
Jonathan membawa kelompok barunya untuk tinggal di Ceko. Putera Erik Benedict tersebut memiliki sebuah hunian mewah di sana.
Sebuah rumah bernuansa putih dilengkapi dengan kolam renang, pekarangan yang luas, gudang, dan ruang bawah tanah sebagai Pusat Kendali yang terhubung dengan seluruh markas dalam jajaran 13 Demon Heads.
Ungu Genit kini bertanggungjawab penuh menjalankan bisnis modifikasi mobil bersama Hadi yang berpusat di Ceko atau Czechia.
Meski keduanya sering cekcok, tapi mereka berkomitmen ketika bekerja dengan mengesampingkan dendam pribadi.
Hadi masih tak bisa memaafkan pengkhianatan yang dilakukan oleh Ungu dengan ikut bergabung bersama No Face menggempur jajaran 13 Demon Heads.
Venelope dan Sierra menjadi sekretaris Jonathan di mana dua gadis cantik tersebut ternyata memiliki kemampuan tersendiri yang mengesankan anak ketiga Vesper.
Sierra lebih mirip seperti penasehat dalam bisnis saat Jonathan terlihat kesulitan dan kerepotan dalam menjalankan usahanya.
Sedang Venelope, seperti baby sitter bagi Jonathan. Ia selalu mengingatkan jadwal-jadwal kegiatan Jonathan setiap harinya agar ia tepat waktu termasuk kondisi kesehatan Bosnya agar tetap prima.
Di Pusat Kendali ruang bawah tanah kediaman Jonathan, Ceko.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bersiap! Kita akan ke Denmark untuk cari Cassie dan Miles!" serunya lantang yang telah mengenakan seragam tempur Black Armys.
"Yes, Bos!" jawab pasukan gabungan Jonathan berjumlah kurang lebih 30 orang.
"Jonathan, hei, jangan terburu-buru. Kau tak perlu terjun langsung ke lapangan. Selain itu, lokasi mereka belum diketahui secara pasti. Kau hanya akan melakukan pemborosan biaya dan waktu," tegas Sierra mendatangi pemuda itu dengan kursi roda elektrik.
"Uang Nathan banyak, gak bakal miskin," jawabnya sombong dan ketus.
Sierra menghembuskan nafas panjang. Ia terlihat begitu sabar menghadapi Bos barunya.
"Kau pergi membawa sekumpulan orang. Jangan lupa, Miles dan Cassie mengenalimu. Jika keduanya tahu kau mencari mereka, lalu kalian tiba-tiba muncul di wilayah mereka, dua orang itu pasti akan kabur. Ayah anak itu sangat ahli dalam menghilang, menyusup, dan menyerang diam-diam. Saranku, utus saja 2 orang untuk melakukan penyidikan seperti detektif. Kirim masing-masing 4 orang untuk berjaga di dermaga, stasiun, terminal bus, dan bandara. Kau sebar anak buahmu yang banyak itu untuk mengepung Denmark. Jangan terpusat pada satu titik yang belum diketahui benar tidaknya keberadaan mangsamu. Kau harus efektif dan efisien," tegasnya.
Jonathan diam mendengarkan nasihat Sierra yang menjelaskan dengan detail.
"Itu benar, Jonathan. Orang yang kau cari itu mantan anggota The Circle, bukan mafia kacangan," sahut Clack.
"Hem, mungkin kau selama ini kesulitan mencariku karena caramu yang salah, Jonathan," imbuh Sierra seraya mendekat dengan senyum manisnya.
Jonathan melirik Sierra tajam, lalu berpaling.
"Oke. Ubah strategi. Nathan capek. Sierra, urus pencarian Cassie dan Miles. Mereka harus ditemukan secepatnya!" tegasnya seraya berjalan meninggalkan ruangan.
"Oke," jawab gadis cantik itu malas.
Sierra lalu mengumpulkan anak buah Jonathan yang telah ia tunjuk sebelumnya ke ruang meeting ditemani Click and Clack.
__ADS_1
Jonathan kembali ke ruang kerjanya seraya melepaskan atribut bertempurnya. Tak lama, Venelope datang dengan sebuah map biru. Jonathan duduk di kursi kerja lalu membuka map tersebut.
"Apa nih?" tanyanya berkerut kening.
"Rincian biaya untuk operasimu dalam pencarian Miles dan Cassie," jawab Venelope seraya mengaktifkan tablet dalam genggaman.
"Banyak amat!" serunya dengan mata melotot melihat angka-angka bombastis.
"Tentu saja banyak. Kau menggunakan pesawat kargo. Selain itu, ada biaya perizinan dan akomodasi selama di Denmark yang aku perkirakan hingga 1 minggu ke depan, belum biaya lainnya," jawab Venelope menjelaskan.
Jonathan menggaruk kepalanya terlihat pusing karena angkanya lebih dari 500 juta rupiah.
"Misinya gak jadi. Lagi dirombak sama Sierra," jawabnya malas lalu menutup map tersebut.
"Oke," jawab Venelope lalu membuka sebuah laptop di hadapannya Bosnya.
"Apalagi?!" tanya Jonathan memekik dengan mata melotot.
Venelope hanya tersenyum seraya menunjukkan pekerjaan yang harus Jonathan selesaikan. Wajah Jonathan serius seketika.
"Sudah minum vitaminmu?" tanya Venelope melakukan check list dengan tablet-nya.
"Ehem," jawab Jonathan santai seraya melihat hasil rancangan Hadi untuk mobil pesanan Rohan di laptop.
"Satu jam lagi kau ada jadwal teleconference dengan seluruh anggota The Kamvret mengenai laporan tahunan usaha modifikasi mobilmu." Jonathan mengangguk. "Lalu setelahnya, kau ada jadwal makan siang dengan Torin dan Yuki di Restoran milik tuan Kai," sambungnya.
"Hem," jawabnya seraya menggaruk ujung alisnya.
"Huhuhu," rengeknya tiba-tiba seperti akan menangis. Jonathan menopang dahinya dengan kedua tangan sebagai alas di atas meja. Venelope bingung. "Banyak amat kerjaannya. Nathan capek," ucapnya kesal dengan wajah tak terlihat.
Venelope tersenyum seraya meletakkan tablet-nya di meja kerja Jonathan samping laptop.
Perempuan cantik itu lalu berdiri di belakang Jonathan dan memijat kedua pundaknya. Jonathan terkejut dan langsung duduk tegap membuka mata.
"Jangan mengeluh. Kau kini menjadi seorang Bos yang menaungi banyak orang. Ingat, kau harus menggajiku dan Sierra dengan uang-uangmu itu. Jangan malas," ucap Venelope seraya memijat.
Jonathan diam dengan wajah cemberut. Ia terlihat menikmati pijatan Venelope dan malah meminta gadis cantik itu untuk memijat kepalanya juga.
"Pijatanmu enak. Sering-sering ya," pinta Jonathan dengan mata terpejam malah seperti orang akan tidur karena pijatan sekretarisnya. Venelope menghembuskan nafas pelan. Ia diam saja memasang wajah malas.
Sedang di tempat Cassie berada.
Terlihat sebuah rumah kaca di tengah hutan yang diselimuti salju. Udara dingin mengusik di luar rumah tersebut, tapi tidak di dalamnya.
Cassie duduk saling berhadapan dengan sang ayah di sebuah ruangan bernuansa putih di bawah gedung.
__ADS_1
Namun tempat tersebut, lebih mirip seperti kurungan bagi Cassie karena ruangan tertutup rapat, tak ada jendela, dan satu-satunya pintu hanya bisa dibuka oleh Miles.
Hanya tersedia sebuah kasur dengan bantal dan selimut. Dinding terbuat dari lapisan bantalan empuk, termasuk lantainya.
Cassie berdiri berhadapan dengan sang ayah, di mana gadis cantik itu berpakaian serba putih dan mulai terlihat perutnya yang besar karena mengandung anak Jonathan.
"Apa kau tahu jika aku selama ini menderita dan kesepian?" tanya Cassie menatap Miles tajam yang tak lagi menutupi diri dengan topeng gagak. Pria tua itu menundukkan wajah, tak berani menatap sang anak yang memandanginya lekat.
"Aku hampir terbunuh puluhan kali. Aku berduka atas kematianmu. Bahkan ada nisanmu di Arizona! Kau membohongiku, kau pembohong!" teriak Cassie dengan mata berlinang. Miles memalingkan wajah.
"Dan kau, menghimpun pasukan gagak untuk menunjukkan kekuasaanmu. Kau tak menggunakan mereka untuk mencariku! Kau malah mencari kekayaan dengan mengumpulkan aset-aset yang kaurebut dari para Mens, bahkan berlindung di bawah Venelope! Pengecut!" ucap Cassie penuh penekanan berwajah bengis. Miles masih terdiam.
"Jawab! Buka mulutmu! Aku tahu kau masih memiliki lidah, Miles!" teriak Cassie lantang dengan air mata menetes membasahi wajahnya, tapi tak bisa ia hapus karena kedua tangan serta dua kakinya di borgol yang membuatnya kesulitan bergerak.
"Aku ... minta maaf," jawabnya lesu, lalu beranjak dari tempatnya.
Miles pergi meninggalkan Cassie sendirian yang menangis terisak karena sang Ayah tak bersikap sesuai dengan dugaannya.
Miles berjalan meninggalkan ruangan yang dijaga oleh dua pria berpakaian hitam dengan topeng gagak di depan pintu. Pria tua itu menaiki tangga untuk kembali ke atas di rumah kaca.
Terlihat, tiga orang pria memakai topeng dengan bentuk beragam, berkostum layaknya pemain karnaval, dan didampingi oleh dua orang asisten yang memakai topeng serupa, tanpa kostum di sebuah ruangan.
"Mereka semua mengkhianati kita, Miles. Mereka harus dibalas," tegas seorang pria mengenakan topeng berwarna putih dengan kostum layaknya pemain sirkus.
"Aku cukup yakin jika Jonathan akan mencari Cassie. Aku sudah yakin jika Sierra dan Venelope lemah. Ungu Genit juga membelot. Smiley tewas, begitupula Mr. White. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Keputusan Sierra untuk membubarkan The Circle dan No Face tepat. Ditambah, Tobias kini menjadi lemah setelah ia menikah dan memiliki anak. Para Pion kehilangan kemampuan mereka dan memilih untuk berdamai. Sungguh memalukan," sindir Miles mencemooh.
"Kau benar. Mereka membuat usaha kita selama ini sia-sia," sahut pria bertopeng dua warna—putih dan silver—menggerutu.
"Mereka tak pantas menjadi pemimpin No Face dan The Circle. Selama ini, aku sengaja berdiam diri layaknya budak dengan menuruti segala perintah mereka untuk mencari keuntunganku sendiri. Kini, tidak lagi. Miles bebas, dan sudah saatnya menunjukkan siapa yang berkuasa," jawab pria tua itu tersenyum licik.
"Kita masih bisa memanfaatkan Neon untuk membantu kita. Dia menaruh dendam pada Jonathan karena melindungi Venelope dan Sierra," sahut seorang pria bertopeng kombinasi warna putih, biru dan emas.
"Dia alternatif lain. Neon dilindungi oleh orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Sangat sulit untuk mengajaknya bergabung meski kita menghasutnya," jawab Miles masih berdiri di hadapan tiga pria itu.
"Lalu ... apa rencana kita?" tanya pria berkostum sirkus.
"Kita kalah karena tak memiliki banyak pengikut. Percuma saja melakukan perekrutan, kita tak akan mungkin berhasil menyaingi orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Jadi, kita gunakan cara mudah tanpa harus bersusah-payah. Manfaatkan anak-anak Vesper. Mereka sangat mudah sekali diadu. Kita pangkas ranting-rantingnya, baru kita cabut akarnya. Hahahahaha!" tawanya menggema dengan kedua tangan direntangkan seperti sebuah sayap.
Tiga pria bertopeng melakukan hal sama dengan suara tawa penuh kemenangan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Lele cuma bilang, maaf upnya terlambat🙏 Kerjaan beneran gak bisa ditinggal dan semua DEADLINE. Terima kasih sudah sabar menunggu dan tengkiyuw tipsnya❤️ Lele padamu💋