
Empat mafia muda bergerak cepat. Jonathan, Lysa, Arjuna dan Sandara meneror seluruh markas milik sang ibu di mana mereka yakin jika Vesper bersembunyi di sana.
Blue Mansion, Colombia.
Martin dibuat panik saat melihat keempat anak Vesper datang ke rumah yang kini ditempati olehnya atas permintaan Vesper, Ivan Benedict dan mendiang Charles untuk dijaga.
Sayangnya, kedatangan para mafia muda itu bukan untuk membina hubungan baik, melainkan melakukan penyerangan dan akuisisi aset. Sekaligus, mencari informasi keberadaan Vesper.
Jonathan yakin, jika Martin tahu di mana ibunya bersembunyi. Selain itu, ia merasa jika Blue Mansion peninggalan ayahnya sudah seharusnya menjadi miliknya, bukan diberikan kepada Martin yang bahkan bukan keturunan Benedict.
"Di mana Vesper?!" teriak Jonathan marah sembari mengarahkan moncong pistol ke tubuh Martin saat keempat anak Vesper berhasil melumpuhkan para Black Armys penjaga sekaligus menguasai pusat komando di rumah mewah itu.
"Aku tidak tahu!" jawab Martin lantang.
DOR!
"ARGHHH!" erangnya saat kaki kanannya ditembak oleh Jonathan yang sudah gelap mata.
Pemuda itu seolah lupa dengan kenangan manis dan kebaikan Martin padanya yang sudah menganggap Jonathan seperti keponakan.
"Di mana kalian sembunyikan Vesper!" teriak Jonathan dengan wajah sudah memerah dan berdiri tegak mengarahkan moncong pistol ke tubuh Martin yang telah ambruk di lantai bersimbah darah.
"Hah, aku ... tidak tahu ... kau sungguh mengecewakan, Jonathan. Erik pasti sangat kecewa jika tahu kau menjadi pria seperti ini," ucapnya seraya menahan sakit.
"Berhenti menyebut nama ayahku! Dia mati karena Vesper! Hargh!"
DOR! BRUKK!
"Jonathan! Cukup!" teriak Arjuna menghentikan aksi adiknya saat ia melepaskan pelurunya dan tepat mengenai dada samping Martin.
Pria itu tergeletak, tapi masih bernapas meski tersengal. Sandara mendatangi Martin di mana hanya dia satu-satunya yang selamat dari seluruh penghuni mansion.
BUZZ!!
"Hah, uhuk! Uhuk!"
Lysa menyuntikkan serum penawar dari gas halusinasi kepada Jonathan dan Arjuna. Sandara berjongkok di samping Martin yang terlentang tak berdaya.
"Di mana Vesper?" tanya Sandara datar menatap Martin lekat, tapi Martin menggeleng dengan darah sudah menodai kemeja putihnya. "Di mana keluargamu?"
"Mereka kuamankan dari Miles," jawab Martin lesu.
"Kauamankan ke mana?"
"Tidak tahu. Vesper melindungi mereka," jawabnya dengan bola mata bergerak tak beraturan.
Sandara menoleh ke arah tiga kakaknya dan mereka mengangguk. Sandara menatap Martin saksama lalu menyuntikkan penawar padanya.
"Biarkan saja. Jangan kasihani," tegas Jonathan masih memegang pistol dalam genggaman tangan kanan.
"Dia akan mati karena kehabisan darah. Tak ada petunjuk di sini. Kita harus ke tempat lain yang lebih menjanjikan," tegas Sandara seraya berdiri.
"Aku tahu ke mana harus pergi. Ayo!" ajak Arjuna, dan ketiga saudaranya segera mengikuti.
Keempat anak Vesper membawa tas-tas besar berisi persenjataan yang mereka rampas dari kediaman Martin dan nantinya akan digunakan untuk melawan pasukan sang ibu.
Jonathan juga mengambil surat-surat berharga yang disimpan Martin dan dibawa olehnya. Arjuna dan lainnya terbang menggunakan pesawat pribadi Erik Benedict yang selama ini digunakan oleh Martin.
Pilot dan crew yang bertugas tak bisa berkutik saat Jonathan mengancam mereka setibanya di hanggar.
Jonathan geram karena ia merasa haknya sebagai ahli waris sudah diserobot oleh kawan dari mendiang ayahnya itu.
Pesawat terbang meninggalkan Colombia dan kini menuju ke Amerika, kediaman ayah dari Kim Arjuna-Kim Han Bong-yang dijaga oleh Alex dan isterinya Sakura.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
DODODODOOR!!
"Siapa yang menyerang kita?!" tanya Alex panik saat CamGun secara otomatis bekerja, sedang para penjaga mansion tak mendapati satu pun manusia yang memasuki wilayah rumah megah itu.
__ADS_1
"Sensor tak mendapati pergerakan makhluk hidup, Sir!" jawab Black Armys di Pusat Komando melalui sambungan radio.
Beruntung, Sakura sedang tak berada di tempat karena ia diminta oleh Han untuk memastikan perusahaan yang sedang ditinggalkan oleh anaknya tetap berjalan sebab menaungi banyak karyawan.
Han tak ingin karena keegoisan puteranya, para pegawainya terabaikan. Sakura menerima tugas itu dan segera terbang setelah tragedi di Florida yang menyebabkan Sun terluka.
"Pasti ulah Miles! Bidik dan tandai arah serangan CamGun! Pasti dia menyerang dari udara!" titah Alex seraya berjalan menuju ke lorong evakuasi karena harus menyelamatkan berkas-berkas penting yang belum diamankan di rumah tersebut.
"Yes, Sir! Kami akan mempertahankan rumah ini!" jawab Black Armys di Pusat Komando mantap.
Alex mempercayakan anak buah didikan Vesper untuk melindungi rumah Han. Saat Alex dan lima Black Armys berhasil keluar dari lorong evakuasi, tiba-tiba, BUAKKK!!
"ARGHHH!"
BRUKK!!
"Tuan Alex!" teriak salah satu Black Armys saat tiba-tiba saja Alex terkena tendangan dari kaki seseorang yang meluncur di atas seperti menggunakan tali layaknya flying fox.
"Kontak! Kontak! Arah jam 1 dan 11!" teriak Black Armys lainnya saat mereka melihat seragam warna hitam yang dikenali dan tak lain adalah seragam dari pasukan Vesper.
SHOOT! SHOOT! JLEB! JLEB!
BRUKK! BRUKK!!
Lysa meluncur dengan tali mengait pinggulnya. Wanita cantik itu melesatkan anak panahnya dan tepat mengenai wajah dua Black Armys hingga menewaskan keduanya.
Tiga Black Armys yang tersisa melindungi Alex saat pria itu dengan sigap berdiri dan mendekap koper berharga itu dengan kuat.
"Cepat, Tuan! Kami akan melindu—"
JLEB!
"Hah!" pekik Alex terkejut sampai mundur ke belakang saat pria yang berusaha untuk melindunginya tiba-tiba saja tertusuk oleh sebuah pedang hingga menembus sampai ke dada.
BRUKK!!
"Arghh! Aghh!" erang dua Black Armys yang berhasil ditangkap oleh Lysa dan Arjuna, tapi mereka diancam dengan moncong pistol ke leher.
Dua pria itu dipaksa berlutut di depan Alex. Asisten Han tersebut panik dan merasa jika nyawanya terancam.
"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Alex menatap tiga anak Vesper tajam.
"Di mana Vesper?" tanya Sandara dengan pedang Silent Blue dalam genggaman telah berlumuran darah.
"Aku tidak tahu."
DOR! BRUK!
Mata Alex melotot saat melihat salah satu Black Armys yang disandera oleh Lysa ditembak tepat di kepala belakang. Pria itu ambruk dan tewas seketika.
"Kalian gila! Kita satu kubu! Kalian membunuh orang-orang Vesper!" teriak Alex marah.
"Paman Alex. Aku masih menaruh hormat padamu. Katakan di mana mama dan akan kami hentikan kegilaan ini," ucap Arjuna menegaskan dengan moncong pistol ia arahkan ke kepala belakang salah seorang Black Armys yang tersisa.
"Sudah kubilang aku tidak tahu! Tak ada satu pun yang tahu kecuali orang-orang kepercayaannya! Ayahmu dan Kai!" jawab Alex lantang terlihat begitu marah pada Arjuna.
"Hem, jadi ... para bodyguard mama, Kai dan ayah Han? Oke, terima kasih informasinya. Tidurlah," ucap Arjuna dengan wajah datar.
Kening Alex berkerut. CLEB! "Agh!" rintih Alex saat ia merasakan jarum menusuk lehernya. Seketika, pria itu ambruk dalam keadaan tak sadarkan diri.
Black Armys yang tersisa terlihat shock. Arjuna, Lysa dan Sandara menatap pria itu saksama.
"Di mana kami bisa menemukan orang-orang yang kusebutkan tadi? Jangan coba berbohong, atau kau akan memejamkan mata selamanya," tegas Arjuna seraya mendorong moncong pistolnya hingga kepala pria itu bergeser.
Black Armys tersebut menggeleng tidak tahu dengan tatapan tajam ke arah Arjuna.
"Dasar tidak berguna. Sampah tetaplah sampah," ucap Lysa keji. DOR!
Tiga anak Vesper melihat mayat pria itu dengan wajah datar. Tak lama, Jonathan tiba dengan pengendali CD dalam genggaman.
__ADS_1
"Bagaimana?"
Lysa, Arjuna dan Sandara menggeleng pelan. Jonathan mengembuskan napas malas, tapi ia melihat koper yang dipegang oleh Alex lalu membukanya.
"Wow! Ini berkas aset. Hem, sudah sewajarnya ini jadi milikmu, Kak Juna. Ambilah," ucap Jonathan usai melihat lembaran kertas-kertas berharga itu lalu menutup kembali koper tersebut. Jonathan memberikan tas itu pada Arjuna dan putera Han menerimanya.
"Terima kasih," jawab Arjuna lalu menenteng koper tersebut.
"Kita pergi. Sepertinya alarm peringatan berhasil dikirimkan oleh petugas. Kita harus segera ke lokasi berikutnya," tegas Sandara.
Keempat anak Vesper bahkan tak memberikan jeda pada tubuh mereka. Jonathan, Arjuna, Lysa dan Sandara memilih untuk tidur selama penerbangan ketimbang harus singgah di suatu tempat karena mengejar waktu.
Mereka tahu, jika Vesper pasti akan kabur dan melarikan diri usai mengetahui dirinya diburu. Sayangnya, Vesper malah tak mengetahui hal itu.
"Apa?!" pekik Han langsung melebarkan mata usai mendapat informasi dari Alex ketika pria itu telah sadar.
"Mereka memburu Vesper, Tuan Han. Pergilah sebelum mereka menemukanmu. Selain itu, Arjuna berhasil mendapatkan koper aset. Saya minta maaf," ucap Alex dengan napas tersengal merasa teledor.
"Bukan masalah. Setidaknya aset itu memang jatuh pada orang yang pantas menerimanya. Aku lebih rela jika Arjuna yang memilikinya ketimbang Miles. Terima kasih, Alex. Jangan lengah. Aku khawatir hal ini akan dimanfaatkan oleh Miles untuk menyerang," tegas Han.
"Baik, Tuan Han. Jaga dirimu," jawab Alex lalu mematikan sambungan telepon.
Han bergegas mencari Kai, dan ternyata, rivalnya itu juga mendapatkan kabar mengejutkan dari Martin.
"Anak-anak kita sudah gila, Pak Tua," ucap Kai terlihat geram.
"Kita harus amankan Lily. Ayo!" jawab Han serius, dan diangguki oleh Kai.
Saat mereka mendatangi Dojo, keduanya berdiri mematung ketika melihat sang isteri sedang dikerubungi oleh banyak orang. Praktis, mata keduanya melebar dan bergegas mendekat.
"Ada apa?" tanya Han panik karena Vesper memejamkan mata terlihat pucat sedang berbaring di atas matras.
"Oma tiba-tiba saja pingsan saat meminta D mengaji. Badan Oma panas, Kek," jawab King D terlihat cemas yang duduk bersimpuh di samping Vesper.
Kai dengan sigap memegang dahi sang isteri di mana kepala Vesper sudah dicukur gundul. Kai terlihat cemas dan Han bergegas meminta semua orang untuk mengamankan lokasi.
Saat Vesper akan dipindahkan, sang Ratu siuman. Han dan Kai terkejut ketika tangan sang isteri menyentuh lengan mereka dengan lemah.
"Aku ingin tetap di sini. Jangan bawa aku pergi lagi," pinta Vesper lirih.
"Tapi kau sakit, Sayang. Kita harus ke Australia. Ada Jeremy dan Victor di sana yang masih bisa menolongmu," ucap Kai sedih.
Vesper menggeleng dengan mata terpejam. "Aku mau di sini. Kasihan anak-anak jika kita terus-menerus pergi dari satu tempat ke tempat lain. Nanti mereka sakit," pintanya dengan suara lemah seraya membuka matanya perlahan.
Kai memejamkan matanya rapat. Han yang ikut mendengar terlihat begitu sedih, tapi mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita obati kau di sini saja," ucap Han lembut dan Vesper mengangguk dengan senyuman.
"Terima kasih, Kak Han," jawab Vesper lesu dan kembali memejamkan mata.
Buffalo dan lainnya yang mendengar turut sedih, tapi mereka menghormati keputusan sang Ratu.
Kabar keempat anak Vesper memburu ibu mereka disampaikan oleh Han dan Kai. Praktis, informasi tersebut membuat murka para bodyguard Vesper yang tersambung dalam teleconference.
"Bocah-bocah edian! Kirain udah tobat malah tambah gak waras!" pekik Eko kesal setengah mati dengan tubuh kumal dalam layar.
Han dan Kai terlihat pasrah seperti kehilangan semangat hidup. Tekanan besar mereka rasakan mengingat kondisi isteri yang sakit, ditambah anak-anak yang dipercayakan oleh para mafia untuk dilindungi, dan Miles yang mengincar Vesper, serta informasi mengejutkan jika keempat anak sang Ratu memburu ibu kandung mereka.
"Kami akan menjaga anak-anak. Percaya pada kami," tegas Buffalo dan diangguki oleh Seif, Drake dan James.
"Kalian fokus saja pada kesehatan nona Lily. Aku akan mengawasi dari pantauan GIGA jika terjadi pergerakan mencurigakan di rumah paman Takeshi. Sial, aku berhasil dikelabuhi oleh mereka saat di Belize. Kali ini, takkan kubiarkan mereka menyentuh nona Lily!" tegas Eiji ikut tersulut emosi.
"Terima kasih. Kami percayakan pada kalian semua," ucap Han dan diangguki keenam bodyguard Vesper yang tersisa.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya Qayy 😍 lele padamu💋 banyakin sedekahnya ya man teman LAP biar lele semangat upnya. kwkwkw😆
__ADS_1