
Afro terus melaju kencang dengan motornya, membelah aspal dan hanya berhenti saat di tempat pengisian bahan bakar.
Perjalanan selama 5 jam lebih dari Pagny Sur Meuse menuju ke Calais, Perancis ditempuhnya, meski sesekali Afro berhenti hanya untuk minum.
Matahari sore digantikan rembulan dan malam semakin larut ketika ia tiba di Dermaga yang dituju. Udara dingin hampir membekukan tubuh Afro meski ia sudah melapisinya dengan mantel tebal.
Afro menghentikan laju motornya dan membuka kaca pada helm. Ia melihat sekitar dengan teropong yang ia ambil dari tas ransel besar saat ia lepas dari gendongan.
Afro melepaskan teropong dari matanya ketika ia melihat seseorang berjalan ke arahnya. Afro bersiap dengan pistol dalam genggaman, meski masih tersembunyi di balik tas ransel. Afro duduk di atas motor dengan helm terpasang.
"Kau cepat juga, Afro. Segera ikut aku, waktumu tak banyak," ucap seorang lelaki yang tak dikenalnya sembari menyalakan earphone di telinga.
"Afro udah ketemu, Nyonya Vesper. Dia tak diikuti. Kami bersiap pergi," ucap pria itu dengan bahasa Indonesia dan Afro tersenyum. Ia memandangi pria di depannya seksama dari atas sampai bawah.
"Kau siapa? Black Armys?" tanya Afro menatap lelaki itu tajam dan ia hanya mengangguk pelan.
Pria itu membonceng Afro dan memintanya untuk menuju ke lokasi lain dekat dermaga.
Afro terkejut ketika mendapati sebuah helikopter kargo telah dipersiapkan untuknya, lengkap dengan pasukan Black Armys bersenjata.
Motor Afro masuk ke dalam kargo bersama pemilik dan pemboncengnya. Afro terlihat gugup melihat orang-orang Vesper yang berwajah garang layaknya mafia kejam.
Pintu palka belakang helikopter di tutup dan ia turun perlahan dari motor. Afro duduk bersama anggota Black Armys yang lain.
Terlalu lelah, Afro tertidur selama penerbangan. Hingga ia dibangunkan oleh salah seorang Black Armys ketika mendapati sebuah tempat dengan halaman luas yang ia kenal.
Afro turun dengan gugup sembari menggendong tas ransel besarnya dan membiarkan motor miliknya masih berada di dalam helikopter.
"Afro," panggil Vesper dengan senyum merekah.
Senyum Afro terkembang. Entah kenapa, ia begitu senang melihat Vesper merentangkan tangan menyambutnya dengan mantel bulu tebal, melapisi tubuhnya di musim dingin akhir bulan Desember.
"Oh, syukurlah, kau baik-baik saja, Afro. Aku sangat mencemaskanmu," ucap Vesper memeluknya erat hingga matanya terpejam.
"Aku sangat merindukanmu, Nyonya. Aku sangat senang bertemu denganmu," ucap Afro terdengar begitu tulus dan membuat Vesper berlinang air mata.
Vesper melepaskan pelukannya dan memegangi wajah Afro dengan senyum lebar. Afro balas tersenyum dan terlihat bahagia karena kedatangannya di sambut.
"Ehem."
__ADS_1
Afro dan Vesper terkejut saat Kai sudah berdiri di samping mereka, memasang wajah dingin seperti salju di halaman.
Afro melepaskan pelukannya dan berdiri dengan sungkan di hadapan calon mertuanya itu. Vesper terkekeh.
Afro mengajak Kai berjabat tangan dan beruntungnya, Kai menyambutnya. Vesper mengajak semua orang masuk ke dalam karena udara dingin cukup mengusik orang-orang di luar Kastil.
Afro dibawa oleh Vesper menuju ke ruang makan dengan makanan lezat telah tersaji untuknya. Mulut Afro menganga lebar. Ia terlihat kagum akan semua makanan di hadapannya. Afro menelan ludah.
"Jangan dipandangi. Ayo, kita makan bersama. Aku sengaja meminta kepada petugas dapur agar memasaknya saat kau sudah dalam perjalanan kemari. Makanan ini masih hangat," ucap Vesper mengajak Afro duduk di sampingnya.
Afro mengangguk terlihat sungkan dan terharu akan kebaikan Vesper. Kai duduk di sebelah Afro dan kembali, pemuda itu gugup saat berada dekat dengan Kai.
"Letakkan tasmu kecuali kau juga ingin menyuapinya," tegur Kai dengan wajah datar karena Afro masih menggendong tasnya.
Afro canggung seketika. Ia melepaskan tasnya dan meletakkan di lantai, samping ia duduk. Vesper tersenyum dan terlihat tertarik akan gerak-gerik Afro yang lama tak dilihatnya.
Namun, pandangan Vesper berubah sendu ketika menyadari jika Afro terlihat tak terawat. Bajunya lusuh dan ia kurus. Vesper memejamkan matanya sejenak dan kembali tersenyum.
"Makanlah yang banyak. Makanlah apapun yang kau suka. Kau boleh membawa makanan ini ke kamarmu nanti. Tinggallah di sini bersama kami untuk sementara waktu. Oke?" pinta Vesper ramah dan Afro mengangguk senang.
Afro terlihat bingung saat memilih makanan. Kai melirik Afro yang terlihat sungkan untuk mengambil makanan di hadapannya.
"Tu-Tuan Kai, tak usah, saya bisa sendiri," ucapnya tak enak hati.
"Makanan itu tak bisa terbang ke mulutmu dengan kau pandangi. Cepat makan dan istirahat. Kami sudah tua dan ingin cepat tidur. Kau pikir sekarang jam berapa? Kau bertamu di di hari menjelang pagi," ucap Kai ketus dan Afro terlihat ciut seketika.
Vesper menahan senyum. Ia tak menyangka jika suami termudanya bisa bersikap galak. Vesper ikut menuangkan wine di gelas Afro dan pemuda itu makin sungkan karenanya.
"Jika tak ingin kami layani, bergegaslah dalam bertindak. Kau kalah cepat dengan kami yang sudah tua, Afro," ledek Vesper tersenyum tipis. Afro mengangguk.
Kai dan Vesper terkejut saat Afro makan dengan lahap tanpa jeda seperti melaksanakan perintah mereka. Namun, Vesper tahu jika Afro kelaparan dilihat ia begitu menikmati makanan-makanan itu.
Vesper memalingkan wajah saat menghapus air matanya. Rasa bersalah menyelimutinya dan Kai melihatnya, meski Afro tidak.
"Bagaimana? Kau suka makanannya? Aku bisa meminta petugas dapur untuk membuatkan makanan yang kau sukai agar kau bisa menyantapnya lagi," tanya Vesper ramah, tapi Afro menggeleng.
"Jangan membuatku semakin berhutang banyak padamu, Nyonya Vesper. Bisa menikmati makanan lezat seperti ini, sudah lebih dari cukup buatku. Kau datang menyelamatkanku. Aku sangat berterima kasih," ucapnya menatap Vesper dengan pandangan sendu.
__ADS_1
Vesper mengangguk. Ia bisa merasakan jika Afro menjalani hidup sulit selama menjadi buronan.
Vesper ikut beranjak dari dudukkan dan mengantarkan Afro ke kamar yang akan di tempatinya bersama Kai mendampinginya.
Afro terlihat begitu santun bahkan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat ia sudah memasuki kamar barunya.
"Selamat malam menjelang pagi, Afro. Semoga kau mimpi indah," ucap Vesper sembari menepuk pundak pemuda itu dan Afro mengangguk pelan.
Kai dan Vesper meninggalkan Afro yang terlihat bahagia bisa kembali ke kehidupan nyata. Afro menutup pintu dan menghembuskan nafas panjang.
Senyumnya merekah saat ia melihat kamar barunya sangat mewah bahkan lebih bagus dari kamarnya dulu ketika tinggal bersama Elios, almarhum ayahnya.
Afro memanjakan dirinya dengan merendam diri dalam busa mewah di bath up. Ia juga terlihat kagum saat mendapati sebuah pintu yang ternyata sebuah ruangan berisi lemari pakaian dengan koleksi kualitas terbaik dari brand-brand ternama.
Afro memegangi pakaian-pakaian itu dengan senyum terpancar. Afro bercermin dan melihat dirinya yang tampak lain saat tubuhnya telah terbungkus piyama sutera yang ia dapat dari laci lemari pakaian.
"Terima kasih, Tuhan, kau memberikanku kesempatan untuk merasakan sebuah kehidupan lagi dan aku sangat berharap, hal buruk tak akan datang padaku esok hari. Amien," ucap Afro bersimpuh di depan sebuah patung salib yang tertempel pada dinding kamar dekat ranjang.
Afro menutup tubuhnya dengan selimut hangat di atas ranjang empuk sebagai alas tidurnya malam itu. Afro memejamkan mata dan tertidur pulas dalam waktu cepat.
Di kamar Vesper.
"Dia umat yang taat, Kai. Bagaimana denganmu?" lirik Vesper berkesan menyindir suami termudanya, setelah melihat dari pantauan kamera tersembunyi di kamar yang Afro tempati.
"Setidaknya, aku masih ingat bagaimana cara berdoa," jawabnya malas dengan mata terpejam dan sudah menyelimuti dirinya di atas kasur.
Vesper cemberut karena jawaban Kai tak membuatnya puas. Vesper yang sebal tidur membelakangi suami termudanya.
Namun, Kai dengan cepat memeluk Vesper yang memunggunginya. Vesper tersenyum tipis dan balas memeluk tangan Kai yang singgah di perutnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya~ Lele padamu😍