4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Jangan Sembunyi Dariku*


__ADS_3


Hari itu juga, baik tim Sandara atau Jibran, keduanya meninggalkan tempat mereka bernaung karena melihat pergerakan tentara Vesper yang cukup gesit.


Vesper dan rombongannya yang belum tiba di benua Afrika, hanya bisa mengandalkan anak buahnya untuk menyelidiki keberadaan puterinya yang disinyalir berada di antara dua negara itu.



Kediaman Jibran Sudan, Uganda. Sore hari.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Di mana, Sandara Liu?" tanya Biri-Biri yang ditugaskan bersama Kecebong dan tiga wanita berkerudung anggota HURI yang akhirnya menyergap kediaman Sudan di dekat danau Victoria, lengkap dengan peralatan tempur.


"Kami tak tahu apapun, Tuan, sungguh. Kami tak berani melawan Vesper dan jajarannya. Namun, Sandara Liu memang tak berada di sini. Silakan periksa jika Anda tak percaya," jawab seorang pria penjaga mengangkat kedua tangannya ke atas beserta seluruh anak buah lainnya yang ditodongkan senjata.


"Kami hanya butuh kau. Diam, dan kejujuran akan mempercepat proses ini," ucap Kecebong. Praktis, mata pria berkulit hitam itu melebar.


"Emph! Errghhh!" erangnya saat tubuhnya dipegangi kuat oleh dua Black Armys Vesper. Biri-Biri memakaikan masker dengan gas putih menyeruak dan terhirup oleh pria berkulit hitam tersebut.


"Sstt ... tak ada gunanya memberontak. Hiruplah, jika ingin hidup," ucap Biri-Biri mendesis.


Semua pria berkulit hitam di tempat itu terlihat panik saat melihat kawan mereka tiba-tiba seperti orang linglung.


"Di mana Sandara Liu?" tanya wanita berkerudung mulai menginterogasi, di mana ia sudah paham dengan teknis kerja Rainbow Gas Halusinasi. Pria itu menggeleng tidak tahu. "Di mana Sudan?"


"Tuan Jib pergi meninggalkan Uganda sore tadi," ucapnya dengan pandangan tak menentu.


"Ke mana perginya?"


"Kami tidak tahu. Tuan Jibran dan Khafi, tak pernah memberitahukan kepergian mereka. Kami hanya diminta agar tak melawan jika disergap oleh pasukan Vesper. Tuan Jib mengatakan, Kolektor, bukan musuh 13 Demon Heads. Kami sepakat untuk bersekutu dengan 13 Demon Heads melenyapkan The Circle dan No Face," jawab pria itu dengan kepala bergerak tak beraturan dan air liur mulai menetes.


"Dia sepertinya bodoh. Belum lima menit sudah memberikan dampak sejauh ini. Oke cukup, kita pergi. Tempat ini tak membuahkan hasil," ucap Kecebong dan salah satu anggota HURI segera menembakkan serum penawar ke leher pria itu.


Tim utusan Vesper pergi meninggalkan kediaman Jibran. Eiji yang mendapatkan laporan dari Uganda, segera meneruskan pesan tersebut kepada Vesper. Tentu saja, hal ini membuat sang Ratu menunjukkan wajah dingin.


"Kolektor. Kita akan datangi mereka satu persatu. 11 orang termasuk Ahmed. Mereka kelompok besar, dan tak ada yang mengetahuinya selama ini. Wow," ucap Vesper kesal di bangku pesawatnya.


"Kita sebentar lagi tiba di Uganda, Nona Lily. Anak buah dari Javier juga memberikan laporan jika kediaman Siti Fatonah sepi. Mereka sudah menanyai tetangga sekitar dan orang-orang itu mengatakan tak ada orang yang datang berkunjung ke rumah itu sejak tragedi bertahun-tahun silam," sambung Buffalo yang menjadi penerima informasi dari tim Javier.


Vesper memejamkan matanya sejenak. Semua orang diam menatap Vesper saksama yang terlihat kesal, tapi tetap tenang.


"Eiji. Bagaimana dengan penyelidikan GIGA yang kuminta untuk melihat pergerakan seluruh kapal yang berlabuh di dermaga pesisir Kenya usai kejadian ditemukannya mayat Yudhi?" tanya Vesper menatap salah satu bodyguard-nya yang terlihat sibuk dengan laptop di meja.


"GIGA tak mendapatkan visual Sandara, Nona Lily. Maaf," jawab Eiji lesu.


Vesper diam sejenak. "Kau melakukan pencarian Dara, apakah menggunakan wajah baru darinya?"


Praktis, mata Eiji melebar. "Aku lupa jika Sandara sudah berbuah rupa," jawabnya lugu dengan mata melebar.


"Oh, Eiji. Sungguh. Aku ingin melemparmu dari atas pesawat," sahut James kesal termasuk kawan-kawan lainnya.


"Kau benar-benar menyia-nyiakan teknologi super canggih milik nyonya Manda dengan mengatakan 'lupa'? Apa kau kini menjadi pikun setelah menjadi seorang Ayah, ha?" sahut Drake emosi.


"Aku hanya manusia biasa! Tak ada hubungannya menjadi seorang Ayah! Wajar jika aku lupa!" jawabnya marah dan berteriak.

__ADS_1


Buffalo menutup wajahnya dengan kedua tangan ikut lemas karena keteledoran kawannya.


"Kau menyia-nyiakan waktu kita, Eiji-san," keluh Tora memejamkan mata dengan hembusan napas panjang diakhir kalimat.


Eiji tak menjawab, tapi terlihat sebal. Ia menekan keyboard laptopnya kencang hingga suara ketukannya terdengar kasar seakan ingin menjebolnya.


"Aku tak menyalahkanmu. Aku 'kan hanya bertanya," jawab Vesper dengan senyum tipis karena merasa lucu dengan sikap salah satu bodyguard-nya ketika sedang marah.


TAK! TAK! TAK!


"Oh! Ketemu!" teriaknya dengan mata melebar dan langsung memegangi layar laptopnya. Praktis, mata semua orang langsung menatapnya lekat.


"Dia dikawal oleh beberapa wanita tak dikenal. Apakah ... itu anak buah Ahmed yang bernama HURI?" tanya Eiji lalu membalik layar laptopnya yang bisa diputar hingga 180 derajat.


"Kirimkan wajah para wanita itu kepada 3 pasukan berkerudung yang ikut dalam kelompok Kecebong dan Biri-Biri untuk memastikan," perintah Vesper tegas.


Eiji mengangguk mantap dan segera mengirimkan tangkapan gambar ke ponsel Kecebong.


Di tempat Kecebong dan timnya berada.


"Ya, ini benar. Mereka adalah pasukan HURI. Ke mana tujuan mereka? Kita susul ke sana. Aku rasa, kita masih bisa mengejar mereka," tegas salah satu anggota wanita berkerudung bernama Sahla.


Kecebong segera membalas pesan elektronik itu dengan sigap. Eiji segera melakukan penelusuran dan mendapati mobil yang ditumpangi oleh kelompok Sandara menuju ke sebuah Guest House.


Sayangnya, kamera pengawas di dalam bangunan itu tak diaktifkan seperti di sengaja. Namun, kamera di luar bangunan menangkap pergerakan dua buah mobil yang memasuki kawasan Guest House di hari yang masih pagi, lalu tiga buah mobil keluar menjelang sore.


"Ke mana mereka pergi, Eiji?" tanya Vesper yang melihat pergerakan mobil-mobil tersebut.


"Kamera pengawas di sepanjang rute yang diperkirakan dilewati oleh tiga mobil itu kehilangan jejak, Nona Lily. Mobil itu berbaur dengan kendaraan di sekitar," jawab Eiji serius dengan kening berkerut.


"Bukankah ... itu mobil yang sama saat keluar dari Guest House? Warna merah, nomor platnya pun sama. Aku ingat. Aku rasa, itu mobil sewaan karena ada stiker di kaca belakang nama perusahaan penyewa tersebut," ucap Tora tenang.


"Wahaha! Tora-kun pinter. Jeli matamu. Tar Eko beliin jajan," ucap Eko gembira dan Tora mengangguk senang.


Vesper dan lainnya tersenyum. Namun, Vesper tetap meminta kepada Tim Kecebong untuk mendatangi Guest House tersebut untuk mencari jejak Sandara.


Sedang Black Armys Javier, diminta mendatangi gedung yang diyakini tempat penyewaan mobil tersebut.


Setelah penerbangan melelahkan hampir 20 jam lamanya, akhirnya, pesawat mendarat dengan sempurna di Entebbe International Airport, Uganda tengah malam.


Vesper yang merasa usahanya sia-sia sampai ke negara tersebut, memilih untuk beristirahat sejenak, tapi ia mendatangi kediaman Sudan. Tentu saja, para penjaga itu dibuat pucat seketika.


Kediaman Sudan, malam hari. Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Demi Tuhan, Nyonya Vesper. Kami—"


"Aku tak memiliki Tuhan," jawabnya dengan wajah dingin saat seorang pria berkulit hitam terlihat ketakutan karena dikunjungi oleh mantan ketua 13 Demon Heads di kediaman Tuannya.


"Di mana, kediaman kolektor lainnya," tanya Vesper berdiri di hadapan para pria yang berlutut karena James telah siap dengan Rainbow Gas warna hijau dalam genggaman.


Pria berambut pirang gondrong itu siap melemparkan granat beracun tersebut ke kumpulan orang-orang Sudan. Eiji berdiri di samping Vesper dengan tablet dalam genggaman terlihat serius.


Para bodyguard Vesper lainnya sibuk berkeliling di rumah tersebut di mana mereka yakin, jika ada hal tersembunyi di rumah Sudan dan tak diketahui oleh anggota HURI termasuk Kecebong dan Biri-Biri.


"Kami tak tahu. Kami hanya penjaga biasa di rumah ini. Semua orang kepercayaan tuan Sudan, selalu ikut dengannya, seperti asisten pribadinya, layaknya ... para bodyguard Anda," jawab pria itu gemetaran.

__ADS_1


Vesper berjalan perlahan dan memegangi kepala orang-orang berkulit hitam itu satu persatu dengan wajah datar.


Orang-orang itu memejamkan mata terlihat ketakutan karena gerakan mengintimidasi sang Ratu.


"Mbak Vesper!" panggil Eko yang muncul dari sebuah ruangan dengan wajah gembira. Praktis, pandangan Vesper langsung tertuju pada salah satu bodyguard kepercayaannya itu. "Eko yakin kalo ini si Sudan itu," sambungnya seraya menunjukkan dua buah foto yang ia temukan di mana dua gambar itu adalah Khafi Sudan dan Jibran Sudan.


Eiji segera mendekat dengan langkah cepat lalu melakukan perekaman. Eiji duduk di sebuah sofa dan terlihat sibuk dengan tablet-nya.


"Nona Lily. Kapan bom ini kulemparkan? Tanganku pegal," keluh James seraya melempar-lemparkan granat bom itu dengan wajah malas.


"Sabar, James. Urusan kita di tempat ini belum selesai," jawab Vesper dengan senyum tipis, tapi James menghela napas kesal. Semua penjaga di kediaman Sudan yang dikumpulkan menelan ludah.


"Lainnya, bagaimana?" tanya Vesper yang suaranya terdengar cukup santer di lantai satu rumah besar tersebut.


"Nyonya Vesper! Aku menemukan beberapa dokumen yang berisi tentang tagihan pajak di ruang kerja. Ada beberapa tempat yang aku rasa bisa kita kunjungi. Tak begitu jauh, masih di benua Afrika," ucap Buffalo seraya membawa banyak kertas dalam genggamannya.


"Bacakan," ucap Vesper seraya mengelus kepala seorang pria yang duduk berlutut dengan tangan dibelenggu oleh gelang pemenggal. Pria itu memejamkan mata terlihat ketakutan.


"Sudan pastinya," ucap Buffalo penuh penekanan, "Chad, dan terakhir ...," sambungnya menggantung seperti kesulitan membaca sebuah tulisan, "Dji-bo-uti. Djibouti," tegasnya dengan anggukan pelan.


"Good job, Fal. Thank you," jawab Vesper dengan senyuman. Orang-orang Sudan menelan ludah terlihat panik. "Eiji," panggil Vesper menoleh sedikit.


"Ya, Nona Lily," jawabnya langsung menaikkan pandangan.


"Siapkan penerbangan. Aku penasaran dengan ... Djibouti. Lalu, kirimkan Tim Kecebong jika telah selesai mengusut Guest House di Kenya untuk menyelidiki Sudan. Lalu, tim Javier ke Chad. Cari tahu alamat dari tagihan itu."


"Laksanakan!" ucap Eiji dengan senyuman.


"Jadi ... jika kalian menghormatiku dan menganggap kami sekutu seperti yang kudengar sebelumnya, siapkan kamar dan makan malam. Kami tamu yang secara tak langsung diminta datang karena aksi tuan kalian yang membawa puteriku. Sangat tidak sopan, jika kami harus pergi di malam gelap mencekam di luar sana," tanya Vesper seraya meraih dagu salah seorang pria yang berlutut di sampingnya.


"Yes, Mam," jawab pria itu gugup saat matanya saling beradu dengan Vesper.


"Terima kasih," jawab Vesper.


Orang-orang itu lalu berdiri perlahan meski terlihat tegang. Mereka ketakutan karena tangan dan kaki dibelenggu oleh gelang pemenggal.


Praktek yang James lakukan dengan sebuah tongkat baseball yang ia temukan di ruangan tersebut, cukup membuat ngeri orang-orang Sudan. Mereka melihat tongkat keras itu terpotong karena gelang pemenggal dilepaskan paksa.


"Kau kenapa tertawa, Eko-san?" tanya Tora heran.


"Mbak Vesper gak mau rugi banget. Nginep di rumah orang, kenal juga enggak. Udah gitu, minta dilayani, disiapin makan malam sama kamar pula. Hehe, hehehe," kekehnya dan orang-orang menahan senyum karena Vesper menunjukkan wajah dingin.


"Kau keberatan? Jika ya, tidur di luar," tegas Vesper dan praktis, senyum Eko sirna seketika.


"Gitu ... ngambek. Udah gede ngambekan," keluh Eko langsung memasang wajah masam seraya mengikuti Vesper yang diminta oleh salah satu anak buah Sudan untuk ikut dengannya di mana beberapa kamar telah dipersiapkan untuk tamu-tamu tak diundang.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy sudah hari senin. Jangan lupa vote vocernya sebelum hangus boleh di novel 4YM2, monster atau simulation. Bebaslah. Makasih tips koinnya dan semangat senin!

__ADS_1


__ADS_2