
Getaran hebat masih terasa. Ternyata, ledakan besar itu membuat pohon-pohon tumbang seperti terjadi longsor di wilayah tersebut.
Beruntung, tim penyelamat dan medis dengan sigap menaikkan seluruh korban yang terluka ke atas kapal sebelum daratan ambles, dan membuat orang-orang Vesper tertelan tanah yang mengamuk.
Kai berhasil diselamatkan oleh Victor, meski hanya mampu ia gendong di punggung sampai ke tempat evakuasi dan selanjutnya ditangani oleh para petugas medis untuk dinaikkan ke atas kapal.
"Maaf, Tuan Han. Nyonya Vesper nekat turun dari kapal setelah tahu Miles sulit untuk dibunuh," ucap tenaga medis pucat karena Han menatap orang-orang itu tajam saat memasuki kapal.
"Sudahlah, tak ada gunanya memaki kalian. Pastikan isteriku segera pulih. Aku hampir tak bisa merasakan denyut nadinya. Semoga tak ada tulangnya yang patah," ucap Han cemas saat membaringkan Vesper di ranjang pasien perlahan.
"Siap, Tuan Han!" jawab lima orang itu serempak. Han lalu pergi untuk memastikan anggota tim yang lain.
Di dalam kapal, semua orang khawatir. Vesper tak sadarkan diri dan Kai seperti mengalami gangguan syaraf di otak karena benturan kuat di kepalanya.
Jeremy dan seluruh tim medis dibuat sibuk untuk memastikan sepasang suami isteri itu tetap bertahan sampai ke Jepang di mana kapal bersiap untuk meninggalkan lokasi pertempuran di Sakhalinsk, Rusia.
Jeremy mengambil sampel darah Vesper di mana ia tak menduga jika racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya dan mampu membunuh Miles.
Namun, ia baru sadar. Serum yang selama ini disuntikkan ke tubuh Vesper ternyata memang benar-benar mampu menangkal penyebaran racun.
Sayangnya, semenjak seluruh serum ciptaannya dimusnahkan oleh Miles berikut catatan formulanya, Jeremy seakan kehilangan kemampuan untuk membuat lagi.
Akan tetapi, melihat ciptaannya berhasil, optimisme sang Profesor kembali. Ia akan berusaha keras membuat serum-serum tersebut agar bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit karena racun buatannya.
Saat ruangan besar di dalam kapal tempat berkumpulnya para pasien riuh, tiba-tiba One muncul dan membuat kepala semua orang menoleh ke arahnya.
"Hah, gawat! Sepertinya, kita akan terkena masalah," ucap One dengan napas tersengal.
"Ada apa?" tanya Buffalo cemas yang mengalami luka di beberapa bagian tubuh dan sedang diobati.
"Militer sepertinya tahu jika ini bukan aksi pembuatan film. Kita harus segera pergi dari sini," jawab One yang membuat semua orang mengangguk paham.
Eiji menginformasikan jika terlihat pergerakan dari arah jalan raya menuju ke lokasi pertempuran.
Mobil polisi dan ambulance mendatangi lokasi ledakan. Namun, Click, Clack, Mix and Match tetap berada di tempat untuk memastikan jika Miles benar-benar tewas serta pihak militer tak mengusik mereka lagi.
Han mempercayakan tugas penting itu pada empat orang tersebut. Kapal akan merapat di Hokkaido dan nantinya semua orang akan singgah di kediaman Yusuke Tendo.
Tiga buah kapal bergerak meninggalkan dermaga di hari menjelang fajar usai menaikkan seluruh penumpang.
Para mafia dan anak-anak yang mengetahui jika Vesper serta lainnya mulai berlayar, segera bergegas menyusul ke Hokkaido.
Para mafia yang selamat dan tak mengalami luka serius, terlihat bersiaga di bagian luar kapal meski harus menyamar layaknya ABK mengenakan seragam untuk mengamankan armada dari serangan militer.
Di dalam kapal selama pelayaran.
"Kau tak apa?" tanya Venelope menatap Cassie yang terlihat sedih karena sang ayah meninggal.
"Ya. Dia pantas mati," jawab Cassie yang kembali tegar.
__ADS_1
Venelope yang dibaringkan di samping Cassie mengangguk pelan dengan senyuman.
Empat anak Vesper tak sadarkan diri dan mendapatkan penanganan intensif. Tiga diantaranya mendapatkan transfusi darah.
Saat semua pasien beristirahat dan tidur di ranjang masing-masing, Jordan mendatangi Naomi yang tergolek lemas usai diobati. Naomi terlihat sedih saat mantan suaminya datang untuk menjenguk.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jordan sendu, tapi Naomi memalingkan wajah terlihat sedih. "Aku tahu kau kecewa dengan keputusanku, Naomi. Namun sungguh, aku ... tak bisa menjadi suamimu lagi. Ingatanku sudah kembali saat kumelakukan hal itu dengan Sandara dan sulit untuk dihilangkan dari ingatanku. Aku ... benar-benar menyesal dan minta maaf," ucapnya dengan suara bergetar.
Naomi memalingkan wajah terlihat kecewa dan sakit hati dengan ucapan pria yang pernah dicintainya itu.
"Satu hal yang perlu kau tahu tentangku dan sepertinya tak ada yang memahami hal ini," ucap Jordan lirih yang membuat pandangan Naomi kembali padanya. "Jika aku pernah membuat kesalahan fatal dan hal itu menyakiti perasaan orang-orang yang kusayangi, sulit bagi diriku sendiri untuk memaafkan kesalahan itu, meski kau bisa memahaminya," ucapnya yang membuat Naomi meneteskan air mata.
Jordan menarik napas dalam seraya menatap ibu dari Sig lekat dengan mata berlinang.
"Aku akan tetap menjamin hidupmu dan Sig. Aku akan selalu menjenguk tiap akhir pekan untuk memastikan kau dan anak kita baik-baik saja," ucap Jordan yang membuat Naomi memejamkan mata.
Jordan beranjak dari dudukkan. Naomi terlihat berusaha menahan tangisannya dan masih terbaring di ranjang pasien.
"Aku akan selalu mencintaimu, Naomi. Maafkan aku," ucap Jordan dengan mata berlinang.
Ia meninggalkan ciuman penuh kasih di kening wanita yang sedang berusaha menerima keputusan sepihak dari sang suami untuk berpisah dengannya.
Naomi menangis terisak saat melihat Jordan pergi meninggalkannya dengan langkah gontai. Siapa sangka, Sandara mendengarkan percakapan tersebut, meski matanya masih terpejam.
Gadis cantik itu berpura-pura tidur selama di ruang perawatan bersama pasien yang lain. Sandara ikut meneteskan air mata dalam diam agar tak ada yang melihat kesedihannya karena ia bisa merasakan kekecewaan Naomi.
Akhirnya, kapal berhasil merapat di dermaga milik perusahaan pelayaran keluarga Tendo. Para mafia yang telah tiba, menyambut kedatangan kawan-kawan mereka yang berhasil menyelesaikan misi di kediaman megah mafia muda tersebut.
Jeremy tak putus asa dan terus berusaha. Lucy dengan penuh perhatian menjadi perawat pribadi untuk orang yang sangat berjasa bagi hidupnya itu.
Yusuke telah menyiapkan banyak kamar untuk para tamunya baik yang sedang sakit atau pun para anggota dewan berikut keluarga. Sedang empat anak Vesper, dirawat di kamar terpisah.
Di kamar tempat Lysa dirawat.
Saat Lysa membuka mata, ia terkejut mendapati King D dan Fara ada di sampingnya. Detik itu juga, penyesalan merundung hati wanita cantik itu.
"D ... Fara ... Mimi ... hiks, Mimi minta maaf," ucapnya sedih.
King D tak menjawab, tapi ia mendatangi sang ibu dan memeluknya.
"Kau membawa oma pulang, Mimi. Kau tak membunuhnya," ucap King D yang membuat Lysa langsung meneteskan air mata.
"Mimi tahu jika Mimi bersalah. Bahkan saat oma berjuang melawan Miles, oma masih mengkhawatirkan keselamatan Mimi," jawab Lysa dengan suara bergetar dan berusaha memeluk King D meski tangannya terluka. "Mimi sangat jahat, D ... perbuatan Mimi tak bisa dimaafkan," ucap Lysa seraya meneteskan air mata.
Fara tak berkomentar saat melihat ibunya menangis. Namun, melihat sang kakak memeluk wanita yang terbalut perban di berbagai bagian tubuh itu, membuat Fara ikut mendekat dan merebahkan kepala di perut sang ibu.
"Oh, Fara ... Mimi minta maaf sudah mengabaikanmu karena dendam. Mimi sangat menyesal," ucapnya seraya memegang kepala sang anak dengan rasa sesal mendalam.
Javier yang mendengarkan pengakuan Lysa diam di balik pintu saat ia bermaksud untuk mengajak dua anaknya kembali ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
King D seperti ingin memastikan keadaan sang ibu dengan terus menjaganya selama tak sadarkan diri.
Javier mengurungkan niat dan memilih untuk memberikan waktu bagi Lysa berkumpul bersama buah hatinya.
Di kamar Jonathan.
Pemuda itu satu ruangan dengan Cassie yang ikut dirawat bersamanya. Jonathan yang sudah sadar, menatap wajah Cassie iba saat melihat kekasihnya terbaring lemah tak sadarkan diri karena terus-menerus terluka.
"Nathan janji. Nathan akan jadi cowok yang kuat, yang akan lindungin ayang Cassie dari orang-orang jahat. Nathan juga janji, akan jadi Papa yang bertanggung jawab untuk anak kita nanti," ucap Jonathan serius lalu meninggalkan kecupan di dahi kekasihnya.
Ranjang keduanya bersebelahan. Jonathan menggenggam tangan Cassie erat dan berusaha untuk tetap tegar sampai kondisinya pulih.
Tiba-tiba, pintu kamar Jonathan terbuka. Pemuda itu terkejut saat mendapati Ivan, Martin dan Sherly masuk ruangan.
Mata Jonathan terbelalak lebar. Ia berusaha bangun, tapi seluruh tubuhnya sakit dan terasa kaku. Ivan dan lainnya mendatangi Jonathan yang terlihat gugup karena kehadiran mereka.
"Papi ... om ... tante ... Nathan—"
"Kau baik-baik saja? Kau lelaki yang kuat, Jonathan. Kami melihat pertempuranmu melawan Miles. Meski bisa kubilang, kaubutuh latihan keras agar bisa mengalahkan pria seperti Miles, tapi usahamu lumayan," ucap Ivan dengan gerakan tangan.
Jonathan terkejut. Ia mengira Ivan akan dendam padanya, tapi ternyata tidak. Pemuda itu terdiam karena malu.
"Jangan bertindak bodoh lagi. Jangan membuat orang-orang yang menyayangimu bersedih. Mulailah tata hidupmu dengan benar setelah ini. Jangan lupa, masih ada kami sebagai keluargamu," ucap Martin dengan senyuman, tapi malah membuat putera Erik tersebut menangis.
Ivan, Martin dan Sherly terkekeh karena Jonathan masing cengeng padahal sudah menjadi seorang ayah.
"Cepatlah sehat lalu temuilah Sierra. Dia sudah melahirkan. Bayimu menunggu kedatangan ayahnya untuk dijenguk," ucap Sherly yang membuat mata Jonathan terbelalak lebar.
"Oh! Sierra sudah melahirkan?!" tanyanya memekik. Sherly mengangguk dengan senyuman.
Jonathan tampak bahagia. Ia tak menyangka jika memiliki dua anak dan impiannya menjadi seorang papa muda terwujud.
"Nathan punya satu eh dua permintaan. Bisakah diwujudkan?" tanyanya terlihat gugup.
"Apa itu?" tanya Ivan berkerut kening.
"Musim semi nanti, Nathan mau nikahin Sierra dan Cassie. Nathan mau mereka berdua jadi isteri Nathan. Bisakan?" tanyanya dengan mata berbinar, tapi membuat tiga orang itu bingung dalam menjawab.
"Jangan lupa, gunakan jasa WO-ku, Jonathan," sahut Zaid muncul dari balik pintu dan membuat orang-orang di ruangan tersebut langsung menoleh ke arahnya. Jonathan mengangguk cepat.
"Aku tetap tak mau tinggal serumah dengan Sierra. Aku mau tinggal di Black Castle dan Sierra di Paris. Pernikahan kami juga terpisah. Kau harus menikahiku dulu. Aku menjadi isteri pertama," tegas Cassie yang membuat Jonathan terkejut karena kekasihnya telah sadar entah sejak kapan.
"Ya! Tentu saja!" jawab Jonathan riang, tapi membuat empat orang yang mendengarnya terlihat canggung.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ otw tamat nih. begitu 4YMS2 tamat lele sepertinya akan mulai meluncurkan King D tapi nanti akan lele tahan upnya alias dihiatusin sementara. Lele fokus tamatin Red Lips dan Monster Hunter.
__ADS_1
Hanya saja dunia King D udh masuk fantasi karena lompatan waktunya jauh ke masa depan. King D itu lanjutan dari Marco-Polo. Jadi, latihan berfantasi dengan baca SIMULATION dan Monster Hunter. Semangat💪💪💪