4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pergerakan Arjuna*


__ADS_3

Usai pembahasan bisnis dengan Dewa dan Gina, Naomi mengantarkan keduanya ke mobil.


Naomi berjanji akan mengunjungi situs yang nantinya akan dibangun Arjuna's Adventure di Semarang.


Setelah melihat foto dan video yang ditunjukkan oleh Dewa, tempat itu bisa dijadikan cabang yang berada di Yogyakarta.


Hanya saja, Naomi tak melihat keberadaan Arjuna setelah kepergian dua kawan sekolahnya itu.


Naomi pergi berkeliling mencari Tuan Mudanya yang ikut raib bersama dengan dua BIAWAK.


"Tuan Muda?" panggil Naomi yang menjauh dari kawasan wisata dan kini menyusuri sekitar kediaman Herlambang yang tak cukup jauh dari lokasi wisata.


Hingga akhirnya, Naomi mendapati sosok Arjuna yang mengendap masuk ke mobil bersama dua BIAWAK yang menaikkan koper ke bagasi belakang.


"Kau mau kemana?" tanya Naomi langsung memasang wajah garang dengan kedua tangan di depan dada.


"Oh! Kau mengejutkanku," jawab Arjuna sampai terperanjat memegangi dadanya karena kaget.


Naomi melirik dua BIAWAK yang memalingkan wajah sembari bersiul. Naomi mempertajam matanya dan kini melirik Tuan Mudanya sadis.


Tiba-tiba, Naomi mengeluarkan ponselnya seperti mengecek sesuatu. Hingga tiba-tiba, matanya melebar dan suara desisan terdengar dari mulutnya. Arjuna menelan ludah.


"Ada perlu apa di Doha dan Amerika, hem? Kau ada jadwal untuk berkunjung ke Semarang, Tuan Muda. Aku sudah menjadwalkan untuk survey lokasi dua hari dari sekarang bersama Dewa dan Gina," tegas Naomi sembari menunjukkan layar ponselnya.


Sebuah email dengan izin pesawat pribadi Han akan bertolak dari Yogyakarta International Airport ke DOH Hamad Internasional dan tujuan akhir ke Bandar Udara Internasional Philadelphia, Amerika diterima.


"Ah, kau saja yang urus. Aku ... ingin berkunjung ke ... perkebunan di Amerika. Ingin melihat perkembangan di sana. Aku lihat, usaha di sini sudah berjalan dengan baik tanpa aku harus mengawasinya. Yang di Amerika sampai dilupakan," dalihnya.


Naomi menyipitkan mata sembari menggenggam ponselnya erat.


"Jadi ... kau meninggalkanku? Membiarkanku mengurus semuanya sendirian? Baiklah. Pergilah. Lakukan sesukamu, Tuan Muda. Aku ini hanya pesuruh," tegas Naomi yang berpaling begitu saja dengan wajah dingin.


Arjuna terkejut karena Naomi terlihat marah padanya. Naomi berjalan cepat dengan langkah gusar pergi meninggalkannya.


"Naomi! Hei!" panggil Arjuna panik berlari mengejarnya.


Namun, CEKLEK!!


"Naomi!" teriak Arjuna saat Naomi menutup pintu kaca dan membiarkan Tuan Mudanya di luar, terus menggedor pintu itu mencoba membukanya, tapi Naomi menutupnya dari dalam.


"Aduh, apa sih, Juna?" tanya Shinta mendekati keponakannya yang terlihat panik akan sesuatu.


"Eh, Tante. Ah, enggak. Mm ... Tante, tolong sampaikan ke Naomi kalau Juna mau pergi ke Qatar dan Amrik dulu. Juna mau ngecek usaha di sana. Nanti, begitu Naomi selesai survey di Semarang, minta susul Juna ke Amerika ya," ucapnya malu.


Shinta diam menatap keponakannya itu seksama.


"Juna. Kasih Naomi asisten deh. Kasian dia. Kerjaannya banyak loh. Kaya waktu itu, saat Tante mau solat tahajud, sering mergokin Naomi masih buka leptop, cek berkas setinggi gunung sampai pernah pas subuh, Tante lihat, dia ketiduran di meja kerja. Pas mau ajak sarapan, dia udah di depan leptop lagi. Naomi kaya gak istirahat, kerja terus. Jangan gitu ah, mentang-mentang dia sekretaris perusahaan, tapi kerjaannya udah kaya belasan manager aja," ucap Shinta menasehati.


Arjuna terdiam. Ia merasa tertohok dengan ucapan Tantenya. Ia yang tak pernah tahu akan hal itu karena Naomi selalu menutupi rasa letihnya dengan senyum manisnya, mengangguk pelan.


"Ya, Tante. Akan Juna pertimbangkan. Namun, butuh waktu. Cari orang yang bisa dipercaya dan bisa ngikutin kinerja Naomi gak gampang," jawabnya berdalih.


Shinta mengangguk dengan senyum tipis. "Ya udah, hati-hati. Nanti Tante sampein ke Naomi," jawabnya sembari menepuk pundak keponakannya yang makin tampan dari hari ke hari.


Arjuna pamit meski ia masih berharap bisa bertemu dengan Naomi sebelum pergi. Namun, waktu dia semakin sempit mengingat batas perekrutan hanya sampai akhir tahun.


Arjuna dituntut kerja cepat sebelum terkena teguran dari pihak Dewan Sekretariat 13 Demon Heads.


Ia juga ingin mempertahankan jabatannya sebagai anggota dewan termuda setelah Sia, di mana anak perempuan Amanda Theresia itu memilih untuk lengser dari jabatannya karena ingin menjadi warga sipil bersama suaminya, William Tolya.


Tujuan Arjuna adalah Philadelphia, kota di Pennsylvania di mana Biawak Hijau dan Putih pernah bertemu komplotan The Circle beberapa tahun silam.


Namun, karena jauhnya jarak menuju ke kota itu, Arjuna akan singgah di Qatar selama 3 hari dan baru melanjutkan penerbangan setelahnya.


Selama singgah di Doha, Arjuna akan mencoba melakukan perekrutan di negara tersebut.



Keesokan harinya, Arjuna bersama Biawak Putih dan Hijau yang telah tiba di Doha, mulai bergerak.

__ADS_1


Mereka pergi ke tempat yang disinyalir tempat berkumpulnya para penjahat jalanan meski mereka tak yakin bisa menemukannya karena ini pertama kalinya mereka berkunjung ke negara tersebut.


"Harusnya ajak si Onta Arab, cuma ... tumben dia gak bisa dihubungi. Masa iya minta tolong sama kak Lysa? Kita 'kan lagi saingan buat kumpulin anak buah," guman Arjuna berjalan dengan santai menyusuri gang bersama dua bodyguard-nya.


"Kita bisa. Gampang. Sejauh ini kita juga gak libatin banyak orang 'kan? Jangan remehin kita ini lah, Bos," sahut Biawak Hijau sebal.


Arjuna tersenyum miring sembari menghisap rokoknya dan terus melangkah. Arjuna yang terbiasa berjalan kaki, tak merasa lelah padahal sudah satu jam ia berkeliling.


Hingga akhirnya, apa yang dicari oleh Arjuna datang padanya. Terlihat seorang pencopet sedang merampas tas milik salah seorang turis asing.


Arjuna dan dua BIAWAK malah diam menonton tak menolong sembari menghisap rokoknya dengan tenang. Diam-diam, mereka mengamati kinerja pencopet itu.


"Keliatan gak professional, Bos. Dibanding sama Black Armys level M, ini mah level jongkok. Diajak tarung sekali pukul pasti tepar. Yang lain aja," ucap Biawak Hijau menilai.


Arjuna mengangguk membenarkan. Ia dan dua BIAWAK lainnya kembali berjalan, tapi tetap ke arah wanita yang kini jatuh tersungkur di jalanan karena tasnya berhasil di rampas.


Pencopet itu berlari kencang ke arah Arjuna yang berjalan santai diapit oleh Biawak Putih dan Hijau, tapi ....


Mereka bicara dalam bahasa Arab.


"Minggir! Hah, minggir! Jika tidak, akan kutembak!" teriaknya mengancam sembari mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya.


Arjuna dan dua BIAWAK terkejut karena tak menyangka jika pria itu bersenjata. Dua Biawak spontan mengangkat kedua tangan, tapi Arjuna malah tersenyum tipis sembari menarik sebuah belati dari balik jasnya.


Pencopet itu panik dan tetap mengarahkan pistolnya ke arah Arjuna. "Aku tak main-main! Akan kutembak!" ancamnya.


SINGG!!


Mata pencopet itu terbelalak saat melihat belati yang dipegang oleh Arjuna menyala dengan sinar berwarna biru terang.


"Pernah melihat Silent Blue sebelumnya? Pernah mendengar tentang 13 Demon Heads?" tanya Arjuna penuh penekanan.


Kening lelaki itu berkerut. "Ka-kau salah satu mafia dalam jajaran mereka? Sungguh?" tanya lelaki itu tiba-tiba.


Arjuna tersenyum. Ia tak menyangka jika 13 Demon Heads cukup terkenal di kalangan para penjahat level rendah.


"Kembalikan tas itu. Aku bisa memberikanmu lebih banyak lagi, asalkan ... kau berikan aku anak buah. Bagaimana?" tanya Arjuna sembari memutar-mutar belatinya dengan satu jari telunjuk terlihat terampil.


"Wah, ada saksi, Bos. Gawat," ucap Biawak Hijau saat melihat turis wanita itu tetap tidak pergi.


Arjuna menghembuskan nafas panjang. "Bereskan. Nasibnya sedang sial bertemu kita," jawab Arjuna lesu.


Seketika, SWING! JLEB! BRUKK!


Mata pencopet itu terbelalak lebar. Tangannya sampai gemetaran saat melihat lelaki gondrong di samping Arjuna melemparkan pisau dari kejauhan dan tepat mengenai dahi wanita itu.


Turis itu tewas seketika di pinggir jalan. Pencopet itu mematung terlihat ketakutan.


"Hei, hei!" panggil Arjuna.


"Ya," jawab pencopet gugup.


"Kau punya kawan yang berprofesi sepertimu. Jika ada yang levelnya lebih tinggi, boleh kenalkan padaku. Waktu kami tak banyak, jadi ... cepatlah," tegas Arjuna sembari menginjak bara rokoknya.


Pencopet itu mengangguk. Ia segera mengajak Arjuna dan dua bodyguard-nya berjalan mengikutinya masuk ke dalam gang yang lebih sempit dan sedikit kumuh.


Arjuna bahkan tak menyangka, jika masih ada tempat tak tersentuh di kota megah itu.


Arjuna terlihat waspada saat memasuki sebuah gang dengan banyak gedung tinggi terbengkalai di mana ia merasa jika ada yang mengawasi pergerakan mereka dari balik jendela gedung-gedung.


"Bang," panggil Arjuna lirih dan tetap berjalan.


"Hem. Paham kita," jawab Biawak Putih sembari mengangguk dan tetap berjalan dengan tenang.


"Kalau di sini dapat sampai 100, saat di Amrik, kita nyantai aja," jawab Arjuna dengan gaya tengilnya.


Dua Biawak saling melirik sembari menaikkan kedua alis terlihat senang.


Tiba-tiba ....

__ADS_1


"HARGHHH!"


KRASS!!


"Hah?!" pekik lelaki yang menyerang Arjuna dengan sebuah pedang Persia terkejut.


Pria itu melompat dari jendela atas untuk membelah Arjuna dengan bilah pedangnya.


Sayang, malah pedangnya yang terbelah dua karena sebuah belati dengan laser berwarna biru memotong besi pedang tersebut.


Seketika, muncul segerombolan orang keluar dari atas jendela menggunakan tali tambang meluncur ke bawah. Mereka berdiri berjejer, menghadang Arjuna serta dua bodyguard-nya.


"Siapa kalian? Dan apa yang membawa kalian datang kemari?" tanya seorang lelaki menatap tiga lelaki Asia tak dikenalnya dengan posisi siap bertempur.


Pencopet yang bertemu dengan Arjuna bergegas mendekati lelaki yang memakai kain hitam menutup hidung, mulut dan kepalanya.


Arjuna menyipitkan mata saat melihat pencopet itu berbisik kepada lelaki yang terlihat gagah, memakai celana kain panjang, sepatu selop dan bertelanjang dada.


Tiba-tiba, pria yang memakai kain serba hitam itu berjalan mendekati Arjuna diikuti oleh pencopet.


"Kau, salah satu anggota dari para dewan dalam jajaran 13 Demon Heads?" tanya pria itu menatapnya tajam.


"Hehe, dia salah satu anggota dewan 13 Demon Heads. Kim Arjuna, anak dari Kim Han Bong dan Vesper," tegas Biawak Putih.


Praktis, mata orang-orang itu terbelalak. Mereka tak menyangka jika salah satu anggota dewan berdiri di hadapan mereka.


"Ka-kau anak dari Vesper? A-apa yang kau inginkan? Apa kau membawa pasukan kemari? Bla-Black Armys?" tanya lelaki itu gugup dan perlahan mundur menjaga jarak.


Nafas Arjuna menderu. Ia terlihat marah.


"Sepertinya, kau lebih takut ketika nama ibuku disebut ketimbang namaku ya? Kalian takut dengan para pasukan hitam miliknya. Begitu?" tanya Arjuna meliriknya tajam.


Orang-orang itu terlihat gugup seketika. Mereka melihat sekitar dan langsung mengeluarkan senjata tajam yang dikeluarkan dari balik baju.


"Kami sedang menghimpun pasukan. Bergabung dengan kami dan secara otomatis, kalian akan masuk dalam jajaran 13 Demon Heads. Bagaimana?" tawar Biawak Putih serius.


Orang-orang itu kembali terkejut.


"Ka-kami masuk dalam jajaran dewan? Sungguh? Di bawah kekuasaan Vesper?"


"Vesper lagi, Vesper lagi! Sebegitu hebatnyakah ibuku, hingga di kepala kalian hanya ada nama Vesper, hah? Tidak! Kalian akan masuk dalam jajaranku, Kim Arjuna. Kalian akan menjadi anggota pasukan Bala Kurawa milikku," tegas Arjuna terlihat begitu marah.


"Apa bagusnya ikut denganmu? Kami lebih memilih menjadi anggota dalam jajaran Vesper," sindir lelaki berkain hitam.


Arjuna tersulut emosi. Kedua tangannya mengepal. Dua Biawak saling melirik dan melangkah mundur dengan dua tangan saling menggenggam, menutupi kejantanan.


"Harrghhh!!"


BUAKK!! BUKK! BUKK!


KRAKK!


BRUKK!


"Hempf ... hah ... jadi ... ikut denganku?" tanya Arjuna dengan nafas menderu menatap sekumpulan lelaki di hadapannya.


KLANG! KLANG!


Para pria itu menjatuhkan senjata mereka di atas tanah. Mereka bersujud, tanda bersedia menjadi anggota dalam pasukan milik Arjuna bernama Bala Kurawa.


"Bawa mereka semua," tegas Arjuna kepada dua bodyguard-nya dan dua BIAWAK mengangguk paham.


Arjuna berpaling dan berjalan begitu saja meninggalkan kumpulan orang-orang itu dan kembali merokok menyusuri gang.


Pencopet itu terlihat ketakutan saat melihat pemimpin mereka tewas setelah dihajar oleh Arjuna dengan tangan kosong dan diakhiri mematahkan lehernya.


Lelaki itu tergeletak di atas tanah dengan mata terbelalak. Biawak Putih dan Hijau mengajak bicara gerombolan penjahat itu di gedung terbengkalai yang selama ini mereka tempati.


***

__ADS_1


belom ada tips koin masuk lagi nih. jadi ... besok berapa eps ya? padahal lele mau ksh crazy up loh😁



__ADS_2