
Di tempat Jonathan berada.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Ini adalah sel baru kalian berdua," tegas Sierra dengan wajah dingin.
"Hei! Ini gak sesuai dengan perjanjian!" pekik Jonathan kesal.
"Adikmu menghancurkan rumahku! Apa kau bisa menghitung berapa kerugian dari perbuatannya itu, hah?!" balas Sierra memekik.
"Makanya, jangan cuma cantik doang! Itu otak dipake! Wajar Dara marah. Kamu bikin rusak wajah cantik dia. Udah gitu, Smiley mutilasi om Ahmed. Kamu pikir dengan semua kegilaan kamu, Dara gak bakal balas dendam? Jangan salah, adikku yang manis itu lebih ngeri ketimbang semua saudara-saudari Nathan. Kau gali kuburanmu sendiri, Sierra, dan Nathan, gak bakal nolongin kamu. Rasain," tegasnya bertolak pinggang di balik pintu sel.
Nafas Sierra menderu. Jonathan tersenyum licik dengan Cassie duduk di pinggir ranjang berwajah datar menatap Sierra dan Smiley tajam.
Sierra tak bicara lagi, ia pergi begitu saja dengan otoped elekrik barunya meninggalkan sel.
"Kau, berhutang presentasi padaku, Jonathan. Aku akan mempelajari skemamu," ucap Smiley dengan beberapa lembar kertas hasil kerja Jonathan lalu beranjak pergi.
Jonathan mendekati Cassie dan merebahkan dirinya di kasur. Cassie menatap Jonathan seksama yang hanya mengenakan boxer dan jubah mandi dari handuk berwarna putih dengan wajah kesal.
"Eh!" kejut Jonathan saat kejantanannya yang menyumbul di sentuh oleh Cassie dan malah dipijatnya. Mata Jonathan melebar menatap Cassie yang menunjukkan wajah datar saat melakukannya. "Ada CCTV di sini, tar kita diintip sama mereka. Sabar ya, Cassie sayang," ucap Jonathan seraya menyingkirkan tangan Cassie di misilnya, tapi tangan gadis cantik itu kembali dan malah menggenggam kuat kejantanannya. Jonathan menelan ludah.
Jonathan terlihat panik dan melihat sekeliling. "Oh! Di kamar mandi aja yuk. Duh, dah kebelet banget ya. Sini, sini," ajaknya seraya menggandeng tangan Cassie dan membawanya ke kamar mandi yang hanya tertutup gorden.
Venelope yang melihat kelakukan Jonathan hanya terkekeh pelan dengan gelengan kepala. Pemimpin The Mask yang berada di pusat kendali berdiri diam di depan monitor tersebut.
"Hem, pekerjaan Jonathan boleh juga," ucap Smiley seraya mendekat ke arah dua orang yang duduk di depan monitor pengawas. "Eh, di mana dia? Jonathan dan Cassie kabur?" tanya Smiley melotot.
Pemimpin The Mask menunjuk ke arah kamar mandi yang tertutup gorden, dan terlihat empat kaki di sana. Smiley menghembuskan nafas seraya memijat pangkal hidungnya.
"Benar-benar. Dia sungguh tak bisa diintimidasi, terlebih ada Cassie di sampingnya," ucap Smiley terlihat pusing dengan kelakukan pasangan muda itu. Venelope menahan senyum memilih diam tak berkomentar. "Jika dia selesai, panggil aku. Ada yang ingin kubicarakan pada playboy tengik itu."
"Oke," jawab Venelope santai.
Setelah 30 menit berlalu di mana keduanya malah melanjutkan dengan mandi bersama, Cassie berbaring di kasur. Jonathan terlihat lengket bersamanya.
"Kita akan baik-baik aja, Sayang. Nathan akan jadi Panda yang selalu lindungin kalian berdua," ucapnya seraya menopang dagu dengan senyum terkembang dalam posisi tengkurap.
Cassie mengangguk pelan. Jonathan meninggalkan kecupan manis di dahinya. Jonathan lalu ikut merebahkan dirinya dan memeluk Cassie erat, ikut tertidur.
"Jonathan," panggil Smiley dengan wajah masam telah berdiri di sampingnya sembari mengetukkan gulungan kertas ke wajah pemuda itu. Jonathan membuka mata dengan lirikan tajam. "Waktunya bekerja."
Jonathan beranjak dari tempat tidur dan pindah ke ranjang di seberang karena Cassie masih tertidur dengan posisi memunggungi dua pria di belakangnya.
Venelope berdiri di samping Smiley sebagai penerjemah. Smiley memberikan gulungan itu dengan banyak coretan merah menggunakan spidol. Kening Jonathan berkerut.
"Apa nih? Kenapa dicoret-coret?" tanya Jonathan terdengar kesal.
"Strategimu tak masuk akal," jawabnya berdiri bertolak pinggang usai Venelope berbisik.
"Gak masuk akal gimana? Nih, Nathan jelasin," jawabnya sebal seraya menunjukkan sebuah lembar dengan skema buatannya. "Gerbang depan, alias gerbang utama tempat keluar masuknya orang-orang ke dalam gedung penjara," ucapnya seraya menunjuk gambar gerbang tersebut. Smiley mengangguk pelan.
"Itu tugasnya kalian sebagai pengalih perhatian saat Nathan nerobos ke sisi tempat para tahanan di sekap," ucapnya menjelaskan.
"Kita tak boleh menarik perhatian, Jonathan," tegas Smiley.
"Makanya disitu Nathan tulis pakai gas halusinasi."
__ADS_1
"Kita tak memiliki gas itu," tekannya.
Jonathan diam sejenak lalu mengambil beberapa kertas di mana senjata-senjata buatan Vesper Industries di coret oleh pria tua itu. Jonathan menepuk jidat.
"Nathan lupa kalo kalian orang No Face. Payah banget sih. Rainbow Gas gak punya, Mini Domino gak punya, senjata peleleh logam juga gak ada, granat mini juga gak punya. Terus Nathan suruh pake bambu runcing kaya jaman perang dunia kesatu gitu?" tanyanya kesal. Venelope kembali berbisik.
Smiley lalu mengajak Jonathan keluar dari sel. Smiley menjanjikan jika Cassie akan baik-baik saja.
"Sampai Cassie kenapa-napa, Nathan gak segan buat lakuin hal keji sama kalian. Selama ini Nathan diem aja karena sebelumnya gak ada Cassie di sini, tapi sekarang lain ceritanya," ucapnya tegas seraya menunjuk Smiley dan Venelope saat melangkah keluar dari sel.
Smiley tetap diam seraya berjalan lebih dulu di depan pemuda itu. Venelope mengikuti di belakang dengan Jonathan berada di tengah.
Jonathan melihat sebuah pintu besi dengan roda besi sebagai pembuka. Smiley memutar roda besi itu dan tak lama, pintu itu terbuka.
"Heh, kaya di kapal perang mama aja pintunya begini," celetuk Jonathan yang langsung diteruskan oleh Smiley.
Pria tua itu melirik Jonathan saat pemuda tersebut melangkah masuk seraya menganggukkan kepala.
"Ini gudang senjata kalian?" tanya Jonathan, dan Smiley mengangguk. "Biasa aja," jawabnya santai dan membuat kening Smiley berkerut.
"Biasa?"
Jonathan mengangguk seraya mendekati beberapa senapan laras panjang yang dipajang pada sebuah rak, tapi enggan menyentuhnya. Ia tetap memasukkan kedua tangan di dalam saku.
"Ini beneran atau mainan? Gak meyakinkan banget," ucapnya terkesan menyindir.
Venelope segera menerjemahkan kepada Smiley dan pria tua itu makin menatap Jonathan tajam dari tempatnya berdiri.
"Kau bisa mencobanya untuk membuktikan senjata-senjata itu sungguhan atau tidak," tegas Smiley.
Smiley membawa Jonathan keluar dari gudang senjata. Ia menyusuri koridor berliku di mana tak terlihat penjaga di tempat tersebut. Jonathan berjalan dengan santai mengikuti Smiley di depannya.
"Kau bisa mencobanya di sini," ucapnya seraya membuka pintu.
"Wow! Dingin!" serunya langsung merapatkan jubah mandinya dan mundur ke belakang menjauh dari pintu.
"Tentu saja dingin. Sebentar lagi Desember, dan kau tahu itu musim apa," jawab Smiley menatap Jonathan dengan kedua alis naik ke atas.
"Kasih Nathan baju! Ingat perjanjian kita," tegasnya menunjuk.
Smiley menghembuskan nafas panjang. Ia lalu mengajak Jonathan kembali masuk ke dalam menuju ke sebuah pintu.
Jonathan melangkah masuk seraya melihat isi ruangan tersebut yang mirip seperti lemari pakaian. Hanya saja, baju-baju yang disediakan jauh dari kata selera fashion-nya.
"Smiley! Ini—"
"Cepat! Lima menit!" potongnya cepat.
Jonathan mendesis kesal. Ia mengambil beberapa pakaian dan menciumnya terlebih dahulu sebelum dipakai.
Beberapa baju yang ia ambil dibuang begitu saja saat ia merasa tak cocok dengan penampilannya.
Smiley terlihat begitu sabar dengan tahanan eksekutifnya karena ia memiliki rencana dan kesepakatan dengannya.
"Oke, lima menit habis," tegas Smiley langsung menyeret Jonathan keluar.
"Eh! Eh!" pekiknya karena tak sempat mengambil sabuk karena celana yang ia pakai sedikit kelonggaran. "Nathan kaya gembel sumpah!" sambungnya kesal seraya memegangi celananya yang hampir melorot.
__ADS_1
"Kau membuang waktu. Cepat! Kau harus membuktikan omonganmu. Aku tak terima omong kosong," gerutunya seraya mendorong Jonathan ke sebuah meja di mana papan sasaran tembak berada di beberapa tempat di balik semak dan pepohonan.
Jonathan mengambil sebuah pistol dengan santai type SIG P365. Jenis handgun atau pistol berukuran kurang lebih sebesar telapak tangan orang dewasa. Ia memasukkan beberapa peluru di dalam slot amunisi dengan sigap dan mengkongkang bagian atas dengan cepat. Seketika, DOR! DOR! DOR!
Smiley dan Venelope terkejut saat Jonathan memposisikan tubuhnya ketika menembak menggunakan kedua tangan.
Smiley menyipitkan mata saat Jonathan berhasil menembak semua papan sasaran tembak dengan sempurna, meski tak dititik tengah, tapi mengenai target. 11 peluru dilontarkan, dan tak ada yang terbuang sia-sia.
"Easy," jawabnya berwajah malas saat melemparkan pistol berukuran pas dengan genggaman tangannya ke atas meja tempat ia mengambilnya tadi.
"Oke. Persiapkan diri. Aku ingin mengajakmu melihat langsung lokasi penjara," ucap Smiley seraya berpaling.
Jonathan mengangguk pelan dan kembali mengikuti Smiley di belakangnya. Ia menoleh dan menatap Venelope yang menatapnya dengan wajah datar.
"Jaga Cassie selama Nathan pergi. Kalo dia kenapa-napa, dan Nathan gagal jadi Panda, kamu bakal gantiin papan target di tempat itu," ancam Jonathan menunjuk papan target yang telah berlubang karena aksinya. Venelope mengedipkan mata tanda ia mengerti hal itu.
Jonathan kembali ke ruang senjata. Ia memasukkan beberapa pistol, granat, masker gas, peluru, dan beberapa jenis persenjataan serta perlengkapan pendukung yang dirasa bisa ia gunakan selama pengintaian.
Smiley berdiri di kejauhan menatap gerak-gerik Jonathan yang terlihat teliti dalam memilih senjata.
"Oke," ucapnya seraya menggendong sebuah tas ransel. Smiley melihat Jonathan malah seperti akan pergi berjalan-jalan ketimbang menjalankan misi. Jonathan menyempatkan kembali ke sel untuk berpamitan kepada kekasihnya. "Nathan pergi bentar buat kerja. Cassie di rumah aja ya, tunggu Nathan pulang. Oke," ucapnya dengan senyum terkembang.
Gadis cantik itu meraih wajah Jonathan lalu mencium bibirnya lembut, tapi Jonathan malah menjadi agresif. Ia merebahkan tubuh Cassie yang masih duduk di ranjang. Smiley memutar bola matanya karena keduanya malah berciuman dengan penuh gairah.
"Kau membuang waktu," tegas Smiley menarik tas ransel Jonathan paksa, dan membuat ciuman keduanya terlepas.
Jonathan tak marah, ia malah terkekeh seraya berjalan mundur melambaikan tangan.
"Bye, Cassie! Muach!" ucapnya seraya melambaikan tangan kanan dengan kedipan mata kiri.
Cassie tersenyum tipis dari tempatnya duduk saat Jonathan berpaling. Venelope terkejut akan ekspresi itu dan menatap Cassie tajam dari tempatnya berdiri.
Senyum Cassie makin lebar saat ia menunjukkannya di hadapan Venelope. Gadis berambut panjang itu ketakutan dan segera pergi seraya melemparkan jubah mandi Jonathan ke kamar sel.
Senyum Cassie tak memudar sampai ia memungut jubah Jonathan di lantai lalu mendekapnya dengan kuat.
Perlahan, senyum itu memudar. Cassie kembali merebahkan dirinya di kasur seraya memeluk jubah mandi itu dan menghirup aromanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
semoga besok jadwal update udah normal kembali. makasih doanya lele udh mendingan walopun masih pegel2. novel mbak vesper masuk beranda promo uhuy❤️
alhamudlilah naskah novel Simulation cetak udah kelar dan lagi diedit sm editor. yang nanti mau beli siapin jantung krn dari awal eps sampai akhir perang cuy. di cetak lebih padet dan tegang, jadi jangan lupa napas tiap buka lembarannya.
Ada bonus 1 buah masker khusus bagi pembeli novel ya, ttd dan coretan ganjen di novel dg isi berbeda atau bisa request mau ditulis apa di dalem buku plus bonus cap bibir merekah lele pake gincu merah💋 kwkwkw
siapin aja 100rb udh termasuk ongkir. kalo luar jawa doain aja lele dpt rejeki lebih jadi tar bs kasih subsidi ongkir. amin~
tengkiyuw tipsnya lele padamu❤️
__ADS_1