
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Kau muncul, Cassie," ucap Ungu Genit saat wanita berambut pirang berkucir kuda terang-terangan datang melalui gerbang utama kediaman Sierra.
"Di mana Jonathan?" tanyanya dengan wajah datar.
"Oh, kau tahu dia di sini? Apa ... Vesper yang mengirimmu?"
"Aku datang karena kemauanku sendiri. Dan jika kau tewas, itu karena keinginanku, bukan perintah siapapun. Jadi, di mana Jonathan?"
Ungu diam terlihat gugup. Ia lalu mempersilakan Cassie masuk ke dalam di mana Venelope mengawasi dari Pusat Kendali. Mantan pemimpin No Face tersebut bergegas mendatangi Jonathan yang masih berada di dalam sel.
Jonathan terkejut ketika ia melihat kedatangan Venelope di luar pintu sel. Jonathan terlihat sibuk dengan pensil dalam genggaman. Ia masih mengerjakan skema untuk menjebol sebuah penjara dan membebaskan tahanan.
"Ada apa?" tanya Jonathan heran.
"Cassie di sini," jawab Venelope yang membuat mata Jonathan melebar seketika. "Jangan lakukan hal bodoh. Ikuti saja alurnya. Aku berbaik hati mengatakan hal ini padamu karena hariku sedang buruk dan aku kesal."
Jonathan segera beranjak dan terlihat kikuk saat melihat sosok Cassie muncul di hadapannya. Ungu membuka pintu sel dan mendorong Cassie masuk ke dalam.
"Kau menyerahkan diri, Cassie. Jadi, kau akan ikut mendekam bersama Jonathan di sini. Hehehe, bodoh," kekeh Ungu seraya memberikan kode pada Venelope agar ikut dengannya. Venelope beranjak dari tempatnya berdiri mengikuti Ungu di belakangnya.
"Cassie?" panggil Jonathan terlihat terkejut akan sosok gadis yang cukup lama menghilang dari pandangannya.
"Hai," jawabnya gugup.
"Kenapa kemari?" tanya Jonathan ketus.
"Aku ... membawakan sesuatu untukmu," jawabnya seraya melangkah perlahan mendekati Jonathan.
Pemuda itu terlihat gugup saat Cassie meraih tangannya lalu meletakkan telapak tangan itu di perutnya. Jonathan menatap Cassie lekat.
"Kau sakit perut atau gimana? Nathan gak punya obat."
"Ada Junior di dalamnya," jawabnya lirih.
"Ha? Junior apa?" tanya Jonathan bingung.
"Aku hamil."
Praktis, mata Jonathan langsung melebar. Ia menarik tangannya dan mundur dengan langkah cepat sampai punggungnya terpepet tembok. Ekspresinya sungguh menunjukkan ia terkejut akan hal tersebut.
"Kau ... tak suka?"
"Ha? Mm, Nathan ... Nathan kaget. Itu ... maksudnya ... junior ... kamu hamil gitu? Hamil anak Nathan?" tanyanya tergagap menunjuk perut Cassie dengan takut-takut. Cassie mengangguk.
Tiba-tiba, raut wajah ketakutan itu berubah menjadi kekehan. Jonathan terlihat geli akan sesuatu dan malah berjoget seperti orang yang terkena ulat bulu.
Cassie tetap menunjukkan wajah datar saat Jonathan mengendap mendekatinya seperti seekor T-Rex.
"Hehe, Nathan ... jadi Panda dong?" tanyanya meringis.
"Panda?"
Jonathan mengangguk cepat. "Papa muda paling keren sedunia!" jawabnya bangga bertolak pinggang.
__ADS_1
"Ha?"
"Intinya Panda!" jawabnya menggebu. Cassie tetap memasang wajah datar entah apa yang dipikirkannya.
Namun tiba-tiba, Jonathan mendesis dengan telunjuk ia letakkan di depan bibirnya. Ia menarik tangan Cassie dan mengajaknya duduk di ranjang, tapi dalam posisi membelakangi kamera pengawas. Wajah Cassie yang datar, ditangkap oleh kamera itu.
"Jangan sampai ketahuan kalau kamu hamil," ucapnya berbisik.
"Tapi kau sudah menyuarakannya dengan lantang. Rasanya percuma. Mereka pasti sudah tahu," jawab Cassie santai.
Jonathan menepuk jidat. Ia baru ingat jika dirinya diawasi selama dalam cengkeraman No Face.
"Ya udah, intinya gini. Sebelum kamu dateng, Nathan udah bikin kesepakatan dengan Sierra. Nathan lepasin kalung pemenggal di lehernya buat dapetin fasilitas nyaman selama di tahan. Cassie bisa temenin Nathan sementara waktu sambil pikirin gimana kita keluar dari sini," ucap Jonathan dengan senyum terkembang.
Cassie mengangguk pelan. Sedang Jonathan, menatap Cassie lekat.
"Jangan pergi lagi. Kalau pergi lagi, Nathan gak bakalan maafin kamu. Janji," ucapnya seraya mengajak janji kelingking dan Cassie menerima kesepakatan itu. Jonathan terlihat senang.
"Apa kau menyimpan kalung pemenggal itu?" tanya Cassie saat Jonathan menggenggam erat tangannya.
"Oh ya, tentu saja," jawabnya seraya mengambil benda tersebut yang ia sembunyikan di bawah ranjang. Jonathan menunjukkan kalung itu dan malah mempraktekkannya.
KLEK!
Praktis, mata keduanya terbelalak.
"Eh, kok malah Nathan pake sih? Aduh," ucapnya lagi seraya menepuk jidat.
Cassie diam tak berkomentar melihat Jonathan terlihat kesal akan kebodohannya sendiri.
"Oh, Cassie hamil? Menarik," ucap Ungu setelah mendengar ucapan keduanya.
Venelope yang duduk di sampingnya melirik Ungu Genit dalam diam.
Saat Jonathan sedang asyik bercengkrama dengan Cassie, Ungu Genit muncul dengan Venelope di belakangnya. Jonathan langsung beranjak dari ranjang, begitupula Cassie yang berdiri di sampingnya.
"Ohohoho, ada yang jadi Panda ni ye. Selamat ya, Jojo," ucap Ungu dengan senyum, tapi berkesan menyindir.
"Terus kalo udah tau mau ngapain?" tanya Jonathan sewot.
"Ungu lagi baik nih. Mau bikin kesepakatan? Cuma antara kita berempat aja, gimana?" tanya Ungu sembari menaikkan kedua alis.
"Venelope dan Cassie terlibat?" tanya Jonathan curiga.
"Yup. Akan kita berdua rahasiakan kehamilan Cassie dari Sierra dan lainnya. Asal ... Ungu yang ngelola aset pak Sutejo di Ceko. Ungu seneng banget sama tempat modifikasi mobil itu," ucap Ungu seraya menggosok kedua tangannya dengan senyum merekah.
"Nathan tetep pemiliknya. Kalau Ungu cuma mau ngelola dan terima gaji sebagai karyawan, boleh aja," jawab Jonathan santai, tapi malah membuat orang-orang itu terkejut.
"Ha? Serius? Lalu ... gimana dengan Hadi dan lainnya yang ngelola tempat itu?" tanya Ungu heran.
"Gak masalah. Nathan bisa ngomong sama mereka. Om Hadi sama lainnya pasti ngerti. Ya udah, sini mana kertas perjanjiannya. Keburu Sierra dateng," pinta Jonathan seraya mengulurkan tangan.
"Belom dibuat. Bentar ya," jawab Ungu Genit meringis lalu segera mengajak Venelope pergi. Jonathan menatap dua orang itu keheranan.
"Gimana sih? Ngajak kesepakatan gak disiapin. Gak profesional," ucapnya menggerutu. Cassie diam menatap Jonathan yang terlihat sebal.
__ADS_1
Tak lama, Ungu Genit kembali bersama Venelope. Jonathan membaca isi kesepakatan itu dengan seksama seraya berjalan dengan langkah pelan di sel sempit itu.
"Di sini, Nathan tetep harus nugasin om Hadi sebagai bagian keuangan dan pengesah akan semua jenis modifikasi. Karena ... Nathan 'kan disekap, jadi gak mungkin bisa acc pesanan. Para pekerjanya juga harus tetap orang-orang Nathan. Jumlah The Circle Nathan banyak dan mereka harus kerja buat dapet duit untuk hidup. Ungu cuma kerja sebagai CEO, bukan Owner. Selain itu, gaji Nathan setiap bulan dari usaha modifikasi, Venelope yang tanggungjawab buat kelola. Tugas Venelope adalah beliin keperluan Nathan dan Cassie nantinya. Benerin isi kesepakatannya!" tegasnya seraya menyodorkan lembar tersebut ke arah Ungu.
"Heh, kita bukan babumu ya," jawab Ungu menolak dengan mata melotot.
"Yakin gak mau? Sebulan 100 juta loh gaji Ungu. Venelope 80 juta, dalam rupiah ya. Belom fasilitas lainnya. Nathan beli rumah di Ceko dan bisa kalian berdua pake selama kerja di sana," jawabnya seraya menyodorkan lembar kertas di celah jeruji.
Ungu menoleh ke arah Venelope dan gadis berambut panjang lurus itu mengangguk pelan.
"Ya udah, sini. Inget ya, jangan ember. Jangan bocorin ke Sierra dan lainnya," tegas Ungu mengancam seraya mengambil kertas itu kembali.
"Heh. Sierra pasti gak kasih kalian jatah ya? Makanya, kerja sama Nathan. Dijamin cepet kaya. Lagian, ngikut kok sama orang miskin, lemah lagi, mending ikut Nathan. Udah ganteng, kaya, punya banyak pasukan lagi," jawabnya terlihat bangga akan dirinya.
Ungu mendesis terlihat sebal seraya memberikan kertas itu pada Venelope untuk direvisi. Venelope segera pergi meski Ungu genit masih berada di depan sel Jonathan.
"Tapi inget, Jo. Perut Cassie bakal terus membesar. Kamu gak bakal bisa nutup kehamilan kekasihmu itu," tegas Ungu serius.
"Nathan tau. Nathan udah pikirin strategi lain. Masalahnya, kamu sama Venelope mau kerjasama gak? Tessa sama Tobias aja beralih pihak. Belom empat BIAWAK. Yakin, gak mau ikutan? Emang apa yang Sierra janjiin sampai kalian mau-maunya jadi budak mereka?" tanya Jonathan heran.
Ungu menatap Jonathan tajam, begitupula pemuda itu. Cassie diam menyimak.
"Sierra janjiin seluruh aset Pak Sutejo ke Ungu."
"Hahahahaha! Dia bilang gitu? Hahaha, dan kamu percaya?" jawab Jonathan terbahak. Kening Ungu berkerut. "Sierra bilang gitu, sama aja cari mati. Kamu udah liat sendiri 13 Demon Heads kaya apa. Ilang satu kepala, gak berdampak apapun ke kita. Dari janin, kita itu udah ditakdirkan jadi penguasa. Lihat aja, berapa kali kalian coba jatuhin dan curi aset itu. Contoh gampang, warisan Theresia dari tante Manda. Apa berhasil? Ya memang, hanya selama beberapa tahun saja, setelah itu? Wuss ... balik ke pemiliknya. Jadi ya, Om cantik, buka pikiranmu, dengerin nasehat Panda," ucap Jonathan berlagak.
Ungu dan Cassie terlihat serius mendengarkan.
"Anggaplah, Ungu dapet semua aset seperti yang dijanjiin Sierra. Yakin, bisa ngurus semua aset itu? Pernah sekolah bisnis managemen dan ilmu ekonomi? Gimana soal perpajakan? Punya pengacara? Atau relasi bisnis yang bisa ndongkrak usahamu nanti? Atau investor?" tanya Jonathan dengan serencengan pertanyaan. Ungu Genit diam seketika.
"Dari mukamu aja udah jelas banget jawabannya 'Gak'. Om cantik, Nathan kasih tau ya. Nathan udah diajari bisnis sejak papa Erik meninggal. Nathan belajar ilmu bisnis dari banyak orang. Mulai dari kakek Charles, pustakawan Tom, papi Ivan, om Martin, belom mama Lily, papa Kai, dan lainnya. Meski Nathan gak sekolah atau kuliah kaya kak Lysa dan kak Juna, tapi Nathan belajar sama orang-orang yang ahli di bidangnya bahkan secara langsung! Praktek! Dikira, Nathan kaya gak pake usaha? Gak pake mikir? Gak pake inovasi? Semua ada ilmu dan pengalamannya. Itu duit gak bisa dateng sendiri kalo gak ada sentuhan ajaib dari tangan para cendikiawan kaya Nathan. Ngerti gak?" tegas Jonathan bicara panjang lebar seperti orang berpidato.
Ungu Genit melongo seperti kehilangan kebiadapannya mendengar ceramah dari Jonathan.
"Hei, sudah aku perbaiki, dan ... jujur. Ucapan Jonathan ada benarnya. Tak mudah mengurus aset. Terlebih, kita tahu berapa banyak aset dari Sutejo. Selama ini, Vesper yang mengelolanya, tapi ... ia dibantu oleh banyak orang untuk menjalankan bisnis itu," ucap Venelope seraya menyerahkan revisian kontrak seperti yang Jonathan inginkan.
Pemuda itu menerimanya dan membacanya dengan cermat. "Nah, ini oke. Kalian tanda tangan dulu. Cap darah masing-masing dari kita. Jangan lupa salinannya. Kirimkan salinan itu ke om Hadi," tegas Jonathan dan Venelope mengangguk.
Ungu Genit segera melakukan tanda tangan di luar pintu sel termasuk Venelope. Mereka menggunakan jempol mereka sebagai cap yang telah terkena darah masing-masing sebanyak empat lembar. Jonathan dan Cassie melakukan hal yang sama.
"Oke kita sepakat. Dan, ada satu informasi penting. Anggap saja bonus. Sandara dan orang-orangnya akan datang kemari. Dan kau tahu 'kan, apa yang harus dilakukan?" tanya Venelope seraya menaikkan salah satu alis.
Jonathan menggaruk kepalanya terlihat pusing. "Ish! Ilang sudah kesempatan pulang ke dunia penuh kemewahan. Ya, Nathan ngerti. Dah, cepet diurus sana. Jangan sampai Sierra dan lainnya tahu," tegas Jonathan.
Ungu Genit segera pergi meninggalkan markas menuju ke Ceko dan meninggalkan Venelope di tempat itu.
Tak lama, Smiley tiba bersama pemimpin The Mask usai mendapat kabar jika Biawak Ungu beralasan ingin melihat lokasi penjara yang akan menjadi misi mereka selanjutnya. Herannya, Smiley dan pemimpin The Mask percaya.
Dan saat itulah, Sandara dan timnya muncul. Seperti kesepakatan, Jonathan terpaksa menolak pulang karena kehadiran Cassie yang tak disangka serta kesepakatan baru antara Jonathan dan Ungu Genit yang melibatkan Cassie serta Venelope di dalamnya.
***
uhuy, tengkiyuw tipsnya😍 panjang nih epsnya😆 lele padamu😘 jangan lupa boom audio book lele yaa❤️
__ADS_1