
Sandara dan timnya berhasil kabur dari lokasi. Mereka terus berlari menuruni bukit sampai ke tepian sungai Drava.
Dengan sigap, wanita berkerudung bernama Valentina mengeluarkan ponsel satelitnya. Namun ternyata, panggilan itu ditangkap oleh GIGA DARA.
"KAI!" panggil Eiji dari tempatnya duduk saat Ayah dari Sandara masih terlihat sibuk dengan tugasnya untuk mengomandoi pasukan Black Armys dari tempatnya berdiri. "KAI!" panggil Eiji mulai emosi.
"What?!" pekik Kai kesal dengan mata melotot.
Eiji menunjuk layar utama dan membuat mata Kai melebar seketika. Ia meninggalkan tempatnya dan mendatangi layar 50 inch tersebut.
"Itu Yudhi. Dan aku tak tahu siapa wanita berkerudung itu. Selain itu ... yang mengenakan jaket putih itu siapa?" tanya Eiji menajamkan penglihatan GIGA meski hanya tampak dari atas.
Mata Kai melebar seketika. Tubuhnya berbalik dan segera menunjuk salah satu operator di Pusat Komando yang menatapnya seksama.
"Terbangkan drone dan intai pergerakan kelompok Yudhi. Now!" perintahnya mutlak.
"Yes, Sir," jawab Black Armys tersebut dan segera melaksanakan perintah Bosnya dengan meneruskan informasi kepada tim di lapangan.
Saat Kai terlihat serius dengan pantauan GIGA, panggilan di lapangan membuat Kai harus kembali kepada tugas utamanya.
"Sir! Kami berhasil melumpuhkan semua persenjataan di wilayah ini. Semuanya buatan Vesper Industries!" ucap salah satu Black Armys yang berada di lokasi.
Mata Kai menyipit seketika. Ia melihat dari seluruh pantauan CD yang terbang mengitari rumah kaca dan terlihat sebagian bangunan telah rusak karena serangan peluru tajam dari senjata drone tersebut.
"Sir! Kamera drone menangkap sensor panas tubuh manusia!" sahut pengendali CD lainnya.
"Tangkap mereka!" perintah Kai tegas.
"Sir. Mereka ... orang-orang kita," jawab salah satu anggota timnya saat kamera drone berhasil menangkap sosok Dakota yang mengangkat kedua tangan terlihat pucat.
"Sir! Anak buah Jonathan juga ada di sini," sambung tim yang lain saat mendapati Kecebong, Biri-Biri dan tiga wanita berkerudung yang terpaksa menyerah karena sudah terkepung serta ditodong oleh moncong senjata CD.
"Apa yang mereka lakukan di tempat itu? Siapa yang memerintahkan mereka?" tanya Kai mengerutkan kening.
"Sekarang bagaimana, Sir?" tanya pemimpin Black Armys di lapangan.
"Amankan rumah kaca itu. Bawa mereka masuk ke sana. Pastikan tak ada polisi yang mengusik kalian di lokasi. Singkirkan para polisi tanpa harus membunuhnya. Sudah banyak korban hari ini. Bersihkan kekacauan," perintah Kai cepat dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
"Yes, Sir!" jawab seluruh anggota tim yang tersambung dengan panggilan tersebut.
"Kai! Sinyal mereka menghilang!" seru Eiji yang membuat Kai kembali mendatanginya.
Mata Kai melebar karena jejak Yudhi dan dua orang tak dikenalnya menghilang. "Bagaimana bisa?"
"Tadi ada speed boat datang. Saat mereka menaikinya, tiba-tiba saja sinyal mereka menghilang. Apakah ... Pemancar Fatamorgana portabel? Kenapa barang-barang kita bisa berada bebas di pasaran?!" pekik Eiji kesal karena merasa barang ciptaanya disabotase.
Kai tak menjawab. Matanya menajam ke tampilan terakhir saat Yudhi menggandeng seseorang berjaket putih saat naik ke perahu.
"Masukkan dalam daftar pencarian orang nomor satu," ucap Kai serius.
"Siapa?" tanya Eiji menatap sahabatnya seksama yang terlihat marah akan sesuatu.
"Yudhi."
Eiji mengangguk pelan dan segera menginformasikan hal tersebut ke seluruh jajaran Vesper dan 13 Demon Heads.
Tentu saja, Eko dibuat kaget setengah mati karena Yudhi kini malah dilibatkan. Dengan sigap, pria berkepala botak itu menghubungi Kai.
"Nak Kai. Iki opo maksud'e? Kenapa Yudhi bisa jadi buronan?" tanya Eko dengan mata melotot berdiri di depan perapian.
"Apa yang Yudhi lakukan di Austria? Bukankah dia seharusnya berada di Ceko?" tanya Kai terdengar ketus.
Eko menelan ludah. "Oke, oke, ojo nesu. Biar Kang Mas Eko yang lurusin masalah ini. Sabar, Nak Kai, sabar," ucap Eko mencoba menenangkan, tapi malah membuat Kai menutup panggilannya.
__ADS_1
Eko komat-komit dan membuat Dewi hanya bisa meringis karena tak ingin terlibat.
"Jadi ... sekarang gimana, Mas?" tanya Dewi yang akhirnya ikut bicara karena penasaran.
"Ingin rasanya kepala Eko direndem di tumpukan salju. Ini mampet ini, gak bisa mikir. Mana harus nungguin tukang. Hadeh. Biarin aja lah. Pusing Eko. Tar aja dipikirin," jawabnya pasrah dan membuat Dewi hanya mengangguk tak bertanya lagi.
Di rumah kaca Austria.
Ternyata, Agent M yang telah tiba di negara tersebut langsung ikut andil dalam misi. Kai mempercayakan hal tersebut padanya karena ia ingin fokus dalam pencarian Yudhi yang kini menjadi buruannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini? Lalu, siapa para wanita berkerudung itu? Selain itu, ini rumah siapa?" tanya Agent M menatap 6 orang di depannya yang duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan terborgol di belakang dan dua kaki ikut di borgol pada kaki kursi.
Enam orang itu saling melirik terlihat gugup karena dikelilingi oleh para Black Armys bersenjata dan kamera yang merekam pengakuan mereka.
Rumah kaca tersebut dijaga ketat sampai ke jalan masuk kawasan itu. Wilayah yang tadinya sepi, ramai seketika karena tim pembersih mayat sedang melakukan tugasnya termasuk menyusuri sekitar lokasi kejadian.
"Dakota," panggil M dengan kedua tangan menyilang di depan dada dan memasang wajah garang.
"Oke. Aku awalnya diserang oleh pasukan dari Den Bagus. Lalu ... Yudhi datang menyelamatkanku. Lalu ... kami ... mengejar anak buahnya yang sempat kabur sampai ke Austria yang membawa kami ke sini. Namun tiba-tiba, Yudhi menghilang saat kami bertemu dengan Kecebong dan Biri-Biri yang ternyata sudah berada di negara ini untuk mematai-matai rumah kaca ini," jawabnya gugup. Mata M menyipit terlihat curiga.
"Yang harus Anda cemaskan adalah, ada satu mobil yang berhasil kabur. Kami yakin, jika mobil itu yang membawa Sun, Agent M," sahut Kecebong.
"Soal rumah ini ... kami yakin jika salah satu persembunyian dari Den Bagus," sahut Biri-Biri menambahkan.
Agent M masih berdiri tegap dengan sorot mata tajam menatap orang-orang di hadapannya.
"Tiga wanita seperti biarawati, siapa mereka?" tanya M menunjuk tiga wanita yang ikut tertangkap.
"Kami ... adalah biarawati di gereja dekat sini. Kami ... kekasih mereka," jawab salah satu wanita berkerudung, tapi membuat mata Kecebong, Biri-Biri dan Dakota melebar seketika.
"What?! Kalian mengencani biarawati?" pekik M sampai matanya melotot.
"Kami ... mm, memutuskan untuk meninggalkan profesi kami," jawab wanita berkerudung lainnya.
M terlihat shock sampai tak bisa berkata-kata.
"Maaf, M. Tapi ... hormatilah keputusan para wanita ini. Mereka jenuh dengan rutinitas yang membosankan dan ingin beralih profesi seperti kita. Jangan khawatir, mereka di pihak kita. Aku janji, mereka tak akan membocorkan hal ini pada siapapun. Benar 'kan, Sayang?" tanya Dakota kaku saat menoleh ke arah tiga wanita berkerudung yang duduk di sampingnya.
Tiga wanita berparas cantik itu mengangguk cepat. M memijat kepalanya yang mendadak terasa berat dan sulit untuk berpikir. Enam orang itu langsung terdiam dengan kepala tertunduk entah apa yang dipikirkan.
Hingga tiba-tiba, salah satu anak buah M datang terlihat serius seraya memberikan hormat.
"Ada apa?" tanya M melirik pria itu tajam.
"Kami menemukan Cassie."
"What?!" pekik M, Dakota dan dua anggota Pasukan Pria Tampan.
Segera, M mengikuti salah satu anggota Black Armys tersebut.
"M! M! Ajak kami!" pinta Dakota lantang, tapi diabaikan oleh ayah dari Sun tersebut. Dakota mendesis kesal dan hanya bisa pasrah di tempatnya berada.
Ternyata, kabar ditemukannya Cassie kembali membuat geger jajaran Vesper. Kali ini, Vesper yang mengambil alih karena Kai bersikeras ingin terbang ke Austria dan sang isteri mengizinkan.
"Tunjukkan padaku," pinta Vesper yang berdiri di samping Eiji di Pusat Komando Kastil Borka.
Terlihat, Cassie berada di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan lapisan busa seperti ruang tahanan untuk pasien rehabilitasi gangguan mental. Perut Cassie terlihat sudah membesar. Gadis itu terlihat tidak bahagia, wajahnya pucat dan tubuhnya kurus.
"Cassie sayang. Hai, ingat padaku?" tanya Vesper lembut yang wajahnya terlihat pada sebuah monitor tablet yang diarahkan oleh salah satu Black Armys ke hadapannya.
Cassie duduk di pinggir ranjang terlihat lesu. Ia melirik monitor dan mengangguk pelan. Vesper tersenyum.
__ADS_1
"Ingin tinggal bersamaku?" tanya Vesper lembut dan Cassie mengangguk."Baiklah. Aku menunggumu di Rusia. Kau aman, jangan takut. Kau akan melahirkan dengan selamat. Aku akan melindungimu," ucap Vesper ramah dan Cassie mengangguk dengan tetesan air mata.
Semua orang yang berada di ruangan itu hanya bisa diam dan terlihat iba dengan kondisi Cassie yang tak pernah terlihat serapuh ini.
"M," panggil Vesper dan ayah dari Sun menatapnya seksama. "Bisa tolong kau antar Cassie padaku?" tanya Vesper ramah. M terlihat bingung, tapi Vesper tersenyum tipis. "Aku tahu. Baiklah. Lepaskan tahanan kita. Biarkan mereka yang membawa Cassie padaku. Kau ... lanjutkan pencarian Sun. Temukan dia," sambung Vesper dan M mengangguk pelan.
Pintu ruangan Cassie kembali di tutup, tapi kali ini ia ditemani oleh tiga wanita berkerudung yang ditugaskan oleh M untuk mengawasinya sampai dinyatakan siap untuk diberangkatkan.
"Kalian beruntung karena Vesper mengampuni kalian," ucap M terlihat kesal karena tahanannya dibebaskan.
"Terima kasih," jawab tiga pria itu pelan, meski terlihat malas.
Cassie akan diberangkatkan ke Rusia, tapi menunggu kedatangan Kai ke negara tersebut. Kai dan Agent M akan bekerja sama untuk mencari dua orang yang diyakini mereka masih berada di negara tersebut.
Kai mengajak Biawak Cokelat dan Kuning untuk ikut dalam misinya. Kai juga membawa pasukan tambahan untuk menjaga Pos Darurat karena kurang orang. Rumah kaca tersebut, kini dijaga oleh Black Armys Vesper dengan keamanan penuh.
Ternyata, tempat itu menyimpan banyak persenjataan dan peralatan dari Vesper Industries entah didapat dari mana, tapi hal itu akan diusut oleh Vesper ketika Cassie sudah berada dalam dekapannya.
Vesper memilih pendekatan dengan halus ketimbang menginterogasi calon ibu dari cucunya itu dengan kekerasan.
Kabar Dakota selamat, tentu saja membuat Tobias lega, sayangnya salah satu Pionnya itu tak bisa kembali karena dalam pengawasan ketat Vesper. Hal ini membuat Tobias kesal dan kembali membuat ulah dengan ibu angkatnya.
"Dakota adalah anak buahku," tegas Tobias melotot tajam di tampilan monitor.
"Aku tahu," jawab Vesper santai seraya menyeruput cokelat panas dalam cangkir keramik.
"Kembalikan dia," sahutnya menekan.
"Hem," jawab Vesper masih tak melihat anak angkatnya itu dan sibuk mengaduk minumannya dengan batang kayu manis.
Mata Tobias menyipit. "Hem? Jawaban macam apa itu? Aku bilang kembalikan!"
PRANG!
Semua orang yang berada di dekat Vesper atau di tempat Tobias langsung mematung seketika. Mereka terkejut saat melihat Vesper membanting cangkir berisi minuman cokelat panasnya dengan wajah datar.
Wajah tegang terlihat di paras orang-orang itu saat Vesper tak lagi menunjukkan keramahan.
"Selesaikan urusanmu. Aku masih ada urusan dengan salah satu Pionmu itu. Banyak hal, yang harus, dia jelaskan," jawab Vesper seraya menaikkan pandangan dengan sorot mata tajam.
Tobias menarik napas dalam lalu memalingkan wajah saat mata Vesper mendarat tepat di kedua matanya.
"Hem," jawabnya ikut berguman lalu mematikan sambungan video call begitu saja.
Suasana di ruang kerja Vesper tegang seketika di mana Eiji juga berada di sana dengan tablet dalam genggaman.
"Kenapa kalian diam?" tanya Vesper heran.
"Oh, tidak. Mm, jadi ... tadi aku ingin bilang apa ya?" jawab Eiji langsung menyahut, tapi malah bingung dalam berucap.
"Tolong bersihkan. Oh, coklat panasku yang malang. Aku minta maaf sudah menumpahkanmu," ucap Vesper iba pada cangkir dan minuman yang kini terkapar di lantai tak berdosa. "Tolong buatkan lagi ya," pinta Vesper dengan senyum terkembang kepada salah satu Black Armys level M yang melayaninya.
"Yes, Mam," jawabnya dengan senyuman, tapi terlihat gugup saat membersihkan lantai kotor tersebut.
"Thank you," jawab Vesper dengan senyuman lalu kembali menatap Eiji.
Sayangnya, pria berwajah Asia itu masih mengalami amnesia mendadak karena belum ingat apa yang akan ia sampaikan. Vesper menghela napas panjang dengan wajah malas.
***
makasih tipsnya😍 diborong sm jeng Martini❤️ lele kasih panjang nih epsnya walopun napas masih ngap2an😆
__ADS_1