
SHOOT! BLUARR!
Anak panah Lysa melesat dan mengenai tepat ke bagian bawah dari geladak yang dipijak oleh Tora.
Pria berkepala gundul itu memejamkan mata seperti sudah siap dengan kematian yang akan datang padanya.
"Arrghhh!"
BYURR!!
Lysa langsung menjatuhkan busur panahnya. Kapal itu meledak hebat dalam kobaran api.
Lysa menangis terisak di atas kayak hingga tubuhnya bergetar hebat. Ia sampai tak menyadari jika tiga isteri Tora terlempar dari kapal tersebut dan kini tubuh mereka tenggelam di lautan.
Beruntung, para Pion berada di sekitar lokasi. Jet ski yang ternyata sudah mereka persiapkan saat melihat pergerakan Lysa di tempat itu, bergegas mendatangi kapal.
Lysa yang hanyut dalam kesedihan, terus menangis meratapi diri. Ia menyerukan seluruh perasaannya di atas perahu dayung itu. Hatinya berkecamuk begitupula pikirannya.
"Hiks, Toby ... Toby ...," ucap Lysa berulang kali menyebut nama mendiang suaminya.
Perlahan, ingatan lama akan kekejaman Tobias dulu kembali ke pikirannya. Betapa kejamnya Tobias saat pertama kali ia muncul dan menculik ibunya.
Tobias membunuh keluarga Bardi dan hanya menyisakan Torin seorang. Lysa yang awalnya membenci Torin karena mengira dialah salah satu pelaku pembunuh Tobias akhirnya terbantahkan.
Saat Lysa sedang dirundung kebingungan, botol yang berisi gulungan dari kesepakatannya dengan Tora mengambang di dekat kayak yang sedang ditumpanginya.
Lysa berusaha meraih botol itu dengan menggapainya, tapi botol itu malah semakin menjauh.
Lysa menggunakan dayung untuk mengambilnya. Ia teringat jika ada kalimat terakhir yang dibaca sekilas karena hanya poin utama saja yang diingatnya.
Isi kalimat itu yakni, Tora meminta agar Lysa menjaga keluarganya dan bertanggungjawab penuh atas mereka jika nanti dirinya tewas saat diserahkannya pembunuh Tobias.
Hanya saja, poin terakhir ia lupakan. Ia membacanya sambil berlalu karena dirasa hal itu sudah tak berarti mengingat Tobias telah mati. Lysa kembali membuka botol tersebut dan membuka gulungan dengan tergesa.
Seketika, matanya melebar. Ia akhirnya bisa membaca dengan jelas tulisan itu saat menyalakan ponsel dan meneranginya dengan senter.
Lysa akhirnya paham dan yakin dengan isi dari tulisan terakhir itu, jika hal tersebut ada hubungannya dengan sang ibu.
'Seharusnya aku melindungi Tobias dan para Pion. Namun, aku malah melakukan sebaliknya. Aku mengecewakannya. Jadi, kau jangan mengecewakanku.'
Tangan Lysa bergetar hebat. Ia akhirnya menyadari jika ada kobaran api besar di hadapannya.
Mata Lysa bergerak tak beraturan. Ia teringat akan janjinya pada Tora jika ia harus bertanggungjawab dengan keluarga yang ditinggalkan karena telah membunuh kepala keluarga itu.
Lysa memasukkan botol dan kertas itu dengan tergesa berikut ponsel ke dalam tas. Lysa segera mendayung dengan cepat ke arah puing-puing kapal.
Sayangnya, ia tak menemukan satu pun orang di sana kecuali mayat Tora yang mengambang dengan luka di sekujur tubuh hingga sosoknya hampir tak dikenali.
"Harrghhhh! Arrrghhhh! Paman Tora! Paman Tora!" teriak Lysa histeris saat ia mendapati Tora telah tewas mengenaskan karena perbuatannya.
__ADS_1
Tak lama, terdengar suara dari arah pantai. Suara mesin kapal bergerak menuju ke lautan. Lysa yang baru menyadari perbuatannya tak menghiraukan jika tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak orang karena aksi yang dilakukannya tadi.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
"Nona! Nona! Anda tidak apa?" tanya seorang pria mendekati kayak yang Lysa tumpangi, tapi wanita cantik itu terus berteriak hingga seluruh ototnya menegang ketika mendapati tubuh Tora terapung di sebelahnya.
"Ada korban! Segera lakukan evakuasi! Amankan sekitar!" teriak salah satu pria yang memiliki wewenang penuh di tempat itu.
Orang-orang berasumsi jika Lysa mengalami shock dan trauma akibat kejadian itu. Lysa terus menyebutkan nama Tora. Para pria itu beranggapan jika pria yang tewas mengenaskan tersebut pasti salah satu kerabatnya.
Bahkan, saat mayat Tora dievakuasi, Lysa malah mengamuk. Ia meminta agar mayat Tora tak dibawa pergi. Namun, petugas merasa jika wanita yang ditemui mereka sedang terganggu jiwanya.
"Hargh! Lepaskan aku! Paman Tora! Paman Tora!" teriak Lysa memberontak hingga ia hampir tercebur saat akan dipindahkan ke kapal yang lebih besar untuk dievakuasi.
Lysa terpaksa dibius agar tenang. Orang-orang terlihat iba dengan kondisi wanita yang ditemui mereka di tengah lautan di malam gelap dan kini harus mengalami kenyataan pahit dengan tewasnya kerabat terdekat.
Praktis, kejadian itu masuk ke berita dan menggemparkan Jepang. Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads dibuat melotot setelah wartawan menyorot wajah Lysa yang kini sedang ditangani oleh pihak medis khusus trauma.
Sedang mayat Tora, jasadnya dikamuflasekan. Para mafia itu terlihat shock terutama para bodyguard Vesper setelah reporter menyatakan jika nama pria tersebut adalah Tora.
Hal itu dipastikan dari nama yang dipanggil oleh wanita yang mereka temukan di atas kayak saat tragedi berlangsung.
"Tora-kun! Tora!" teriak Eko langsung roboh dalam air mata saat ia yakin jika mayat tersebut memang sahabatnya.
Hal serupa juga terjadi dengan para bodyguard Vesper lainnya. Drake dan Seif sampai mengamuk dengan merusak benda-benda yang ada di sekitar mereka.
Buffalo memeluk kedua lututnya di depan televisi ruangan begitu ia menonton berita kriminal tersebut.
Kai shock termasuk Han ketika keduanya melihat berita itu dari ponsel yang diteruskan oleh petugas di Markas Hashirama, Jepang.
Agent M dan S segera bertindak untuk memastikan hal tersebut. Ternyata, tiga isteri Tora dan lelaki gundul itu, memang tak berada di Kastil sudah hampir sebulan lamanya.
Namun, tiga isteri Tora masih memberikan kabar hingga insiden diliput wartawan dan tak ada lagi informasi terbaru dari mereka.
"Lalu di mana mereka sekarang?" tanya Agent S kepada para Black Armys penjaga.
"Jika dilihat dari jam tangan pelacak, mereka ada di Shizuoka. Kami yakin, kejadian itu ada kaitannya dengan Tora. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di Suruga Bay, kami tidak tahu," jawab salah satu penanggungjawab tempat tersebut.
"Baiklah. Kita segera selidiki. 10 orang Black Armys Ninja ikut dengan kami. Ayo," ajak Agent M mendesak.
"Baik!" jawab kesepuluh orang serempak yang langsung merapat ketika tugas memanggil.
Di tempat para Pion berada. Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Syukurlah mereka baik-baik saja, hanya mengalami luka ringan," ucap Pion Dakota dengan tubuh masih basah kuyup karena harus menyelam untuk menyelamatkan isteri Tora bernama Mei.
"Lysa sungguh gila! Kenapa ia tak berpikir dulu sebelum bertindak? Jika aku menjadi dia, semarah-marahnya aku dengan Tora, akan kuselidiki dulu dan baru kuputuskan," gerutu Darwin berdecak kesal karena melihat kronologi kejadian sebenarnya.
"Apa kautahu isi dari gulungan itu? Kita tak sempat mencarinya karena fokus menyelamatkan tiga isteri Tora," sahut Pion Dexter.
__ADS_1
"Isi itu tentang janji Lysa pada Tora," jawab Lian sendu seraya membuka mata perlahan.
Praktis, Lian yang telah sadar mengejutkan para Pion yang membaringkan mereka di sebuah wilayah sepi usai diselamatkan.
Lian duduk perlahan dengan tubuh basah kuyup. Wajahnya terlihat begitu sedih seperti kehilangan hal yang sangat dicintainya. Air mata itu menetes perlahan dari wajah cantik salah satu isteri Tora tersebut.
"Tora yang merencanakan semua. Dia meminta kami untuk terlibat. Mulai dari memberikan petunjuk dan menyebar beberapa kloning di segala penjuru Jepang. Dia sengaja melakukannya. Dia mengatakan ... Lysa harus ditolong. Lysa harus diselamatkan. Hanya dengan menemukan pembunuh Tobias dan menghabisi nyawa pembunuh itu, kehidupan Lysa akan kembali lagi. Tora ... Tora menyerahkan hidupnya agar Lysa hidup kembali," ucap Lian dengan isak tangis menutup kisahnya.
Para lelaki itu langsung terdiam usai mendengar kesaksian dari wanita berambut panjang tersebut.
Mereka sungguh tak menyangka, jika Tora merelakan hidupnya agar kehidupan Lysa kembali. Tora tahu jika Lysa hilang arah karena kepergian Tobias.
"Lalu ... isi gulungan itu? Apa isi perjanjiannya?" tanya Pion Damian menatap Lian lekat yang masih menangis hingga tubuhnya bergetar hebat.
Lian mengangguk membenarkan. Ia lalu berusaha menghentikan air mata dengan menarik napas dalam berulang kali.
Para Pion terlihat iba. Mereka tahu, jika Lian berusaha keras menahan duka karena kehilangan pria yang dicintainya, sama seperti Lysa.
"Tora meminta Lysa berjanji untuk bertanggungjawab penuh kepada keluarganya. Yang dimaksud adalah kami, tiga isteri Tora dan tujuh anaknya. Sebagai gantinya, Tora akan menyerahkan pembunuh itu. Sampai gulungan itu ditandatangani, Lysa sepertinya belum menyadari jika pembunuhnya adalah suamiku. Lysa sepertinya benar-benar sudah gelap mata sampai ia tak bisa menduga hal itu. Ia malah menyalahkan banyak orang termasuk menuduh Vesper. Namun, asal kalian tahu, Tora seharusnya menjadi penyelamat Tobias dan kalian karena misi yang diberikan oleh Vesper," jawab Lian lalu mendekati saudarinya yang masih pingsan.
Para Pion melebarkan mata seperti bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh wanita berambut hitam tersebut.
Lian mengambil sebuah amplop yang diselipkan pada yukata hitam yang dikenakan oleh saudarinya—Rui.
Amplop itu basah, tapi masih bisa diselamatkan isinya. Vesper seperti sengaja menggunakan kertas khusus sehingga tulisan itu tak rusak meskipun terendam air.
Lian membuka isi dari amplop merah maroon dan meletakkannya di atas lantai dengan hati-hati. Para Pion mendekat untuk melihat lebih jelas tulisan dari amplop tersebut.
'Satu misi penting untukmu, Tora. Tolong, lupakan dendammu pada Tobias dengan menjadi penyelamatnya. Aku yakin, kematian Mitsuki dan Tokio akan lebih baik dengan kau menjaga pria itu tetap hidup. Selamatkan Tobias dan para Pion yang tersisa dari incaran Miles. Jangan biarkan pria itu membunuh mereka. Jika kau memang mengabdi padaku, tunaikan tugas ini. Aku percaya padamu. Vesper.'
Mata para Pion terbelalak lebar. Mereka terlihat shock usai membaca isi tulisan Vesper yang tercetak jelas pada kertas itu. Pion Darion sampai hampir jatuh karena tak menyangka hal tersebut.
"Ve-Vesper melindungi kami? Begitu maksudmu?" tanya Diego tak percaya sampai pandangannya tak menentu.
"Ya. Dia ingin menyelamatkan seluruh keturunan Flame. Sierra, Venelope, Tessa, Cassie, Afro, dan lainnya, masuk dalam daftarnya bahkan kalian dan Click and Clack yang bukan keturunan Lucifer. Vesper menganggap kalian sudah seperti keluarganya. Ia sengaja bersikap kejam dan seolah ingin melenyapkan kalian agar Miles percaya jika Vesper memang berkeinginan untuk menumpas The Circle. Bahkan, ia rela dibenci oleh anak-anaknya," ucap Lian menjelaskan dengan napas memburu.
"Memang kenapa jika anak-anaknya tahu? Bukankah hal ini malah bisa diantisipasi?" tanya Darwin bingung, tapi Lian menggeleng.
"Vesper sudah hafal tabiat dari keempat anaknya. Mereka saling membenci satu sama lain. Mereka sudah tak solid seperti dulu lagi. Diantara mereka, pasti ada yang akan membelot dan membocorkan hal ini pada Miles. Anak-anak Vesper tak bisa mengolah perasaan mereka, terlebih pengaruh dari keturunan Flame sendiri yang membentuk kubu masing-masing seperti Tobias, kalian, kelompok Sierra, kelompok Tessa, bahkan Jonathan saja tak bisa menentukan cintanya kepada Sierra atau Cassie dan malah membuatnya semakin rumit dengan memberikan anak buahnya kepada Miles. Semuanya terbukti jelas. Semua hal yang dikhawatirkan Vesper terjadi, jauh sebelum petaka ini menimpa kita!" ucap Lian tegas menjelaskan.
Semua Pion terdiam mendengar penuturan Lian yang tak pernah mereka duga.
"Oleh karena itu, Vesper ingin menghentikannya dengan misi amplop merah maroon ini," ucapnya seraya menunjuk ampolop tersebut. Para Pion saling memandang dan terlihat serius menyimak.
"Surat ini bersifat rahasia. Aku baru mengetahuinya saat Tora mengatakan jika pilihannya salah karena ia mengikuti egonya. Setelah ia membunuh Tobias, hatinya tak tenang. Ia merasa yang dia lakukan tak memberikan perasaan lega dihatinya, malah membuatnya bersalah. Ia bermimpi bertemu Mitsuki dan Tokio. Mereka mengatakan jika hal yang dilakukannya sangat mengecewakan. Keduanya tak pernah meminta Tora membalaskan kematian mereka. Bisikan dendam membuatnya gelap mata. Hal itulah yang menyadarkan Tora sehingga ia memutuskan untuk menyelamatkan Lysa agar tak menjadi seperti dirinya," ungkap Lian yang membuat para Pion mematung.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Lele padamu❤️Kuy yg mau vote tips bisa di Red Lips ya mumpung masih sepi jadi siapakah yg akan jadi number one ss tips koin nongol di sana. kwkwkw😆