
Maap. Lele update satu eps sampai hari minggu ya. Karena mau diajak piknik sama babang monster dan kiting. Katanya kasian sama mama nanti stress, kwkwkw. Makasih tips koinnya. Lele padamu. Happy weekend. Timer start!
------ back to Story :
Semua orang terkejut saat Vesper menyeret Sierra keluar dari ruang persidangan terlihat begitu marah, hanya karena gaunnya robek.
Kai beserta para mafia ikut mengejar, tapi tidak dengan Jordan, Mix and Match, dan Han. Mereka duduk dengan tenang di ruang persidangan dan malah sibuk bermain ponsel dalam genggaman.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Mah! Mamah!" panggil Jonathan berlari kencang menghentikan aksi gila Ibunya yang menyeret Sierra seakan tak mengenalinya. Langkah Vesper terhenti karena Jonathan memegangi tangannya erat. Vesper menatap anak ketiganya tajam. "Jangan, Mah. Kasian Sierra," pintanya sedih.
"Ada yang salah dengan dirinya, Jonathan. Ingin bukti? Coba bicara padanya. Apa Sierra mengenalimu?"
Jonathan terkejut. Vesper masih memegangi kain dalam genggamannya. Jonathan berjongkok di samping kekasihnya dan menatapnya dengan sendu.
"Kamu gak papa, Yang?"
"Agh, kau siapa?" tanyanya dengan wajah bengis dan terus mencoba melepaskan jeratan kain di lehernya.
DEG.
"Sierra! Hei, hei!" panggil Tessa berlari mendekati dengan tergesa lalu berjongkok di sampingnya.
Pandangan Jonathan tak menentu. Click and Clack membangunkan pemuda itu dan menjauhkannya dari Sierra.
"Sierra kenapa?" tanyanya terlihat bingung dan sedih.
"Entahlah, banyak dugaan. Aku khawatir, jika pengaruh gas halusinasi malah membuat ingatan Sierra kembali seutuhnya. Kau ... tak mengenal Sierra yang dulu. Dia sangat kejam, Jonathan. Dia sangat berbeda, dengan Sierra yang kaukenal saat ini," jawab Click menatap Jonathan lekat seraya memegangi kedua pundaknya kuat.
Jonathan membisu. Zaid membawa Jonathan kembali ke ruang persidangan diikuti mafia muda lainnya. Arjuna melihat Tessa sedang berusaha untuk menenangkan saudarinya itu.
"Hei, hei. Dengar, Sierra. Keadaan sudah berubah, tak seperti dulu lagi. Percaya padaku, Vesper bukan lagi ancaman, tapi Venelope, Smiley, The Mask, dan 5 pria dengan nama narkotika. Orang-orang itu membelot dan menjadi musuh kita," ucap Tessa menegaskan terlihat begitu meyakinkan.
"What? How?"
"Kakimu lumpuh dan ingatanmu melemah. Itu semua perbuatan Venelope. Ia ingin mengambil posisimu dengan membuatmu cacat. Namun, kau sembuh, berkat Vesper dan orang-orangnya. Kau kini bergabung bersama Vesper untuk melenyapkan Venelope dan anak buahnya," imbuh Tessa.
Vesper masih berdiri tegak dengan kain terlilit dalam genggamannya. Ia menatap Sierra tajam.
"Kau bisa tanya pada Click and Clack, Tobias, dan para Pion D. Aku, aku akan menceritakan semua, dan bersiaplah, kau pasti akan terkejut," ucap Tessa dengan senyuman seraya memegang wajah Sierra lembut.
__ADS_1
Sierra menatap wajah Tessa tajam seperti mencari kebohongan di matanya, tapi ucapan Tessa terdengar jujur dan meyakinkan. Sierra akhirnya mengangguk, meski terlihat ragu.
"Lepaskan aku," pintanya kesal seraya menarik kain yang membelenggu lehernya.
"Fine."
Para mafia terkejut. Vesper melepaskan genggamannya. Kai mendekati sang isteri dan mengecek lehernya. Ia khawatir dengan cekikan Sierra yang terlihat cukup menyakiti kekasih hatinya.
Namun, Vesper malah merengek. Ia lebih mengkhawatirkan gaunnya yang rusak. Ia minta dibelikan yang baru. Kai hanya tersenyum dan mengangguk mengabulkan permintaannya, meski dengan hembusan nafas panjang.
Orang-orang kembali ke ruang persidangan. Sierra di tempatkan pada kursi roda elektrik. Gadis itu kembali dibelenggu dengan gelang besi di kaki, leher dan kedua kakinya.
Tessa duduk di sebelahnya dengan Click and Clack ikut mendampingi. Tiga orang dari kubu The Circle tersebut terlihat gugup, tapi tidak dengan Sierra yang menunjukkan wajah bengis tak takut, seperti ayahnya—Tobias.
"Jadi ... ini semacam ... pengadilan 13 Demon Heads? Hah, menggelikan. Kalian membuat tempat ini terlihat sungguh konyol," ucap Sierra dengan wajah tengil.
"Aku yang mengusulkan. Kau ada masalah dengan itu, Nona Sierra Valdiscanosafariva Imelda Flame?" sahut Jordan dengan tatapan tajam dari tempatnya duduk.
Namun, Sierra malah tersenyum melihat sosoknya. "Kau siapa, Pria tampan? Kau terlihat pintar dan dominan. Aku bisa merasakan auramu dari sini."
Jonathan terkejut. Ia bingung dengan keadaan ini, tapi rasa cemburu muncul di hatinya. Jonathan menatap Jordan tajam yang menyipitkan mata menatap Sierra.
"Maaf. Aku tak tertarik dengan gadis gila, liar, dan tak beretika sepertimu. Meski kau satu-satunya wanita yang tersisa di bumi ini. Aku enggan berdekatan denganmu," jawabnya dingin.
Nafas Jonathan menderu. Ia terlihat marah. Pandangannya tertunduk, meski orang-orang yang berada di sekitarnya bisa melihat jika pemuda itu seperti berusaha menahan amarahnya.
"Sierra. Bukan dia jodohmu, tapi Jonathan. Jonathan Benedict," ucap Tessa berbisik.
"Who? Jonathan Benedict? Benedict ... maksudmu ... Erik Benedict? Puteranya?" tanya Sierra memastikan. Tessa dan Click and Clack mengangguk cepat. "Oh! Anak manja, sombong, banyak gaya, dan sok pintar itu? Maksud kalian ... dia jodohku? Hah, lupakan saja. Sampai mati aku takkan sudi menikah dengannya."
KLANG!!
"Jo! Jonathan!" panggil Zaid panik karena Jonathan melepaskan cincin pertunangannya dan beranjak dari tempat duduk.
Pemuda itu langsung berjalan begitu saja meninggalkan ruang persidangan dengan wajah datar.
Mata Sierra menyipit melihat sosok pemuda yang memasang wajah dingin dan mengabaikan orang-orang yang memanggil namanya seraya mengejar.
"Dia 'kah, Jonathan itu? Oh, tak kusangka jika ia tumbuh menjadi pemuda tampan. Sayangnya, aku tak tertarik. Aku lebih menyukai pria berwajah dingin menggemaskan berjas hitam yang menatapku penuh kebencian. Siapa namamu, Tuan Tampan?" tanya Sierra dengan pandangan menggoda.
"Sierra!" pekik Tessa sampai mulutnya menganga.
__ADS_1
Namun, Sierra terlihat cuek dan malah bersikap manja di depan Jordan. Click and Clack terlihat bingung dengan keadaan ini.
Suasana riuh seketika. Vesper menatap Sierra tajam di kejauhan. Jordan akhirnya memalingkan wajah dari Sierra yang telah berubah menjadi sosok lain dengan perilakunya yang menggelikan.
"Tessa," panggil Arjuna.
Gadis dengan rambut sebahu itu segera mendatangi Arjuna dengan tergesa. Click and Clack masih diam mengawasi gerak-gerik Sierra seolah mereka sudah tahu dengan wataknya.
"Apa yang terjadi dengan saudarimu itu? Kenapa dia jadi aneh begitu? Apakah karena dampak gas halusinasi?" tanya Arjuna menatap Tessa lekat, begitupula para mafia yang duduk di sekitarnya.
"Sepertinya ... gas halusinasi malah membawa kembali ingatan lama Sierra. Sikapnya ... persis sebelum ia dinyatakan lumpuh. Itulah, sifat asli dirinya. Licik, sombong, kasar, tangguh, dan ... mm, ganjen. Dia suka menggoda para pria, tapi setelah berhasil mendapatkan mereka, para pria itu akan dicampakkan olehnya. Sierra hanya memanfaatkan mereka untuk tujuannya, hem, berkuasa. Meski demikian, dia cerdas. Kalian harus berhati-hati. Aku tak tahu bagaimana mengembalikan dia seperti Sierra yang kalian kenal. Aku kasihan pada Jonathan," ungkapnya terlihat sedih seraya menoleh ke arah Sierra yang malah berbincang dengan Click and Clack entah apa yang mereka bicarakan karena tak terdengar.
"Sial. Ini gawat. Dampak gas tersebut malah membuat petaka baru," ucap Arjuna seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Tessa menatap wajah tampan calon suaminya lekat dengan pipi merona.
DOK! DOK! DOK!
Semua orang langsung terdiam dan menoleh ke arah Amanda. Ketua Dewan Sekretariat tersebut meminta semua orang untuk kembali duduk. Sierra menatap Amanda tajam entah apa yang dipikirkannya.
"Nona Sierra, pernyataanmu tentang tempat ini benar. Inilah, Pengadilan 13 Demon Heads. Sepertinya, persidangan kali ini tak bisa kita lanjutkan. Kau akan di tempatkan di ruangan khusus ditemani oleh Tessa sementara waktu hingga kondisimu membaik," ucap Amanda serius.
"Aku baik-baik saja. Lepaskan sepatu besi jelek ini. Aku bisa berjalan," tegasnya berwajah bengis.
"Oh, tentu saja. Kami akan melepaskan semua belenggu di tubuhmu. Anak buahku akan membawamu ke kamar. Namun, mulai hari ini, kau dalam pengawasan khusus 13 Demon Heads. Kau akan dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaan kami," sambungnya.
"Tentu saja, itu harus. Aku adalah Tuan Puteri. Dan seorang Puteri, memang harus dilindungi, dilayani, dan dimanjakan. Hanya saja, Puteri cantik ini belum memiliki seorang Pangeran. Aku ingin, agar pria tampan di sana yang menemaniku. Tak perlu Tessa atau siapapun bersamaku. Cukup dia saja," jawab Sierra menunjuk Jordan dari tempatnya duduk.
Nafas Amanda menderu. Ia sungguh tak suka dengan cara bicara dan bersikap Sierra.
"Maaf, Nona Gila. Aku sudah memiliki isteri dan anak. Kau, jauh dari tipeku. Namun, ada satu pria yang menyukai wanita gila sepertimu," sahut Jordan berwajah datar.
"Oh, sudah berkeluarga? Malah semakin menarik. Aku suka mengusik kebahagiaan seseorang. Kau belum mencobanya bersamaku. Bagaimana ... jika semalam saja?"
"Kau sungguh menjijikkan. Bawa dia pergi, bungkam mulutnya! Aku tak ingin mendengar ucapan gilanya lagi!" teriak Amanda marah, tapi Sierra malah tertawa terbahak.
Julia mengendalikan kursi roda Sierra keluar dari ruang persidangan. Amanda memijat kepalanya terlihat begitu pusing. Jordan memasang wajah serius.
Kini, giliran senyum licik Arjuna yang terpancar. Ia terlihat begitu bahagia dengan tekanan yang Jordan terima, tapi Tessa melihat gelagat pujaannya itu.
"Awas saja kau berani mendekati Naomi lagi. Aku tak akan segan denganmu kali ini, Kim Arjuna," ancam Tessa. Arjuna terkejut. Ia menatap Tessa keheranan dengan wajah lugu.
***
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️