
Kabar Jordan ikut menjadi incaran dari serangan tak dikenal, diinformasikan oleh Amanda. Arjuna terkejut saat mendapatkan informasi tersebut dari ponsel anggota dewan miliknya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tessa karena suaminya langsung berwajah tegang.
"Ha? Tak ada. Sebaiknya, kita pulang cepat, tak perlu lembur hari ini. Kita bisa kerjakan sisanya saat di rumah," jawab Arjuna langsung menonaktifkan ponsel khususnya.
"Apakah ada hal buruk yang terjadi dalam jajaran 13 Demon Heads?" tanya Tessa curiga karena ia bisa melihat dengan jelas sang suami yang duduk di hadapannya.
Arjuna mengembuskan napas panjang.
"Miles kembali berulah. Keluarga nyonya Manda terkena dampak. Aku yakin, ini ulah komplotannya. Mereka benar-benar pengacau. Kita harus lebih waspada," jawab Arjuna.
"Aku mengerti. Baiklah, segera kuselesaikan pekerjaan yang harus dirampungkan di kantor. Sisanya, kita bawa ke rumah," sahut Tessa sigap.
Arjuna mengangguk pelan. Pria tampan berwajah Asia tersebut segera menghubungi timnya untuk terus waspada dengan serangan Miles. Mansion Han di Hong Kong dijaga ketat oleh Bala Kurawa yang tersisa.
"Semoga Naomi baik-baik saja," ucap Arjuna terlihat mencemaskan keadaan teman semasa sekolahnya dulu di ruang kerjanya sendirian.
Rumah Sakit tempat Naomi dirawat. Florida.
Namun ternyata, kondisi Naomi tidak baik-baik saja. Bayi yang dilahirkannya lahir dengan berat 1,9 kg. Bayi mungil itu terpaksa diinkubator.
Naomi juga harus menjalani masa pemulihan usai operasi caesar dan juga luka-luka di tubuhnya.
Keluarga Amanda datang berkunjung, termasuk Sun, Agent M dan S yang mencemaskan keadaan gadis yang lahir dalam lingkup mereka tersebut.
"Aku sungguh minta maaf, tapi ... Naomi belum bisa dijenguk," ucap Roza terlihat sedih karena Naomi tampak murung dan sering menangis.
"Jika boleh tahu, bayi Naomi laki-laki atau perempuan?" tanya Sun penasaran.
"Laki-laki," jawab Amanda ikut merapat diikuti salah satu putera kembarnya di samping kirinya.
"Jordan! Bagaimana bisa hal ini terjadi? Siapa pelakunya?!" pekik Agent S yang mengejutkan semua orang di ruang tunggu luar ruang perawatan.
"A-aku Jason, Paman. Jordan pergi bersama Mix and Match. Sepertinya, mereka mengejar pelaku yang membuat Jordan menggila," jawab Jason.
Praktis, mata Roza melebar. Ia tak membocorkan hal ini, seolah hatinya berkata, Bagaimana bisa Jason mengetahui rencana tersebut?
"Monica membantu melacak pelaku tersebut. Sudah dipastikan. Itu ulah salah satu pria bertopeng. Orang itu menggunakan gas halusinasi ke para penjaga terluar. Dia memanfaatkan akses tanpa membunyikan alarm untuk masuk ke wilayah mansion. Sial, kenapa aku malah merasa seperti senjata makan tuan," gerutu Amanda terselimuti amarah.
"Tragedi ini juga berimbas pada Sia. Dia ... keguguran calon anak ketiganya. Sungguh, pukulan pedih," sahut Arthur lesu.
"Jika kondisi Naomi seperti itu, apakah ... dia bisa menyusui?" tanya S cemas.
"Beruntung, Renata masih menyusui. Dia bersedia menjadi donor ASI untuk jagoan kecil kita. Sayangnya, saat ditanya siapa nama puteranya, Naomi enggan menjawab. Dia sungguh mengurung diri. Sepertinya ... dia kecewa dengan sikap Jordan. Ini ... bisa menimbulkan masalah baru. Ditambah, Jordan tak di sini. Ia juga tak menjawab satu pun telepon dari kami. Sepertinya, ia merasa bersalah dengan sikapnya," sahut Roza.
Kumpulan orang-orang itu tampak lesu saat mereka berdiri di depan ruang perawatan. Meskipun kamar itu kelas VIP yang memiliki dua kamar, inkubator pribadi berikut dokter dan suster khusus, tapi ruangan besar itu hanya dihuni oleh Naomi seorang.
"Naomi butuh waktu. Berikan dia ruang untuk menenangkan diri. Yang terpenting, kita terus mengawasinya. Jangan sampai hal buruk terjadi lagi pada gadis manis kita," ucap Amanda seraya menoleh ke arah pintu ruang perawatan tempat Naomi beristirahat. Semua orang mengangguk paham.
Hari berikutnya, tempat Lysa berada. Cuba, Kediaman Tobias.
"Pony! Ayo, sarapan dulu," ajak Lysa seraya meletakkan sepiring sayuran mentah di lantai, tempat biasanya keledai itu menemaninya makan di ruang makan. Namun, sampai Lysa duduk dan menyuapi mulutnya dengan masakan buatannya, Pony belum juga muncul. "Pony!" panggil Lysa mulai kesal.
Lysa meletakkan sendok dan garpunya di piring dengan embusan napas keras. Ia beranjak dari dudukkan dan melangkah menuju ke halaman belakang, tempat biasanya keledai itu berada.
"Pony!" pekik Lysa dengan mata melotot saat melihat keledai kesayangan King D sedang disantap oleh dua serigala buas. Napas Lysa tersengal ketika melihat keledai malang itu tewas dengan luka robek disekujur tubuh bersimbah darah. "No!" teriaknya lantang terlihat begitu marah.
Aksi Lysa menarik perhatian dua serigala yang entah datang dari mana. Seketika, Lysa sadar dengan perbuatannya. "Harrghhh!"
__ADS_1
"Aaaaa!" teriaknya histeris dan segera berlari kencang menghindari serangan dua serigala buas itu.
Tentu saja, Lysa dikejar oleh dua hewan pemangsa yang terlihat kelaparan meski sudah menyantap daging Pony.
Lysa melempari dua hewan bergigi tajam itu dengan piring-piring yang sudah tersaji rapi di atas meja makan.
Namun, dua serigala tersebut dengan gesit berhasil menghindar, malah membuat mereka semakin agresif.
Lysa panik dan terus berlari menghindar, tapi ia juga tetap dikejar. Lysa meninggalkan ruang makan dan bergegas menutup pintu ruangan tersebut, tapi ....
SRETT!
"Agh!" erangnya saat kaki kanan salah satu serigala berhasil menyelinap diantara celah ketika Lysa akan menutupnya. Kuku tajam serigala tersebut mengenai lengan wanita berambut panjang tersebut hingga bajunya robek begitupula kulitnya. "Hah, errrghhh!" rintihnya dengan napas memburu menahan sakit seraya mendorong pintu agar serigala tersebut tak mengejarnya lagi, tapi Lysa kalah kekuatan.
BRAKKK!
"AAAA!"
BRUKK!
Lysa terdorong dan jatuh terlentang. Matanya melebar saat ia melihat dua serigala buas itu kini bernapsu untuk membunuhnya.
"Hah! Hah! AAAAA!!" teriak Lysa memejamkan mata, pasrah dengan takdirnya, merangkak mundur di atas lantai.
KRAS! JLEB! JLEB! BRUK! BRUK!
Lysa meringkuk di atas lantai saat ia tak melihat jika ada seseorang yang menolongnya. Ketika Lysa membuka mata dan menyadari jika dua serigala itu tak menyerangnya, matanya melotot lebar.
Lysa menoleh ke kanan dan ke kiri saat melihat dua serigala itu telah tewas dengan leher digorok meski kepalanya tak terpenggal dan bagian tubuhnya terbelah.
Lysa gemetaran melihat hewan buas itu dibunuh oleh seseorang. Seketika, kening Lysa berkerut ketika melihat sebuah kertas warna putih terkena noda darah dari dua hewan tersebut seperti sengaja digeletakkan di sana.
Lysa mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan dengan sorot mata tajam yang dituliskan dalam bahasa Indonesia.
"Aku telah menemukan pembunuh Tobias. Dia berada di Jepang, tempat lahirnya pada Samurai pada zamannya. Dia memiliki pedang dengan lilitan rantai pada gagang, dan pangkal gagang pedang terlilit naga emas. Hati-hati, dia lawan yang tangguh. Balaskan dendammu dan lanjutkan hidup."
Praktis, bola mata Lysa bergerak tak beraturan. Ia segera berdiri dan melihat sekitar. Lysa penasaran, siapa orang yang menolongnya membunuh dua serigala itu. Lysa seperti mendapatkan kemampuannya lagi dalam bertempur.
Lysa bergegas menuju ke ruang Pusat Kendali yang selama ini ia tutup rapat. Lysa masuk ke dalam di mana semua komputer masih menyala, seperti saat ditinggalkan oleh anak buahnya ketika diculik kelompok Miles kala itu.
"Siapa dia?" tanya Lysa langsung mengoperasikan sebuah komputer dengan menggerakkan mouse ke layar tangkapan CCTV tempat ia diserang serigala tadi.
Seketika, mata Lysa melebar. Ia melihat seseorang yang diyakininya berjenis kelamin perempuan, memakai pakaian ninja berwarna hitam, menggunakan dua katana yang disarungkan pada kedua pinggulnya.
Pergerakan bola matanya terfokus pada cara orang itu melawan dua serigala. Gerakannya gesit dan cepat, bahkan dua serigala itu seperti tak menyadari kedatangan musuh yang masuk melalui pintu terbuka, tempat Pony ditemukan.
"Dia bukan orang sembarangan. Black Armys Ninja? Tapi ... seragamnya lain. Itu bukan tentara mama," ucap Lysa yakin dari hasil analisisnya. Orang itu lalu meninggalkan selembar kertas seperti yang ditemukannya. "Benar dugaanku. Dia sengaja meninggalkannya. Lalu ... ke mana dia pergi?" tanya Lysa penasaran.
Lysa menggerakkan mouse-nya lagi untuk melihat ke mana perginya orang itu usai menyelamatkannya. Ternyata, orang itu pergi melalui jalan yang ia masuki tadi, halaman belakang.
Lalu, orang berpakaian hitam tersebut menghilang begitu saja di dalam hutan. Kamera CCTV yang tak menjangkau sampai wilayah itu tak bisa mengejar sosoknya, ditambah Lysa tak memiliki teknologi seperti GIGA.
"Jepang. Aku akan menemukanmu, Pembunuh," ucap Lysa dengan sorot mata tajam melihat tulisan dalam kertas yang menggambarkan pedang tersebut.
Di sisi lain, tempat Jonathan berada.
Pemuda itu telah memutuskan keluar dari jajaran 13 Demon Heads dan kini berdiri sendiri.
__ADS_1
Jonathan kembali disibukkan oleh usaha legal dan ilegalnya bersama anggota The Circle yang tersisa.
Kali ini, Jonathan terlihat serius. Ia yang telah mendengar kabar jika Suriname diserang, semakin yakin jika Miles pasti akan mengincar anak buahnya yang berkurang.
"Dia pasti akan datang kemari. Aku yakin itu," ucap Jonathan serius dengan Click and Clack mengapitnya.
"Hem, taruhan?" tanya Clack seperti tak percaya.
"Oke. Jika Nathan benar, kau tak akan kugaji selama satu bulan penuh," tegasnya seraya melihat dari layar tablet dipangkuannya yang terhubung dengan semua RC di lapangan.
Clack terlihat tegang. "Jika kau kalah, kau harus menggajiku dua kali lipat bulan depan."
"Oke, deal," jawab Jonathan mantap seraya mengajak bersalaman.
Click terlihat tak ingin ikut taruhan entah apa alasannya. Pria itu tampak serius melihat sekitar dibangku kemudinya.
Namun, siapa sangka, jika tebakan Jonathan benar.
"Bos! Ada pergerakan dari sebuah drone milik Vesper Industries. Itu jenis CD. Benda itu seperti mengawasi sekitar. Jatuhkan atau biarkan?" tanya anak buah Jonathan dari tempat intaiannya melalui sambungan radio berfrekuensi khusus.
"Biarkan saja. Buat seolah-olah kalian tak melihatnya. Tetap bersikap wajar," jawab Jonathan serius ketika ia meneropong dari balik kaca jendela mobil dan mendapati drone yang dimaksud.
Benda itu terbang berkeliling di atas bangunan rumah Sierra yang baru di Colmar, Perancis.
"Awas saja kalau bikin ringsek. Baru juga selesai dibangun," keluh Jonathan terlihat geram karena khawatir jika bangunan yang menghabiskan biaya hingga milyaran rupiah itu dihancurkan.
"Pasti ada yang menerbangkannya, Jo. Kita harus cari pelakunya," tegas Click dan Jonathan mengangguk setuju.
"Pusat. Pindai dari sensor gerak dan juga panas tubuh di sekeliling tempat sampai wilayah terluar. Jika tak ditemukan, nyalakan pemancar fatamorgana. Kerjakan!"
"Yes, Bos," jawab operator pusat.
Jonathan, Click and Clack terlihat sibuk dengan alat kendali di pangkuan mereka. Ketiganya mengendalikan sebuah mobil remote control dengan moncong senjata terarah ke berbagai sudut mencari mangsa.
Jonathan mengarahkan ke Selatan, Click ke Timur dan Clack ke Barat. Saat ketiganya tampak serius, tiba-tiba mobil mereka tak bisa digerakkan lagi. Praktis, tiga pria itu saling berpandangan.
"Pemancar Fatamorgana aktif. Penyusup!" pekik mereka dengan suara tertahan bersamaan dan mata melotot.
Segera, Jonathan meneropong dan mendapati drone tersebut sudah tak terlihat. Click and Clack mencoba melihat sinyal dari ponsel masing-masing, tapi tanda silang muncul di sana.
Saat ketiganya tampak tegang, "Jo! Asap putih. Gas halusinasi!" seru Click menunjuk ke arah bangunan yang diselimuti oleh gas tersebut.
"Yes! Tebakan Jojo benar. Clack, bulan depan, kamu gak gajian. Rasain," ucapnya senang dan segera keluar dari mobil usai menyuntikkan penawar di lengannya.
Clack mendesis kesal.
"Ayo!" ajaknya bersiap dengan tas ransel dalam gendongan, masker gas dan kacamata khusus serta jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Click and Clack mengangguk siap.
Keduanya keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Jonathan di belakang dengan mengendap.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu❤️
__ADS_1