
Sandara segera menghapus air matanya. Ia berdiri dan mencoba untuk kembali kuat. Ia mengeluarkan seluruh barang-barang yang tersimpan dalam kostum khususnya.
Masih ada dompet, ponsel, pistol beramunisi penuh, dan belati Silent Blue yang ia selipkan di paha. Sandara melepaskan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Beruntung, air di tempat itu mengalir. Sandara bergegas membersihkan tubuhnya dan mengeringkan dengan handuk piyama yang tersedia di sana.
Sandara juga mencuci kostumnya lalu ia jemur di dalam kamar mandi menggunakan hanger dari handuk piyama.
Sandara lalu menyalakan ponsel menghubungi Biawak Putih. Sayangnya, panggilannya tak dijawab.
Sandara tampak murung dan diam untuk sejenak. Hingga akhirnya, ia kembali menelepon seraya duduk di pinggir kasur.
"Apakah ia masih peduli padaku?" tanya Sandara lirih dengan wajah sendu sembari menatap layar ponsel yang sedang menunggu panggilannya dijawab.
"Kau di mana?" tanya dari seseorang dengan suara pria. Praktis, senyum gadis itu terbit.
"Aku di Turki, sendirian. Sudan memburuku, Jordan. Aku takut. Aku ... tak tahu harus ke mana lagi," jawabnya sedih.
"Aku masih ada misi. Aku tak bisa menjemputmu."
Sandara terlihat gugup. "Misi apa? Ikut sertakan aku," pintanya.
"Aku tak mau bertanggungjawab jika kau nanti tewas," tegasnya.
"Kau tak perlu menanggung beban itu. Jika aku tewas, biarkan saja. Mungkin sudah takdirku. Aku sudah tak peduli lagi. Aku ... kesepian," jawab Sandara terlihat berharap jika Jordan mau menerimanya.
"Baiklah. Kau bisa pergi ke Mauritania?"
"Mauritania? Mm, ya," jawab Sandara ragu.
"Temui aku di tempat kau dulu melakukan pertarungan. Masih ingat?"
"Ya, aku ingat," jawabnya dengan wajah tegang.
"Sampai jumpa di sana."
Jordan menutup panggilan begitu saja. Sandara terlihat bingung. Trauma akan tempat itu yang membuat wajahnya rusak, kembali menghantui dirinya.
Namun, ia tak mau sendiri. Ia rela untuk ikut bersama Jordan dalam misinya ketimbang harus sendiri.
Sandara bergegas melakukan pembelian tiket pesawat menuju Mauritania. Siapa sangka, biaya perjalanan ke negara itu cukup menguras uangnya.
Sandara terlihat cemas jika ia akan terperangkap di negara itu dan tak bisa pulang untuk selamanya. Ia mengurungkan niatnya untuk membeli tiket itu.
"Bagaimana ini?" tanyanya kembali tertekan seraya memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat.
Sandara meringkuk di atas kasur. Ia yang lelah, memilih untuk memejamkan mata. Ia ingin melepaskan kepenatan itu sejenak agar bisa berpikir jernih saat bangun nanti.
Hingga akhirnya, Sandara membuka mata dan terkejut saat kegelapan menyelimutinya. Ia melihat jam dinding yang tersedia di kamar jika waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Sandara tak menduga jika ia akan tertidur lelap selama itu.
Saat Sandara akan bangun, ia mendengar suara langkah dari luar kamar. Ia menduga jika pemilik penginapan mencari kunci kamarnya yang tak ada.
Dengan sigap, Sandara mengambil pakaiannya yang masih basah tergantung di kamar mandi. Sandara melipatnya dan memasukkan semua perlengkapannya ke dalam kantong plastik yang tersedia di almari kamar itu.
Sandara bersiap di balik pintu dengan pistol dalam genggaman dan masih mengenakan piyama handuk untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalaam.
Sandara melihat jika gagang pintu kamarnya bergerak seperti mencoba untuk dibuka. Sayangnya, kunci kamar itu masih berada di lubangnya.
Sandara terlihat tegang saat ia berdiri diam di balik pintu seperti ingin memastikan sesuatu.
KLEK!
Sandara membuka pintu perlahan dan mengintip. Ia melihat koridor tersebut sudah menyala terang dengan lampu.
Gadis itu melihat jika orang yang berusaha membuka pintu kamarnya, sedang berjalan menuju ke meja resepsionis.
Sandara membuntuti diam-diam di belakang lelaki itu. Ia langsung merunduk di bawah meja resepsionis ketika pria itu seperti mencari sesuatu dalam laci.
Sandara bertahan dengan posisinya. Ia lalu kembali membungkuk seraya berjalan mengendap keluar dari gedung saat pria resepsionis kembali ke koridor menuju ke kamar yang tak berhasil ia buka tadi.
Siapa sangka, Sandara berhasil menyelinap keluar tanpa harus terjadi perkelahian. Gadis berambut panjang itu memasukkan kembali pistolnya ke dalam kantong plastik, meski ia harus menahan malu karena memakai piyama handuk.
Sandara yang merasa jika urusannya dengan Sudan belum berakhir, nekat untuk kembali ke rumah Ahmed di mana ia yakin jika pria itu berada di sana.
"Kau akan terus memburuku dan menghalangi jalanku, Sudan. Ini harus diselesaikan. Nyawa, dibalas dengan nyawa. Sayangnya, aku tak mau mati. Jadi, susullah anakmu di neraka sana," geram Sandara dengan langkah cepat berjalan kaki menyusuri trotoar.
Tentu saja, penampilan Sandara yang tak bisa membuat beberapa orang terkejut karena dianggap vulgar di tanah Turki.
Hingga tiba-tiba, seorang ibu-ibu berkerudung mendatanginya. Sandara bingung saat ia diberikan sebuah kain mirip jubah dan juga selendang besar untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Oh! Thank you, thank you," ucap Sandara terkejut dan tersentuh dalam waktu bersamaan saat ia merasa jika wanita itu iba padanya.
Sandara melihat wanita itu berdiri di depan sebuah toko pakaian untuk wanita muslim. Sandara membungkuk berterima kasih dan menutup tubuhnya yang bisa dibilang hanya terbalut seadanya.
Sandara bergegas pergi dengan tubuh yang kini sudah tertutup sepenuhnya, meski piyama handuk masih membungkus tubuhnya.
Saat Sandara sudah berhasil memasuki wilayah kediaman Ahmed, Sandara melepaskan pakaian pemberian wanita Turki itu dan menggantungnya di sebuah dahan pohon.
Sandara juga mengeluarkan kostumnya yang basah dan menggantungnya dengan hanger. Sandara memilih menggunakan piyama handuk yang memiliki kantong untuk menyimpan perlengkapannya seraya menyiapkan dirinya dengan senjata terakhir.
"Kita selesaikan dendam ini, Sudan. Hanya kau dan aku. Jika aku harus mati di sini, biarkan saja. Aku sudah tak peduli lagi," ucapnya dengan wajah sendu di tengah kegelapan malam.
Sandara berjalan mengendap penuh kewaspadaan saat ia melihat nyala lampu dari kediaman Ahmed bersinar.
Namun, Sandara heran karena tak melihat helikopter yang digunakan oleh Sudan tadi, termasuk para wanita berkerudung yang menjadi pengawalnya.
Rumah itu sepi, tapi Sandara melihat adanya bayangan dari dalam rumah entah siapa di dalamnya.
Sandara makin erat menggenggam pistol di tangan kanan dan belati Silent Blue di tangan kiri tanpa ia nyalakan lasernya.
Sandara melangkah dengan cepat menaiki tangga menuju kediaman Ahmed di mana CCTV yang terpasang sudah tak berfungsi lagi semenjak rumah itu ditinggalkan oleh Eko.
Saat Sandara sudah berhasil sampai di teras, matanya membulat penuh ketika ia mengintip dan melihat ada banyak bekas darah di lantai rumah.
Jantung Sandara berdebar kencang. Ia merunduk dan berjalan dengan berjongkok ke sebuah jendela yang memiliki celah untuk dilihat karena tirai tersebut tipis.
Sandara kembali mengintip dan mendapati Sudan digantung pada sebuah tali di ruang tengah dalam keadaan hidup sedang berusaha memberontak.
Sandara tertegun dan mencoba mencari tahu siapa pelaku yang membuat semua anak buah Sudan tewas, tapi tak terdengar suara tembakan atau bahkan ledakan di rumah tersebut.
Jantung Sandara berdebar kencang hingga ia merasa ketakutan dengan kengerian ini. Sandara merubah posisinya dan kini mengintip dari celah yang lain.
Namun, siapa sangka, "Boo!"
"AAAA!" teriak Sandara histeris ketika sebuah wajah muncul dari balik jendela saat ia akan mengintip dengan mata melotot.
Sandara jatuh terlentang ketika pintu dari rumah itu terbuka dan muncullah seorang lelaki yang wajahnya tampak tak asing.
"Oh! Dia kembali! Selamat datang, Sandara. Kini ... aku tak menutup wajahku lagi. Bisa menebakku?" tanya pria itu dengan senyum liciknya.
"Kau ... kau asisten kakek Adipura! Sudah kuduga, kau salah satu pria bertopeng dengan nama narkotika itu!" seru Sandara lantang langsung sigap berdiri.
"Aku tak peduli!" seru Sandara lantang dan langsung mengarahkan moncong pistolnya.
DOR! DOR! DOR!
"Shitt!" pekik pria itu yang langsung memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah.
Saat Sandara akan melangkah maju, sekumpulan pria muncul. Mata Sandara melebar ketika ia mengenali pria-pria itu dulunya adalah anggota Mirror miliknya.
Sandara shock saat para remaja itu mengarahkan moncong pistol ke arahnya. Namun, Sandara tak ingin mati di tempat itu.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Sandara lebih cepat melepaskan seluruh pelurunya. Ia sadar jika tak berpelindung. Satu peluru saja menembus tubuhnya, ia bisa tewas kehabisan darah karena terluka.
Beruntung, peluru-peluru yang ia tembakkan mengenai semua bagian tubuh mantan anak buahnya dulu.
Sandara melemparkan pistonya yang telah kehabisan amunisi. Tangan kanannya kini dengan sigap menyambut belati dari tangan kiri.
JLEB!
"Ohok!"
CRATT! JLEB! JLEB!
Satu per satu, orang-orang yang menggelepar di lantai itu ia bunuh agar tak bangkit dan menghalangi misinya.
Sandara nekat menusuk leher anak buahnya dulu dengan belati Silent Blue. Sandara menangis, tapi ia berusaha untuk tetap bergerak dengan tangan sudah berlumuran darah korbannya.
"Sorry," ucapnya sedih seraya mencabut ujung belati yang menusuk leher samping korbannya. Para remaja itu tewas dengan darah membanjiri teras.
Sandara memunguti semua pistol milik para lelaki itu dan memasukkannya dalam kantong sebagai persediaan.
Saat Sandara akan masuk ke dalam rumah, PRANGG!! BRUKK!!
"AAAAAA!!"
Tubuh gadis itu terlempar setelah terhantam badan dari Sudan yang dilemparkan oleh asisten Adipura ke arahnya.
__ADS_1
Sandara jatuh bergulung-gulung di tangga yang cukup terjal dengan tubuh Sudan menimpa tubuhnya.
BRUKK!
"A ... agg," erang Sandara saat ia tak bisa bangkit karena tubuhnya tertimpa tubuh Sudan.
Sandara terluka dan tubuhnya lecet di beberapa bagian dengan memar. Ia jatuh tengkurap dan tubuh Sudan tergeletak di punggungnya.
TAP! TAP!
"Hehehe. Aku tak menyangka akan semudah ini," ucap Asisten Adipura bernama Bima menunjukkan senyum kemenangan karena berhasil mendapatkan buruannya dua sekaligus. "Kolektor. Aku hampir putus asa mencari keberadaan mereka sampai akhirnya aku tahu dari Smiley setelah ia berhasil mengancam Ahmed. Sayangnya, Ahmed harus mati karena tak boleh ada yang tahu dengan kegiatan kami," ungkap Asisten Adipura seraya menuruni tangga. "Asal kau tahu, Sandara. Miles mengincar kolektor selama ini. Sayangnya, ia tak tahu keberadaan mereka. Beruntung, Ahmed dan Yudi memberikan jejak dalam catatannya. Dan aku, telah mendapatkannya," ucap pria berjas hitam itu seraya menunjukkan sebuah buku dalam genggaman.
"Agh, emph," erang Sandara yang tak bisa menggerakkan tubuhnya karena merasakan sakit di semua bagian.
Sandara berusaha menyingkirkan tubuh Sudan yang menggencetnya, tapi pria itu cukup besar dan berat.
Sandara bersusah payah saat ia mencoba menggapai sebuah pistol yang jatuh di dekat tangan kiri Sudan.
Asisten Adipura dengan sigap mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Ia melangkah semakin cepat menuruni tangga menghampiri Sandara.
Gadis itu berusaha keras agar bisa meraih pistol tersebut dengan tangan kanannya yang berdarah karena terluka saat jatuh di tangga.
"Hahahaha! Hahaha! Good bye, Sandara," ucap Asisten Adipura seraya mengarahkan ujung pistol ke gadis malang itu.
DOR!
"Ugh!" erang Asisten Adipura saat tiba-tiba saja perutnya mengeluarkan darah karena tak berperisai. Kening pria itu berkerut saat melihat Sudan yang sudah babak belur dan mendapat luka tusukan di perut serta dadanya masih mampu untuk melepaskan tembakan. "Ka-Kau ...."
DOR! DOR!
BRUKK! BRUKK!
"Pa-pastikan dia ma-ti, Sandara. Cepat," titah Sudan dengan napas terengah.
Sandara terkejut dan berusaha bangun setelah Sudan menggeser tubuhnya. Sandara mengambil sebuah pistol dengan tubuh membungkuk menahan sakit.
Sandara mengarahkan moncong pistol ke tubuh Bima yang sudah tergeletak di tangga dengan mata terbelalak.
DOR!
Sudan terkejut sampai terperanjat saat ia melihat dahi pria itu berlubang karena sebuah peluru bersangkar di sana.
Sudan terlihat pucat dan gemetaran saat ia memegangi cincin yang melingkar di jarinya. Mata Sandara menyipit. Ia mendatangi Sudan dengan wajah datar dan pistol dalam genggaman.
Sudan yang sudah tak berdaya dengan darah mengalir deras dari luka tusukan itu menoleh ke arah Sandara dan menatapnya lekat.
"Terima kasih sudah menolongku, Sudan. Sampai jumpa."
Praktis, mata Sudan melebar. DOR! DOR! DOR! BRUKK!
Sandara mengakhiri dendam itu dengan menembak mati Sudan tepat di dahi, dada, dan perutnya.
Sandara duduk dengan lesu seraya menahan sakit di tubuhnya. Sandara meletakkan pistolnya dengan napas terengah.
Gadis cantik itu lalu mendatangi mayat Sudan dan menarik cincin yang dipakainya. Sandara mengamati cincin itu dan segera menyimpannya dalam saku piyama.
Sandara mengambil semua barang yang ia temukan di pakaian Sudan lalu menumpuknya di anak tangga.
Sandara juga mengambil semua barang milik Asisten Adipura termasuk buku yang ia pamerkan tadi lalu ia kumpulkan.
Sandara melepaskan jas milik asisten Adipura paksa dan membiarkan mayatnya saling tindih dengan Sudan.
Sandara meletakkan semua barang temuannya dalam jas itu lalu mengikatnya seperti buntalan.
Sandara jalan terhuyung dengan darah masih menetes di hidung dan mulutnya karena ia terluka cukup parah saat jatuh dari tangga.
BRUK!
"Hah, hah, aku sekarang bisa ke Mauritania," ucapnya seraya mengeluarkan ponsel meski layarnya retak karena jatuh tadi.
Sandara merebahkan dirinya di sebuah sofa panjang dan membiarkan tubuhnya yang terluka terkena angin malam di rumah itu.
"Sedikit lagi dan aku akan pulang, Kak Afro. Apa kabarmu? Apa ... kau juga merindukanku?" tanyanya dengan setitik air mata menetes di ujung mata cantiknya.
***
uhuy dobel up dg eps puanjang gaes😍 tengkiyuw tipsnya💋 lele padamu❤️ adeh mual lagi. mau rehat dl buat up novel lainnya~
__ADS_1