4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Memburu Vesper


__ADS_3

Keesokan harinya, Afro mengumpulkan keempat anak Vesper di ruang makan untuk menikmati sarapan bersama.


Pemuda itu bangun lebih pagi dan menyiapkan banyak hal untuk empat tamunya. Namun sepertinya, perselisihan antar mereka masih terasa mengingat di meja makan hanya ada Arjuna.


Sandara pamit untuk mencuci bajunya di ruang laundry karena beralasan tak membawa banyak pakaian ganti, dan Afro mempersilakan. Sedang Jonathan dan Lysa, dirasa sudah bangun, tapi enggan bergabung.


"Jika kalian tidak mau keluar, terserah saja. Malah lebih bagus. Kalian bisa menjaga rumah ini sampai membusuk tanpa tahu tujuanku mengumpulkan kalian semua. Jika tak ingin saling lihat, aku sudah siapkan kain penutup mata. Anggap saja kalian buta, tapi tidak tuli," tegas Afro mulai menunjukkan taringnya karena ego Jonathan dan Lysa.


Namun siapa sangka, gertakannya berhasil. Lysa membuka pintu dan menatap Afro saksama.


Saat Afro memberikan penutup mata warna hitam, Lysa berjalan melewatinya tanpa mengambil kain itu. Ia lalu menuruni tangga dengan cepat menuju ruang makan.


Afro tersenyum miring, karena Lysa berhasil dibujuk olehnya. Namun, Jonathan belum muncul, Afro tak hilang akal.


"Aku memasak daging panggang, jika—"


CEKLEK!


"Kenapa tak bilang dari tadi jika masak daging? Pantas saja baunya enak," ucap Jonathan langsung membuka pintu.


"Makanya, jangan malas! Cepat turun! Dan mandilah! Kau seperti gembel!" bentak Afro kesal, tapi Jonathan yang sudah lapar, bergegas turun karena tak mau kehabisan daging yang diincarnya itu.


Seketika, ruang makan ramai, meski keempat orang itu saling diam dan hanya melirik satu sama lain.


Setidaknya bagi Afro, hal ini sudah baik, tinggal mengakrabkan lagi. Bagaimanapun, ia tumbuh bersama empat orang itu dan menjalani kisah cinta dengan salah satunya.


Kelima orang itu menikmati sarapan mereka. Hanya Arjuna dan Sandara yang duduk berdampingan. Lysa duduk di sisi kiri meja, dan Jonathan di sisi kanan.


Sedang Afro, duduk di depan Sandara dan Arjuna dengan sebuah meja persegi empat menjadi penghalang mereka.


"Langsung saja. Kabar pertama, Vesper sakit keras. Ibu kalian sangat ingin bertemu dengan keempat anaknya sebelum kematian memanggil. Kalian beruntung. Kalian masih memiliki keluarga, ayah, ibu, paman dan kerabat. Sedang aku? Heh," kekehnya menyindir diri sendiri.


Semua orang diam dan saling melirik tak berkomentar.


"Yang kedua. Biawak Hijau dan isterinya Salma diculik oleh Banu. Dia menipu kita semua dengan lagaknya seperti orang keterbelakangan mental. Kita harus menyelamatkan mereka," tegasnya.


Namun, semua orang diam. Afro heran karena empat orang itu seperti masa bodoh, tapi ia tetap melanjutkan untuk mengabarkan semua hal yang dirasa perlu diketahui oleh para tamunya.


"Yang ketiga. Entah kalian sudah dengar kabar ini atau belum, tapi hal buruk menimpa Arjuna. Tessa meninggal karena ulah Miles," sambungnya.


"Tobias juga meninggal, karena ulah Tora," sahut Lysa.


"Kisah kita berbeda. Kenapa kausamakan?" tanya Arjuna langsung menyahut.


"Mereka berdua orang The Circle. Orang yang seharusnya menjadi musuh kita, malah kita cintai," jawab Lysa menatap Arjuna tajam. "Seharusnya, Cassie dan Sierra juga mati bersama mereka. Keduanya keturunan Flame."


"Hei!" teriak Jonathan langsung melotot.


"Tidak adil jika mereka berdua masih hidup," imbuh Lysa.


"Kalau begitu aku juga harus mati. Aku keturunan Flame secara tidak langsung," timpal Afro dengan santai.


Sandara diam tertunduk. Kembali, ketegangan terasa diantara kelima orang itu, bahkan Afro ikut terlibat.


"Miles hanya menginginkan mama. Begitu dia mendapatkannya, semua berakhir. Beres!" tegas Jonathan.


"Kau akan mengumpankan ibumu pada penjahat itu?!" tanya Afro melotot.


"Sumber masalah utama dari semuanya adalah dua orang itu. Mama mencoba untuk melenyapkan The Circle, begitupula Miles yang ingin melenyapkan 13 Demon Heads. Kita yang hidup diantara keduanya menjadi korban atas kerakusan mereka!" seru Jonathan mengutarakan pemikiran.


"Aku setuju," sahut Sandara yang membuat mata semua orang melotot.


"Kaugila, Dara!" pekik Afro menatap mantan isterinya tajam.


"Itu karena mama memaafkan dan memberikan kesempatan bagi orang-orang The Circle untuk hidup diantara kita. Jika tak ada Tessa, mungkin kak Juna sekarang menikah dengan Naomi. Jika tak ada Cassie dan Sierra, mungkin kak Jonathan menikah dengan Sisca puteri dari Bojan. Dan jika tak ada Tobias, kak Lysa tetap bersama Javier. Dan aku, tetap bersamamu," tegasnya.


"Dia benar. Lihat yang terjadi pada kita karena mama memberikan kesempatan pada orang-orang itu. Impiannya akan sebuah perdamaian antar dua kubu adalah kesalahan besar! Musuh tetap musuh! Walaupun kita pada akhirnya mencintai mereka, itu juga karena keadaan. Aku terpaksa menikahi Tessa karena kegilaan yang terjadi dalam jajaran kita semenjak orang-orang The Circle bergabung!" seru Arjuna sependapat dengan puteri Kai.


Sandara mengangguk membenarkan.


"Kini semua orang dalam jajaran membenci kita berempat. Seharusnya, orang yang disalahkan dan dibenci itu mama. Dia membuat kita menderita! Ibu macam apa yang membiarkan anaknya berjuang sendiri agar terlepas dari belenggu The Circle? Ingat yang terjadi padaku? Tobias menculikku dari kehidupanku yang bahagia hingga Javier melakukan hal nekat dan membuat semuanya semakin kacau!" teriak Lysa mengungkapkan perasaannya.


"Itu benar. Lihat wajahku sebagai buktinya. Bahkan sampai terakhir, aku tetap saja diincar oleh Miles. Mama mengorbankan kita agar dia tetap selamat dan Miles tak mendapatkannya!" sahut Sandara.

__ADS_1


"Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads melindunginya. Mereka pasti sudah dicuci otak oleh mama. Miles dan mama sama liciknya. Mereka berdua memang seharusnya tidak dibiarkan hidup agar hidup kita bahagia!" imbuh Jonathan.


Afro shock dengan penuturan yang terjadi diantara keempat anak Vesper yang malah menyalahkan sang ibu dan sepakat untuk memburunya.


"Hentikan! Kalian salah! Jika Vesper tak melakukan hal ini, dia—"


"Berhenti membela Vesper!" teriak empat anak Vesper serempak dan kini menatap Afro tajam.


"Sudah cukup kau diperbudak, Afro. Saatnya tidur," ucap Lysa dengan wajah bengis.


Kening Afro berkerut, tiba-tiba saja, SHOOT! CLEB!


Mata Jonathan, Arjuna dan Sandara melebar. Lysa menembak leher Afro dan tepat mengenai jakunnya. Afro mulai linglung.


Sandara dengan sigap menarik jarum bius itu agar tak semakin menusuk leher mantan suaminya ketika ambruk nanti. Benar saja, BRUKK!!


"Jadi ... kita sepakat?" tanya Lysa menatap ketiga saudara dan saudarinya.


Arjuna, Jonathan dan Sandara mengangguk. Lysa mengepalkan tangan kanan dan meletakkan di atas meja.


Jonathan dan lainnya melakukan hal yang sama hingga mereka seperti membentuk lingkaran.


"Kita buru Vesper. Tangkap dia dan bawa pada Miles. Lalu, kita bunuh keduanya, dan kita akan mendapatkan kebahagiaan abadi setelah semua tragedi ini," ucap Lysa dengan wajah dingin.


Jonathan, Sandara dan Arjuna mengangguk sependapat. Saat Lysa, Jonathan dan Arjuna akan berdiri untuk bersiap, Sandara menunjukkan sebuah benda kepada mereka bertiga.


"Apa itu?" tanya Arjuna heran.


"Selama ini, pembicaraan kita disadap. Sayangnya, tidak untuk hari ini. Aku sudah yakin jika ada yang tak beres. Afro terburu-buru," jawab Sandara lalu meletakkan alat itu di depan kepala Afro yang tergeletak di atas meja.


"Siall, kita dipermainkan!" gerutu Jonathan bertolak pinggang.


"Kau mencegat sinyalnya?" tanya Arjuna, dan Sandara tersenyum.


"Aku mengaktifkan pemancar Fatamorgana saat Afro memanggil Kak Lysa dan Kak Nathan untuk sarapan. Sebaiknya, kita segera pergi sebelum mereka menyadari jika sinyal sempat terputus. Aku sudah menyiapkan semuanya di kamarku. Tolong masukkan ke mobil," pinta Sandara sopan.


Tiga orang itu mengangguk pelan. Mereka meninggalkan Afro yang tergeletak tak sadarkan diri di meja makan. Sandara menonaktifkan kembali Pemancar Fatamorgana agar tak dicurigai.


BROOM!!


Keempat orang itu berpikir untuk berhenti memihak 13 Demon Heads karena orang-orang itu mengucilkan mereka.


Kini, Jonathan, Lysa, Sandara dan Arjuna mengincar Vesper. Mereka akan memburu sang ratu di seluruh penjuru tempat dan menyeretnya bersama-sama untuk diberikan pada Miles.


Mereka berpikir, dengan matinya dua pemimpin besar dari dua kubu yang selama ini bertikai, akan menghentikan peperangan.


Tanpa sepengetahuan empat anak itu.


Pasukan Pria Tampan yang kini berada di Belize usai mengamankan Click and Clack, membereskan kekacauan dari sisa penyerangan yang terjadi di wilayah kediaman Tessa.


Beruntung, Afro yang dipercaya untuk terus mengabarkan perkembangan ketika ia memutuskan untuk bertindak disetujui oleh Kai. Sayangnya, Afro kini pingsan dan usahanya untuk mendamaikan gagal.


Kai kini tahu jika Jonathan berurusan dengan kepolisian Amsterdam. Namun, mengingat tim yang dikirim adalah tentara bayaran, hal itu diyakini olehnya tak akan menimbulkan konflik berkepanjangan asalkan nama Jonathan bersih dari data di kepolisian negara Belanda.


"Tolong ya," pinta Kai kepada para Black Armys yang ditunjuknya untuk membersihkan nama Jonathan yang tercatat di kantor kepolisian tersebut.


"Yes, Sir," jawab pemimpin tim yang telah ditunjuk olehnya.


Kai bernapas lega usai mendengar pengakuan Jonathan dari hasil rekaman yang terhubung dengan satelit GIGA semalam.


Eiji ditugaskan untuk memantau pergerakan di rumah Tessa, Belize. Sayangnya, Eiji dan Kai tak tahu tentang rencana keempat anak Vesper hari itu.


Eiji yang saat itu sedang membuat jus, tak menyadari jika sinyal dari GIGA DARA sempat hilang selama 15 menit.


"Terus awasi, Eiji," pinta Kai dari sambungan telepon di mana Eiji kembali ditugaskan ke Kastil Borka oleh Vesper.


"Oke," jawab pria itu santai seraya menikmati orange jus di pusat komando.


Vesper yang masih berada di kediaman Takeshi—Jepang, menikmati hari tuanya bersama para cucunya. Bahkan kini, putera dari Jordan dan puteri dari Arjuna tiba, usai diantar oleh tiga isteri Tora.


Keberadaan Vesper masih disembunyikan dari beberapa orang yang dianggap berbahaya dan takut mati jika Miles datang mengancam.


"Terima kasih, Saudari-saudariku. Kalian membuat akhir hidupku berarti," ucap Vesper saat menggendong Loria dalam dekapannya.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Lian terlihat sedih karena Vesper tampak pucat dan kurus.


"Aku baik-baik saja. Aku bahagia. Lihatlah, tempat ini begitu indah, dan ... berisik," jawabnya karena banyak anak-anak berlarian ke sana kemari untuk bermain.


Tiga isteri Tora terkekeh. Tempat itu malah seperti panti asuhan karena semua anak dari para mafia dikumpulkan. Orang-orang itu percaya pada perlindungan yang Vesper berikan untuk keluarganya.


"Oh! Kaudengar itu?" tanya Mei saat mendapati sebuah suara dari dalam rumah pondok.


"Ah ya. King D mengaji. Aku suka saat dia melantunkan ayat-ayat itu. Mengingatkanku saat di Afganistan dan diriku dulu," jawab Vesper seraya memejamkan mata seperti menghayati tiap ayat yang dibacakan oleh King D di tengah kebisingan.


"Hei, jangan berisik! King D sedang mengaji," tegur Han yang membuat semua anak langsung diam seketika.


Wajah mereka pucat karena Han kembali menunjukkan kegarangannya. Vesper tersenyum karena Han tetap bersikap galak dan tegas pada anak-anak itu.


Namun, hal itu malah meringankan beban pikiran Vesper. Setidaknya, ada satu orang diantara kumpulan orang-orang dewasa yang ditakuti anak-anak.


"Kak Han," panggil Vesper saat anak-anak diungsikan oleh Buffalo untuk bermain di lokasi lain.


"Oh! Cucuku sudah datang!" serunya senang dan wajah garangnya sirna.


Vesper memberikan Loria pada suami tertuanya. Han terlihat begitu senang saat menimang bayi cantik itu.


Kai ikut menggendong bayi Sig. Vesper terkekeh melihat dua suaminya sudah menjadi kakek.


Sayang, hanya Sandara yang belum memiliki anak dan Vesper sangat berharap bisa menggendong cucunya sebelum ia memejamkan mata selamanya.


"Rui. Tolong ambilkan apel untukku," pinta Vesper dengan suara lemah dan membiarkan dua suaminya memanjakan dua bayi menggemaskan itu menjauh darinya.


Rui memberikan apel kepada Vesper di mana sang Ratu sudah menggenggam pisau untuk memotong. Saat Vesper bermaksud untuk mengupasnya, "Agh!"


"Saudari! Kau tak apa? Biar aku saja, kau tak perlu melakukannya sendiri," ucap Mei panik dan langsung mengambil pisau serta apel yang kini terkena noda darah dari sang Ratu.


Saat Lian akan membersihkan darah Vesper, keningnya berkerut. Warna darahnya sudah menghitam.


Lian, Rui dan Mei saling memandang. Vesper malah menghisap darahnya dari luka sayat yang tak ia sengaja.


"Tak apa. Jangan makan apel itu atau kalian akan mati. Bakar saja. Tolong kupaskan untukku. Maaf merepotkan," pinta Vesper dengan senyuman.


Rui segera melakukan yang Vesper perintahkan. Lian mengobati luka Vesper dan membalutnya dengan perban. Mei mengambilkan teh untuk dinikmati oleh Vesper bersama dengan potongan apel.


"Kalian pasti lelah. Istirahatlah," ucap Vesper dengan suara lirih.


"Kau yakin tak apa jika ditinggal?" tanya Lian sedih. Vesper mengangguk.


Tiga wanita cantik itu dengan berat hati pergi meninggalkan saudari mereka sendirian yang duduk di bawah sebuah pohon rindang menikmati sore.


Tak lama, seorang pemuda muncul. Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


"Vesper-sama," panggilnya lirih.


"Sudah dekat. Akhirnya, penantian panjangku akan berakhir, Souta," ucap Vesper lirih seraya mengusap luka yang telah ditutup perban dengan wajah sendu, tapi tersenyum.


"Haruskah ... kujalankan perintahmu sekarang? Apa Anda yakin dengan firasat itu?" tanya Souta tampak ragu.


Vesper mengangguk. "Bukankah ... kausudah berjanji. Kaubilang ingin ikut denganku. Jadi ... biasakanlah. Banyak hal yang akan kaupelajari usai kejadian ini," jawab Vesper lirih lalu mengambil sepotong apel yang telah disajikan untuknya.


"Saya mengerti," jawab Souta lalu membungkuk dan melangkah pergi.


Vesper mengunyah apel itu perlahan. Ia tersenyum akan sesuatu. "Kita akan segera bertemu, Liu. Kau tak akan kesepian lagi," ucapnya lirih.


Kediaman Takeshi yang telah diperbaharui selama Vesper tinggal di sana, membuat orang-orang yang tinggal di sana sementara waktu betah, termasuk anak-anak.


Souta dipercaya oleh Vesper untuk membawa ponselnya yang selama ini ia non-aktifkan. Souta pamit dengan alasan pergi memancing dan semua orang percaya padanya.


Sebenarnya, Souta mendapatkan misi khusus dari Vesper. Pemuda itu berlayar hingga ke Hokkaido dan baru menyalakan ponselnya saat ia akan menyeberang ke Sakhalin Oblast, Rusia.


Tentu saja, notifikasi jika nomor tersebut telah kembali aktif, membuat orang-orang yang mencari keberadaan sang Ratu dibuat terkejut ketika akhirnya mereka mengetahui di mana lokasi Vesper sekarang.


"Hem, dia sudah menyerah," ucap Miles tersenyum miring usai merampas ponsel milik puterinya, Cassie.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya😍 puanjang nih epsnya🤩 selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang mulai hari ini🙏 kuy jangan lupa sedekah tips koinnya biar pahalanya tambah banyak. kwkwkwkw😆


__ADS_2