4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pabrik Mexico*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Siang itu, semua orang berkumpul di ruang crew dalam yacht milik Andreas. Para anggota dewan, Samuel, dua BIAWAK dan Arjuna, duduk di sofa yang telah tersedia. Sisanya berdiri. Ruangan terasa sesak seketika.


"You, what? Anak dari agent M?!" pekik Arjuna sampai matanya terbelalak dengan ubi rebus dalam genggaman.


Sun mengangguk dengan senyuman.


"Jadi, katakan rencanamu selama ini sebelum kami melemparkanmu ke laut," ancam Bojan.


Arjuna meletakkan ubinya dan kini duduk dengan kedua tangan di atas lutut. Pengakuan Arjuna direkam dan nantinya akan disiarkan saat Pengadilan.


"Rencanaku menikahi Tessa, itu benar. Namun, itu hanya sebuah formalitas untuk mendapatkan pasukan miliknya. Tujuanku, ingin mengosongkan semua anak buah The Circle. Karena aku tahu, kak Lysa mengambil semua anak buah Tobias termasuk Jonathan. Namun, di situ aku melihat, usaha kami bertiga untuk mengambil alih anggota The Circle berhasil meski mereka terpecah menjadi 3 kubu. Aku, kak Lysa dan Jonathan," ucap Arjuna menjelaskan meski terlihat ia tegang.


Martin melihat alat detektor kebohongan dan benda itu tak berbunyi nyaring. Arjuna tak berbohong dengan pengakuannya.


"Aku sungguh membencimu, Arjuna. Kau sangat menjengkelkan. Kenapa kau tak mengatakan hal ini pada kami?" tanya Martin gusar.


"Selama ini kita disusupi. Aku sedang mencari tahu bagaimana mereka bisa masuk ke dalam jajaran kita dengan menjadi bodyguard dan anggota Black Armys. Belum aku menemukan jawabannya, aku sudah dicampakkan," jawab Arjuna kesal dan kembali mengambil ubinya, tapi ia letakkan lagi. Semua orang terlihat bingung melihat sikap pemuda itu.


"Oleh karena itu, kau tak mengatakan rencanamu, bahkan pada ibu dan ayahmu?" tanya Ivan dan Arjuna menggeleng.


"Satu yang kusesali adalah, aku mengorbankan Naomi. Aku melakukan apa yang ibuku sarankan untuk mengakui perasaanku. Namun, aku rasa ucapan ayahku ada benarnya. Naomi hanya bodyguard, dia asisten, dia seperti Kai, aku tak mau Naomi dipandang sepertinya," ucap Arjuna serius.


"Maksudmu? Diremehkan karena hanya sebagai bodyguard? Pesuruh? Tak selevel?" tegas Bojan dan Arjuna mengangguk.


"Ya, itu benar. Dalam dunia kita, pernikahan bisnis itu penting. Kali ini, aku setuju dengan pemikiranmu dan Han," sahut Martin dan diangguki Ivan.


Sun kembali menghela nafas. Ia tak mau berkomentar kali ini. Bojan terlihat bingung dalam memihak.


"Namun, saat aku bersama Tessa, bayang-bayang Naomi selalu muncul. Aku membayangkan nasib Naomi seperti Kai. Sudah bertahun-tahun pria itu menikah dengan ibuku, tapi ... banyak orang yang masih melihatnya sebelah mata termasuk aku. Jati dirinya sebagai bodyguard tak bisa lepas dari dirinya. Jika saja Kai tak muncul sebagai pesuruh, mungkin lain ceritanya," sambung Arjuna dan kalimatnya membuat para pendengar terdiam.


"Ya. Status, derajat dan kedudukan, akan tetap selalu ada selama manusia masih hidup di dunia. Cara pandang seperti itu wajar, terutama bagi orang-orang terpandang seperti kalian," ungkap Samuel.


"Jangankan penguasa, warga sipil kelas menengah ke bawah saja masih sering digunjing jika menikah dengan seseorang yang tak seiman, tak satu ras dan tak seprofesi. Aku kini paham masalahmu, Sea, tapi ini hidupmu. Kau harus menentukannya," sahut Greco mengutarakan pendapat.


"Kau harus pikirkan perasaan Naomi jika dia sungguh mau menikah denganmu. Minta maaflah padanya karena ucapan dan sikapmu yang menyakiti hatinya. Jangan kalian menikah dengan paksaan dan kebohongan, hal itu akan berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Percayalah, aku tahu itu," imbuh Miguel seperti menceritakan kisah hidupnya secara tak langsung.


Arjuna mendengarkan nasehat dari para pria yang umurnya lebih senior darinya. Entah kenapa, hatinya sedikit lega dan tenang ketika ia sudah mengungkapkan semuanya.


"Masalahnya sekarang, Sandara menghilang. Tobias dan para Pion tak tahu keberadaannya," sambung Biawak Putih.


"Hem, jika laporan dari Sun yang mengatakan semua tempat sudah disusuri dan dimusnahkan, mungkinkah ... mereka membeli rumah lagi? Sebuah pulau pribadi mungkin? Atau hunian yang selalu berpindah seperti yacht mewah?" ucap Arjuna.


"Kau benar. Mungkin mereka menggunakan nama alias lain sehingga tak diketahui keberadaannya, seperti cara Tobias," sahut Pion Dakota.


"Om, hubungi Q. Minta pencarian daftar pembelian sebuah properti mewah atau kapal pesiar dalam kurun waktu satu tahun ini menggunakan GIGA," perintah Arjuna dan Biawak Hijau segera melaksanakan tugasnya.


Saat semua orang sedang serius dengan misi pencarian Sandara, tiba-tiba Carloz mendatangi kumpulan orang-orang itu dengan ponsel dalam genggaman.


"Arjuna! Monica meneleponku dan meminta kau melihat pantauan satelit dari tangkapan GIGA," ucap Carloz dan Arjuna segera mengaktifkan tablet-nya.


"Oh! Ada pergerakan. Konvoi dalam jumlah besar memasuki kawasan pabrik. Sayangnya, kegiatan dalam bangunan itu tak terlihat. Konvoi itu seperti menghilang setelah memasuki gerbang!" ucap Arjuna melaporkan.

__ADS_1


"Pemancar Fatamorgana," ucap orang-orang yang satu pemikiran.


"Oke. Siapkan semua. Kita berangkat malam ini. Kita lumpuhkan semua penjaga, amankan bangunan dan sisakan pemain utamanya. Kali ini, kita akan menginterogasi mereka. Kita butuh banyak informasi," tegas Arjuna dan semua orang mengangguk paham.


Martin sudah menyiapkan armada untuk menuju ke pabrik peninggalan Vesper. Arjuna, Sun dan dua BIAWAK memilih mengendarai motor trail.


Sisanya, akan pergi menggunakan mobil. Samuel dan timnya terlihat tegang karena baru pertama kali bertempur.


Arjuna menugaskan Jose, Miguel, Greco dan Samuel untuk menjadi sopir. Empat pria itu yang merasa jika kemampuan berperang mereka di bawah standar, sangat berterima kasih karena diberikan tugas paling ringan dan aman.


Malam itu, tepat pukul 10 malam waktu setempat, Arjuna dan timnya bergerak menuju ke pabrik ganja serta narkoba milik Vesper.


Mereka berpencar melewati banyak rute. Ivan, Bojan dan Martin, akan menjadi mata serta pelindung dari atas menggunakan helikopter yang terhubung dengan GIGA.


Empat mobil type SUV dan dua type double cabin, melaju kencang membelah jalanan di negara Mexico di malam yang mulai larut.


Pukul 11 malam, kelompok besar dari kubu 13 Demon Heads dan pecahan The Circle milik Tobias sudah bersiap di posisi masing-masing.


"All team, status," panggil Arjuna berbisik di titik di luar jangkauan Pemancar Fatamorgana.


"Mobil-mobil itu belum keluar pabrik sampai malam ini. Sensor panas dari teropong suhu, menunjukkan jumlah penjaga di sekitar kawasan pabrik berjumlah 20 orang. Beberapa di dalam mansion, gudang dan tempat produksi. Hanya saja, mereka tersamarkan. Sepertinya, mereka memiliki teknologi untuk menghalau fungsi dari teropong ini," ucap Bojan melaporkan dari tampilan drone yang diterbangkan berbentuk burung sebagai kamuflase.


"Oke, dimengerti. Tim lainnya?" panggil Arjuna yang bersembunyi di balik semak.


"Selatan siap," jawab Pion Dakota yang satu tim dengan Daido dan Darwin.


"North in position," sahut Pion Damian yang satu tim dengan Dexter dan Diego.


"East stand by," sambung Pion Darion yang satu tim dengan Max dan Tulio.


Ringgo tetap berada di yacht untuk mengamankan kapal dan 2 sisanya-Simon dan Carloz-menjaga mobil bersama tim Samuel.


"Tak ada pergerakan mencurigakan di sekitar kami, Sea. Over," lapor Jose.


"Oke. Sun dan aku akan menyusup ke dalam. Segera buat keributan begitu sinyal kami terlihat. Paham?" tegas Arjuna.


"Copy that," jawab semua orang serempak dan panggilan radio itu senyap untuk sementara.


Arjuna melirik Sun dan asistennya itu pun mengangguk siap. Biawak Hijau dan Bojan memastikan jalur.


"Go, go, go!" ucap Bojan saat melihat penjaga menara sedang menyalakan rokok dengan kedua kaki diletakkan di atas meja.


Dua pemuda itu segera mengendap mendekati tembok yang memiliki dinding kokoh dan penjaga bersenjata yang berpatroli di luar tembok .


SHOOT!! BRUKK!!


Arjuna dan Sun dilindungi oleh para sniper dari tiap tim yang ditugaskan. Mereka melumpuhkan para penjaga satu persatu ketika dua pria itu mengendap masuk melewati mereka.


KLEK!


Sun memasangkan kalung pemenggal di leher para penjaga yang berhasil dilumpuhkan dengan peluru bius, agar suara tembakan dengan peluru pembunuh tak membunyikan alarm.


Namun seketika, KRASS!! GLUNDUNG ....

__ADS_1


Arjuna melotot ketika Sun sengaja menggoyangkan kalung itu hingga leher para penjaga terpenggal.


"Anda bilang bunuh semua penjaga," ucap Sun dengan wajah lugunya. Arjuna mengangguk dan menyadari perintahnya kala itu.


SHOOT! JLEB!!


"Aman, Junet. Manjat cepet, masuk-masuk," ucap Biawak Hijau dari teropong sensor panas dan radio yang masih tersambung.


Sun menjaga Arjuna di bawah saat Tuan Mudanya itu memanjat dengan cepat seperti monyet dengan tombak JERA di tembakkan dan menancap pada salah satu dinding pos penjaga di titik tertinggi.


Arjuna berhasil menaiki tembok dan kini masuk ke pos penjaga di sisi Tenggara. Pos yang berada di sisi tersebut memiliki menara setinggi 10 meter.


Penjaga tersebut telah tewas terkena tembakan telak tepat di dahi oleh salah satu sniper-nya.


"Sun, kau mendengarku?" tanya Arjuna berbisik dari sambungan radio, tapi Sun tak menjawab.


Arjuna mengeluarkan senter kecil dengan laser warna biru ke bawah. Sun mendongak seketika. Keduanya menyadari jika pos dalam tembok tersebut sudah memasuki pemblokiran sinyal.


"Om Hijau, amankan pos," pinta Sun yang berada di luar tembok dari sambungan radio.


Biawak Hijau segera bergerak dan berlari mengendap mendekati Sun yang berjaga di bawah. Biawak Hijau segera memanjat dari tali Arjuna, tapi ternyata, ia tak bisa. Sun meliriknya dengan kening berkerut.


"Ada tangga gak? Ijo makin subur, udah gak kuat manjat ke atas," jawabnya meringis.


Sun menghela nafas. Ia lalu mundur beberapa langkah mengambil jarak seperti membidik tembok tersebut.


JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!


"Aku sudah buatkan tangga. Cepat naik," ucap Sun tegas dan membuat semua orang terkejut karena wajahnya garang seketika.


Sun menembakkan tombak JERA ke dinding tembok sebagai pijakan untuk mendaki Biawak Hijau seperti pemanjat tebing.


Dengan susah payah, akhirnya pria gemuk itu berhasil naik meski dengan keringat bercucuran.


"Hah, oke. Kalian lanjut, Ijo amankan Menara ini," ucapnya dengan nafas tersengal.


Biawak Hijau duduk di punggung penjaga yang ditengkurapkan Arjuna di lantai sembari mengelap keringat di dahinya menggunakan sapu tangan. Arjuna dan Sun memilih diam tak berkomentar.


"Om, amankan jalan kami," pinta Arjuna bersiap menuruni Menara dengan meluncur seperti mengendarai flaying fox sampai ke seberang.


"Siap, Bos!" jawab Biawak Hijau mantab dengan hormat dan segera berdiri. Ia bertugas mengamankan sekitar dari atas Menara menggunakan senapan laras panjang dan bertugas sebagai sniper.


Sun kembali menembakkan tombak JERA ke dinding pabrik yang memiliki jendela tanpa penutup dengan tali terjuntai cukup panjang.


Dua pemuda itu meluncur dengan cepat secara bergantian dan berjongkok di bingkai jendela. Keduanya mengintip aktivitas dalam pabrik, dan ternyata di tempat mereka berada, adalah sebuah fasilitas untuk pembibitan dan pengembangbiakan tanaman ganja dengan cara modern.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE (thesource.com)

__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. hehe maap lele lagi napsu stokan naskah buat SIMULATION sampai akhir bulan dan gak sempet ngetik 4YM. oke hari ini 2 eps ya~ ada yg menyogokku😆



__ADS_2