4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sang Ratu Telah Pergi


__ADS_3

Yu Jie dengan sigap mengambil alat kejut jantung saat melihat tanda garis lurus itu tak berdetak lagi. Jeremy dan Victor dibuat panik.


Victor dengan segera melakukan CPR. Sayangnya, tak ada tanda-tanda Vesper kembali pada mereka.


Yu Jie berusaha dengan memberikan kejut listrik pada sang Ratu, tapi usahanya seperti ditolak oleh Yang Maha Kuasa.


Tangan Jeremy gemetaran saat tanda itu tetap berupa garis lurus dan suara mesin yang menandakan jika pasien tak terselamatkan lagi.


"Berikan serum Monster!" seru Jeremy lantang. Ia bergegas meski jalan tergopoh karena menggunakan sepatu robot menuju ke rak.


Yu Jie terlihat masih berusaha untuk menyadarkan Vesper, tapi wanita berkulit pucat itu sudah memejamkan mata seolah tak ingin terbuka lagi.


Saat Jeremy akan menyuntikkan serum itu, Victor menahannya. Jeremy menatap Victor tajam.


"Sudah cukup penderitaan yang Vesper rasakan, Jeremy. Dia sudah memutuskannya. Vesper ... ingin mengakhiri penderitaannya selama ini dengan mati diantara kita," ucap Victor memegang tangan Jeremy kuat.


"Aku ... aku tidak rela, Victor. Aku tak boleh membiarkannya mati," jawab Jeremy dengan suara bergetar menahan tangis.


"Relakanlah, Jeremy. Biarkan dia bahagia dengan caranya. Bukan kita yang menentukan kebahagiaannya, tapi dia. Kau mengenal Vesper, seharusnya kau tahu apa keinginan terbesarnya," ucap Victor menasehati.


Seketika, Jeremy menangis. Ia roboh di samping ranjang Vesper dan menjatuhkan serum Monster dari tangannya.


Yu Jie ikut lemas karena usahanya tak berhasil. Victor menatap Vesper lekat dan berjalan gontai ke arahnya.


"Ini ... salahku, Vesper. Aku yang membuatmu seperti ini. Kau tahu jika tak mungkin bisa sembuh, tapi ... kau tak menyalahkanku. Kau memberikanku kehidupan. Mengembalikan ibuku dan membiarkanku melanjutkan hidup. Namun, itulah takdir Tuhan. Jika aku tak memberikanmu racun itu, mungkin ... selamanya kita masih bermusuhan. Kau tak mungkin bisa merasakan kebahagiaan walau sebentar. Semoga ... kau mendapatkan kebahagiaan sempurna di sana. Titip salamku untuk ibuku. Katakan padanya ... aku baik-baik saja," ucap Victor lalu mengecup kening Vesper lembut dengan tetesan air mata.


Jeremy menangis terisak. Ia terlihat begitu sedih. Kenangannya bersama Vesper teringat kembali.


Ia yang membuat Erik tewas karena melepaskan Paulina, tapi Vesper memaafkannya bahkan mempercayakannya untuk mengembangkan beberapa serum sehingga menjadi senjata andalan dari Vesper Industries.


"Vesper ...," panggil Jeremy menangis sedih di atas lantai seraya memeluk kedua lututnya erat.


Yu Jie berjalan gontai keluar dari ruangan untuk mengabarkan berita duka ini. Ia berusaha untuk tak menangis, tapi air mata itu tetap saja mengalir.


Ia teringat saat ia dipercaya untuk membantu menjalankan perusahaan farmasi Elios dan memberikannya kehidupan baru.


Yu Jie tak menyangka, musuh yang seharusnya ia bunuh karena berpihak pada The Circle, malah memberikannya kesempatan hidup.


Yu Jie tak sanggup untuk melangkah. Ia menepuk dadanya berulang kali mencoba menenangkan hatinya.


Grey House, China.


"One ...," panggil Verda saat ia mendapati apel-apel di depan Big Glass jatuh di atas rumput.


Daun pada pohon itu mengering. One berjalan dengan lesu saat menyentuh pohon peninggalan Liu yang sudah ia kembangbiakkan agar tak mati.


"Mungkinkah?" tanya Verda menatap suaminya lekat.


One dengan sigap berlari ke Big Glass dan mengambil ponselnya. Ia terlihat tergesa saat melakukan panggilan. Han yang mendengar ponselnya berdering segera menerimanya.


"Ya, One. Ada apa?" tanya Han tenang.


"Vesper! Apa yang terjadi pada adikku? Apakah ... apakah dia ...?" tanya One sampai tergagap.


Mata Han terbelalak lebar seketika. Ia langsung berlari dengan cepat meninggalkan ruang pertemuan begitu saja.


Praktis, semua orang dibuat terkejut. Satu per satu, dari mereka mengikuti Han yang tampak panik karena sesuatu.


"Ada apa?" tanya Buffalo bingung, tapi semua orang menggeleng tak tahu.


Mereka bergegas mengejar Han untuk mencari tahu. Kai yang masih duduk di kursi roda meneteskan air mata begitu saja.


Sandara mendekati papanya dan menatapnya lekat diikuti oleh tiga anak Vesper lainnya yang masih duduk di kursi roda.


"Ada apa, Papa?" tanya Sandara karena ayahnya menangis.


Kai tak menjawab, tapi ia tak bisa menutupi kesedihannya. Ia membiarkan air matanya mengalir deras. Kai hanya bisa duduk hingga tubuhnya gemetaran.


Hingga akhirnya, mata Sandara bergerak tak beraturan seperti mengetahui arti dari air mata itu.

__ADS_1


"Mama? Mama ...?" tanyanya ikut berlinang air mata.


Kai mengangguk dengan air mata sudah menggenangi wajahnya. "Nona Lily sudah pergi, Dara ... ia meninggalkan kita untuk selamanya. Dia ... dia sudah tiada ...."


Seketika, mata Lysa, Jonathan dan Arjuna melebar. Tiga anak Vesper bergegas meninggalkan ruangan dengan menggerakkan kursi roda mereka.


Sandara menangis sedih. Ia memeluk ayahnya yang tak sanggup untuk menghentikan air mata kepedihan itu.


"Dara ... Dara bahkan belum sempat bicara pada mama ...," ucapnya terlihat begitu menyesal.


Afro yang masih berdiri di ruangan itu terpaku melihat Kai dan Sandara tampak begitu berduka atas kepergian wanita yang sangat mereka sayangi.


Afro ikut merasakan sesak di dada. Ia teringat akan kenangannya bersama Vesper dulu yang selalu memberinya pengampunan dan nasihat agar dirinya tetap kuat sebagai keturunan terakhir Elios.


"Ya Tuhan. Kenapa harus kau, Nyonya Vesper? Kenapa harus kau?" tanyanya dengan suara bergetar menahan kesedihan.


Di koridor.


"Yu Jie?" panggil Han saat mendapati wanita Asia itu menangis.


Yu Jie menyenderkan punggung di tembok dan terlihat begitu sedih. Yu Jie tak menjawab dan hal itu membuat Han semakin yakin dengan dugaannya.


Han berjalan dengan kaki diseret karena langkahnya terasa berat untuk menuju ke ruang tempat Vesper dirawat. Air matanya sudah menggenang dan siap untuk menetes.


Benar saja, begitu ia memasuki ruangan, pandangannya terkunci pada sosok sang isteri yang sudah tergeletak dengan detektor jantung yang menunjukkan jika sang Ratu sudah berpulang.


Praktis, air mata yang sedari tadi ia bendung karena masih berharap jika hal itu hanya dugaan saja tumpah begitu saja.


Han roboh di depan pintu. Kakinya tak sanggup untuk melangkah lagi. Jeremy dan Victor melihat kedatangan Han, tapi mereka juga tak sanggup untuk berkata-kata karena terlalu berduka.


"Mama ...?" panggil Lysa saat ia berhasil mengejar Han bersama dengan Arjuna dan Jonathan menggunakan kursi roda, diikuti oleh mafia lainnya.


Jonathan langsung menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tak bisa masuk karena Han menutup jalan.


Namun, Arjuna menguatkan fisik dan hati untuk menggerakkan kakinya. Ia memijak lantai kayu itu dan berpegangan kuat pada bingkai pintu.


Arjuna menumpu tubuhnya dan terus melangkah sedikit demi sedikit mendatangi sang ibu.


Victor dan Jeremy melihat Arjuna berlinang air mata dengan wajah sudah memerah menahan tangis.


"Mama ...," panggil Arjuna yang ikut tak percaya jika sang ibu telah tiada.


Ia memegang tangan kanan Vesper yang sudah tak bergerak di sisi tubuhnya dengan selang infus menancap di dua punggung tangannya.


Pada akhirnya, air mata itu menetes meski tak ada isak tangis di sana karena Arjuna menahannya dengan sekuat tenaga.


Pemuda itu menggenggam tangan sang ibu dan mengecup punggung tangannya penuh kasih hingga matanya terpejam.


Semua orang terdiam, begitupula Han yang masih tak bisa menghentikan air matanya karena kehilangan sang isteri tercinta.


Arjuna mendaratkan bibirnya di kening sang ibu cukup lama dan membiarkan air matanya menetes membasahi kulit pucat Vesper.


"Selamat jalan, Mama. Terima kasih, sudah melindungi kami selama ini. Maaf, jika Juna terlambat untuk menyesal. Juna ... Juna minta maaf," ucapnya dengan suara bergetar hingga tubuhnya berguncang tak lagi bisa menahan rasa kehilangannya.


"Nathan ...," panggil Lysa saat Jonathan merangkak di atas lantai mendatangi Vesper. Victor dengan sigap membantunya berdiri.


Jonathan memegangi kaki Vesper yang dingin saat ia menyibakkan selimut yang menghangatkan tubuh sang ibu semenjak terbaring.


"Mama ... Nathan ... Nathan ...," pemuda itu tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menjatuhkan sebagian tubuhnya untuk memeluk kaki sang ibu erat.


Lysa berusaha bangkit, tapi ia masih merasakan sakit di tubuhnya. Hingga ia mendapatkan uluran tangan dari Javier.


Lysa menerimanya dan merangkul Javier yang memapahnya sampai ke tempat Vesper berada. Javier mendekatnya Lysa ke sisi sang ibu di seberang Arjuna yang masih memeluk wajah Vesper.


"Paman Jeremy," panggil Javier karena sang Profesor terlihat tak bisa menutupi kesedihannya.


Javier dan Victor membantu Jeremy berdiri. Keturunan Borka tersebut di dudukkan di sofa perlahan.


Han berdiri dengan wajah berkerut dan mulai terlihat bisa menahan kesedihannya. Ia berjalan gontai mendekati Jeremy dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Jeremy menoleh ke arah Han dan keduanya saling bertatapan dengan mata berlinang.


"Apakah ... dia meninggal dengan mudah? Apakah ... Lily mengeluh sakit sampai ia tak bernapas lagi?" tanya Han terlihat begitu berusaha menahan tangisannya.


"Dia ... pergi begitu saja. Tak mengucapkan apapun pada kami," jawab Jeremy sedih.


"Dia sudah mengucapkan banyak hal, Jeremy," sahut Bojan seraya berjalan memasuki ruangan.


Mata para mafia kini tertuju pada pria yang berdiri di samping Jonathan seraya menatap Vesper sendu.


"Ingat permintaan terakhirnya. Dia ... sudah mengatakan semuanya. Tulisan itu ... akan menjadi pengingat kita untuk selalu mengenangnya," sambung Jamal dan diangguki oleh mafia lainnya.


"Aku baru menyadari satu hal dari permintaan terakhir nyonya Vesper saat akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri perselisihan ini dengan The Circle, dengan Miles," sahut Rohan seraya mendekat dan kini berdiri di samping kakaknya.


"Apa itu?" tanya Yusuke ikut mendekat.


Rohan tersenyum. "Tak semua hal harus diselesaikan dengan peperangan dan pembunuhan. Aku rasa, pilihan terakhir Vesper dengan berperang melawan Miles dan melibatkan banyak orang karena seperti perkataannya. 'Miles tak bisa diselamatkan. Dendam menyelimuti hatinya'. Aku merasa, Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara beruntung, karena Vesper masih bisa menyelamatkan hati anak-anaknya yang diliputi kebencian serta dendam sebelum kematiannya," jawab Rohan seraya menatap Vesper sendu.


Lysa memeluk sang ibu yang sudah tergolek tak bernyawa. Tiga anak Vesper terlihat begitu sedih dan menyesal karena terlambat untuk menyadari jika sang ibu sangat peduli pada mereka selama ini ditengah kesakitannya.


Dendam, amarah, ambisi, dan rasa benci, membutakan hati mereka sehingga melupakan orang-orang terkasih.


"Ia tak pernah meminta kami untuk melindunginya. Kami datang atas kemauan kami sendiri. Itu semua karena ... kami menyayanginya. Kami ... menghormati perjuangannya dan inilah cara kami menebusnya. Semoga ... Vesper mendapatkan kedamaian abadi di alam sana. Amen," ucap Ivan yang membuat semua orang mengamini ucapannya.


Tak lama, tiga saudari Vesper datang. Orang-orang memberikan mereka jalan karena terlihat seperti menyiapkan sesuatu.


"Maaf jika menyela. Hanya saja, saat Tora memutuskan untuk menyerahkan nyawanya pada Lysa kala itu, ia meninggalkan pesan pada kami," ucap Lian dengan wajah sembab karena ikut bersedih.


"Apa itu?" tanya Yuki yang berada dalam pelukan Torin masih meneteskan air mata.


"Tora meninggalkan balsem terakhirnya untuk saudari Liana. Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah peti kaca untuk peristirahatan terakhirnya. Seharusnya, balsemnya itu bisa mengawetkan jasad saudari Liana, tapi dengan prosedur yang telah ia tuliskan. Untuk hal ini, aku percayakan padamu, Profesor," jawab Rui seraya memberikan sebuah kotak dari bambu kepada pria itu.


Jeremy terlihat kaget dan menerimanya dengan tergesa. Han ikut melihat isi kotak itu dan ia cukup terkejut karenanya. Namun, sebuah senyuman terbit di wajah dua pria itu.


"Aku akan melakukannya. Terima kasih, Tora," ucap Jeremy saat membaca sebuah gulungan kertas berisi teknik pembalseman tersebut.


Kabar Vesper telah meninggalkan dunia untuk selamanya tersebar dengan cepat ke seluruh jajaran 13 Demon Heads.


Keluarga Liana yang berada di Indonesia dibuat shock bahkan Shinta sampai tak sadarkan diri usai mendapat telepon dari Han.


Satria dan seluruh keluarga besar Liana di Yogyakarta segera terbang meninggalkan negara mereka untuk mengikuti proses pemakaman yang dikatakan berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Grey House, China.


"Pembalseman? Maksudnya ... seperti dibuat mumi begitu?" tanya Tika memastikan saat ia tiba rumah peninggalan nyonya Rose.


"Ya. Hanya saja, Jeremy mampu mengembangkan teknik tersebut. Tubuh nyonya Vesper akan tetap utuh tak rusak layaknya orang sedang tidur, tak kering. Hanya saja, pembalseman ini memang harus dilakukan berulang kali tiap lima tahun sekali agar tubuhnya tetap awet. Setelah aku mencari tahu teknik ini, ternyata hal serupa juga diterapkan kepada para pemimpin komunis pada zamannya. Hanya saja, peralatan yang akan digunakan oleh Jeremy lebih modern. Sayangnya, ia masih membutuhkan waktu untuk menyempurnakan formula itu. Namun, teknik pembalseman ke tubuh Vesper sudah dilakukan, tinggal pembuatan tabungnya saja," jawab Zurna yang diangguki oleh para pelayat di rumah tempat Vesper dulu tinggal setelah ditemukan oleh Nyonya Rose di Camp Militer China.


"Kenapa ... tak dikuburkan saja?" tanya Satria bingung.


"Karena semua orang ingin tetap mengenang dan menjenguknya sebagai pengingat jasa Vesper selama ini. Bukannya tidak ikhlas, tapi ... kami rasa ini ada baiknya. Bahkan, beberapa dari anggota dewan ingin dibalsem saat mereka meninggal nanti. Semuanya, sepakat untuk menemani Vesper ketika mereka tiada dan berkumpul jadi satu di Camp Militer. Nantinya, jenazah Vesper akan disimpan di sana pada sebuah ruangan khusus yang sedang dipersiapkan," sahut Durriyah.


"Sayang sekali, hal ini baru diterapkan. Coba saja teknik ini diketahui dari dulu, mungkin ... pemimpin 13 Demon Heads berikut anggota Dewan bisa dimumikan agar generasi selanjutnya bisa mengenang mereka tak hanya dari foto dan cerita," imbuh Roxxane, dan diangguki oleh semua pelayat.


"Bagaimana keadaan empat anak kak Liana? Apakah ... mereka baik-baik saja?" tanya Shinta cemas.


"Mereka masih berada di Kastil Hashirama, Jepang. Mereka ingin melihat proses pembalseman itu didampingi oleh Han dan Kai. Malah katanya, Kai akan ikut serta untuk membantu Jeremy mewujudkan pembuatan tabung untuk mengawetkan jenazah nyonya Vesper," sahut Verda.


"Baiklah, kami mengerti. Kami ... juga awalnya ingin mensholatkan, tapi mengingat Liana bukan lagi seorang muslim ... kami ikut saja yang sudah menjadi keputusan bersama," sahut Satria dan para mafia tersenyum karena keluarga Liana memahami hal tersebut.


***


Pada akhirnya. Lele kasih kematian yang mudah buat mbak Vesper karena idupnya udah cukup sulit dan menderita sejak awal mula muncul.


Namun itulah idup, gak selalu berakhir bahagia versi kita. Hanya saja, bagi mbak Vesper sekecil apapun kebahagiaan itu, dia tetap mensyukurinya. Jadi, jangan nglunjak ya.


Ambil hikmah dari tiap kejadian yang lele torehkan. Setelah ini masih ada eps kelanjutan nasib orang-orang yang ditinggalkan oleh mbak Vesper sampai lebaran nanti. Tapi besok aja upnya😁 Dan, tengkiyuw tipsnya jeng Cleo❤️ lele padamu💋


__ADS_1


__ADS_2