


Mereka mengajak Black Armys untuk menjaga rumah itu secara diam-diam agar tak diketahui oleh anak-anak Vesper.


Han mengembuskan napas panjang. Entah kenapa, ia merasa tertekan dan dadanya sesak tiap melihat kondisi sang isteri yang makin memburuk.


"Opa," panggil Fara datang mendekat dengan King D yang berjalan di sampingnya.


"Oh, hei. Kalian dari mana saja?" tanya Han berjongkok menyambut keduanya dengan senyuman di depan kamar Vesper. Kai muncul dengan senyuman di belakang dua anak Lysa tersebut.


"Oma tidur?" tanya Fara seraya mengintip di balik pintu yang masih terbuka.


"Hem," jawab Han dengan anggukan.


"Oma sakit?" tanya King D. Han melirik Kai dan suami termuda Vesper mengangguk.


"Ya. Oleh karena itu, jangan membuat oma sedih. Buat oma bahagia. Kalian tak boleh menangis saat di depannya. Kalian mengerti?" tegas Han dan diangguki dua anak manis itu. "Baguslah. Kembalilah bermain. Ajak anak-anak paman Tora ikut bermain bersama," pinta Han, dan diangguki lagi oleh dua anak itu.


King D berlari bersama Fara menyusuri koridor menuju ke halaman, di mana anak-anak dari Tora sedang berkumpul bersama ibu mereka. Han kembali berdiri lalu menoleh ke arah Vesper yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"Ayo, Han. Ada yang harus kita kerjakan," ajak Kai, dan Han mengangguk siap.


Han menutup pintu kamar Vesper dan meminta dua Black Armys Ninja menjaga ruangan sang Ratu. Dua pria berseragam hitam itu mengangguk siap dan berdiri tegap di samping pintu.


September Minggu Keempat.


Arjuna akhirnya berhasil lolos dari jeratan hukum meski rumahnya masih dalam pengawasan.

__ADS_1


Arjuna mengatakan ia ingin menemani sang isteri yang sebentar lagi akan melahirkan. Ia memasrahkan perusahaan pada asisten kepercayaannya Sun yang telah kembali usai mengamankan sang isteri di kediaman Andreas.


"Terima kasih, Sun. Maaf, jika aku merepotkanmu untuk kesekian kali," ucap Arjuna, dan Sun mengangguk pelan dengan senyuman. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi. Berikan kabar jika kondisi sudah dinyatakan aman untuk kami kembali."


"Tentu saja, Tuan Muda," jawab Sun sopan.


"Panggil saja, Arjuna. Kita ... teman bukan?" tanyanya seraya memberikan tangan untuk menjabat.


Praktis, mata Sun melebar. Ia seperti terkejut dengan sikap Arjuna yang tak pernah ia sangka.


"Saya ... sudah terbiasa memanggil Anda Tuan Muda. Maaf," jawab Sun dengan pandangan tertunduk dan masih ragu untuk menjabat tangan itu.


"Ah, begitu. Baiklah, terserah kau saja," jawab Arjuna lalu menarik tangannya lagi. Sun terlihat tak enak hati karena tak menerima jabat tangan itu.


Arjuna lalu pergi ditemani oleh Simon dan Tulio meninggalkan Hong Kong. Mereka terbang menuju ke Coxen Hole yang berada di Honduras.


Penerbangan yang menempuh perjalanan hingga 1 hari itu, membuat Arjuna lelah karena harus transit di berbagai negara. Namun, rasa letihnya terganti karena ia begitu merindukan sang isteri.


Kini, Arjuna mulai bisa menerima Tessa dalam hidupnya. Arjuna tersenyum saat teringat akan kenangan manis bersama Tessa yang begitu sabar menghadapi tabiatnya yang dianggap oleh sebagian orang egois, dingin, dan semena-mena.


Namun, Tessa selalu hadir untuk menyelamatkan wibawanya ketika ia hampir mengamuk dengan memberikan dalih kepada orang-orang tersebut.


Arjuna teringat saat Tessa selalu menyempatkan untuk memasak tiap akhir pekan dan belajar dari para koki yang bekerja di rumah.


Tessa juga kerap mengundang beberapa koki ternama di Hong Kong hanya untuk mengajarinya memasak.


Arjuna membiarkan hal itu, mengingat ia memang lebih suka makan di rumah ketimbang di restoran dan harus bertemu dengan banyak orang.


Tessa mampu menyenangkan hatinya dengan mengajak makan malam romantis di halaman belakang rumahnya dekat kolam renang.


"Bagaimana? Apa rasanya enak?" tanya Tessa menatap Arjuna lekat dan terlihat gugup.


"Hem, sedikit asin, tapi—"


"Aku akan menggantinya," sahut Tessa cepat langsung berdiri, tapi Arjuna dengan sigap menggenggam tangan sang isteri menahan kepergiaannya. Arjuna tersenyum tipis.


"Ini enak. Rasa asinnya masih bisa kutoleransi. Lain kali saja jika ingin mencoba memasaknya lagi," ucap Arjuna menarik tangan Tessa lembut dan memintanya kembali duduk.


Sang isteri menuruti permintaan suaminya dan kembali duduk. Arjuna mengajak Tessa bersulang dan wanita cantik itu menyambut ajakannya.


Arjuna tersenyum seraya memeluk bantal ketika ia mengingat kenangan manis itu. Tessa juga mampu memuaskannya tiap kali ia mengajaknya bercinta.


Tessa selalu bangun lebih dulu tiap pagi dan membangunkan dengan senyuman manis serta kecupan di kening sang suami.


Bayang-bayang Naomi yang dulu selalu mengusiknya, kini telah sirna sepenuhnya digantikan oleh sang isteri yang selalu ada untuknya.


Arjuna menjadi gugup jika teringat ia akan menjadi seorang ayah sebentar lagi. Ia takut jika Tessa dan anaknya terluka jika tetap hidup dalam kelompok mafia.


Oleh karena itu, Arjuna sengaja tak menghubungi orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads termasuk Yusuke usai kejadian peledakan yang dilakukan oleh Lysa.


Namun, hal yang dilakukan tanpa penjelasan itu, membuat orang-orang dalam jajaran geram karena menganggap sikap Arjuna seperti kacang lupa pada kulitnya.


Ia bisa sukses seperti sekarang berkat kedua orang tua, serta para mafia yang mendukungnya kala itu. Sayangnya, Arjuna tak menyadari hal tersebut.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍 panjang nih epsnya



__ADS_2