
Semua orang dalam jajaran 13 Demon Heads berlomba-lomba untuk bisa merebut aset milik pecahan The Circle tersebut.
"Hem, kau sungguh licik, Sayang. Kau sangat tahu bagaimana menggerakkan semangat para orang-orang malas itu," kekeh Han saat semua laporan masuk ke media elektronik sang isteri mulai dari ponsel, email, telepon, dan video call.
"Yah. Selama ini The Circle berusaha merebut aset-aset anggota 13 Demon Heads karena mengklaim jika itu milik Lucifer Flame. Sekarang, kita balik kondisinya. Mungkin berkesan curang dan serakah, tapi jika harus merebut dari musuh, kenapa tidak?" jawab Vesper santai sembari menggoyangkan gelas wine dalam posisi menyender di ranjang besar.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," jawab Vesper dengan senyum tipis saat Afro memasuki ruangan.
"Nyonya Vesper. Kabar terbaru dari Sun. Mereka menemukan lokasi Sandara disekap. Sayangnya, orang-orang itu sudah pergi," ucapnya serius.
Vesper langsung meletakkan gelas wine di atas meja samping kasur lalu menyingkirkan kepala Han yang direbahkan di pahanya dengan kasar.
"Hei! Hati-hati!" pekik Han kesal karena sang Isteri berbuat semena-mena.
"Maaf, Sayang. Ini darurat," jawab Vesper santai dan segera keluar kamar mengikuti Afro.
"Aduh. Aku seperti mumi. Perban-perban ini membatasi pergerakanku," keluh Han yang kesulitan bangun dan harus bergulung sampai ke pinggir ranjang agar kakinya bisa menapak di lantai. "Oia. Kenapa Arjuna tak pernah menghubungiku? Dasar anak durhaka. Awas saja kalau bertemu. Akan kubuat kau menangis di hadapanku," geramnya.
Di Pusat Komando Kediaman Afro, Italia.
"Laporkan," perintah Vesper berdiri di depan layar utama dengan sorot mata tajam melihat sekumpulan lelaki berkulit cokelat bersimpuh di atas tanah dengan kedua tangan di borgol di belakang pinggang. "Eh, Afro. Siapa pria bertopeng itu?"
"Arjuna. Dia sepertinya masih malu jika harus bicara atau melihatmu, Nyonya Vesper," jawab Afro berbisik.
"Oh," jawab Vesper dengan ekspresi uniknya sembari menahan tawa.
"Bagaimana?" tanya Han yang ternyata ikut ke ruangan tersebut dengan kursi roda elektrik.
"Istirahatlah, Sayang."
"Tidak mau. Aku ingin tahu semua progres di lapangan," sahutnya garang. Semua orang di Pusat Komando tegang seketika karena kedatangan Han. Vesper tersenyum.
"Sun," panggil Vesper dari sambungan earphone di telinganya.
"Nyonya Vesper. Kami sudah menginterogasi mereka. Sandara pernah disekap di sini sebelumnya. Kami sedang menyusuri sekitar untuk mencari petunjuk. Orang-orang ini tak tahu Sandara dipindahkan ke mana karena mereka hanya penjaga di pulau ini," jawab Sun memberikan laporan.
"Sudah kau pastikan dengan detektor kebohongan dan gas halusinasi?" tanya Han menekankan.
"Sudah kami lakukan semua dan hasilnya, sesuai laporan yang saya sampaikan barusan," jawabnya sopan.
"Baiklah. Aku akan meminta GIGA SIA untuk mencoba menyusuri pergerakan sekitar pulau tersebut. Kerja bagus," puji Vesper dan tim di lapangan terlihat bangga.
"Oia. Bangunan di tempat itu, milik siapa?" tanya Han penasaran.
__ADS_1
"Menurut informasi dari Biawak Putih, ini salah satu bangunan milik anak pak Sutejo dari isteri ketiga. Hanya saja, Biawak Hijau dan Putih curiga jika tempat ini direbut oleh Ungu."
"Kenapa dua Biawak bisa berkata demikian?" tanya Doug ikut menimpali.
"Bentuk bangunan. Biawak Ungu menyukai warna-warna indah. Tempat ini berwarna biru. Para penjaga memakai kaos berwarna-warni," jawab Sun menegaskan.
Senyum Vesper terkembang. "Apa kau satu pemikiran denganku, Sun?"
"Sepertinya demikian, Nyonya Vesper," jawabnya tersenyum.
"Apa? Apa? Apa yang kalian pikirkan?" sahut Han langsung melotot menatap Sun dan Vesper bergantian.
Vesper menghembuskan nafas pelan. Ia tersenyum pada putera dari Agent M tersebut.
"Begini, Tuan Han. Ciri khas dari si Ungu sangat mudah dikenali. Kita akan mencari bangunan dan para penjaga yang memiliki warna-warna cerah. Hanya saja, lingkupnya akan dipersempit. Kami akan mencari di tempat-tempat yang diyakini pernah dikunjungi Ungu," jawab Sun menjelaskan.
"Begitukah, isi pemikiranmu, Sayang?" tanya Han melirik isterinya dengan kening berkerut.
"Yes. Persis," jawab Vesper dengan senyuman seraya mengelus kepala Han yang rambutnya sudah digundul karena sebagian kepalanya terluka. "Ambil alih tempat itu, Sun. Aku akan mengirimkan Bala Kurawa Arjuna ke tempat itu untuk memastikan Venelope dan orang-orangnya tak kembali lagi ke sana."
"Kenapa? Jika dijaga, bukankah kita tak bisa memancing mereka untuk kembali ke tempat itu? Bukankah akan sulit untuk menangkap mereka jika orang-orang itu berkeliaran di luar sana?" tanya Han mengutarakan pemikirannya.
"Ya, itu benar, Kak Han. Tanpa kau minta, mereka pasti akan datang untuk merebut kembali tempat itu. Aku ingin mereka selalu berpindah-pindah hingga tak ada tempat bernaung. Dan pada akhirnya, mereka terpaksa berurusan dengan orang-orang kita lagi," jawab Vesper tersenyum manis.
"Diam-diam Anda juga menginginkan peperangan, Nyonya," celetuk Afro berkesan menyindir.
Mata Han tertuju pada sosok pria yang memakai topeng dengan rambut dikuncir kuda memunggungi kamera.
"Katakan pada Arjuna. Segera temukan Sandara dan bawa adiknya pulang. Jika belum berhasil, tak diizinkan kembali ke jajaran," tegas Han yang mengejutkan semua orang. Vesper langsung melirik suaminya tajam.
Ternyata Arjuna mendengarkan. Ia hanya menunjukkan jempolnya dan tetap memunggungi kamera.
Semua orang bernafas lega karena Arjuna tak tersinggung kali ini. Panggilan pun diputus. Han tersenyum tipis seperti kagum akan sikap anaknya yang telah berubah.
"Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung jika Arjuna kembali memberontak, Kak Han. Kau menyebalkan," gerutu Vesper mempelototi suaminya tajam.
"Aduh, kepalaku pusing. Antar aku kembali ke kamar, Sayang," pintanya memelas sembari memegangi kepalanya dengan kening berkerut.
Vesper pun membawa suaminya pergi meninggalkan Pusat Komando.
"Hehe, Han sama liciknya dengan Vesper. Dia sudah semakin ahli menaklukkan sang Ratu jika sedang marah," ucap Doug dan semua orang mengangguk setuju.
Puerto Rico. Persemakmuran dengan Wilayah teroganisasi di bawah naungan Amerika Serikat, di sebelah Timur Republik Dominica, Caribia bagian Timur Laut.
__ADS_1
Arjuna dan tim yang bertugas, menyisir tempat tersebut untuk mengecek jenis sistem keamanan dan pengelolaan tempat.
"Kang, status," perintah Arjuna dari sambungan earphone saat ia memasuki rumah pondok tempat Sandara dulu tinggal.
"Kami temuin banyak kamera pengawas, Jun. Tapi, Sun bilang, itu gak terkoneksi ke bangunan manapun karena gak ada komputer, dan fasilitas komunikasi lainnya. Pasti ini terhubung ke suatu tempat, atau ada pusat komunikasi yang gak kita ketahui letaknya di kawasan ini," jawab Biawak Putih melaporkan.
Arjuna tak menjawab dan terus menyisir tempat itu seraya melepaskan topeng kayu buatan Miguel untuknya.
"Aku datang terlambat. Sandara sudah tak di sini lagi. Namun setidaknya, dia terfasilitasi dengan baik," gumannya lirih saat mendapati tempat tidur Sandara dan duduk di pinggir ranjang dengan pandangan sayu.
Saat akan beranjak, Arjuna mendapati jam weker klasik dan mengambilnya. Ia mengamati jam itu seksama dan membaliknya.
KLEK!
Arjuna membuka bagian belakang jam weker dengan belati Silent Blue dan mendapati sebuah alat di dalamnya.
Arjuna menekan tombol di bagian atas weker yang biasa Sandara tekan untuk menerima panggilan tugas.
Dan seketika, mata Arjuna melebar. Ia mendengar rekaman dari ucapan suara Afro di mesin tersebut dengan beberapa misi diberikan untuk Sandara.
Nafas Arjuna menderu sampai matanya membulat penuh ketika mendengar seruan kebencian Afro di perekam suara dalam weker tersebut.
"Afro? Kenapa ia berkata kejam seperti itu?" tanyanya dengan sorot mata tajam.
Saat Arjuna nekat untuk menghubungi kawan lamanya itu dari ponsel milik mendiang Andreas, tiba-tiba ....
DOR! DOR! DOR!
"TUAN MUDA! KITA DISERANG!" teriak Sun saat membuka pintu rumah pondok Sandara dengan nafas tersengal.
KREKK!
Arjuna bangkit dengan serpihan alat perekam suara dalam genggaman tangan kirinya.
"Bunuh semua. Jangan sisakan," perintahnya tegas ke semua sambungan radio anggota tim.
"Yes, Capt!"
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (TravelPulse)
makasih tipsnya😘 hari ini satu atau dua eps ya? brankas koin kosong. Tolongggg!
__ADS_1