
Meski kebahagiaan telah menyelimuti hati Arjuna dengan calon pasangan hidupnya yang baru yakni Naomi, hal serupa belum terjadi pada Sandara.
Musim telah memasuki semi, tapi gadis itu belum menemukan cinta sejatinya. Kai kembali ke Filipina untuk menyelesaikan pembuatan tabung bersama Jeremy agar pengawetan jasad Vesper sempurna.
Rumah Dinas Afro dari Perusahaan Farmasi Elios, Italia.
"Kenapa kau terus berkunjung ke sini, Kak Afro? Bagaimana dengan Venelope?" tanya Sandara dengan wajah datar saat Afro mulai sering datang ke rumah yang ditempati puteri tunggal Kai selama menjalankan perusahaan.
Afro tampak gugup usai gadis Asia itu melontarkan pertanyaan yang terasa menohok baginya.
"Lope baik-baik saja. Ia sedang membantu Doug di perusahaan," jawab Afro tampak canggung.
"Kenapa kau belum menikahinya? Apa kendalamu? Bukan karena aku 'kan?" tanya Sandara berkesan menyindir.
Afro menggeleng pelan, tapi tatapan Sandara begitu tajam hingga pemuda itu tak sanggup untuk balas memandanginya.
"Maaf, aku ... harus segera pulang. Esok aku ada rapat direksi. Jaga kesehatanmu, Dara. Sampai bertemu lagi," ucapnya seraya beranjak dari sofa ruang tamu.
"Lagi? Kau akan datang kemari lagi?" tanya gadis berkulit putih itu curiga.
Afro tak menjawab dan hanya tersenyum. Sandara diam memandangi pintu rumahnya yang tertutup rapat usai mantan suaminya pergi.
Namun, tiba-tiba. Sandara bergegas masuk ke kamar dan mengambil tas jinjing seraya memasukkan beberapa surat penting dengan tergesa.
Ia lalu duduk di pinggir ranjang terlihat sibuk dengan ponselnya seperti melakukan sesuatu dengan serius.
Sandara lalu melirik jam dinding dan diam selama kurang lebih 15 menit. Tak lama, terdengar suara mobil memasuki kawasan tempat tinggalnya.
Ia segera turun seraya menenteng tas koper ukuran kecil keluar dari rumah setelah ia kunci. Sandara masuk ke mobil dan kendaraan roda empat tersebut melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan perumahan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Bandara, Nona Dara?" tanya sopir perusahaan dan Sandara mengangguk pelan.
Pria itu fokus mengantarkan nona besarnya menuju ke tempat yang dituju tanpa mengajukan pertanyaan lagi.
Setibanya di Bandara, Sandara bergegas melakukan check-in dan memasuki ruang boarding pass menunggu panggilan keberangkatannya seraya mematikan ponsel agar kepergiannya tak terlacak.
Selamat penerbangan, Sandara diam terlihat gugup. Ia memilih tidur hingga akhirnya pesawat tiba di tempat tujuan akhir, Rusia.
__ADS_1
Taksi mengantarkan Sandara ke sebuah kawasan jauh dari pemukiman warga sampai ke gerbang terluar.
Sandara turun dan menemui seorang penjaga berseragam layaknya satpam di mana ia tahu jika lelaki tersebut adalah salah satu anggota The Shadow.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan.
"Kaukenal siapa aku. Bawa aku masuk ke dalam. Jangan biarkan aku terlalu lama di luar," pintanya menatap pria itu dengan wajah datar.
Lelaki itu mengangguk pelan. Tak lama, sebuah mobil muncul dari balik permukaan tanah yang tertutupi rumput.
Mobil anti peluru itu keluar dari persembunyiannya dengan seorang sopir siap mengantarkan tamunya.
Sandara segera masuk dan duduk di bangku tengah menikmati perjalanan singkat yang membawanya sampai ke kastil peninggalan Boleslav.
Mata Sandara langsung tertuju pada pintu utama kastil megah tersebut. Ia mendapati Jordan sudah berdiri di sana menunggu kedatangan tamu yang tak disangka.
Sandara segera turun begitu mobil berhenti tepat di halaman utama kastil. Sopir meletakkan koper Sandara ke kereta dorong yang berada di teras di mana selanjutnya akan dibawakan oleh petugas kastil menuju kamar.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Jordan menatap Sandara lekat dengan wajah datar, sama seperti tamunya.
Sandara diam tak menjawab, tapi terlihat gugup akan sesuatu. Jordan tak bertanya lagi lalu memintanya masuk ke dalam. Jordan mengajak Sandara untuk makan malam sebelum ia beristirahat.
Sandara masih diam bahkan tak berani menatap Jordan. Sedang pemuda itu memandanginya tanpa berkedip.
"Hem, Afro."
Praktis, pandangan Sandara langsung terangkat. Ia mengangguk pelan, tapi kemudian wajahnya berpaling.
"Dengan aku di sini, dia tak akan berani mengusikku lagi. Aku ... merasa tak nyaman dengan kehadirannya yang terus-terusan datang ke rumahku," jawab Sandara yang pada akhirnya jujur.
Jordan mengangguk pelan. Tak lama, sajian datang. Keduanya segera menyantap makan malam itu dalam keheningan bahkan suara gesekan garpu, sendok, dan pisau hampir tak terdengar.
"Pilihanmu tepat dengan datang kemari, Dara," ucap Jordan seraya mengelap mulutnya dengan serbet usai menikmati steak dombanya.
Sandara mengangguk dengan senyum tipis di wajah seperti sebuah formalitas. Jordan mengantarkan tamunya ke kamar yang telah dipersiapkan.
"Terima kasih, Jordan. Selamat malam," pamitnya.
"Malam," jawabnya tenang dan masih berdiri diam saat gadis cantik itu menutup pintu.
__ADS_1
Jordan kembali ke kamar dan bersiap untuk beristirahat. Namun, ia melakukan ritual pentingnya sebelum terlelap. Jordan membaca sebuah buku tentang dunia bisnis terutama dalam bidang industri.
Cukup lama pemuda itu membaca di atas ranjang dengan tubuh menyender pada sandaran kasur, hingga tiba-tiba ia melihat pergerakan dari bawah celah pintu kamar.
Kening Jordan berkerut mengamati pergerakan itu hingga ia langsung menutup buku dan menyibakkan selimut.
CEKLEK!
"Oh!" kejut Sandara ketika pintu kamar Jordan terbuka dan pemuda tampan itu menatapnya saksama. "Maaf jika aku mengusik istirahatmu. Hanya saja ... bisa kaulakukan sesuatu padanya?" tanya Sandara seraya menunjukkan layar ponsel di mana Afro melakukan panggilan.
Jordan menatap layar ponsel itu saksama. Keduanya saling diam di mana suara getaran dari alat komunikasi itu terus mengusik hingga mati dengan sendirinya.
Tiba-tiba, Jordan merebut ponsel itu dan menghubungi Afro kembali. Sandara terkejut saat Jordan menatapnya saksama dengan ponsel ia letakkan di salah satu telinganya.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Dara, kau di mana?"
"Dara di rumahku, Afro. Berhentilah mengganggunya. Fokuslah pada pasanganmu sekarang, Venelope. Kau sudah membuat keputusan saat itu. Jangan kecewakan Venelope seperti kau mengecewakan Sandara. Percayakan saja ia padaku. Selamat malam."
KLEK!
Seketika, mata Sandara melebar. Ia tampak kaget dengan ucapan Jordan barusan kepada mantan suaminya.
Jordan memberikan ponsel milik saudara sepersusuannya itu kembali dalam diam dan Sandara menerimanya dengan gugup.
"Terima kasih, Jordan," ucap Sandara dengan senyuman saat ia melihat layar ponselnya tak lagi menyala karena panggilan Afro.
Saat Sandara menaikkan pandangan, ia terkejut ketika mendapati Jordan menatapnya lekat dan membuat mata keduanya saling terkunci.
Tiba-tiba saja, Sandara melemparkan ponselnya ke atas sofa panjang dan merangkul Jordan.
Seperti melodi yang seirama, tanpa perlu lirik lagu, keduanya seperti paham dengan yang diinginkan. Jordan dan Sandara saling menautkan bibir dengan mata terpejam.
***
lele cakit. doakan cepet sembuh biar bisa up dengan normal lagi. amin~ makasih tipsnya❤️ Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi para LAP yang merayakan. Lele padamu💋
__ADS_1