
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran. Terjemahan.
Jonathan merintih kesakitan di dalam mobil yang menghimpitnya. Namun, ia tetap berusaha dengan melepaskan seat belt yang menyelamatkan nyawanya.
Darah terus mengalir di kepala samping kirinya dan menyebabkan rasa sakit, hingga mata pemuda itu terpejam erat.
"Oh my God! Oh, shitt!" pekik seorang pria berkacamata karena ia tak sengaja menabrak mobil di depannya dengan keras hingga moncong mobilnya ikut penyok.
Namun, rasa bersalah pria itu membuatnya segera turun dari mobil dan mendatangi mobil Jonathan yang terbalik.
"Sir! Sir! Anda tidak a— Jonathan!" pekik pria berkacamata itu saat mendapati sopir yang ia kenali memandanginya sayu.
"Oh! Hai, Jack," jawab Jonathan lemas yang ternyata mengenalinya.
Orang CIA itu segera menolong Jonathan dengan susah payah. Ia menarik tubuh Jonathan keluar dari mobil ke pinggir jalan.
Jonathan memegangi kepalanya dan berusaha tetap sadar. Jack membantunya duduk terlihat cemas. Jonathan melihat sekitar dengan pandangan sedikit kabur.
"Click! Clack! Om Hadi!" panggilnya lantang karena tak menemukan orang-orang itu di sekitarnya.
"Oh! Ada pergerakan dalam hutan. Mungkin itu kawan-kawanmu. Aku akan ke sana. Kau, tetaplah di sini," ucap Jack seraya berdiri lalu meninggalkan Jonathan.
Pemuda itu duduk dengan lesu, tapi berusaha bangun untuk mengejar Jack yang masuk ke hutan.
Jack akhirnya menemukan orang-orang Jonathan yang terkapar di beberapa tempat dalam hutan tersebut.
Hingga ia melihat dua orang wanita cantik dan seksi sedang menangis. Mereka memeluk seorang lelaki tua yang memejamkan mata dengan darah merembes di balik bajunya. Jack menghentikan langkah seketika.
"Paman? Paman BinBin!" panggil Jonathan yang ternyata ikut menyusul lalu berjalan tergopoh mendekat. "Paman ...," ucap Jonathan sedih karena BinBin sudah pergi untuk selamanya.
Saat Jack akan mendatangi Jonathan, tiba-tiba ....
DOR! DOR!
"Shitt!" pekik Jack langsung tiarap di atas rumput karena ia ditembaki dari dalam hutan. Beruntung, peluru itu meleset dan mengenai batang pohon. "Jangan bilang kalian membuat kekacauan lagi!" teriak Jack seraya menutup kepala belakangnya.
"Arrghhh! Gak ada kapoknya! Click! Clack! Om Hadi! Kita harus balaskan kematian Paman BinBin!" teriak Jonathan lantang.
"Siap!" jawab Hadi mantap dan segera menyiagakan senjata termasuk dua algojo Madam.
Jonathan segera berdiri meski ia sempoyongan. Suara tembakan kembali terdengar bersahut-sahutan. Venelope mendekati Jack yang masih tiarap di atas rumput.
"Hei! Hei! Bisa kau tolong kami? Saudariku sedang mengandung dan aku takut jika dia keguguran," pinta Venelope memelas.
Jack melihat orang-orang Jonathan yang sudah terlihat berantakan bahkan ada yang tewas. Jack mengangguk mantap. Ia segera berdiri dan mendatangi Sierra yang masih tergeletak tak sadarkan diri.
Jack membopong gadis itu dan bergegas membawanya ke mobil. Sedang Venelope, membantu Dinda dan Cinta mengangkat mayat BinBin menuju ke mobil Jack.
Jack bersusah payah membaringkan Sierra di dudukkan tengah mobilnya dengan Venelope mendampinginya.
BinBin direbahkan di dudukkan belakang bersama dua asistennya yang masih menangis sedih karena kepergian pria tua itu.
"Hiks, BinBin," tangis Cinta karena kehilangan sosok pria tua yang dikenal jenius dalam dunia inovasi senjata.
"Kenapa BinBin harus bilang mau nyusul kak Bunga? Lalu kita bagaimana? BinBin gak sayang sama Dinda dan Cinta 'kah?" tanya Dinda dengan air mata terus menetes karena kehilangan kekasihnya.
Venelope dan Jack hanya bisa diam tak mampu berkata-kata. Keduanya tahu jika dua wanita cantik itu sedang berduka dan tak ingin mengusik mereka.
Saat orang-orang itu sedang diliputi kesedihan di jalanan yang sepi karena tak ada satupun kendaraan yang melintas, tiba-tiba ....
DOR! DOR! DOR!
__ADS_1
"AAAAA!" Dinda dan Cinta menjerit saat mobil yang mereka tumpangi ditembaki dari dalam hutan.
"Hei! Jangan merusak mobilku!" teriak Jack geram. Dengan sigap, telunjuknya menekan sebuah tombol di samping sebelah kiri setir. KLEK!
Venelope terkejut saat sandaran yang diduduki oleh Jack terbuka dan muncul sebuah pistol lengkap dengan amunisi siap digunakan.
"Kau bisa menggunakan senjata dan menembak 'kan?" tanya Jack menoleh.
Venelope tak menjawab. Ia segera memasukkan peluru-peluru itu dengan sigap. Jack tersenyum miring saat ia menekan sebuah tombol di dekat perseneling mobilnya.
Cinta dan Dinda mendongak ke langit-langit mobil saat mereka merasakan ada sebuah gerakan di atas. Mata Venelope melebar ketika mendapati sebuah joystick muncul dari bawah dudukkan mobil Jack.
Seketika, DODODODOOR!!
Dinda dan Cinta menutup telinga mereka rapat dengan mata terpejam. Mobil itu bergetar karena senapan gatling muncul di atas mobil dan menembaki orang-orang yang masuk dalam jangkauan peluru mematikan itu.
Jack membidik para pria bersenjata dan berseragam hitam yang menembaki mobilnya dari dalam hutan.
Venelope mengamati dari balik jendela dan melihat orang-orang itu tewas bergelimpangan di atas rumput tanpa bisa melakukan aksi balas.
"Hah! Rasakan!" ucap Jack kesal dan puas dalam waktu bersamaan.
Sedang di tempat Jonathan berada.
Pemuda itu terlihat sudah tak mampu lagi untuk bergerak. Ia menyenderkan punggungnya ke sebuah batang pohon besar dengan pistol dalam genggaman.
"Runtuhkan bangunan itu! Timbun mereka semua! Itulah balasan karena sudah membunuh paman BinBin!" teriak Jonathan lantang kepada dua algojo Madam yang telah bersiap dengan semua jenis senjata rampasan dari para tentara yang berhasil mereka bunuh.
Hadi melindungi Jonathan di sampingnya dengan pistol dalam genggaman. Ia mengarahkan moncong senjata api itu ke seluruh sudut yang masuk dalam jangkauannya.
Click and Clack mengambil beberapa granat. Mereka mendatangi pintu tempat mereka kabur.
Tak lama, terdengar suara ledakan bersahut-sahutan dan perlahan meruntuhkan bangunan itu meski sebagian. Pintu keluar berhasil ditutup oleh puing-puing bangunan.
"Jojon! Woi, jangan pingsan di sini, elah! Jon! Jojon!" pekik Hadi karena Jonathan tiba-tiba saja ambruk dan tak sadarkan diri dengan darah terus menetes di kepala samping kirinya.
...***...
Entah sudah berapa lama pemuda itu tak sadarkan diri, Jonathan mulai membuka matanya perlahan meski pandangannya masih kabur dan seluruh tubuhnya terasa sakit.
Jonathan melirik dan melihat sinar terang menyilaukan dari balik tirai, pertanda hari sudah pagi. Namun, rasa kantuk yang teramat sangat membuat pemuda itu kembali memejamkan mata dan tertidur.
Hingga akhirnya, pemuda itu kembali membuka mata saat ia mencium aroma kopi dan mendengar suara dentingan sendok besi yang bergesekan dengan dinding cangkir kopi.
Hem ... kaya dejavu. Khas mama ..., ucapnya dalam hati dengan mata sayu.
Namun tiba-tiba, Jonathan menoleh, meski kepalanya masih terasa sakit. Spontan, matanya terbelalak lebar.
Ia mendapati sang Ibu duduk di atas sebuah ranjang dari kamar lain yang masih satu ruangan dengan tempatnya berbaring.
Tampak sosok Vesper yang melipat kedua kakinya dan mengenakan gaun merah menyala terlihat berkarisma.
"Mama? Mama!" panggil Jonathan riang meski ia masih terbaring lemah di ranjang.
Vesper tersenyum tipis dan beranjak dari kasur empuknya. Ia mendatangi Jonathan dengan bertelanjang kaki. Vesper duduk perlahan di samping anaknya seraya mengelus kepalanya lembut yang terbalut perban.
"Hai. Bagaimana keadaanmu? Kau tidur lama sekali," tanya Vesper dengan senyum menawan.
"Nathan masih ganteng 'kan, Mah?" tanyanya memelas. Vesper tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.
"Bangun-bangun yang ditanya muka loh," sahut Eko yang terlihat sedang duduk di sebuah sofa, mengenakan jas hitam dan dasi merah menyala senada dengan gaun milik majikannya.
__ADS_1
Bodyguard berkepala gundul itu terlihat elegan saat mengaduk kopi dalam cangkir. Jonathan langsung memasang wajah malas karena ia mengira ciri khas itu dilakukan oleh Ibunya saat menyambut pagi.
"Mah ... paman BinBin?" tanyanya sedih.
Vesper terlihat murung, tapi ia mengangguk.
"Paman BinBin sudah dimakamkan dua hari yang lalu. Kau pingsan tiga hari, Sayang. Namun, dokter memastikan jika kau baik-baik saja. Kulit kepalamu robek, tapi kau tak mengalami cidera serius di otak atau syarafmu," jawab Vesper sendu.
Jonathan diam sejenak. Eko menyeruput kopinya dengan elegan lalu meletakkan cangkir itu di meja samping ia duduk.
"Paman BinBin ...," ucapnya sedih dengan mata berkaca. "Setidaknya ... paman BinBin tak meninggal dengan cara yang tragis. Jasadnya masih bagus 'kan saat dikuburkan?" tanya Jonathan lesu.
"Ya. Nasib buruk bagi Smoke karena ia tewas dengan mengerikan. Ulahmu 'kan? Kerja bagus, Jonathan. Sepertinya, kau belum tahu tentang Mr. Smoke. Iya 'kan?" tanya Vesper seraya mengelus dada anaknya lembut yang sengaja tak dipakaikan pakaian untuk memeriksa luka di tubuhnya.
"Namanya Mr. Smoke?" tanya Jonathan mengulang dan Vesper mengangguk.
"Kau hebat, Jonathan. Kau berhasil membunuh buronan CIA," sahut James yang masuk ke kamar didampingi oleh Jack.
"Ha?" tanya Jonathan terkejut.
"Singkat cerita. Mr. Smoke dulunya adalah salah satu petinggi di CIA sebelum digantikan oleh Rika. Smoke dianggap mengalami gangguan mental karena ia terobsesi dengan hancurnya 13 Demon Heads. Ia juga mengusulkan perombakan dalam sistem penugasan Agent di lapangan. Usulannya tidak disetujui oleh pemerintah. Smoke diberhentikan dengan tidak terhormat dan hal itu, membuat Smoke menaruh dendam pada CIA," ucap Jack seraya duduk di sofa samping ranjang Jonathan.
"Lalu?" tanya Jonathan antusias seraya menoleh ke arah Jack.
"Saat William memutuskan untuk keluar dari CIA, diam-diam, pria itu mengirimkan sebuah berkas laporan yang ditujukan padaku, Ara dan Catherine secara terpisah. Ia tak percaya kepada orang-orang CIA karena merasa agensiku sudah disusupi oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan dalam kekuasaan. Ternyata, Rika juga melakukan hal demikian. Rika malah mengirimkan sebuah dokumen untuk dirinya sendiri, setahun setelah dirinya meninggal. Melihat kejanggalan tersebut, Ara membuka isi amplop itu," jawab Jack menjelaskan.
"Lalu?" tanya Jonathan makin semangat.
"Aku sudah menceritakan hal ini kepada Ibumu dan orang-orangmu. Haruskah aku bercerita lagi?" gerutu Jack terlihat enggan.
"Aku baru bangun dan belum mendengarnya! Cepat! Aduh, sakit," keluhnya usai marah-marah seraya memegangi kepalanya yang terbalut perban. Vesper dan lainnya terkekeh.
Jack menghembuskan napas panjang.
"Roy, kekasih Rika, ternyata anak dari Smoke. Rika diam-diam menyelidiki tentang kekasihnya itu tanpa sepengetahuan William dan lainnya, termasuk Cecil dan Yes. Rika lalu menjebak Smoke di rumahnya, Montana, tempat Roy juga tinggal bersamanya. Smoke termakan strateginya. Naas, saat Smoke meledakkan rumahnya, ada Roy di dalamnya. Smoke semakin membenci CIA dan13 Demon Heads. Ia lalu menuntut balas dan malah bekerja sama dengan Miles di mana Madam, tahu tentang aksinya," ucap Jack yang membuat mata Jonathan melebar seketika.
Jack memberikan sebuah ponsel pada Jonathan. Dalam layar itu, terlihat jelas email dan pesan elektronik yang berhasil dibongkar oleh Eiji serta Jack setelah pria berkacamata itu mendengarkan kesaksian anak buah Jonathan.
Jack segera mengirimkan anak buahnya ke lokasi kejadian dan ternyata, semua cerita dari tim Jonathan tepat.
Kali ini, Jack tak melibatkan Jonathan dan para mafia itu. Ia mengaku menemukan kejanggalan saat melintas dan melihat kekacauan tersebut kepada agensinya.
"Click and Clack, Venelope dan Sierra merasa dibodohi karena tak tahu aksi Smoke selama ini. Madam menyimpan banyak misteri yang tak diungkapkan sampai kematiannya. Menurutku, Madam tahu jika Miles masih hidup dan membiarkannya sebagai duri dalam daging di organisasinya. Madam sepertinya mengalami krisis kepercayaan kepada anak buahnya sendiri," sambung Vesper memaparkan pemikirannya.
"Oh gitu," jawab Jonathan lesu lalu mengembalikan ponsel itu kepada Jack. Pria berkacama itu menerima kembali ponselnya.
"Eh! Terus Sierra gimana?" tanya Jonathan kembali melebarkan mata.
"Kamu nakal loh. Itu Cassie lagi bunting anakmu malah sekarang Sierra juga ikutan. Kamu kalau mau tanem bibit itu liat-liat dulu, Jon. Kamu udah kaya si Lucifer, punya cewek dan anak banyak di mana-mana. Jangan ngulang sejarah yang udah susah payah penuh penderitaan kita tuntaskan! Kalo bandel, tak sunat kaya Tobil sampai ke akar-akarnya. Ciyus ini," gerutu Eko mempelototinya.
"Iya, tau-tau," jawab Jonathan malas meski terlihat malu.
Vesper tersenyum geli melihat anaknya komat-kamit terlihat kesal karena disalahkan. Sedang yang lain, menahan senyum.
Bagi mereka, Jonathan hampir mirip dengan mendiang ayahnya dulu, Erik Benedict yang dikenal memiliki banyak wanita, playboy, tampan, kaya, berkuasa, dan juga cerdas.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya❤️Nyaris lele ngambek gegara naskah ilang coba. Balikin mood dan daya ingat akan isi dari cerita itu menguras banyak waktu, tenaga dan ide. Jadi laper kan. Jangan lupa itu Monster Hunter diramaikan ya. Meskipun yang tips gak banyak tapi isi naskahnya banyak ini. Doain lele selalu sehat dan menamatkan 4YM2 dengan baik. Amin💋