
Hari itu, layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia. Sierra menghabiskan waktunya bersama Jeremy di Red Mansion.
Jeremy memberitahukan teknis penginputan dan penghapusan kode dari alat perekam suara untuk mengoperasikan benda tersebut.
Sedang Jonathan, sibuk berbisnis dengan Rayya dan Roxxane di Laboratorium Jeremy ditemani Click and Clack.
"Untuk apa semua senjata kimia ini? Persediaan hingga 10 tahun ke depan?" tanya Rayya menatap Jonathan tajam seraya melirik koper berisi Rainbow Gas yang tersusun rapi hingga 10 tumpuk.
"Hem. Mumpung Nathan dateng ke Filipina, jadi sekalian aja stokan," jawabnya santai seraya menunggu Roxxane yang mengurus pembayaran karena pembelian Jonathan untuk gas beracun dan serum penawar mencapai 1 miliar rupiah.
"Oke, sudah selesai. Terima kasih, Jonathan. Semoga kau menggunakan benda-benda ini dengan bijak," ucap Roxxane setelah menerima uang tersebut di rekening suaminya.
Jonathan mengangguk pelan tanpa senyuman. Dua anggota SYLPH tersebut menatap Jonathan seksama yang terlihat dingin sejak kedatangannya kemarin.
Keesokan harinya, Jonathan pergi meninggalkan Filipina usai menginap semalam.
Tentu saja, pembelian dalam jumlah banyak itu dilaporkan kepada Kai yang bertugas di bagian keuangan utama Vesper Industries, termasuk pemberian sepatu robot dan sarungnya.
Hanya saja, dua benda itu Jeremy berikan sebagai hadiah kepada Sierra dan Kai tak melakukan penagihan pada inovasi kolaborasinya tersebut.
"Terima kasih, Jeremy," jawab Kai lalu menutup panggilan telepon. Kai diam sejenak lalu melakukan panggilan dari ponselnya di ruang kerja.
"Ya, Kai?" jawab seorang pria bersuara berat.
"Dominic. Apakah Jonathan menghubungimu?"
"Ya, tapi dalam bentuk pesan elektronik. Dia sedang menuju kemari. Katanya, ia membutuhkan banyak senjata termasuk sepatu magnet. Ada apa ini, Kai? Apakah Jonathan sungguh ingin melakukan penyerangan kepada anggota dewan karena sakit hati dengan keputusan mereka?"
"Entahlah. Namun, biarkan dia membelinya. Aku ingin tahu apa yang direncanakannya tanpa harus menanyainya. Pergerakan Jonathan terlalu mencolok," jawab Kai serius.
"Ya, aku tahu. Namun, jika Jonathan sungguh memesan sesuai dengan permintaannya, kita bisa kekurangan stok. Apakah kita harus melakukan produksi besar-besaran untuk menutup kekurangan? Jujur, pergerakan kita diawasi ketat oleh militer. Beberapa penyedia bahan baku kita mengatakan jika polisi mulai memperketat penjagaan dalam pengiriman barang keluar negeri, terlebih, tempat kita ditandai," tegas Dominic.
Kai diam sejenak. "Katakan pada Jonathan tentang kesulitan produksi kita. Bilang padanya, jika dia hanya bisa memesan setengahnya dari permintaan. Jika dia keberatan, permintaannya tak diproses. Aku ingin lihat reaksinya."
"Oke, aku mengerti. Jujur, Kai, perasaanku tak enak dengan hal ini, tapi ... baiklah, aku harus segera bersiap."
"Terima kasih, Dominic," jawab Kai lalu menutup panggilan telepon.
Kai membuka buku catatannya bersampul merah maroon. Ia membuat sebuah skema dengan nama Jonathan Benedict di sana.
Ada beberapa diagram di mana tertulis apa saja yang Jonathan miliki termasuk pergerakannya saat perselisihan di mulai.
Cukup lama Kai membuat sketsa itu dengan pulpen hitam di tangan kanannya, hingga seketika, matanya melebar. Ia melihat sebuah pola penyerangan yang akan dilakukan oleh anak dari mendiang Erik tersebut.
"Mungkinkah?" ucapnya terlihat ngeri seketika.
Rusia, Kastil Borka, Kaliningrad.
Benar saja, seperti dugaan Kai, Jonathan serius dengan pemesanannya. Dominic ditemani isterinya, Casilda, menatap rombongan Jonathan serius di mana Sierra kini bisa berdiri tanpa kursi roda elektrik lagi.
"Untuk apa semua senjata-senjata ini, Jonathan? Kita sudah tidak berperang dengan militer sejak kematian Madam," tegas Dominic duduk di kursi kebesarannya dengan cerutu terjepit diantara jemari tengah dan telunjuk.
"Stok. Biaya pengiriman mahal, Om Domy. Mumpung Jonathan singgah, jadi sekalian aja," jawabnya sama seperti yang ia ucapkan ketika Rayya menanyainya.
__ADS_1
"Hanya saja, kami sedang kesulitan melakukan produksi karena kehabisan bahan baku. Kami tak bisa memberikan semua seperti permintaanmu. Jika kau tetap ingin membeli, kami berikan toleransi 50% saja dari stok yang ada," sambung Casilda yang duduk di kursi terpisah terlihat garang.
"Lalu, untuk apa stok 50% yang ada di gudang?" tanya Jonathan serius.
"Untuk persediaan kami, tentu saja. Tak mungkin gudang kami kosong. Kastil Borka, adalah pertahanan utama yang menaungi seluruh markas dalam jajaran Vesper bahkan 13 Demon Heads. Banyak permintaan yang datang dan bukan dari kau saja, Jonathan. Karena kau anak dari Vesper selaku pemilik tempat ini, kami berikan jumlah di atas rata-rata dari sebuah permintaan," tegas Casilda menatap Jonathan tajam.
"Jadi ... anggota dewan lain masih boleh membeli dan memiliki senjata buatan Vesper Industries?"
"Yes," tegas Casilda dan Dominic cepat.
Jonathan mengangguk pelan.
"Oke. Aku hargai kebaikan kalian. Aku akan ambil 50% dari persediaan sesuai dengan permintaanku. Tolong diproses," pinta Jonathan seraya berdiri dan merapikan jas warna biru tuanya.
"Ini memakan waktu seharian. Menginaplah, esok aku janjikan sudah beres. Segera urus pembayaran dengan Casilda," ucap Dominic lalu menghisap cerutunya kuat.
"Oke," jawab Jonathan santai lalu berpaling.
Sierra kini menjadi bagian keuangan dari semua usaha yang dimiliki Jonathan. Gadis bermata biru itu pergi menuju ke ruang kerja Dominic untuk mengurus pembayaran yang mencapai 5 miliar rupiah.
Dominic menatap Jonathan tajam. Diam-diam, ia mengirimkan pesan kepada Kai. Praktis, mata Kai semakin menyipit melihat angka di catatannya sama persis dengan tulisan Dominic.
"Sepatu magnet, granat tabung, JERA, granat mini, Domino, mini Domino, senjata peleleh logam, critical drone, baby EM, pemancar fatamorgana 1 km dan 500 meter, pemancar fatamorgana portabel, Galundeng, Shield, HIT, dan ... Umbrella," ucapnya menjabarkan lalu menutup wajahnya dengan satu tangan disertai hembusan nafas panjang. "Dia sungguh ingin berperang. Ya Tuhan," ucap Kai gugup seketika.
Ternyata, Jonathan tak singgah di Filipina dan Rusia Kastil Borka. Ia mendatangi Boleslav Industries yang kini dikelola oleh Red yang berada di Jumbo Island, Kanada.
Dua hari setelahnya.
"Untuk apa semua permintaanmu ini, Jonathan?" tanya Red menatap putera mendiang Erik seksama. "Jangan bilang persediaan."
Red mengangguk pelan terlihat memikirkan permintaan Jonathan dengan serius.
"Oke. Aku akan mengurus pesananmu. Kau sebaiknya menginap di Giamoco Island," sarannya, dan Jonathan mengangguk setuju. "Oh iya, apa kau sudah tahu jika Yuki dan Torin akan menikah awal musim semi nanti?" tanya Red membalik tubuhnya saat ia akan melangkah pergi.
"Menikah? Enggak. Mungkin ... mereka sudah lupa kalau Nathan salah satu mafia dalam jajaran 13 Demon Heads, mengingat Torin sepertinya benci sama Nathan setelah ngacak-ngacak bisnisnya?" jawabnya santai.
Red diam saja tak berkomentar. Ia lalu pergi meninggalkan Jonathan. Roza mengambil alih peran dengan mendatangi tim Jonathan untuk mengurus pembayaran sebelum menginap di Giamoco Island.
"Ada siapa di pulau itu?" tanya Jonathan penuh selidik.
"Tak ada. Hanya Black Armys yang disewa Nandra untuk menjaga tempat itu," jawab Roza santai seraya melirik Sierra yang terlihat serius dalam melakukan transfer secara online tersebut.
Jonathan mengangguk tak mengatakan apapun. Roza menatap Jonathan seksama yang kini sikapnya dingin, tak ada canda tawa atau senyuman di sana.
"Apa yang terjadi padamu, Jonathan? Biasanya ... kau berisik sekali dan banyak gaya," tanya Roza yang membuat Jonathan langsung meliriknya sadis.
"Tempat ini sudah berisik dengan kegiatan produksi kalian. Aku tak mau menambahnya." jawabnya dengan wajah datar, dan Roza mengangguk.
"Sudah kutranfer," ucap Sierra pelan.
Roza menatap layar laptop-nya untuk melihat penerimaan uang sejumlah 1,5 miliar (dalam rupiah) tersebut termasuk biaya sewa menginap semalam di Pulau Giamoco.
"Oke. Senang berbisnis denganmu, Jonathan Benedict. Kami akan siapkan pemesanan CamGun dan Baby Tank. Helikopter akan mengantarkanmu ke Giamoco Island. Selamat beristirahat," ucap Roza sopan, dan Jonathan segera beranjak dari tempat itu menuju helipad.
__ADS_1
Benda terbang yang memiliki baling-baling besar itu berputar kencang dan meninggalkan pabrik tersebut menuju ke pulau pribadi peninggalan Giamoco.
"Apa sudah kau teruskan?" tanya Roza melirik saat helikopter yang ditumpangi oleh Jonathan mulai tak terlihat.
"Hem. Sepertinya, masalah makin memanas. Aku sudah memperingatkan para anggota Dewan, dan mereka ... cukup terkejut. Sepertinya, Jonathan begitu sakit hati dengan keputusan mereka yang berkesan menyingkirkannya. Beruntung, kita di pihak netral karena nyonya Amanda adalah Ketua Dewan Sekretariat termasuk Yena," sambung Red serius, dan Roza mengangguk pelan.
Setibanya di Pulau Giamoco, Jonathan disambut oleh para petugas yang menjaga tempat itu.
Jonathan diberikan kamar termasuk Sierra, dan dua bodyguard-nya, Click and Clack. Anak buah Jonathan menunggu di Bandara untuk menerima muatan yang akan dikirimkan oleh Red tepat dini hari.
"Kami sudah menyiapkan makan malam. Silakan," ucap salah seorang Black Armys wanita mempersilakan para tamunya.
Jonathan mendatangi ruang makan di mana banyak makanan tersaji hangat telah berada di sana. Jonathan, Sierra, dan Click and Clack duduk dengan tenang. Tak ada pembicaraan sama sekali hingga makan malam itu berakhir.
"Kau, ikut denganku," pinta Jonathan menunjuk Sierra saat ia akan masuk ke kamarnya.
Sierra menurut dan mengikuti Jonathan masuk ke kamar. Click and Clack saling berpandangan, tapi mereka memilih diam dan membiarkan Bosnya melakukan apapun yang dia mau.
Di kamar yang ditempati Jonathan.
"Ada apa?" tanya Sierra berdiri di balik pintu terlihat gugup.
"Siapa lagi yang harus kita datangi?" tanya Jonathan seraya melepaskan jas tebalnya dan melemparkan ke sofa panjang di kamar itu.
"Grey House? Kau membutuhkan kapsul dan perlengkapan selam dari One," jawab Sierra pelan.
Jonathan mengangguk seraya melepaskan pakaiannya memunggungi Sierra. Gadis cantik itu masih berdiri menunggu perintah Jonathan selanjutnya.
"Ada pergerakan dari Miles?" tanyanya yang kini hanya memakai boxer saja. Sierra menggeleng saat Jonathan membalik badannya dan kini berdiri di hadapannya menatap mata birunya lekat. "Aku bosan menunggu kepulangan Cassie. Dia meninggalkanku, Sierra. Namun aku yakin, suatu saat nanti dia pasti akan muncul kembali. Ya, seperti itulah kebiasaannya, dan aku, muak," ucapnya tegas.
Sierra terlihat gugup karena Jonathan terlihat marah. "Lalu ... apa yang akan kaulakukan?" tanya Sierra pelan.
Tiba-tiba saja, Jonathan menciumnya rakus hingga Sierra melebarkan matanya karena kaget.
Gadis cantik itu langsung diterkam dan dibawa oleh Jonathan ke ranjang dengan paksa. Sierra terkejut dan bingung saat Jonathan melepaskan sepatu robotnya termasuk dua sarung tangan pemberian dari Jeremy tersebut.
"Kulihat kau sangat hebat dalam memuaskan seorang pria, Sierra. Aku melihatnya sendiri ketika kau melakukannya kepada Jason. Jadi, kau harus melakukan lebih baik padaku, atau, aku tak segan membiarkanmu tidur di luar tanpa penghangat. Kau mengerti," tegasnya dengan kedua tangan di antara telinga gadis berambut pirang panjang tersebut.
Sierra bisa melihat wajah Jonathan yang tampak jelas di hadapannya. Sierra tersenyum tipis. Tangannya kembali bergetar saat menyentuh kepala Jonathan.
"Kau pasti sangat tertekan dengan semua ini, tapi ... jangan khawatir, aku akan membantumu. Kemarilah, Sayangku," ucap Sierra dengan senyum menawan merangkul tengkuk Jonathan agar tubuhnya mendekat padanya.
Jonathan terbuai akan pesona Sierra yang selalu terlihat cantik di matanya. Sierra pun melakukan keahliannya untuk memuaskan pria yang memintanya untuk dipuaskan.
Benar saja, Jonathan terlihat begitu bergairah dengan setiap gerakan yang Sierra berikan di tubuhnya.
Meskipun kedua tangannya nyaris cacat termasuk dua kakinya, hal itu tak membuat Sierra tampak payah dalam memuaskan pasangan di ranjang.
***
sisanya ... imajinasiin sendiri. kwkwkw. tengkiyuw tipsnya😍 wah udah lama gak liat notif tips masuk, jadi bahagia diriku ditengah kepegelan dimana ide lagi tumpah ruah tapi gak ada waktu buat direalisasikan. sabar.
__ADS_1
oia, simulation udah bisa di PO ya. yang mau melakukan pemesanan langsung chat di DM atau WA untuk alamat pengiriman biar di cek dulu ongkirnya. Harga buku PO 80k aja. Nah, hemat kan gak sampai 100k. Semangat!!