4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sosok Putih*


__ADS_3

Greenland, tempat Team Jonathan berada.


"Haish, bang dad emang bener-bener deh. Udah susah-susah kita rencanain misi malah dibocorin sama dia," gerutu Jonathan saat mendapatkan info dari Sierra.


Click and Clack, Biawak Kuning dan Cokelat hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dari tempat mereka mengintai.


Keempat pria dewasa itu tersambung dengan radio berfrekuensi khusus dari earphone di salah satu telinga dan earphone translator di telinga lainnya.


Mereka meneropong menggunakan sensor panas untuk melihat sisa lokasi peperangan bertahun-tahun silam antara The Circle dan 13 Demon Heads dari empat sisi bangunan.



"Bagaimana?" tanya Jonathan melirik Click yang berjongkok di sampingnya.


"Reruntuhan itu tertimbun salju tebal, Jonathan. Akan sedikit sulit bagi kita untuk masuk ke dalam. Namun, aku yakin jika tempat ini sudah ditinggalkan," jawab Click melepaskan teropong dengan pakaian tempur kamuflase berwarna putih seperti salju.


"Namun, ini aneh, Jonathan. Tempat ini tak ada segel dari polisi setempat. Tak ada papan peringatan dan aku melihat jejak mobil di sisi Selatan bangunan," sahut Clack dari tempatnya mengintai.


"Jejak mobil?" tanya Jonathan melebarkan mata.


"Yes, aku merasa—"


DOR! DOR!


"Shit!" pekik Clack yang mengejutkan semua orang karena ia ditembaki meski peluru tajam tersebut tak mengenainya.


"Clack! Report!" pekik Jonathan langsung menerbangkan drone untuk melihat keadaan salah satu bodyguard-nya itu.


Namun, saat drone Jonathan baru saja melayang, benda terbang itu langsung ditembak jatuh.


"Siaga! Siaga!" pekik Biawak Kuning yang membuat keempat pria itu langsung tiarap dan waspada seketika.


"Cokelat gak bisa liat musuh di manapun. Sensor panas gak deteksi ada orang di bangunan itu. Tapi kalo kita sampai di serang, itu pasti ulah manusia atau mesin, gak mungkin dedemit," pekiknya yang kembali meneropong.


Semua orang tegang seketika. Jonathan kembali menyalakan mobil remote yang memiliki kamera untuk mendekati bangunan, tapi lagi-lagi, gerakannya terlihat. Mobil camera itu kembali ditembak hingga hancur.


"Sial! Orangnya di mana sih?!" gerutu Jonathan yang bahkan belum dua meter melajukan mobilnya.


"Jo! Aku melihat pergerakan dari sisi Tenggara. Tadi ada kilatan seperti pantulan cahaya," sahut Biawak Kuning menginformasikan.


Segera, semua orang kembali mengintip untuk memastikan hal tersebut. Kening Jonathan berkerut. Ia melihat ada benda bergerak yang menyelinap di balik dinding bangunan yang masih berdiri meski hanya sebagian.


"Manusia bukan ya? Sensor panas gak deteksi!" pekik Jonathan merinding. "Yang, gimana pantauan GIGA IGOR?" tanya Jonathan dari sambungan telepon.


"Negatif, Nathan. Mungkinkah, dia menggunakan sebuah alat untuk menutupi panas tubuhnya?" tanya Sierra menduga yang kini bekerja di Pusat Komando Kediaman Darwin di Melun, Perancis.


"Ada alat begitu? Wah, kita harus cari tahu teknologinya. Tangkep dia!" pekik Jonathan malah memerintahkan seluruh orang dalam timnya untuk menyergap masuk ke reruntuhan bangunan tersebut.


"What? Nathan!" pekik Click melotot karena Jonathan malah keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung berlari begitu saja tak memperdulikan keselamatannya dengan menerbos masuk ke dalam.


Biawak Kuning dan Cokelat tetap bertahan di posisinya untuk melindungi Jonathan serta Click and Clack yang memasuki gedung.


Jonathan menyiagakan pistol di tangan kanan dan pedang Silent Blue di pinggul kiri. Click and Clack siap dengan senapan laras panjang yang mereka kalungkan.


Senjata itu mereka digenggam kuat di depan dada, siap menembak musuh yang terlihat. Mata Jonathan memindai sekitar. Langkahnya membuat mereka keluar dari gedung menuju ke sisi Timur bangunan.


SRAKK!!


"GET DOWN!"



DODODODODOR!!!


Jonathan terkejut saat muncul dua orang berpakaian putih dari balik semak menembaki mereka dengan membabi buta.


Jonathan tiarap di balik puing yang tertimbun salju dan dilindungi oleh Click and Clack yang melakukan aksi balas.


BLUNG!


DWUARRR!!

__ADS_1


KRAKK!! BLUSHHH!


"Hahahaha! Rasakan!" teriak Jonathan senang saat Click menuntaskannya dengan tembakan dari peluncur granat yang ia ambil dari dalam tas ranselnya.


Jonathan kembali meneropong dan dua orang tersebut tewas tergeletak di atas salju bersimbah darah tertimpa batang pohon besar yang tumbang karena ledakan.


SRAK!


"Oh! Dia bergerak lagi! Kejar!" teriak Jonathan kembali bangun dan berlari mengejar sosok tak dikenalnya itu.


Jonathan semakin yakin jika itu manusia, tapi tubuhnya tertutup rapat oleh jubah putih hingga wajah bahkan rambutnya tak terlihat. Jonathan memasuki sisi lain bangunan dan melihat sosok itu menaiki tangga menghindari kejarannya.



Click and Clack dibuat kewalahan karena Jonathan sembrono dan tak memikirkan keselamatannya. Ia berlari begitu saja demi menangkap orang yang tak diketahui asal usulnya.


Tiba-tiba ....


"ROG! ROG!"


"Waaaa!" teriak Jonathan panik saat muncul tiga serigala dari sebuah pintu di bawah tumpukan salju dalam gedung dari sisi kanan.


Mata Click and Clack ikut melebar. Tiga pria itu berlari kencang sampai tak bisa menembak karena sibuk menyelamatkan diri dan lupa akan sosok buruan yang menghilang dari kuncian mata mereka.


Mereka berbelok dan kini berlari menuju ke sisi Barat bangunan. Jonathan mengambil sembarang Rainbow Gas dari saku jas anti peluru dan melemparkannya ke belakang.


BLUARR!! BUZZ!!


"HARGHHH!" raung serigala itu saat mereka diselimuti kepulan gas warna hitam.


Terlihat, tiga serigala itu mulai terhuyung dan perlahan roboh. Jonathan, Click and Clack menghentikan laju lari dan bernafas lega karena tiga hewan buas itu roboh tak bergerak lagi.


"Nathan!" teriak Biawak Kuning mengejutkan semua pria yang tersambung dari sambungan earphone.


"Huwaaaa!"


Jonathan kembali berteriak karena kini muncul lebih banyak serigala dari semua sisi. Jonthan, Click and Clack terkepung.


Wajah penuh ketegangan di mata tiga pria itu jelas terlihat. Nafas mereka tersengal dan jantung berdebar kencang saat para serigala itu berjalan perlahan dengan sorot mata tajam siap untuk mencabik mereka.


"Ada yang tidak beres, Nathan. Mata mereka merah dan berliur. Mereka lebih dari liar. Pasti mereka sengaja dibuat sebagai senjata untuk menyerang," ucap Click dengan senapan laras panjang ia arahkan ke tubuh para serigala bergantian.


"Ulah Venelope. Aku yakin itu. Dia menggunakan para binatang untuk menjadi mesin pembunuh. Dia tak memiliki pasukan karena semua sudah ditarik Tobias dan sebagian sudah dalam kendalimu, Jonathan," sahut Clack dengan belati di tangan kanan dan pistol di tangan kiri dalam posisi membungkuk.


"Wah, pinter juga. Gak punya tentara manusia, doi pakai hewan," puji Jonathan.


"Kenapa kau selalu memuji Venelope?! Apa kau menyukainya?!" pekik Sierra dari sambungan earphone.


"Bukan begitu, Yank. Venelope itu--"


"Nathan!" teriak Clack saat serigala-serigala tersebut mulai menyerang mereka.


"Eh! Tar dulu! Nathan belom jelasin ke Sierra! Napsu banget sih!" keluh Jonathan saat melihat dua ekor serigala melompat ke arahnya siap untuk menerkam.


"Jojon!" teriak Biawak Cokelat dari tempat bidikan saat ia melihat Jonathan hanya berdiri terlihat bingung dengan kondisinya yang terancam.


DOR! DOR! BRUKK!


"JOJON! FOKUS!" teriak Biawak Cokelat yang berhasil menjatuhkan dua serigala saat hampir saja membunuh anak ketiga Vesper.


"Hehe ... makasih, Om," ucapnya cengengesan. "Brantemnya nanti dulu, Yank. Nathan lagi sibuk. Sabar ya. Nat—""


SRINGG! KRASS!


BRUKK!


"Nathan tau kalo Sierra cemburu sama Venelope. Tapi—"


DOR! DOR! BRUKK!


"Tapi ... cinta Nathan cuma buat Sierra seorang. Oke?" ucapnya terputus-putus karena sibuk menebas dan menembaki serigala yang datang padanya.

__ADS_1


"Oke," jawab Sierra lirih tersipu malu dari tempatnya mengawasi.


Senyum Jonathan merekah. Ia mendongak ke atas langit dengan lambaian tangan dan menunjukkan gigi putihnya.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Eiji mengedipkan mata saat satelit GIGA DARA menangkap sosok Jonathan dan kini pertarungan mereka di tayangkan live di semua markas 13 Demon Heads.


"Jonathan! Fokus!" teriak Clack yang kualahan sembari melemparkan pistol ke sembarang tempat karena habis peluru.


Jonathan melihat ada sebuah pintu tempat keluarnya para serigala itu. Jonathan berlindung di balik tubuh Click yang menembaki para serigala dengan peluru-peluru tajamnya.


Jonathan membuka tas ransel yang Click gendong dan mengambil senapan pelontar granat di dalamnya.


Jonathan berdiri dan membidik sasarannya saat para serigala berlari ke arahnya.


BLUK! BLUARRR!


SWINGGG!! DUWARR!! BUZZ!!


Kombinasi ledakan dari granat mini dan Rainbow Gas berhasil membuat sekumpulan serigala itu ambruk di atas tumpukan salju. Jonathan menyelesaikannya dengan melemparkan jauh granat tabung di antara serigala tersebut.


PIPIPIPIPI ... DWUARRR!!


DODODODODOR!!


Kai dan lainnya yang melihat dari tampilan satelit hanya geleng-geleng kepala. Para anak perempuan dari anggota Dewan terlihat kagum akan aksi Jonathan yang santai tak seperti anak buahnya saat menembaki para serigala.


Jonathan berjalan mendaki ke atas puing tempat para serigala itu tewas mengenaskan di atas salju. Warna putihnya berubah menjadi merah kehitaman karena darah dari para serigala.


Jonathan berdiri di atas pintu palka tempat keluarnya para serigala. Mata Jonathan menyipit saat ia melihat sekumpulan tikus hitam terlihat begitu buas siap untuk keluar dari palka tersebut.


Putera dari mendiang Erik Benedict melemparkan Rainbow Gas ke dalam lubang pintu dengan wajah datar.


"CIT! CIT! CIITTT!"


Tikus-tikus itu mengerang saat gas dengan kombinasi warna menyeruak di dalam lubang seperti gorong-gorong tersebut. Jonathan menambah serangannya dengan melemparkan sepuluh buah granat mini.


DOOM! DOOM!


KRAKK!


"Wow ... gempa bumi," ucap Jonathan saat merasa tanah yang dipijaknya bergetar hebat dan timbul retakan.


"Nathan! Cepat pergi dari sana!" teriak Biawak Kuning dari sambungan radio.


Jonathan segera berlari karena salju-salju di sekitarnya mulai ambles ke dalam tanah yang retak dan membuat lubang di sana.


"Run! Run!" pekik Click saat melihat serigala yang bergelimpangan seperti tertarik ke dalam tanah dan menghilang satu persatu.


Mata Kai dan semua petugas di Pusat Komando terbelalak. Satelit GIGA menangkap gambar dari atas langit. Daratan yang dipijak oleh Jonathan berlubang dan mulai ambles secara perlahan mengejarnya.


"Run, Jonathan! Atau kau akan tertelan dalam tanah!" pekik Kai lantang.


Semua orang yang menyaksikan tayangan live tersebut serasa berhenti bernafas sejenak. Seolah-olah mereka yang berada di sana, berlari kencang menyelamatkan diri.


Mata Sierra melebar saat melihat Jonathan bersusah payah melompati puing-puing yang menghalangi jalannya.


BRUKK!!


"Arghhh!"


"Nathan!" teriak Sierra panik saat melihat Jonathan jatuh tersandung dan ia mulai terperosok ke dalam lubang dari tanah yang ambles.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Tengkiyuw tipsnya nak Alra dan Bee 😍


__ADS_1


__ADS_2