4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Permintaan Jonathan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Keesokan harinya di Black Castle.


CEKLEK!


Sierra menoleh, saat mendapati Tessa masuk ke ruangannya dengan wajah dingin.


"Permintaanmu dikabulkan. Kau boleh pergi dari sini."


"Hem. Aku tak tahu bagaimana kau membujuk mereka, Tessa. Namun, kerjamu bagus," jawab Sierra seraya mengulurkan tangan minta dibantu berdiri.


Akan tetapi, KLEK!


"TESSA! Apa-apaan ini?" tanya Sierra panik.


CRETTT!!


"Agh!" rintih Sierra langsung melepaskan kedua tangan di kalung besi yang membelenggu lehernya. Tessa tersenyum miring.


"Kau ingat, jika The Circle punya kalung penyetrum?" Sierra mengangguk. "Nah, yang kau pakai itu sudah dimodifikasi."


"What?" sahut Sierra dengan kening berkerut.


"Ya. Jika kau, atau orang lain menyentuhnya, tangan orang itu akan tersetrum. Semakin lama disentuh, semakin tinggi daya sengatnya, dan pada akhirnya, orang itu akan meninggal."


Sierra terlihat pucat. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membantunya berdiri agar bisa melihat di cermin meja rias tentang kalung besi tersebut. Mata Sierra terbelalak seketika.


"Jika kau, atau siapapun berusaha melepaskannya secara paksa, kepalamu akan terpenggal." Sierra langsung menoleh dan menatap Tessa tajam. "Kau bisa lihat wajahku, 'kan? Aku berkata jujur. Ada pisau pemotong yang akan muncul di sekeliling kalung itu," sambungnya dengan senyum licik.


"Bagaimana membukanya?" tanya Sierra terlihat pucat, meski ia marah.


"Jonathan." Sierra menyipitkan mata. "Ya, Jonathan. Hanya dia yang bisa membukanya. Sayangnya, calon suamimu itu sudah terlanjur sakit hati, dan kecewa. Kau sungguh menyia-nyiakan hidupmu, Sierra. Kau bertemu pemuda baik di dunia mafia. Dia sangat mencintaimu, dan dia mati-matian memperjuangkanmu! Meski kalian dari kelompok yang saling bertentangan, tapi Sierra yang ia cintai, berhasil membuat kedamaian untuk dua kubu meski The Circle terpecah. Dan kini, kau menghancurkan ketenangan itu, Sierra," tegas Tessa menunjuk penerus Madam.


Sierra diam menatap wajah Tessa tajam yang terlihat begitu membencinya.


"Tangkap!"


Sierra menangkap sebuah ponsel yang dilemparkan Tessa padanya.

__ADS_1


"Kau pergi sendiri. Aku tak akan mengantarmu, termasuk Click atau Clack. Dua pria itu sudah mengabdi kepada Jonathan. Dia, calon penerus Lucifer yang sah. Bukan Madam, apalagi kau. Ponsel itu, sebagai balas budi terakhir Jonathan padamu, seperti yang pernah Darwin lakukan padanya beberapa tahun silam."


Sierra diam menundukkan wajah mengamati ponsel berwarna putih tersebut.


"Lalu, kau tinggal di sini? Bersama mereka? Memang apa yang mereka janjikan padamu hingga kau mengkhianati kelompokmu, Tessa?" tanya Sierra kembali berwajah licik.


"Arjuna." Kening Sierra berkerut. "Aku akan menikah dengan Arjuna."


"Hahaha! Jalaang sepertimu menikah? Yang benar saja! Jangan membuatku menghujatmu, Tessa."


PLAK!!


Mata Sierra terbelalak. Tessa menampar pipinya begitu keras hingga kepala Sierra menoleh seraya memegangi pipinya yang sakit.


"Aku mencintainya. Berhenti menghinaku. Kau pikir, aku menjadi seperti ini karena siapa, hah? Semua karena keegoisan dan kelicikanmu, Sierra! Sudah kubilang, aku muak denganmu dan The Circle! Aku tak akan kembali lagi!" jawabnya lantang dengan mata berkaca.


Saat Sierra kembali menoleh padanya, tiba-tiba ....


SHOOT! CLEB!


"Agh ...."


BRUK!


Sebuah helikopter telah siap di halaman depan Black Castle. Buffalo dan Drake, bertugas sebagai pilot dan co-pilot.


Click and Clack masuk ke dalam helikopter bersama Sierra yang tak sadarkan diri karena peluru bius yang Tessa tembakan.


Benda besi yang memiliki baling-baling besar di atasnya melayang dan pada akhirnya terbang meninggalkan Kastil megah itu.


Jonathan duduk di bingkai jendela dengan wajah datar melihat helikopter itu pergi. Jonathan kembali menutup jendela dan mengurung dirinya di kamar.


Sepeninggalan helikopter yang membawa Sierra.


"Ya? Kau, baik-baik saja, Nathan?" tanya Arjuna masih berdiri di teras Black Castle usai melihat kepergian helikopter tersebut. "Tessa? Ah, baiklah. Tunggu kami."


"Ada apa denganku?" tanya Tessa gugup karena mendengar namanya disebut.


"Jonathan ingin menemui kita berdua. Ayo. Aku harap, ini pertanda baik," ajaknya, dan Tessa mengangguk pelan seraya mengikuti Arjuna di belakangnya.

__ADS_1


Di kamar Jonathan.


"Kamu gak papa?" tanya Arjuna saat Tessa ikut masuk lalu menutup pintu.


"Duduk, Kak. Tessa juga," pinta Jonathan yang telah duduk di sofa single, berseberangan dengan dua orang tersebut yang duduk di sofa panjang.


Tessa dan Arjuna terlihat serius menatap Jonathan yang menunjukkan wajah murung.


"Karena undangan udah terlanjur disebar, akan memalukan jika diinformasikan kalau pernikahan Nathan batal."


"Lalu?" tanya Arjuna terlihat bingung.


"Gak perlu nunggu musim gugur. Semua udah Nathan persiapin. Kak Juna sama Tessa nikah aja di tanggal yang Nathan tetapin. Tamu Nathan, tamu Kak Juna juga. Paling nanti ada perubahan buat nunjukin itu pernikahan kalian. Maaf, jika berkesan mendadak."


Arjuna dan Tessa tertegun.


"A-aku sih tidak masalah, Nathan. Namun, bagaimana dengan keluargamu? Jika para tamu bertanya, apa yang harus kami katakan? Atau ... apa yang akan kaukatakan?" tanya Tessa cemas.


"Mudah saja. Nathan akan bilang, 'Di Indonesia ada sebutan pelangkah ketika seorang adik mendahului kakaknya menikah. Karena Kak Juna meminta pulau pribadi sebagai pelangkah dan Nathan gak punya duit buat kabulin hal itu, jadi Nathan akan serahin hari pernikahan kepada Kak Juna'. Mudah 'kan?" jawabnya santai, meski tak ada rona kebahagiaan.


"Kau mengatakan hal itu kepada rekan bisnis legalmu? Mereka tahunya kita tak bersaudara," tegas Arjuna mengingatkan. "Selain itu, kapan aku minta Pulau pribadi. Itu akal-akalanmu saja, 'kan?" Jonathan mengangguk.


"Ya, Nathan tahu hal itu. Jangan khawatir, Nathan udah siapin semua skenario jika para tamu menanyakan hal tersebut. Jadi, bagaimana? Nathan hanya tak ingin membuat malu mama. Kasihan mama, dia sudah menyiapkan semua dengan antusias. Nathan gak tega liat wajah sedihnya," jawabnya sendu.


"Malah mikirin mama. Mama aja mikirin kamu," sahut Arjuna heran.


Tiba-tiba, Jonathan tersenyum. "Mama itu selalu mikirin kita, Kak. Kak Juna aja yang gak peka. Mudahan setelah Kak Juna nikah, dan ada Tessa yang selalu dampingin, sikap bebal Kakak bisa ilang. Kasihan mama, dia masih kepikiran nasib Dara. Sekarang mikirin Nathan. Mama pasti mikirin kak Lysa yang sebentar lagi akan melahirkan. Jadi, Kak Juna terima ya, saran Nathan. Biar mama gak kebanyakan beban," pinta Jonathan sangat.


Arjuna menghembuskan nafas panjang. Ia mengangguk menuruti permintaan saudara tirinya. Jonathan tersenyum dan mengatakan, ia akan mengurus perubahannya.


Tessa dan Arjuna pamit keluar kamar. Meski demikian, keduanya malah terlihat lesu mendengar ucapan Jonathan.


"Entah kenapa aku sedih mendengar Jonathan berkata demikian," ucap Tessa seraya melangkah perlahan di samping calon suaminya.


Arjuna tak menjawab, dan terus berjalan. Tiba-tiba, ia memegang pergelangan tangan Tessa dan menariknya masuk ke kamar.


Tessa terkejut dan bingung ketika Arjuna mengunci pintu dan kini menatapnya tajam. Tessa gugup seketika.


***

__ADS_1


tengkiyuw tips nya walopun yg ngasih cuma 1 😆 eps dobel ditunggu koin plusnya. adeh ngetiknya pke hp jdi kl tiponya parah maklum ya. pala lele migren gegara macet😵



__ADS_2