
Naomi shock. Ia malah terpaku dan mengamati kejantanan Jordan yang menegang karena sakit yang dirasakannya.
"Seingatku ... tak sekecil ini," batin Naomi. "Agh, sial! Itukan punya Arjuna. Kenapa aku malah membandingkan? Tentu saja beda! Umur mereka saja terpaut—"
"Naomi, dingin," keluh Jordan menggigil.
Lamunan Naomi buyar. Ia sampai mengucek matanya agar kesadarannya kembali. Gadis cantik itu dengan cepat membaringkan tubuhnya dan menyelimuti Jordan.
Namun, Naomi tertegun saat Jordan memeluknya erat seperti mencari kehangatan dari panas tubuhnya. Naomi mematung dan bisa merasakan tubuh Jordan yang menggigil.
Naomi merapatkan selimut untuk menutupi tubuh keduanya seraya mengeringkan rambut dan tubuh Jordan dengan handuk.
Naomi tersenyum melihat Jordan seperti adik kecil yang minta dimanja oleh kakak perempuannya. Perlahan, Jordan mulai tenang. Naomi mengelus kepala Jordan lembut saat wajah kekasihnya itu berada di dadanya.
"Terkadang, kau sangat menggemaskan, Jordan. Maaf ya, jika malam ini aku menganggapmu seperti adik kecil," ucap Naomi dalam hati seraya memeluk kepala Jordan lembut dengan senyum terkembang.
Keesokan harinya. Jordan yang bangun lebih dulu terkejut saat menyadari dirinya telanjang dan Naomi memeluknya. Jantung Jordan berdebar dan menatap Naomi dalam.
Jordan melepaskan dirinya dari pelukan Naomi perlahan. Ia melihat Naomi tertidur lelap seperti kelelahan. Jordan tersenyum dan menyelimuti tubuh Naomi yang terbalut pakaian da*am saja.
"Kita berkenalan dengan cara yang benar. Aku ingin menikahimu dengan cara yang benar pula. Aku bukan baj*ngan seperti Arjuna yang memanfaatkan keadaan. Terima kasih sudah menyembuhkanku, Naomi. Istirahatlah, aku akan baik-baik saja," ucap Jordan lirih menatap Naomi sendu dan meninggalkan kecupan manis di kening kekasihnya.
Jordan beranjak dari kasur dan mendapati dress Naomi robek. Ia memungutnya dengan helaan nafas panjang. Jordan menatap Naomi yang terlihat cantik meski sedang tertidur.
Jordan juga memungut boxer-nya yang basah begitupula pakaiannya di kamar mandi. Jordan segera bersiap sembari menghubungi seseorang saat ia keluar dari kamar.
"Aku pesan satu set. Kirimkan gambarnya padaku sebelum kau antarkan," ucap Jordan seraya menutup pintu.
Siang harinya. Naomi dan para penghuni Mansion Amanda yang sudah berada di kantor untuk mempersiapkan Management baru, terlihat sibuk. Misi untuk mengorek informasi Yu Jie juga mulai dilakukan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Yu Jie. Apa kau pernah berkunjung ke kediaman para pemimpin No Face seperti milik Tessa, Venelope dan lainnya?" tanya Naomi yang duduk satu meja dengannya.
Yu Jie menjabat sebagai Kepala Laboratorium Elios Grup dan Manager di Perusahaan tersebut.
"Aku selama ini hanya bekerja pada Sierra dan Tobias. Venelope, Cleopatra, Tessa, Ms. White, aku bertemu dengan mereka di markas Tobias. Memang kenapa?" tanya Yu Jie santai sembari mengupas pisang dan dimasukkan dalam mulutnya.
Naomi menelan ludah melihat pisang ukuran sedang yang langsung dilahap habis oleh Yu Jie.
Naomi membayangkan pisang tersebut seperti milik Jordan. Naomi mengibaskan kepala mencoba melupakan apa yang dilihatnya semalam.
"Rumah Tessa di Belize diakuisisi oleh Tobias. Sepertinya, Tobias berniat mengambil semua aset milik pemimpin No Face. Dia kini sedang memburu Mr. White dan lainnya," jawab Naomi semangat.
"Tobias memburu mereka? Oh, wow! Semoga pacarku baik-baik saja," ucap Yu Jie tegang seketika.
"Pacar?" tanya Naomi bingung dan Yu Jie tersenyum malu.
"Salah satu Pion D. Tebak saja diantara mereka bertujuh siapa kekasihku," jawabnya memancing. Naomi terkekeh.
Jordan mengamati Naomi yang terlihat akrab dengan Yu Jie dari meja lain di mana ia menikmati makan siang bersama Bayu dan Mix and Match.
"Kabar terbaru?" tanya Jordan kembali fokus dengan makan siangnya.
"Anak buah Martin tak menemukan jejak Arjuna di Honduras. Namun, ada mayat ditemukan dan cukup menghebohkan pengunjung pantai. Sebagian tubuhnya sudah koyak di makan penghuni laut. Namun, bekas peluru, itu adalah buatan Vesper Industries. Jadi, sudah jelas, jika anak Han tersebut selamat," jawab Match melaporkan.
"Tunjukkan padaku peta di sekitar kawasan itu," pinta Jordan dan Mix segera meletakkan sebuah tablet 14 inch di atas meja makan dengan peta dunia dari tampilan satelit.
Jordan diam mengamati sekitar kawasan tersebut. Keningnya berkerut dan mulai menggeser dengan jari telunjuknya.
"Apakah sudah diketahui identitas mayat?" tanya Jordan memperbesar sebuah pulau yang masih masuk dalam wilayah Honduras.
"Sayangnya tidak. Mayat itu tak berpakaian dan hanya memakai kaos kaki serta celana d*lam," jawab Mix.
__ADS_1
"Adakah mafia lain yang menguasai tempat itu?"
"Kami tidak tahu," jawab Match tegas. Bayu menyimak sembari menikmati makan siangnya tak mau terlibat. "Minta Biawak Putih dan Hijau menyelidikinya. Informasikan pada mereka untuk mendatangi pulau-pulau di sekitar area itu. Aku yakin jika Arjuna ada di salah satunya. Kau mengerti, Paman Bayu?"
"He? Kok Bayu?" tanya salah satu anggota The Kamvret tersebut hampir tersedak.
"Kau duduk di sini. Kau ikut dalam pembicaraan. Sudah pasti kau terlibat. Cepat kerjakan," tegas Jordan dan Bayu langsung komat-kamit terlihat sebal meski tetap ia kerjakan.
"Halo, yuhu, Kang Ijo, Kang Putih," sapanya saat panggilan telepon dari ponselnya tersambung. "Lagi di mana?" tanyanya santai. "Oh, udah makan belum? Bayu lagi makan siang loh. Nanti sakit, makan dulu baru nan—"
"Apa kau sedang menghubungi kekasihmu? Jangan bertele-tele. Cepat!" bentak Jordan yang mengejutkan orang-orang di kantin Kantor.
"Iya, iya, galak amat," sahut Bayu sewot dan memilih pergi saat menyampaikan informasi pada dua utusan Vesper tersebut.
"Ada apa, Jordan? Kenapa kau marah-marah?" tanya Naomi mendekat diikuti Yu Jie.
Jordan menarik nafas dalam dan menggeleng. Naomi pamit kembali ke ruangan dengan Yu Jie. Jordan mengangguk dan diam memandangi kekasihnya yang berjalan dengan anggun meninggalkan kantin.
"Udah, beres. Mereka otewe ke sana," jawab Bayu dengan wajah masam. Jordan diam saja dan melanjutkan makan.
Di ruang kerja Naomi.
"Eh, apa ini? Sebuah kado? Oh, ada suratnya," ucap Naomi sembari menarik sebuah surat dengan amplop warna merah muda berinisial Jd.
"Maaf sudah merobek gaunmu. Semoga kau suka dan terima kasih sudah menyembuhkanku dengan cintamu. Jordan."
Wajah Naomi bersemu merah. Naomi tak bisa menutupi senyumnya meski sudah ditutup dengan amplop di depan wajahnya.
Senyum Naomi makin terkembang saat membuka kotak kado besar dengan pita di atasnya berisi gaun, lengkap dengan tas kecil dan sepatu.
Naomi begitu terharu. Pemberian Jordan 3 kali lebih bagus dari yang dirusaknya.
"Cantik sekali," ucapnya dengan mata berbinar saat memegang gaun bermotif bunga dalam genggaman.
"Akan semakin cantik saat kau memakainya, Naomi. Syukurlah jika kau suka. Tolong simpan dengan baik hadiah pemberianku dan hatiku," sahut Jordan saat memasuki ruangan dan Naomi mengangguk pelan tersipu malu.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Bagaimana?" tanya Tobias menaikkan kedua kaki di atas meja sembari menikmati kacang almond berlapis cokelat dalam toples di pangkuannya.
"Semua dokumen sudah kami amankan. Rumah Tessa di Belize resmi menjadi milikmu," jawab Pion Dakota membawa setumpuk berkas dalam genggaman.
"Good. Kirimkan anak buahku untuk menjaga tempat ini. Sepuluh saja," pintanya santai.
"Anak buah? Maksudmu ... The Eyes milik Lysa?" tanya Pion Damian memastikan.
"Agh, shit! Aku lupa. Benar-benar merepotkan. Minta isteriku mengirimkan 10 orang kemari untuk menjaga Belize," jawabnya kesal. Damian mengangguk dan segera melaksanakan perintah bosnya.
"Toby. Sierra memberikan kabar jika ada sosok tak dikenal di reruntuhan markas Greenland. Kau ingin menyelidikinya?" tanya Pion Darion.
Kening Tobias berkerut. "Sosok putih? Kubu siapa? Demon Heads atau The Circle?"
"Tidak tahu. GIGA IGOR tak bisa mengidentifikasinya," jawab Darion.
Tobias mengangguk-anggukkan kepala sembari menikmati cemilannya. Para Pion menatap Tobias yang tak mengatakan apapun padahal para pria itu menunggu perintahnya.
"Jadi?" tanya Darion mengingatkan.
"Dia pasti sudah meninggalkan Greenland. Hem, siapa ya? Siapa anggota kita yang masih tersisa dan hidup?" tanya Tobias terlihat berpikir serius.
"Anggota kita sudah habis, Toby. Tak ada yang tersisa," jawab Pion Dexter.
__ADS_1
"Oh!" pekik Tobias tiba-tiba melotot dan berdiri dari sofa empuknya sembari mendekap toples cemilan.
"Ada apa? Kau ingat sesuatu?" tanya Pion Dexter penasaran.
"Tidak. Aku hanya teringat akan para Gagak itu. Apakah kalian sudah menemukan jejak The Mask?" tanya Tobias.
"Kau kenal Sun?" tanya Daido sembari berjalan mendekati kumpulan orang-orang tersebut. Tobias mengangguk cepat. "Dia sedang menyelidiki The Mask. Apa kau ingin dia bergabung? Jujur, Toby. Anak itu cekatan. Dia selama ini menyelidiki pergerakan kita seorang diri," jawab Pion Daido.
"Kau tahu dari mana?" tanya Tobias heran.
"Sun sedang dalam perjalanan kemari. Aku baru saja menerima pesan darinya entah ia dapat nomorku dari siapa," jawab Daido menunjukkan layar ponsel.
"Dari Jonathan, dan Jonathan mendapatkannya dari Sierra," sahutnya sembari berjalan mendekati Tobias dan para Pionnya. Orang-orang itu terkejut. "Hallo, maaf menyela. Aku sudah mengetuk pintu, tapi tak ada yang membuka. Aku melihat pergerakan di dalam sini, jadi ... aku masuk saja. Perkenalkan, aku Sun," ucapnya sembari membungkuk hormat.
"Hoho, sungguh mengagumkan. Jadi, bergabung bersama kami? Boleh saja. Namun, karena kau yang mengajukan diri, apa yang kau tawarkan jika ikut dalam kelompokku?" tanya Tobias sembari mengunyah cemilannya.
"Tidak ada. Aku tak memiliki apapun, hanya kemampuan dari didikkan ayahku selama ini. Agent M," jawabnya sopan.
"Oh ... Agent M! Hem, Colombia. Aku bisa melihat kau akan menjadi penerus yang hebat. Baiklah. Kau miskin, pendek dan sipit," ucapnya rasis. Sun menghela nafas pelan. "Selama kau berada di kelompokku, kau akan menjadi salah satu Pionku menggantikan Darius yang telah tewas. Menolak, pergi dari sini," ucapnya berwajah tengil.
"Terserah saja. Misiku adalah melenyapkan semua penghalang yang bertujuan memecah persatuan 13 Demon Heads dan The Circle," jawabnya serius.
Tobias langsung bermuka masam termasuk para Pion.
"Hah, baiklah. Mengingat aku sedang butuh banyak bantuan, kau kuterima. Namun ingat, kau dalam komandoku," tegasnya.
"Dan semua langkah yang diambil dan dilakukan nantinya, tetap aku informasikan kepada nyonya Vesper," sahutnya.
Tobias geram dan meremat cemilan dalam genggaman tangan hingga menjadi serpihan. Sun masih memasang wajah datar tak terintimidasi.
"Hah, menyebalkan! Terserah kau saja! Kita pergi begitu para penjaga rumahku datang," gerutu Tobias seraya meninggalkan ruangan dengan toples cemilannya.
"Kau punya nyali, Sun. Namun, jaga sikap. Tobias tempramental dan hanya Lysa yang bisa melunakkan hatinya. Sayangnya Lysa tak ada. Jaga dirimu," ucap Daido dan Sun mengangguk paham.
"Kau punya petunjuk?" tanya Dexter.
"Ya. GIGA SIA melihat pergerakan dari rekaman terakhir di mansion Venelope saat nyonya Vesper mengirimkan rekaman CCTV ke nyonya Amanda."
"Apa yang mereka temukan?" tanya Dakota ikut melangkah maju terlihat penasaran.
"Mereka menyeberang dengan sebuah kapal feri. Mobil-mobil itu masuk ke sana. Jika melihat dari rutenya, mereka bergerak menuju ke Sete, Perancis, dekat Montpellier. Setelah itu tak ada jejak apapun. Aku sudah ke sana sebelum kemari. Mobil yang mereka gunakan dijual pada sebuah dealer mobil. Aku rasa, mereka pergi menggunakan armada non-komersil," jawab Sun serius.
Para Pion berkerut kening saling memandang.
"Hoho. Sepertinya mereka mengikuti cara kerja kita. Pasti mereka menggunakan kapal. Menggunakan identitas palsu untuk menyeberang. Agh, sial. Akan semakin susah melacaknya. Ini bagaikan mencari sosok Tobias dalam bentuk wanita. Namun, aku jadi bersemangat," sahut Tobias tiba-tiba muncul dari pintu dengan toples cemilan sudah kosong.
"Hem, begitu ya? Jadi mereka menjiplak cara kerjamu? Apa kau tak kesal? Venelope dan lainnya bisa menjadi ancaman buatmu, Tobias. Mereka bisa saja datang kemari dan mengambil aset-aset yang sudah kau miliki dan mengklaimnya," ucap Sun menatap Tobias tajam dari tempatnya berdiri.
Tobias menatap Sun seksama sembari menyerahkan toples kosong itu kepada Daido.
"Apa kau sedang menghasutku dengan ucapan provokatormu, Sun Darius?" tanya Tobias berdiri di depan Sun bertelanjang dada. Sun diam saja. "Aku suka. Kau tipe pria yang jujur meski ucapanmu sangat menjengkelkan. Baiklah, mari kita berburu. Apa ... kau suka berburu manusia?"
"Ya. Terutama memburu musuh. Aku tak segan memotong mereka dalam beberapa bagian. Aku sangat penasaran rasanya. Selama ini, nyonya Vesper dan ayahku melarang. Namun, sudah tidak lagi, mengingat orang-orang itu adalah ancaman," jawab Sun dengan senyum manis.
Tobias tertawa senang dan berjoget. Ia merangkul pundak Sun dan malah mengajak ke yacht miliknya sembari mengobrol entah apa yang dibicarakan.
"Hempf. Psikopat lainnya. Wajah lugunya sungguh penuh tipu muslihat," keluh Diego dan semua pion mengangguk setuju.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
panjang nih epsnya gak digantung. baik kan eke. itu karena yg ngevote banyak. kuy lagi lagi😆