4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Permintaan Afro*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST



------ back to Story :


Kai dan Vesper terkejut mendengar berita tewasnya Tuan Robert dari panggilan Ivan. Mereka berdua segera berlari dengan Ivan berjalan lebih dulu di depan.


"Matikan alarm Terminator. Katakan, kita baik-baik saja. Minta mereka menunggu kabar terbaru dari kita," pinta Vesper dan Kai mengangguk paham.


Kai memisahkan diri dari Vesper dan Ivan di koridor. Suami termuda Vesper menuju ke Pusat Kendali untuk mengabarkan para anggota dewan yang panik karena sudah lama sekali alarm tersebut tak dibunyikan.


Kamar yang di tempati oleh Tuan Robert sudah penuh dengan orang. Vesper membungkam mulutnya saat melihat lelaki tua yang berjasa banyak dalam pembangunan markasnya tewas dengan mata terbuka seperti terkejut akan kematiannya.


Namun, bukan tangisan atau air mata yang Vesper tunjukkan. Ia mendekati mayat Tuan Robert dan mengamatinya seksama. Sedang lainnya, sudah tak bisa membendung kesedihan terutama Doug.


"Dia kehilangan kedua tangannya," ucap Vesper dengan suara bergetar saat menyadari jika kedua tangan Tuan Robert dipotong dengan rapi.


Darah membasahi sprei tempat pria tua itu tidur dan merubah warna putih bersih menjadi merah pekat berbau anyir.


"Tega sekali. Hiks, mereka membunuh Tuan Robert yang sudah tak berdaya dengan cara keji seperti ini! Tidak bisa dimaafkan!" teriak Doug marah besar melihat kematian tragis lelaki tua yang sudah ia anggap seperti guru dan ayah baginya.


"Mereka berhasil mematikan fungsi alarm menggunakan pemindai dari dua tangan Tuan Robert. Namun, bagaimana cara mereka masuk?" tanya salah seorang Black Armys heran.


Ivan segera berlari dan hal itu membuat kaget semua orang. Doug ikut mengejar Ivan meninggalkan ruangan.


Vesper menempelkan wajahnya di samping wajah Tuan Robert dan mengikuti arah mata pria malang itu seperti tertuju pada sesuatu.


Mata Vesper mendapati sebuah lukisan yang tertempel di dinding bergambar empat ekor kuda sedang berlari dan ditunggangi oleh empat makhluk seperti melakukan pembantaian atas suatu kaum atau yang dikenal sebagai "Four Horsemen of the Apocalypse-Empat Penunggang Kuda Akhir Zaman" yang tertuang dalam Alkitab terakhir umat Kristen.



Vesper berjalan mendekati lukisan tersebut dan mengamatinya dengan seksama. Mata Vesper menyipit saat melihat jejak ujung sepatu di pinggir meja kayu di bawah lukisan meski terlihat samar.


Vesper segera meminta dua orang pria dari Black Armys miliknya yang masih berada di kamar untuk melepas lukisan yang dipasang lebih tinggi dari kepalanya.


Dua orang itu naik ke meja dan mencoba mengangkat bingkai itu. Namun, bingkai tersebut seperti tertanam pada dinding.


Kening Vesper makin berkerut, wajahnya tampak begitu serius. Ia meminta dua lelaki itu turun dan sang Ratu kembali mengamati lukisan itu seksama.


"Hand," pinta Vesper, dan salah seorang Black Armys memberikan tangannya untuk membantu Vesper naik ke atas meja.


Vesper mengamati kuda-kuda dari lukisan itu seksama hingga ia menyadari ada satu jenis kuda yang berbeda di bagian paling belakang meski terlihat samar.

__ADS_1


KLIK!


Mata semua pria di tempat itu terbelalak karena sisi sebelah kanan bingkai lukisan terbuka seperti jendela.


"Panggil Doug!"


"Yes, Mam!"


Segera, seorang Black Armys keluar kamar untuk mencari keberadaan asisten kepercayaan Tuan Robert tersebut.


"Kalian. Tolong persiapkan pemakaman Tuan Robert dan kabarkan kematiannya," ucap Vesper memberikan perintahnya lagi.


Dua pria segera keluar ruangan untuk melaksanakan perintah Bos mereka. Vesper kembali memberikan perintah untuk mengurus jenazah Robert kepada Black Armys lainnya.


Dua pria lainnya menyingkirkan selimut, bantal dan guling di sekeliling tubuh Tuan Robert. Salah seorang diantaranya menutup mata mayat Tuan Robert.


Dua Black Armys datang sembari mendorong ranjang pasien untuk memindahkan jenazah Tuan Robert yang selanjutnya akan dibersihkan dan dipersiapkan untuk pemakaman.


Tak lama, Doug datang. Matanya melebar seketika saat melihat bingkai pada lukisan besar di dinding terbuka dan terlihat sebuah jalan rahasia di sana.


"Aku tak tahu tentang itu," jawabnya sembari mendekati Vesper dan menunjuk lorong gelap di balik lukisan.


"Aku serahkan padamu," ucap Vesper tegas menatap Doug.


Doug memakai sarung tangan karet, kacamata khusus, masker gas dan membawa senter. Dua Black Armys masuk terlebih dahulu sebagai pembuka jalan dengan senapan laras panjang, kacamata khusus dan masker gas.


Vesper meninggalkan Doug dan timnya dengan empat Black Armys penjaga di kamar Tuan Robert.


Wajah Vesper begitu serius. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju ke Pusat Kendali, tapi ia bertemu Ivan di depan ruangan menuju bunker. Mata Vesper kembali menyipit.


"Ivan?" panggil Vesper.


"Mereka mencoba masuk kemari, Vesper, tapi gagal," ucapnya sembari menatap mayat-mayat yang tergeletak di atas lantai berpakaian putih, ciri khas seragam No Face.


"Hem, biar kutebak. Mereka mengincar peninggalan Lucifer Flame," sahut Vesper saat menginjak punggung mayat-mayat itu di sepanjang jalan menuju pintu utama.


"Mam," panggil seorang petugas menunjukkan rekaman ketika ketujuh orang No Face tewas karena sistem keamanan otomatis yang mendeteksi adanya penyusup tak teridentifikasi.


Senapan otomatis langsung memberondong mereka dari atap ruangan dan balik dinding. Selongsong peluru berserakan di lantai setelah tuntas menyelesaikan tugasnya.


"Identifikasi mereka dan bersihkan tempat ini," perintah Vesper dan empat orang Black Armys penjaga segera melaksanakan perintah Bosnya.


PIP!


Vesper memasuki ruang bunker dengan Ivan bersamanya. Mereka memeriksa barang-barang berharga yang disimpan dalam bunker besar berukuran 100 meter tersebut.

__ADS_1


Vesper berdiri di depan mannequin yang mengenakan jubah, mahkota dan tongkat peninggalan Lucifer berikut semua temuan miliknya dalam sebuah lemari kaca khusus anti peluru serta getaran.


"Bagaimana mereka bisa masuk ke kawasan Kastil?" tanya Vesper mengajak Ivan keluar dan menutup bunker kembali.


"Kau bilang Venelope membuat obat-obatan berbahaya bukan? Sepertinya, mereka mengujinya kepada pasukan kita," jawab Ivan berdiri di depan Vesper terlihat serius.


"Show me."


Ivan mengajak Vesper ke Pusat Kendali untuk melihat rekaman bagaimana No Face berhasil masuk kecuali saat kejadian tewasnya Tuan Robert. Tak ada CCTV di kamar tersebut sehingga kronologi tewasnya arsitek hebat itu tak diketahui.


Mata semua orang di Pusat Kendali menyipit saat melihat rekaman CCTV tersembunyi yang tak berhasil dilumpuhkan oleh anak buah No Face.


"Seperti dugaanmu, Sayang. Mereka menggunakan tangan Tuan Robert untuk mematikan alarm karena tangannya terpindai sistem keamanan. Analisisku, satu tim mendatangi Tuan Robert dan mengambil tangannya, lalu tim itu keluar untuk mematikan alarm di sisi Timur kawasan Kastil. Tim penculik Dara masuk dengan mudah tanpa terdeteksi sensor gerak, CamGun dan menonaktifkan ladang ranjau. Namun pertanyaan besarku, bagaimana mereka tahu cara memasuki kamar Tuan Robert?" tanya Kai heran.


"Tentang itu, Doug sedang menyelidikinya. Semoga kita mendapatkan kabar bagus," jawab Vesper masih berwajah serius.


"Lalu ... tentang gas yang menyeruak di bawah dan membuat anggota Black Armys kita tewas, itu sangat mirip dengan kombinasi Rainbow Gas milik Jeremy. Mayat para Black Armys kita sedang diotopsi untuk mengetahui lebih jelas gas apa yang digunakan oleh orang-orang No Face. Ini sangat berbahaya, Vesper. Musuh kita sudah mempelajari gaya bertempur dan sistem persenjataan kita," tegas Ivan.


"Kau benar, Ivan. Ingin rasanya aku mengumpulkan para anggota dewan, tapi ... aku meragukan kesetiaan Arjuna dalam jajaran kita," jawab Vesper dan semua orang diam menyimak.


"Kau ingin rapat tertutup? Aku bisa melakukannya," sahut Ivan. Vesper mengangguk.


Kai membantu Ivan mempersiapkan semua bahan untuk teleconference tersebut. Vesper pergi menuju ke ruang medis untuk menemui Arfo dan berpapasan dengan banyak anggota Black Armys yang berlalu lalang di koridor Kastil.


Vesper masuk ke ruang medis dan mendapati Afro duduk di ranjang pasien dengan perban membalut telinganya yang terluka. Terlihat, rembesan darah membekas di sana.


"Hempf, Mr. White. Dia yang melakukan ini semua, Nyonya Vesper. Dan kali ini, izinkan aku untuk memburu dan membunuhnya," ucap Afro dengan nafas menderu dan sorot mata tajam. Terlihat, kemarahan bercampur kesakitan dalam dirinya hingga wajahnya memerah.


"Yes, Afro. Of course. Bunuh dia dan bawa kepalanya padaku," jawab Vesper tersenyum miring.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



tengkiyuw tipsnya~ jangan lupa ramaikan novel Casanova ya. Udah bisa dibaca di aplikasi kalau kalian udh subscribe.


Poin di MT \= koin di GN.


Vocer di MT \= gem (batu biru).


semua bisa didapat secara gratis dg menjalankan misi ya. vote gem yg banyak ya. lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2