4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Gagal


__ADS_3

Eiji tetap fokus melihat pola penyerangan dari anak-anak Vesper. Pria itu sudah menandai beberapa lokasi yang diyakini keempat mafia muda tersebut bersembunyi.


"Gerakan kalian terbaca. Kalian pikir, dari mana kalian mempelajari gaya bertarung seperti itu? Tentu saja dari para pendidik yang dipercaya nona Lily," tegas Eiji seraya melihat dari tampilan puluhan CCTV di depannya di mana Pusat Komando hanya dihuni oleh dia seorang.


Sisanya, ia tugaskan di Pusat Kendali untuk melakukan pemantauan. Dominic dan Casilda tak bertugas di kastil karena menjalankan misi penyelamatan Biawak Hijau dan Salma atas permintaan Eko.


Di tempat anak-anak Vesper berada.


"Sial! Kita ketahuan!" teriak Jonathan panik saat ia dikejar oleh belasan Black Armys bersenjata ketika mencoba menerbangkan CD, tapi lagi-lagi CamGun berhasil melumpuhkan benda terbang bersenjata itu.


Peluru-peluru CamGun seolah tak ada habisnya dan terus terisi penuh. Senjata buatan Boleslav Industri tersebut sangat mampu mempertahankan dinding kastil Borka dari serangan mematikan bahkan misil sekalipun.


"Amunisi kita habis! Pergi dari sini!" teriak Arjuna geram karena kini ia dihujani oleh CD yang diterbangkan dari pusat kendali oleh para Black Armys yang bertugas.


"Hehehe, kalian meremehkan sistem keamanan kastil Borka, Anak-anak. Banyaknya serangan dan penyusup, membuat kami lebih waspada. Ya, inilah yang ibu kalian lakukan untuk melindungi orang-orangnya. Kaburlah, dan jangan berkunjung lagi," kekeh Eiji dengan keripik kentang dalam dekapannya siap disantap.


"Bawa mereka semua padaku," ucap Sandara tiba-tiba dari sambungan radio.


"What? Kauingin apa?" tanya Lysa dengan napas terengah saat berusaha lari dari kejaran para Black Armys yang ikut memburunya.


Para pasukan berseragam hitam itu terus menembakkan peluru-peluru tajam siap melubangi tubuhnya.


"Ingat tempat saat pertemuan Javier dan Tobias ketika Fara tewas? Kita bertemu di sana!" tegas Sandara yang membuat langkah Lysa terhenti sejenak.


Wanita cantik itu sempat terkejut ketika nama Fara disebut, tapi akhirnya ia ingat jika Fara yang dimaksud adalah anak Javier yang meninggal karena ditembak Tobias.


"O-oke," jawab Lysa dengan jantung berdebar seperti merasakan sebuah ketakutan akan sesuatu.


Arjuna, Jonathan dan Lysa berlari menuju ke kawasan yang disebutkan Sandara di mana wilayah tersebut sudah tak masuk dalam jangkauan sistem keamanan kastil.


Para Black Armys terus berlari mengejar. Lysa, Jonathan dan Arjuna akhirnya bertemu dengan baju sudah basah karena keringat yang bercucuran.


"Dara! Kau di mana?!" teriak Jonathan karena tak mendapati adiknya di tempat tersebut.


DODODODODOR!


"Siaal! Dara!" teriak Arjuna panik saat melihat para Black Armys berhasil mengejar sembari menembaki. CD ikut mengepung pergerakan mereka.


Jonathan, Lysa dan Arjuna panik ketika para Black Armys tersebut mengarahkan senjata mereka termasuk CD yang membidik dari atas langit. Praktis, anak-anak Vesper tak bisa berkutik.


"Dara, apa kau mengumpankan kami?" tanya Lysa masih bersiaga dengan busur dan panah siap untuk dilesatkan meski ia tahu jika kalah jumlah.


"Menyerah saja," jawabnya tenang.


"What?! Kau menipu kami!" teriak Jonathan marah dengan pistol dalam genggaman tangan kanan diarahkan ke tubuh para Black Armys yang membidiknya.


"Ikuti saja kataku. Menyerah, letakkan senjata kalian," jawab Sandara yang entah sosoknya berada di mana.


Lysa, Arjuna dan Jonathan saling berpandangan. Tak ada gunanya mereka melawan karena tetap kalah dan bisa terbunuh jika nekat.


Tiga anak Vesper tersebut akhirnya melakukan yang Sandara perintahkan meski terlihat kesal karena dipermainkan.

__ADS_1


Sedang Eiji, menyadari jika ada hal tak beres setelah melihat dari pantauan CD jika hanya ada tiga anak Vesper saja yang berhasil ditangkap.


"Di mana dia?" tanyanya heran langsung menurunkan kaki dan meletakkan kripik kentangnya begitu saja di lantai dengan tergesa. Eiji mencari di setiap CCTV kastil keberadaan puteri Kai tersebut.


Tiba-tiba saja, CEKLEK!


Praktis, kepala Eiji langsung menoleh. Ia melihat seorang Black Armys membuka pintu ruangannya. Mata Eiji melebar saat melihat Sandara muncul dari balik tubuh pria itu.


"Bidik dia," perintahnya datar.


Eiji spontan mengangkat kedua tangan ketika Black Armys tersebut mengarahkan senapan laras panjang padanya.


Tak lama, beberapa Black Armys bersenjata mengepung ruangan tersebut. Eiji menatap Sandara tajam.


"Biar kutebak. Gas halusinasi?" tanya Eiji, dan Sandara tersenyum tipis. "Bagaimana kau melewati para penjaga?" tanyanya curiga.


"Aku menggunakan jalan yang sama seperti yang Tobias lakukan kala itu untuk menemui mama. Hanya saja, lorong itu sudah diperbaharui. Salah satu Black Armys-mu lengah. Kupakai ID aksesnya untuk masuk ke lorong itu, dan ... di sinilah aku dengan semua Black Armys dalam pengaruh gas buatan paman Jeremy," jawabnya datar.


"Hem. Pintar. Lalu ... kaumau apa? Menguasai kastil Borka? Ingin duduk menggantikan posisiku?" tanya Eiji menanggapi dengan santai.


"Sepertinya kausudah tahu, Paman Eiji. Katakan, di mana mama?" Eiji tersenyum tipis tak menjawab. "Oke, kautahu apa yang akan kulakukan. Cobalah melawan jika kaubisa," tegasnya.


BUZZ!


Mata Eiji melebar. Ia dengan sigap menarik laci di belakangnya dan terlihat serum penawar di sana, tapi JLEB!


"ARGHHH!" erang Eiji saat punggung tangannya tertancap belati Silent Blue yang Sandara lemparkan.


"Kaunakal," ucapnya.


"Aggg!" erangnya saat Sandara dengan sigap menjerat leher Eiji ketika pria itu masih duduk di kursi dan tangan kanannya masih tertancap belati.


Kepala Eiji dibenturkan pada keyboard komputer hingga benda itu rusak. Dahi Eiji berdarah, tapi ia masih sadar.


"Jangan melawan, hirup saja," ucap Sandara berbisik dengan wajah iblisnya.


Eiji berusaha untuk melawan, tapi pergerakannya terhambat. Ia berusaha melepaskan jeratan kain di lehernya, tapi Sandara sangat kuat menekannya. Hingga akhirnya, bola mata Eiji mulai berubah putih.


"Hah, hah," engah pria Asia itu saat Sandara melepaskan jeratannya.


CRATT!!


Sandara menarik belatinya yang telah berlumuran darah dan kini menghadapkan Eiji dengan kondisi linglung terkena dampak gas halusinasi yang tak mampu dilawannya.


"Di mana nona Lily?" tanya Sandara menatap Eiji tajam.


"Takeshi ... Jepang ...."


Sandara diam sejenak, tapi kemudian tersenyum tipis.


"Terima kasih, Paman Eiji. Sungguh, aku tak ingin melukaimu, tapi ... kau yang memaksanya," ucap Sandara.

__ADS_1


Gadis itu lalu mendekati alat kendali yang dioperasikan oleh salah satu bodyguard Vesper tersebut.


"Hem," gumannya tersenyum miring saat menonaktifkan seluruh sistem persenjataan Kastil Borka.


Namun, hal itu disadari oleh para petugas di pusat kendali gedung lain.


"Ada yang tak beres!" ucap salah satu petugas dan diangguki oleh Black Armys lainnya.


Saat salah satu diantara mereka keluar dari ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan. Namun, tiba-tiba saja, DODODODODOR!!


"AAAAA!" teriak para petugas di pusat kendali saat ditembaki oleh kawan Black Armys mereka sendiri yang telah terkena dampak dari gas halusinasi Sandara.


Para petugas itu tewas di ruangan tanpa bisa melakukan perlawanan. Sandara tersenyum tipis karena usahanya berhasil. Ia lalu membawa pasukan barunya ke tempat Jonathan, Lysa, dan Arjuna disekap.


CEKLEK!! DODODODODOR!!


Mata tiga anak Vesper tersebut melebar saat melihat para Black Armys yang tadinya menangkap mereka ditembaki oleh Black Armys yang baru saja memasuki ruangan.


Tak lama, Sandara muncul usai para Black Armys pembelot menyelesaikan tugas darinya.


"Aku tahu di mana mama. Ayo," ajaknya.


Jonathan, Lysa dan Arjuna terbengong. Salah satu Black Armys membuka sel tersebut dan membiarkan tahanan mereka lolos.


Kastil Borka dibiarkan terbuka tanpa penjagaan dan sistem keamanan dipadamkan. Bangunan megah tersebut sangat rentan terhadap serangan.


Jonathan, Arjuna dan Lysa terlihat bangga akan kemampuan adik terkecil mereka yang berhasil membawa seluruh persediaan senjata dari markas besar sang ibu termasuk tentara miliknya.


Beruntung, Eiji yang terluka karena luka tusukan di tangan, membuat dampak dari gas halusinasi itu memudar sedikit demi sedikit.


Sandara sengaja tak menyuntikkan serum penawar. Eiji merasakan sakit di tangan dan pada akhirnya ia sadar dengan yang terjadi.


Meski ia kehilangan banyak darah, tapi Eiji tak kehilangan akal. Ia segera mengambil serum penawar dan menyuntikkan ke tubuhnya.


Eiji juga membalut lukanya dengan kain seadanya. Ia melihat dari tampilan CCTV jika seluruh pasukan Vesper tewas. Praktis, mata pria itu melotot.


Eiji mengecek dari rekaman CCTV terakhir jika anak-anak Vesper berhasil membawa seluruh persenjataan termasuk para Black Armys kaki robot.


"Arghhh! Sandara!" teriaknya marah dengan tubuh gemetaran menggigil dan wajah pucat.


Pria itu mencoba menghubungi teman-temannya melalui jaringan komunikasi kastil, tapi gagal.


Ponselnya juga tak ditemukan termasuk sambungan internet yang terputus meliputi GIGA. Eiji segera keluar dari Pusat Komando dengan terhuyung untuk mencari tahu.


Seketika, matanya melebar saat melihat pemancar komunikasi di kastil tersebut telah roboh dan terbakar termasuk Pemancar Fatamorgana yang selama ini melindungi rumah bagaikan istana tersebut.


BRUKK!!


"Dasar bodoh. Tidak berguna," ucap Eiji menyalahkan dirinya sendiri yang ambruk di halaman kastil.


***

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya😍 aduh lele meler uyy jdi pendek dl epsnya krn ngetik sambil buang ingus terus-menerus. semoga tiponya gak banyak😆


__ADS_2