4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Hate and Love


__ADS_3

Kejadian saat Afro meledakkan rumahnya di Italia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Cepat! Padamkan api!" teriak salah satu anggota pasukan Bala Kurawa memerintahkan anggota lainnya.


Para pria berseragam hitam itu segera memadamkan api yang berkobar hebat di bagian dapur, tapi tak meruntuhkan seluruh bangunan.


Anggota lainnya mengevakuasi Arjuna, Sun, Tessa dan Sandara yang tak sadarkan diri di ruang tamu. Beruntung, mereka tak terkena dampak dari ledakan karena letak ruangan yang berjauhan, hanya mengalami luka ringan.


Arjuna dan lainnya segera dinaikkan dalam mobil. Pasukan Bala Kurawa meninggalkan lokasi karena suara sirine mobil polisi dan ambulance mulai terdengar mendekati rumah Afro.


Mobil melaju kencang dan kembali ke Paris menuju ke Butik Sandara. Namun, saat salah satu anggota dari pasukan tersebut akan menghubungi Vesper, pemimpin tim menahan aksinya.


"Jangan. Kita masih belum tahu kejadian sebenarnya dari insiden ini. Sebaiknya, tunggu instruksi dari Tuan Muda saja. Jangan gegabah," ucap pria itu dan anggota yang telah siap dengan ponsel dalam genggaman mengangguk paham, mengurungkan niat untuk menelepon ibu dari bosnya itu.


Di Butik dan Salon Sandara, Paris. Setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Ya ampun! Kalian kenapa?" tanya Rustam anggota Red Ribbon yang bertugas di toko Sandara terlihat panik setelah melihat Nona mereka terlihat lusuh bahkan make-up di wajahnya memudar.


"Kalian. Temukan Afro dan tangkap dia. Meski ia temanku, tapi perbuatannya tak bisa dimaafkan. Cepat!" teriak Arjuna marah setelah telah sadar dari pengaruh bius saat di perjalanan.


Para pasukan Bala Kurawa Arjuna segera berpencar mencari keberadaan Afro dengan menghubungi petugas yang mengoperasikan satelit Marlena untuk mencari jejaknya.


Sandara berjalan sendirian menaiki tangga meninggalkan kerumunan. Wajahnya begitu serius dan tak menanggapi orang-orang yang memanggil namanya.


Di kamar Sandara, lantai tiga.


"Hiks, kak Afro jahat. Ia tak menghargai usahaku untuk merubah diri. Dia menghinaku," ucapnya sedih saat menghapus make-up di wajah dengan kapas yang telah diberi cairan remover.


Sandara menangis dan terus menghapus make-up yang telah bercampur air mata. Hingga ia tak kuasa untuk menahan tangisannya lagi. Sandara menangis sedih seraya melipat lututnya di atas bangku meja riasnya dan membiarkan air matanya menetes.


"Kak Afro sudah tak mencintaiku lagi. Dia meninggalkanku, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Dia mengecewakanku," ucap Sandara perlahan menaikkan wajahnya hingga kembali terlihat di cermin.


Lama Sandara menatap wajahnya yang tergenang air mata. Tak lama, Sandara mampu menghentikan tangisannya. Ia menatap wajahnya lekat yang perlahan berubah dingin.


"Jordan. Hanya Jordan yang bisa mengerti kesedihanku. Aku selama ini mengabaikan keberadaan dan perhatiannya. Mungkin, ini balasan Tuhan padaku. Jordan meninggalkanku karena kak Naomi," ucapnya lesu. "Kak Naomi? Apa dia tak sadar jika terlalu tua untuk mendampingi Jordan? Apa dia tak sadar apa statusnya? Mengelola perusahaan kak Afro yang dilimpahkan padaku? Kau mengambil yang bukan milikmu, Kak Naomi. Jordan dan Perusahaan Elios. Aku tak akan diam. Akan kurebut yang seharusnya menjadi milikku," ucapnya tegas hingga rahangnya mengeras.


Sandara beranjak dari dudukannya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Remaja itu mengganti pakaiannya dengan koleksi pribadinya dan merias wajahnya lagi. Wajah Sandara terlihat seperti gadis berumur dua puluh tahun karena riasannya.


Ia kembali turun untuk menemui orang-orang yang masih berkumpul di tokonya. Mata semua orang tertuju pada Sandara yang memasang wajah dingin dan terlihat lain karena make-up menutupi wajah lugunya yang biasa terpancar tanpa riasan.


"Kau baik-baik saja, Dara?" tanya Arjuna terlihat cemas.


"Hem. Aku akan ke Italia, Perusahaan Elios. Aku akan menemui Jordan," jawabnya tegas.


Semua orang tertegun.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tessa terlihat panik.


"Memberikan apa yang Jordan inginkan. Afro. Kak Afro berkhianat bahkan berencana membunuh kita. Dia harus dihukum dan orang yang pantas untuk menghukumnya adalah Jordan," jawabnya dingin.


Mata semua orang terbelalak karena tak menyangka dengan ucapan Sandara yang mengejutkan.


Sandara memberikan kode kepada lima anggota Red Ribbon yang tersisa untuk bersiap. Merekapun segera menyiapkan penerbangan.


"Dara, wait. Kau bilang apa? Menyerahkan Afro pada Jordan? Kau membiarkan Jordan mengeksekusinya? Memenggal kepalanya?" tanya Arjuna memegang lengan Sandara erat dengan mata terbelalak.


"Relakanlah kepergian kawanmu itu, Kak Juna. Afro bahkan tak mendukung usahamu untuk menjadi seorang penguasa. Dia hanya akan menghambat jalanmu. Percaya padaku, ada banyak pria di luar sana yang bisa kau jadikan sahabat selain Afro," tegas Sandara sembari melirik tangannya yang dipegangi kuat oleh Arjuna.


Anak kedua Vesper terlihat shock mendengar penuturan adik lain ayah yang tak pernah ia duga.


Sandara pamit kepada semua orang. Ia pergi mengendarai mobil menuju bandara, meninggalkan Paris menuju Italia.


"Juna," panggil Tessa sembari mendatangi calon suaminya yang terlihat pucat setelah mendengar penuturan Sandara.


"Afro akan mati, Tessa. Bukan seperti ini yang kuinginkan. Dia sahabatku, seburuk apapun dia, Afro adalah kawanku. Aku tahu jika Afro tak berniat membunuhku," jawab Arjuna terlihat sedih.


Tessa memeluk Arjuna erat dan anak Han tersebut terlihat lesu dalam pelukan calon isterinya. Sun diam mendengarkan semua kesalahpahaman yang makin meluas ini.


Laboratorium Jeremy, Filipina.


"Hai, Jonathan. Hem, kau sepertinya mengalami hal buruk," ucap Atit menyapa, tapi berkesan menyindir untuk remaja itu.


"Jangan membuatku marah, Om Atit. Gak liat muka Nathan jelek begini karena luka bakar seram kaya ikan panggang?" jawab Jonathan yang tak keluar kamar sejak ia sudah bisa turun dari ranjang pasien karena malu dengan lukanya.


Jonathan menurut dan duduk di sofa samping Atit. Jonathan melirik Atit saat pria berparas cantik itu menyentuh kulitnya yang terkelupas.


"Sakit?" Jonathan menggeleng. "Bagaimana dengan yang i—"


"Aww! Sakit tau!" teriaknya yang mengejutkan Atit hingga dokter itu sampai terperanjat.


"Pilhanmu ada dua. Operasi plastik untuk melapisi kulitmu yang rusak dengan kulit yang baru atau ... biarkan saja seperti ini," tanyanya memberikan pilihan.


"Luka itu tak begitu terlihat, Jonathan. Sudah kubilang, aku menerimamu dalam keadaan apapun. Aku tetap mencintaimu meski kau kehilangan hidung mancungmu," sahut Sierra seraya berjalan memasuki kamar dan mengejutkan dua pria tersebut.


"Hemf, tapi Nathan malu, Sierra," sahutnya terlihat tertekan. Namun, Sierra malah cemberut.


"Oh! Aku tahu. Kau malu karena tak bisa memamerkan tubuhmu lagi di depan gadis-gadis cantik. Iya kan? Mengaku saja," jawabnya sewot.


Jonathan terkejut termasuk Atit karena cara berpikir Sierra yang berkesan cemburu.


"Kata siapa?" tanya Jonathan dengan wajah lugunya.


Sierra menunjukkan wajah kesal saat membuka sebuah ponsel yang Jonathan kenali.


"Eh, itu ponselku," sahutnya cepat, tapi Sierra malah melotot tajam saat mengaktifkan ponsel itu dalam genggaman. Jonathan terdiam.


"Nathan, cepat sembuh ya. Aku merindukanmu dan semoga kita bisa bertemu lagi di Camp Militer. Salam rindu, Vivian". Hah! Aku tahu siapa Vivian. Dia dari salah satu anak perempuan anggota dewan 13 Demoan Heads, Bojan asal Siberia. Tak usah berbohong!"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu," jawabnya gugup.


"Kau sepertinya menghubungi seluruh orang di kontak ponselmu jika kau sedang sakit, menderita dan butuh dukungan, Jonathan sayang," ucap Sierra ketus sembari terus menggerakkan jempolnya melihat isi chat dari layar ponsel sang kekasih.


Jonathan gelagapan tak bisa bicara. Atit memilih diam dan merapikan make-up tak ingin ikut campur.


Jonathan mendekati kekasihnya yang merajuk dan meliriknya sadis, tapi Sierra terus menghindar. Keduanya malah terlihat seperti bermain kejar-tangkap.


"Ini cewek gemesin banget sih kalo lagi marah," ucap Jonathan karena Sierra terus melangkah dengan kaki robot tanpa ponsel dalam genggamannya.


"Ah!" pekik Sierra setelah Jonathan berhasil menangkap dan memeluknya erat dari belakang.


Namun, Sierra yang kesal memukul punggung tangan Jonathan berulang kali, memberontak minta dilepaskan.


Atit mengambil ponsel yang Sierra letakkan di atas ranjang sembari membaca pesan dengan kekehan geli.


"Minggir, kau menyebalkan! Dasar genit! Bisa-bisanya merayu gadis lain padahal sudah ada gadis cantik di depanmu! Jangan menyesal jika aku menghilang lagi," ancam Sierra.


"Eh, eh, kok ngomongnya gitu. Gak lucu ah," keluh Jonathan langsung berwajah serius seketika.


Sierra memalingkan wajah saat Jonathan membalik tubuhnya dan ikut menatapnya sebal. Atit melirik dengan senyum terkembang saat melihatnya keduanya saling cemberut.


"Sepertinya pekerjaanku sudah selesai. Aku tetap akan mengirimkan tagihan kepada Vesper atas biaya pembatalan pengobatan. Baiklah, di mana kamarku?" tanya Atit dengan senyum terkembang mendekati dua remaja yang terlihat menggemaskan ketika sedang berselisih.


"Akan aku antar, Dokter Atit," ucap Sierra sembari mendorong dada Jonathan kuat hingga remaja tampan itu hampir terjatuh.


"Agh!" rintih Jonathan memegangi dadanya yang terluka.


Sierra terkejut dan panik seketika saat Jonathan membungkuk dengan kening berkerut.


"Sakit ya? Maaf," ucap Sierra merasa bersalah dan kembali mendatangi kekasihnya yang mengerang sampai matanya terpejam.


Jonathan tak menjawab, tapi menerima rangkulan Sierra yang memapahnya kembali ke kasur. Jonathan bergulung-gulung di atas kasur terlihat kesakitan dan terus merintih.


"Dokter Atit," panggil Sierra pucat dan iba melihat kondisi Jonathan.


Namun, Atit hanya diam saat menatap Jonathan yang mengedipkan salah satu mata ketika Sierra tak melihatnya.


"Dia hanya butuh istirahat dan sebaiknya, kau temani pacarmu itu. Aku akan meminta Lucy mengantarkanku ke kamar. Selamat istirahat dan cepatlah sembuh," ucap Atit pamit seraya berjalan melenggang dengan sepatu boots warna merah menyala meninggalkan kamar Jonathan.


Seringai Jonathan terpancar saat Sierra dengan penuh perhatian mengipasi lukanya dengan sebuah kertas di atas meja.


"Aduh, sakit, Yang. Kamu jahat banget, aduh," keluhnya sembari mendekatkan tubuhnya ke paha Sierra dan perlahan merebahkan kepala di pangkuannya.


"Iya, maaf ya," ucap Sierra merasa bersalah dan terus mengipasi luka Jonathan sembari mengelus kepalanya lembut.


Senyum Jonathan terpancar. Usahanya membuat Sierra tak merajuk lagi berhasil. Jonathan menikmati belaian kasih sayang kekasihnya dengan mata terpejam.


***


makasih ya tips nya. lele padamu💋💋💋

__ADS_1



__ADS_2