
Lagi, keempat anak Vesper kembali melakukan penyerangan. Kali ini, mereka membidik kediaman Ivan Benedict yang berada di Inggris. Tentu saja, kedatangan Jonathan dan tiga anak Vesper lainnya mengejutkan Ivan serta Sherly.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Sepertinya kau sudah dicuci otak oleh Miles, Jonathan. Lihat perilakumu. Aku bahkan tak mengenali dirimu lagi," tegas Ivan dengan alat translator terpasang di lehernya.
Alat itu memiliki sistem sensor yang membaca pergerakan tangan dalam bahasa isyarat.
"Ini semua salah mama! Kita semua tahu kisah masa lalu kalian! Papi Ivan gak bisa bicara karena mama mengizinkan paman BinBin potong lidah!" serunya di hadapan ayah baptisnya itu.
Namun, Ivan malah tersenyum. Ia berdiri dari kursinya perlahan dan berjalan mendatangi Jonathan.
Pemuda itu tampak takut dan menjaga jarak. Bagaimanapun, Ivan Benedict masih menunjukkan ketangguhannya.
"Tujuanmu datang kemari ingin tahu di mana Vesper berada bukan? Setelah tahu, kau mau apa?" tanya Ivan menatap Jonathan tajam.
Sherly ditodong pistol oleh Lysa dan Arjuna. Isteri salah satu anggota dewan itu ketakutan, tapi tetap berusaha untuk tegar.
Sedang Sandara, sibuk menyisir sekitar kediaman Ivan seperti ingin mencari sesuatu seraya melemparkan gas halusinasi di tiap tempat yang ia lewati.
"Akan kuseret dia dan kubawa pada Miles. Cassie menjadi korban karena keegoisan mama," tegasnya dengan pedang Silent Blue dalam genggaman.
"Kauingin menukar ibumu dengan Cassie? Sepadan?"
"Ya, sangat sepadan," jawab Jonathan bengis saat Ivan sudah berdiri tepat di hadapannya. Tinggi Ivan dan Jonathan sudah hampir sama.
Ivan mengangguk pelan dan tiba-tiba saja, DUAKKK!
"Arghhh!"
"Kaupikir bisa menyeret Vesper dengan kemampuanmu yang sekarang? Jangan membuatku tertawa, Jonathan!" teriak Ivan lantang dengan bahasa isyarat pergerakan kuat dan penuh hentakan.
Wajah Jonathan dihantam dengan dahi kakak dari Erik Benedict tersebut hingga pemuda itu terhuyung.
Ivan dengan sigap menangkap rambut Jonathan dan menjambaknya. Seketika, Jonathan mengayunkan pedangnya, siap untuk menyabet tubuh Ivan.
"IVAN!" teriak Sherly lantang dengan mata melotot.
"Erghh!" erang Jonathan saat Ivan berhasil menahan sabetan pedang itu dengan tangan kirinya. Ivan memegang pergelangan tangan Jonathan kuat, dan keduanya kini beradu kekuatan.
"Arghh! Aku tak akan kalah darimu!" teriaknya lantang dan kini, Jonathan menggunakan kaki kirinya untuk menendang pinggul Ivan dengan kuat.
DUAKK!
"Emph!"
SRETT!!
"IVAN!" teriak Sherly untuk kesekian kalinya karena kali ini serangan Jonathan mengenai pinggul atas Ivan. Kemeja biru yang Ivan kenakan tersayat dengan luka robek di kulit. "Jonathan hentikan!" teriak Sherly marah.
"Jangan ikut campur!" teriak Lysa. PLAK!
"Agh!"
Mata Ivan melebar saat melihat isterinya ditampar oleh Lysa dan mulutnya disumpal. Ivan geram dan kali ini membalas serangan Jonathan.
"Hah?!" kejut Jonathan saat Ivan melepaskan genggaman tangan di pergelangan tangan dan rambutnya.
Ivan mencengkeram kuat baju Jonathan dan melemparkan tubuh pemuda itu jauh ke hadapan isterinya.
BRUKK!!
"Aggg!" rintih Jonathan saat ia jatuh di lantai dengan keras.
Ivan berjalan dengan napas memburu mendatangi tiga anak Vesper terlihat begitu marah.
__ADS_1
Terlebih, setelah para Black Armys yang menjaga kediamannya tewas dibunuh oleh anak-anak Vesper hingga mayat mereka bergelimpangan di tiap sudut ruangan. Amarah Ivan memuncak, apalagi isterinya juga disakiti.
"Akan kuberi kalian pelajaran! Kalian lebih buruk dari semua pengacau yang mencoba untuk membunuhku!" teriak Ivan marah kembali menggerakkan tangannya dengan bahasa isyarat.
Lysa dan Arjuna saling memandang. Keduanya berlari bersamaan untuk melawan Ivan. Pria bertubuh besar itu tetap melangkah dengan mantap menerima tantangan dua juniornya itu.
"Harghhh!" erang Lysa dan Arjuna dengan pedang Silent Blue dalam genggaman tangan, siap menebas keturunan Benedict tersebut.
Jonathan yang masih tengkurap di atas lantai segera bangkit dan kini mengarahkan ujung pedangnya ke leher samping Sherly sebagai ancaman. Wanita itu menangis dan tak bisa bicara lagi.
"Aku masih membencimu. Sampai kapanpun, kau tak pantas menjadi anggota keluarga Benedict," ucap Jonathan bengis di hadapan wanita berambut pirang tersebut.
Sherly hanya bisa menangis dan tak mampu melawan. Ivan berusaha untuk menjatuhkan dua orang itu.
Sayangnya, Ivan melawan dengan tangan kosong. Arjuna dan Lysa mampu bekerja sama dengan baik.
Ivan kewalahan dan mulai mengerang tiap sayatan pedang tajam itu mengenai tubuhnya. Luka robekan dengan darah segar mulai merembes dan memberikan noda merah berbau anyir.
SRETT! BRUKK!!
"Errghhh!" erang Ivan saat sabetan pedang dari Lysa tepat mengenai dadanya sehingga membentuk garis mendatar.
Arjuna menambahnya dengan sabetan vertikal dari perut sampai dada dan hampir mengenai tenggorokannya. Ivan tumbang dengan dada membentuk salib.
Napas Lysa dan Arjuna terengah. Arjuna mendatangi Ivan dan menginjak punggung tangan kanannya saat pria itu merayap untuk mendekati sang isteri yang kini diancam oleh Jonathan.
"Di mana, Ibuku?" tanya Arjuna mengarahkan ujung pedangnya di atas punggung Ivan.
Pria itu menggeleng dengan wajah sudah pucat karena menahan sakit di sekujur tubuhnya. SRETTT!!
"Errghh!" erang Ivan saat Arjuna menorehkan luka di punggung pria itu hingga pakaiannya robek.
Ivan memberontak, tapi Lysa ikut menginjak tangan kiri Ivan sehingga pria itu tak berdaya saat menerima siksaannya.
Jonathan seperti iba dengan kondisi ayah angkatnya. Ia memejamkan mata seraya memalingkan wajah.
"Keras kepala. Pantas saja paman BinBin memotong lidahmu. Haruskah kulakukan hal yang sama dengan memotong bagian lainnya?" tanya Arjuna dengan senyum iblis.
"Emphhh! Errghh!" erang Sherly menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Wanita itu nekat berdiri dari kursi untuk menolong suaminya. Jonathan terkejut karena Sherly berani kabur padahal kedua tangannya diikat di depan tubuhnya.
Sherly berlari mendatangi Ivan dengan air mata membanjiri wajah saat ia melihat bersiap untuk menyabetkan pedangnya lagi di punggung suaminya.
Mata Ivan melebar. Ia berteriak, tapi suaranya tertahan karena ia tak bisa bicara. Lysa dan Arjuna terkejut melihat kedatangan Sherly, tapi tiba-tiba, DOR!
"ARGH!"
BRUKK!
Mata semua orang terbelalak saat melihat Sherly ambruk setelah mendapatkan sebuah peluru yang bersangkar di bahu belakangnya. Sherly jatuh ke lantai dengan keras.
Jonathan dan lainnya langsung menangkap sosok Sandara yang berdiri di kejauhan mengarahkan pistol ke tubuh Sherly seraya menenteng sebuah koper hitam.
"Tak ada petunjuk. Kita pergi," tegasnya.
Jonathan terlihat bingung saat melihat Sherly merayap mendatangi Ivan yang masih tengkurap di lantai dengan susah payah.
"Ivan, Ivan," panggil Sherly dengan kening berkerut menahan sakit di bahunya dan dua tangan masih terikat.
Arjuna dan Lysa saling memandang hingga akhirnya mereka memutuskan pergi dari tempat itu.
Jonathan berdiri diam melihat Sherly dan Ivan berhasil menggapai satu sama lain dengan tangisan.
"Jonathan!" panggil Arjuna, dan pemuda itu segera berpaling pergi meninggalkan mansion mewah tersebut.
__ADS_1
"Siapa selanjutnya?" tanya Lysa dengan wajah dingin saat Jonathan mengemudikan mobil SUV menuju ke hanggar pesawat.
"Sepertinya semua anggota dewan dalam jajaran 13 Demon Heads tak tahu keberadaan Vesper. Mungkin ini sengaja dilakukan agar saat mereka didatangi Miles, militer, atau siapapun penjahatnya, mereka tak memiliki informasi," tegas Sandara yang duduk di belakang bersama Arjuna.
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Lysa menatap Sandara tajam dari bangku depan.
"Temukan bodyguard mama. Mereka tahu di mana Vesper berada," jawabnya serius.
"Nathan tahu harus pergi ke mana," jawab Jonathan mantap dan semakin kencang melaju mobilnya.
Rombongan itu pergi meninggalkan Inggris. Kali ini, sasaran mereka adalah Kastil Borka di Rusia.
Anak-anak Vesper yang sudah mengetahui seluk-beluk Kastil Borka, tak mengalami kendala ketika harus menyusup di tempat yang dijaga ketat oleh puluhan Black Armys bersenjata.
"Lihat. Pasti mama ada di sini. Mereka bersiaga. Pasti orang-orang itu telah menunggu kita," tegas Jonathan.
"Hem, aku setuju. Oleh karena itu, ini tantangan buat kita. Apakah bisa menerobos masuk dan tak terbunuh?" sahut Lysa dengan satu alis terangkat.
"Boleh juga. Kita lihat, seberapa hebat orang-orang Vesper ini," tegas Arjuna.
"Aku akan mulai duluan," ucap Sandara seraya menyiapkan senjatanya.
Lysa, Jonathan dan Arjuna mengintai di balik rimbunnya pepohonan di luar area sensor kastil.
Mereka sudah memposisikan diri di titik-titik yang dirasa mampu untuk melumpuhkan para Black Armys penjaga.
Sandara membidik wilayah Utara. Gadis cantik itu menajamkan pandangannya dan dengan mantap, KLIK! SWOOSH!!
Namun, CamGun yang diaktifkan dan menangkap pergerakan dari atas langit langsung bergerak dan membidik. Seketika, DODODOOR!!
"CamGun aktif! Sial!" gerutu Lysa ketika lontaran Mini Domino yang diluncurkan oleh Sandara berhasil tertangkap mata CamGun.
DODODOOR! BLUARR!!
Bola-bola Mini Domino meledak hebat di udara, tapi getarannya membuat orang-orang di bawahnya cukup merasakan dampak itu bagaikan gempa bumi.
TET! TET! TET!
Mata keempat anak Vesper melebar saat mendengar suara alarm peringatan di kastil milik sang ibu yang dikenal memiliki sistem persenjataan terkuat.
Eiji yang berada di Pusat Komando dengan sigap memindai sekitar lokasi dari tampilan satelit GIGA.
"Ah, kalian muncul juga. Hem, ingin melawanku ya? Silakan saja. Kita coba, sejauh mana kalian bisa masuk ke dalam. Anak-anak nakal," ucap Eiji langsung bersemangat dengan tusuk gigi ia gigit di ujung bibirnya.
Para Black Armys yang berjaga di menara dengan cekatan melakukan peneropongan untuk melihat penyerang yang berusaha untuk memasuki rumah tuannya.
"Kak Lysa!" panggil Sandara saat ia bergegas turun dari atas pohon ketika melihat pergerakan dari menara saat salah satu Black Armys mencari keberadaannya.
Lysa terlihat fokus pada bidikannya. Ia menyiapkan empat sekaligus panah dengan kemampuan elektromagnetik ciptaan BinBin.
SHOOT!
"CamGun dari arah Barat bergerak!" seru Jonathan saat melihat benda itu menangkap panah milik Lysa.
"Alihkan! Alihkan!" seru Arjuna dari tempatnya mengintai.
Segera, ketiga anak Vesper menyiapkan serangan mereka dengan persenjataan dari Vesper Industries, milik ibu mereka. Lontaran demi lontaran terus di arahkan ke kastil megah itu.
Namun, tak ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh bahkan dinding kastil tersebut. Eiji bertepuk tangan terlihat begitu gembira karena usaha empat anak Vesper gagal.
"Heh, amatiran," ledek Eiji yang tak lagi tegang dan kini menikmati jus semangkanya dengan dua kaki ia naikkan di atas meja samping komputer.
***
kayaknya bakal kena tanda 21+ sampai tamat nanti. kwkwkw tapi bukan adegan ranjang ya melainkan perang. menuju end memang begini alurnya, man-teman. dibilang dari awal, siapin mental, masih pakai diingetin loh. jangan lupa cek IG lele karena ada info giveaway di sana. jangan sampai keliwatan.
__ADS_1
Makasih tipsnya, lele padamu😘 sepertinya begitu brankas koin di 4YM abis ni novel tamat😁 jangan lupa vote vocernya keburu angus😆