
Italy, Napoli.
Jordan melepaskan masker oksigen portabel yang telah habis di dalam kapsul. Remaja tampan itu masih berbaring sembari melihat jam tangan yang dikenakannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku Indonesia campuran.
"Sudah 15 menit aku terapung dan jika prediksiku benar, arus ini membawaku menuju Teluk Napoli. Seharusnya, sinyal dari kapsul sudah tertangkap GIGA. Namun, di mana tim penyelamat?" ucapnya berusaha untuk tetap tenang dan kini membuka sleting pada kapsul transparant tersebut.
Jordan duduk di atas kapsul dan tetap menjaga keseimbangan agar tak terbalik. Ia memakai teropongnya untuk melihat sekitar di mana mulai terlihat daratan meski jarak dari tempatnya berada masih cukup jauh jika berenang.
Tiba-tiba, mata Jordan menajam ketika melihat sebuah drone melayang menuju arahnya. Sepasang earphone tanpa kabel tergantung pada bagian bawah drone dan Jordan segera memakainya.
"Jordan! Kau selamat! Kami akan segera menjemputmu!" ucap Naomi dan Jordan mengangguk pelan dengan wajah datar di depan kamera drone tersebut.
Tak lama, sebuah speed boat berwarna putih mendekat. Terlihat Naomi melambaikan tangan dengan penyangga leher masih terpasang. Jordan sedikit terkejut, tapi tetap tenang.
Kapsul Jordan di tarik oleh Bayu The Kamvret dan tim penyelamat. Jordan memberikan tangannya dan Naomi segera meraihnya. Jordan kembali terkejut saat Naomi memeluknya terlihat senang.
"Syukurlah. Kami sangat cemas! Sinyal kalian hilang. Kau tak apa? Mana yang lain?" tanya Naomi melihat sekitar di mana tak mendapati kapsul lainnya.
"Sebaiknya, kita segera menyelamatkan ibuku dan lainnya. Mereka masih terjebak di sebuah bangunan yang disinyalir adalah bekas rumah sakit dulunya. Kami juga menemukan mayat dalam penjara bawah tanah. Banyak jebakan di dalam terowongan itu. Darius ... dia mati," jawabnya terlihat sedih.
Naomi kembali memeluk remaja itu dan Jordan terdiam. Entah kenapa ia merasa senang karena seseorang mengkhawatirkannya.
Naomi segera menugaskan Bayu untuk mengirim tim penyelamat. Speed boat susulan datang dan merapat di samping kapal Naomi.
Jordan menolak untuk kembali ke kediaman Manda sebelum melihat ibu serta anggota timnya di selamatkan. Naomi mengajak Jordan masuk ke dalam untuk membahas hal ini lebih lanjut.
"Sembari menunggu. Bisa beritahu lebih detail tentang tempat itu?" tanya Bayu mendekati Jordan yang berdiri di ruangan crew berkumpul.
"Kau ini! Tak lihat jika Jordan basah? Biarkan dia mengganti pakaian dan mengembalikan tenaganya!" ucap Naomi sewot dan menarik tangan Jordan untuk masuk ke dalam kapal menuju kamar.
Bayu mengedipkan mata terlihat bingung. Ia kembali berkumpul bersama Tim Mawar Jonathan yang menerbangkan CD ke lokasi sesuai informasi Jordan.
Jordan diam saja saat Naomi memakaikan handuk di kepalanya. Naomi juga memberikan Jordan baju ganti pakaian tempur Black Armys untuknya dan Jordan menerimanya dengan wajah datar.
"Kenapa kau berikan dia seragam tempur? Kau keterlaluan, Naomi," tanya Bayu yang kembali muncul menunjuknya.
"Jordan lebih nyaman jika menggunakan seragam tempur ketika menjalankan misi ketimbang pakaian sipil seperti kita," sahut Naomi kembali sewot.
"Sok tau," celetuk Bayu The Kamvret tak percaya.
"Hem. Yang dikatakan Naomi benar. Kau ... tahu dari mana?" tanya Jordan heran melirik gadis Jepang tersebut.
__ADS_1
Naomi tersenyum. "Hanya memperhatikan. Aku sering melihat kau memakai pakaian tempur ketika berada di lapangan. Biasanya kau hanya melapisi dengan jaket agar tak terlihat mencolok. Tebakanku benar ya? Syukurlah," jawabnya terlihat gembira sampai bahunya terangkat ke atas.
Jordan terdiam. Naomi membawanya ke toilet untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Jordan menurut.
Naomi menyiapkan makanan hangat untuk anak dari Amanda tersebut. Bayu menatap Naomi seksama yang terlihat sibuk.
"Kau sedang sakit dan bukannya Yu Jie memintamu agar tak banyak bicara. Kenapa kau banyak mengoceh sedari tadi?" tanya Bayu heran masih memandanginya dari pintu bawah tangga.
"Jika aku memanjakan lukaku, aku tak akan sembuh. Aku biasa bergerak, jika disuruh diam dan berbaring tak bisa. Kau ini berisik sekali. Bagaimana penelusuran tim? Nyonya Manda masih terperangkap, kau ini," gerutu Naomi menatap Bayu kesal.
Pria asal Indonesia itu menghela nafas. Ia kembali menaiki tangga untuk melihat perkembangan Tim Mawar yang ditugaskan.
Tak lama, Jordan keluar dan terlihat sudah lebih bersih. Naomi tersenyum dan meminta Jordan untuk duduk di kursi dengan makanan hangat sudah tersedia.
Jordan menatap Naomi lekat yang terlihat tak nyaman dengan penyangga leher terpasang. Jordan mendekati Naomi dan malah melepaskan penyangga itu. Naomi terkejut.
"Lebih baik?" tanya Jordan dengan wajah datar sembari meletakkan penyangga itu di meja dekat makanannya.
Naomi segera menuju ke cermin dan melihat lehernya masih berwarna biru, tapi tak separah ketika Yu Jie memeriksanya.
"Thank you, Jordan," ucap Naomi dengan senyum terkembang dan ikut duduk di sampingnya.
Jordan diam saja mengamati Naomi yang terlihat sibuk dengan tablet dalam genggaman serta panggilan radio yang tersambung dengan earphone-nya.
"Kenapa? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Naomi heran dan Jordan menggeleng. Jordan segera menyuapi perutnya yang kelaparan dengan sup hangat.
"Penghalang sinyal? Pemancar fatamorgana? Hem, bawa kapal kita menuju lokasi titik jatuh drone dan siapkan persenjataan," tegas Naomi dari tempatnya duduk.
"Yes, Mam."
Naomi menatap Jordan tajam dan remaja itu segera berdiri. Naomi segera beranjak dan kini mereka berdiri di bagian atas kapal untuk meneropong.
"Nona Naomi! Di sana. Dua meter dari jarak kapal kita, lokasi drone jatuh," tunjuk Melati ke sebuah tebing batu.
"Hem, sesuai dugaanku. Ada semacam penghalang sinyal dan mesin akan mati ketika mendekat. Kita tak bisa membawa kapal menuju ke sana. Namun, akan cukup berbahaya jika ibu dan lainnya harus terjun dari tebing. Tempat itu curam dan ...."
SHOOT! JLEB! JLEB!
Jordan terkejut. Belum selesai ia menjelaskan kondisi dari tempat tersebut, Naomi sudah meluncurkan tombak warna hitam besar dengan tali tergulung berikut pengait pada bagian belakang tombak dari tempatnya meneropong tadi.
Jordan diam ketika tembakan Naomi tepat mengenai samping lubang dan terlihat Pion Dexter melambaikan tangan dengan senyum merekah.
"Hampir saja kena kepala Dexter. Aduh, mataku mulai rabun," ucap Naomi meringis sembari mengucek matanya.
Naomi lalu menyalakan sinar laser warna merah dan melakukan panggilan dengan kode kedipan sinar. Amanda mengangguk di kejauhan dan terlihat, orang-orang mulai keluar satu persatu.
"Hei! Jangan bengong! Bawa skoci ke sana. Jemput mereka!" tegas Naomi dengan mata melotot, tapi ia kembali memegangi lehernya terlihat kesakitan.
__ADS_1
"Rasakan. Itu karena kau marah-marah sedari tadi. Sudah kubilang, kau itu harusnya istirahat, tapi malah kabur untuk ikut penyelamatan. Kau tak percaya pada kemampuan kami, hem?" tanya Bayu terlihat kesal.
Naomi tak bisa menjawab. Ia memegangi lehernya dengan kening berkerut. Jordan langsung memegang kedua lengan Naomi dan membawanya masuk ke dalam kapal. Naomi bingung saat Jordan mendudukkannya dengan wajah datar.
"Aku akan mengurusnya. Sebaiknya, kau siapkan saja pakaian ganti untuk mereka. Ibuku juga mengalami luka di kakinya," ucap Jordan dan Naomi mengangguk pelan.
Jordan diam melihat Naomi yang begitu cekatan dalam menerima perintah. Jordan kembali naik ke atas dan meneropong.
Jordan melihat Tim Tawar menggunakan sekoci, mendayung dengan cara manual menuju ke pinggir tebing, di mana para pion mulai meluncur dari tali tombak yang Naomi tembakkan di dinding tebing.
Satu persatu, orang-orang dari timnya berhasil turun dengan selamat dan naik ke atas skoci tersebut. Jordan terlihat lega karena ibunya berhasil di selamatkan oleh tim Jonathan.
Jordan kembali meneropong sekitar tebing itu seperti ingin memastikan sesuatu. Hingga akhirnya, seluruh orang berhasil di naikkan ke dalam kapal.
Amanda memeluk Jordan dan terlihat begitu bangga padanya. Para Pion juga menepuk pundak Jordan dengan senyum terkembang. Jordan melihat Naomi yang begitu sigap memberikan pakaian ganti untuk semua orang.
"Ibumu terluka, Jordan. Sebaiknya kita segera kembali ke rumah. Aku berencana untuk menyusuri tempat itu esok hari, itupun jika kau bersedia menemaniku," ucap Naomi dengan suara serak, memegangi lehernya.
"Ya. Kita kembali dan menyusun strategi untuk masuk ke tempat itu. Aku masih penasaran, bagaimana Venelope dan lainnya bisa keluar tanpa terkena jebakan. Pasti ada yang kulewatkan," jawab Jordan serius dan Naomi mengangguk pelan.
Kapal kembali ke daratan. Sebuah helikopter telah menunggu di dermaga untuk menerbangkan Amanda dan lainnya.
Naomi menunggu jemputan susulan bersama Jordan yang memilih untuk menemaninya di dalam kapal. Bayu menatap gerak-gerik Jordan yang sedari tadi menatap Naomi dari tempatnya duduk.
Gadis Jepang itu tak menyadari jika kesibukannya akan semua misi yang menjadi tanggungjawabnya sedang disorot oleh Jordan dalam diamnya. Jordan tersenyum tipis.
Di ruang perawatan kediaman Amanda.
Sierra terlihat begitu sedih ketika melihat calon suaminya masih terbaring tak sadarkan diri dengan banyak alat medis tertancap di tubuhnya.
Luka bakar yang di derita Jonathan cukup parah dan membuat kulitnya terkelupas. Sierra meneteskan air mata meski tak ada isak tangis terdengar dari bibir tipisnya.
"Tak bisa dimaafkan. Mereka harus dihukum," ucap Sierra sembari menggenggam tangan Jonathan erat di samping ranjang.
"Jangan gegabah, Sierra. Aku akan ke sana. Tunggu kedatanganku," ucap Tobias dari panggilan video call dan Sierra mengangguk.
Yu Jie dan para Pion yang berdiri mengelilingi Jonathan hanya bisa diam tak berkomentar.
"Keluarlah, aku ingin sendiri menemani Jonathan," pinta Sierra dan semua orang keluar secara teratur dalam diam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE & PINTEREST
Uhuy, tengkiyuw tipsnya. Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan. Semoga kalian semua bisa menikmati berkah Idul Qurban ya. Lele padamu^^
__ADS_1