4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Terlalu Dalam


__ADS_3

Keempat anak Vesper menangis terisak. Arjuna membujuk ayahnya agar tak bunuh diri karena kecewa padanya. Namun, baik Han ataupun Kai tetap berdiri tegap dengan posisi pistol diarahkan ke dahi.


"Demi cucumu, Ayah. Jangan. Aku minta maaf," ucap Arjuna memeluk Han dari belakang, tapi Han dan Kai hanya saling diam berpandangan.


"Aku minta maaf sudah menyalahkanmu dan mama, Papa. Dara ... Dara ...," ucap gadis cantik itu sampai tergagap yang memegangi tangan Kai karena pistol masih dalam genggaman terarah ke dahi Han.


"Mah, bilangin ke papa dan ayah, Mah," pinta Jonathan yang kini menggoyangkan paha Vesper saat sang ibu terlihat pucat karena penyakit yang dideritanya.


Vesper menggerakkan kedua tangannya, dan dua suaminya menyadari hal itu. Buffalo, James, Seif dan Drake hanya bisa diam menyaksikan tak berani ikut campur.


"Kak Han ... Kai ... kalian berjanji padaku untuk menjaga dan melindungi anak-anak serta cucu-cucu kita. Tak kuizinkan kalian mati bersamaku," ucap Vesper lirih.


Han dan Kai memejamkan mata sejenak lalu memalingkan wajah. Han yang terlihat kesal malah kini mengarahkan moncong pistol itu ke pelipisnya. Praktis, mata semua orang terkejut kecuali Vesper yang tak mengetahui hal itu.


"Ayah! Jangan, jangan!" teriak Arjuna berusaha melepaskan pistol itu dari genggaman tangan sang ayah. Lysa segera berdiri dan membantu Arjuna untuk melepaskan pistol itu dari kepala Han.


"Agh! Lepaskan!" teriak Han marah. Ia memberontak karena pistolnya berusaha direbut oleh Lysa dan Arjuna.


Namun, DOR!


Vesper langsung membuka mata. Semua orang mematung saat mendengar letusan pistol itu. Namun ternyata, tak ada satu pun yang tewas baik Han ataupun Kai.


"Kenapa kalian sekarang peduli, ha? Bukankah kalian menginginkan hidup bebas tanpa kami? Kalian bahkan datang ingin membunuh ibu kandung sendiri. Kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Kai kesal saat melepaskan tembakan ke dinding.


Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara tak bisa menjawab. Sedang Han dan Kai menatap anak-anak Vesper tajam.


"Sudah ... sudah ... semua orang pernah berbuat salah. Jangan membuat dendam baru. Kali ini aku sudah tak sanggup lagi untuk menghentikannya. Bangunkan aku," pinta Vesper lirih seraya melepaskan selang oksigen di hidungnya.


Han dan Kai dengan sigap memegangi Vesper yang nekat untuk bangun. Jonathan, Lysa, Arjuna dan Sandara menyingkir karena mereka bingung harus melakukan apa.


"Pastikan anak-anak aman. Jangan sampai Miles mendapatkan mereka. Siapkan keberangkatan. Kita pergi saat tengah malam," pinta Vesper.


Orang-orang yang setia padanya tak lagi bisa menolak. Kali ini, Vesper tak mengenakan pakaian tempur. Ia ingin dipakaikan yukata warna putih.


Kulitnya yang pucat, membuat orang-orang yang melihatnya seperti seorang malaikat tak bersayap meski dengan wujud yang tidak sempurna. Namun, sosok Vesper seolah bercahaya ketika bulan memantulkan sinarnya di malam itu.


"Oma mau ke mana?" tanya King D cemas.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Kita akan bertemu lagi. Nanti, kalian akan menyusul. Oma harus pergi. Doakan kami berhasil agar kalian hidup tenang dan bahagia tanpa petaka lagi. Teruslah mengaji dan sholat. Oma bangga memiliki cucu sepertimu," ucap Vesper seraya memegang kepala King D dan menempelkan dahinya ke dahi cucu lelakinya itu.


King D memejamkan mata dan mengangguk. "D berjanji, Oma. Semoga, Allah menyertaimu," ucapnya. Vesper tampak terharu mendengarnya.


Vesper didudukkan pada kursi roda elektrik. Semua orang sudah bersiap termasuk Yusuke Tendo.


Para Black Armys yang berhasil selamat dari pertempuran sebelumnya diminta untuk menjaga kediaman Takeshi bersama tiga isteri Tora.


Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dikabarkan akan segera datang. Namun, Vesper meminta mereka bersiaga di kediaman Takeshi. Mereka menurut karena anak-anak berada di tempat tersebut.


"Ayo, jangan tunda lagi. Kita harus selesaikan ini untuk selama-lamanya," ucap Vesper serius dan semua orang mengangguk siap.


Dua buah helikopter yang diterbangkan dari kastil Hashirama mengangkut rombongan Vesper. Benda terbang itu melintasi lautan menuju ke Wakkanai, Hokkaido, Jepang.


Semua orang baru tahu jika Souta ditugaskan untuk memancing Miles. Kabarnya, pasukan Miles bergerak ke wilayah yang telah dipilih oleh Vesper di mana sebelumnya belum pernah terjadi pertempuran di sana. Entah apa alasan Vesper pemilihan tempat itu, tapi semua orang bersiap.


Begitu tiba di wilayah kekuasaan Yusuke Tendo, mereka mengganti armada menggunakan kapal ferry yang telah disiapkan oleh anak buah putera Tatsuya tersebut.


Sebuah kapal mengangkut Vesper dan timnya. Selama menyeberang, Vesper melakukan cuci darah dan dilanjutkan transfusi dari darah Seif.


Keempat anak Vesper hanya bisa melihat sang ibu yang dirawat dengan penuh perhatian oleh orang-orang yang peduli padanya di kamar itu.


"Ya, kau benar. Aku tak yakin dia bisa mengalahkan Miles. Yang ada, ia malah membuat dirinya semakin menderita jika harus berhadapan dengannya. Miles keji dan tak segan menyiksa lawannya. Mama akan mati dengan sangat menyedihkan. Usaha yang dilakukan orang-orang itu percuma untuk membuatnya bertahan hidup," sahut Sandara dengan ekspresi yang sama.


"Cara mati yang aneh bagi seorang Vesper. Sama anehnya dengan Boleslav yang memilih bunuh diri. Seperti Axton yang percaya dewa kematian dengan melakukan kesepakatan. Kenapa mama tak pasrah saja menerima kematiannya dengan tetap di rumah bersama cucu-cucunya? Bukankah itu yang dia inginkan? Kenapa dia malah ingin bertarung dengan Miles dalam keadaan sekarat seperti ini?" tanya Arjuna keheranan.


Kali ini, Lysa diam menatap sang ibu lekat. Hingga akhirnya, ia bicara.


"Aku ingat saat mama dulu bukan siapa-siapa. Seorang Liana," ucapnya dengan wajah sendu. Praktis, kepala Arjuna, Sandara dan Jonathan menoleh ke arah kakak tertua mereka tersebut. "Berulang kali mama disakiti, dihina dan tak dianggap saat berada di keluarga Adipura. Hingga dia dinyatakan tewas saat di China dan ditemukan oleh nyonya Rose di Camp Militer. Saat ia kembali, ibuku berubah, tapi aku mengenalinya. Mungkin karena aku terlalu menyayanginya, aku tak percaya jika ibuku tewas meski saat itu ada tante Tika yang menggantikannya," sambung Lysa dengan pandangan kosong seolah ingatannya kembali ke masa lalu.


"Apa yang ingin kau sampaikan, Kak?" tanya Sandara menatap Lysa lekat.


"Mama menjadi seperti ini karena dia sudah merasakan banyak penderitaan. Luka yang kita dapatkan, tak sebanyak dirinya. Dendam yang kita timbun tak sebesar dirinya. Kesedihan yang kita rasakan tak seluas dirinya. Namun ... lihatlah. Saat nama Liana berubah menjadi Lily dan pada akhirnya Vesper, bagiku ... wanita sekarat itu tetap Liana, mamaku yang polos dulu. Yang selalu menyanyi untukku dan tersenyum manis meski hidupnya menderita," ucap Lysa yang pada akhirnya meneteskan air mata.


Arjuna, Jonathan dan Sandara terdiam menatap Lysa saksama.


"Kenapa kita bisa begitu kejam padanya? Sedang saat kita datang, dia masih mencemaskan keadaan kita dengan menanyakan, apa kau terluka? Apa sudah diobati? Bagaimana ... hiks, bagaimana bisa dia tetap peduli padahal ia tahu jika akan mati di tanganku?" tanya Lysa yang pada akhirnya meneteskan air mata.

__ADS_1


Jonathan tiba-tiba berdiri mendatangi sang ibu yang kini sedang menerima transfusi darah. Langkahnya terasa berat bahkan harus diseret.


Seif yang menunggu langsung menatap Jonathan tajam ketika pemuda itu berdiri di samping sang ibu.


"Mah ...," panggil Jonathan lirih dengan mata berlinang. "Mama ...," panggilnya lagi karena Vesper tak menjawab. "Mah?" panggilnya untuk kesekian kali hingga air matanya menetes. "Jonathan udah gak punya siapa-siapa lagi. Nathan gak ingat kenangan dengan papa Erik. Nathan jahatin om Martin dan papi Ivan. Pasti ... pasti mereka gak mau maafin Nathan. Kalau mama pergi ... kalau mama pergi, siapa yang bakal sayang sama Nathan lagi?" tanyanya seraya menggoyangkan lengan sang ibu.


Namun, Vesper seperti tak sadar. Seif memalingkan wajah terlihat sedih, tapi ia tahan.


"Apa kautahu, Jonathan. Alasan aku setia padanya?" tanya Seif menatap Jonathan lekat. Jonathan menggeleng seraya menghapus air mata yang menetes begitu saja. "Dia satu-satunya orang yang pernah kutemui sepanjang hidupku, yang menerima penderitaannya dengan ikhlas. Ia berjuang sampai akhir, tak pernah menyerah. Oleh karena itu, aku tak boleh kalah darinya. Selama aku masih bernapas, aku sudah bersumpah pada Allah akan melindunginya. Aku tak peduli jika nantinya kuberakhir di neraka, tapi aku percaya, wanita yang dikatakan penjahat ini adalah wanita paling bijak yang kutemui," tegasnya menunjuk Vesper.


Kening Jonathan berkerut dengan air mata kembali menetes.


"Apakah kau pernah bertemu seseorang yang merelakan hidupnya untukmu? Jika ya, katakan padaku siapa," tanya Seif.


Jonathan diam seperti mencoba mengingatnya, hingga akhirnya pandangannya kembali pada Seif.


"Pustakawan Tom," jawabnya lirih.


"Yes, itu benar. Tom sangat menyayangimu. Saat ia pergi, apa kau kehilangannya? Serasa hidupmu sepi karena tak ada lagi yang mendampingimu?" Jonathan mengangguk pelan. "Itulah yang akan kaurasakan ketika ibumu pergi, Jonathan. Bahkan lebih perih dan menyakitkan karena saat ia meninggal nanti, kau salah satu penyebab kematiannya. Penyesalan akan selalu menghantui hingga akhir hidupmu, karena kau, mementingkan egomu tak memikirkan perasaannya," tegas Seif yang membuat Jonathan langsung sesak napas seketika.


"Mah ... mama!" teriak Jonathan langsung memeluk Vesper erat.


"Ia akan pergi selamanya, Jonathan. Dia akan meninggalkanmu dalam kesedihan dan penyesalan," ucap Seif menatap Jonathan bengis dengan mata berlinang.


"Mama!" teriak Jonathan seakan tak rela jika kehilangan sang ibu.


Ternyata, ucapan Seif didengar oleh Lysa, Arjuna dan Sandara. Ketiganya menangis hingga tak berani menunjukkan wajah karena ditutupi oleh dua tangan mereka yang bergetar.


Siapa sangka, momen itu disaksikan oleh banyak orang dari balik pintu. Han dan Kai saling berpandangan dengan haru.


Keduanya berpelukan seolah merasa jika dendam yang merasuki jiwa keempat anak-anak Vesper sudah sirna.


Buffalo dan lainnya ikut menangis, tapi merasa lega karena pertikaian antar jajaran sudah selesai di ruangan itu.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. karena bonusnya abis, sehari up satu eps aja ya. lele padamu❤️


__ADS_2