4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Keunikan Cassie


__ADS_3

Vesper mengajak Tessa ke kamar Sierra. Calon pengantin Arjuna terlihat tegang saat Vesper menutup pintu dan menunjukkan wajah serius.


"Katakan, siapa Cassie? Dia ancaman atau bukan?" tanya Vesper to the point.


"Dia bukan ancaman. Dia dulu bisa dibilang, pembantu umum semua puteri No Face. Maksudnya, mm ... pelayan sekaligus penjaga."


Kening Vesper berkerut. "Gadis itu aneh."


Tessa tersenyum. "Aku cukup mengenal Cassie. Dia anak yang baik, lugu, dan pintar. Hanya saja, yang aku khawatirkan setelah mendengar cerita singkat dari Merry dan Julia saat bertemu mereka di bawah, aku tak yakin jika Cassie paham dengan maksud menjadi kekasih Jonathan," ucapnya ragu.


"Maksudmu?"


"Cassie tak pernah memiliki pacar sebelumnya. Ia juga tak dijodohkan dengan lelaki manapun. Bahkan aku cukup yakin, jika Jonathan mengajaknya menikah, Cassie tak paham maksud dari pernikahan," jawabnya menekankan.


Vesper memejamkan matanya sejenak. Tessa meringis melihat calon mertuanya seperti dibuat pusing dengan kehadiran orang baru di kehidupannya.


"Cassie di pihak Anda, Nyonya Vesper. Dia meninggalkan The Circle dan diburu selama ini. Kabar mengatakan ia tewas, tapi sepertinya tidak demikian. Dia sangat tangguh, dan dia bisa menjadi aset berharga untukmu," sambung Tessa dengan mata berbinar.


"Aset berharga?" Tessa mengangguk mantap.


"Venelope takut padanya. Begitupula Sierra, Tobias, para Pion, Smiley dan ... agh, intinya, semua orang dalam jajaran The Circle. Jangan biarkan Cassie pergi," ucapnya menegaskan.


"What? Benarkah?" pekik Vesper tak percaya.


"Hanya saja, Cassie sulit untuk dimengerti. Hidupnya hanya untuk menjalankan misi. Aku tak tahu bagaimana dia bisa bertahan selama ini karena tak memiliki misi semenjak meninggalkan The Circle. Aku khawatir, jika Cassie bekerja pada orang lain yang berhasil mengendalikannya," jawabnya cemas.


Mata Vesper melebar. Sang Ratu segera keluar dari kamar dan terkejut saat Verda bertolak pinggang terlihat kesal akan sesuatu, dan Cassie tak ada di sana.


"Mana dia?" tanya Vesper panik.


Verda menunjuk sebuah pintu dengan wajah sebal. Vesper dan Tessa mendatangi arah telunjuk Verda berujung.


"Cassie menagih janji kepada Jonathan sebagai kekasih. Mereka mandi bersama."


"What?!" pekik Vesper dan Tessa melotot.


Di kamar mandi.


Senyum Jonathan merekah saat memandangi tubuh indah Cassie sedang terguyur air hangat dari shower.


Namun, senyum Jonathan meredup ketika Cassie telah selesai mandi dan membungkus tubuhnya dengan handuk.


"Kok udah?" Cassie diam menatap Jonathan dengan kedipan mata. "Pantes mandinya cepet banget. Kamu gak pakai sabun, gak gosok gigi, bahkan gak keramas. Ih, jorok!" pekiknya dengan mata melotot.


Cassie masih diam dengan handuk melilit tubuhnya. Jonathan yang sudah tak berpakaian, segera beranjak dari dudukan toilet dan mendatangi meja wastafel.


"Pakai ini. Punya si itu sih, tapi gak papa. Tar kita beli yang cocok sama selera kamu. Jangan jorok ah, Nathan suka cewek wangi," ucapnya menggerutu.


Cassie menerima benda berbentuk silinder berwarna merah muda dengan gambar stroberi pada bungkusnya. Cassie terlihat serius membaca tulisan dalam kemasan itu. Jonathan menatap Cassie keheranan.


Cassie melepaskan kembali handuknya. Ia melakukan semua instruksi yang dituliskan dalam kemasan dengan kaku.


"Bukan gitu keramasnya. Aduh," keluhnya lalu mendatangi Cassie dan mencuci rambutnya.


Cassie berdiri diam dan sesekali mengelap wajahnya yang terkena aliran sabun saat Jonathan menggosok rambutnya.

__ADS_1


"Nah, abis ini dibilas terus pakai conditioner," ucap Jonathan mengarahkan. Cassie mengangguk seraya membaca tulisan dari kemasan conditioner yang diberikan Jonathan.


"Bukan begini maksudnya mandi bersama. Ini mah, Nathan mandiin bayi gede. Ya ampun," ucapnya ngedumel seraya membilas rambut Cassie yang tertumpuk sabun.


Cassie kembali membaca semua tulisan dalam kemasan produk perawatan tubuh dengan seksama satu persatu.


Jonathan terlihat lelah dan kembali duduk ke toilet. Ia melihat Cassie sedang mengusap wajahnya dengan busa sabun sesuai instruksi.


Jonathan mengamati gerak-gerik Cassie seksama terlihat serius. Gairahnya sirna, dan digantikan dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Aku akan memandikanmu," ucap Cassie saat ia sudah selesai melakukan semua petunjuk aturan dari kemasan.


"Boleh," jawabnya senang seraya mendekati sang kekasih.


Senyum Jonathan merekah saat Cassie mencuci rambutnya dengan sampo yang sama. Menggosok gigi dan menyabuninya.


"Sudah selesai," ucap Cassie dengan wajah datar.


"Jalan-jalan yuk abis ini. Nonton bioskop, belanja, makan di luar. Mau 'kan? Di sini rame banget, berisik," ajaknya dengan senyum terkembang.


"Aku ... tak suka keramaian. Aku lebih suka di dalam rumah," jawabnya dengan tangan masih digenggam Jonathan erat.


"Di rumah bosen. Di rumah mau ngapain?" sahut Jonathan tak sepemikiran.


"Aku mau bercinta lagi. Rasanya enak. Banyak gerakan yang belum kita pelajari dari video kemarin."


Senyum Jonathan terkembang, ia mengangguk senang. Jonathan membungkus tubuh mereka berdua dengan sebuah handuk besar.


Cassie terlihat kesulitan berjalan di depan, tapi Jonathan menganggap hal itu menyenangkan dengan memeluk Cassie dari belakang.


"Banyak pertanyaan yang harus kau jawab, Cassie," tegas Han.


"Baiklah, tapi setelah aku dan Jonathan bercinta. Jangan merusak jadwal yang sudah dibuat oleh otakku, Tuan Kim Han Bong."


"What?!" pekik Arjuna kaget.


"Hallo, Kim Arjuna, Tuan Kai, Tuan Han. Perkenalkan, aku Casandra Welmesy Flame. Panggil saja Cassie," ucapnya seraya membungkuk, tapi hal itu malah membuat handuknya melorot.


Jonathan dengan cepat memutar tubuh kekasihnya dan kini menghadapkan punggungnya sebagai tameng.


"Jangan ganggu ah. Pestanya di bawah. Nanti Nathan telpon kalau udah selesai," ucapnya menggerutu dengan tolehan sedikit.


"Selesai ngapain?" tanya Arjuna heran.


"Mau tau aja sih. Ada Tessa juga. Udah, pergi sana!" teriaknya marah dan masih memeluk Cassie erat.


Orang-orang itu terkejut karena diusir. Jonathan melotot tajam menunjukkan keseriusannya. Pada akhirnya, orang-orang itu menyerah dan keluar kamar.


"Bawain makanan yang banyak! Nathan mau seharian di kamar sama Cassie!" ucapnya lantang dengan kepala terlihat di celah pintu yang terbuka sedikit.


Arjuna mendesis terlihat kesal karena diperintah. Vesper akhirnya pasrah dan kembali ke pesta bersama dua suaminya.


Selama pesta berlangsung, Arjuna terlihat gelisah akan sesuatu dan Tessa menyadarinya.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Tessa yang kini telah berani memanggil Arjuna dengan panggilan mesra usai mereka resmi menjadi suami isteri.

__ADS_1


"Aku sungguh tak mengerti jalan pikiran Jonathan. Dia baru saja patah hati karena Sierra. Tiba-tiba, sudah mendapat kekasih baru dan dengan mudahnya jatuh cinta," jawabnya geleng-geleng kepala seraya bertolak pinggang.


Tessa tersenyum sembari mendekat dan merangkul lengan kekasih hatinya. Arjuna melirik Tessa tajam.


"Kurasa itu bagus. Kau harus menirunya."


"Bagus apanya?" tanya Arjuna dengan kening berkerut keheranan.


"Kau juga harus melupakan Naomi. Awas saja jika sepintas saja kau berpikir untuk kembali padanya. Aku akan mengulitimu hidup-hidup," tegasnya mengancam.


Arjuna tersenyum miring. "Kau cemburu?"


"Tentu saja. Hal seperti itu masih kau tanyakan. Dasar tidak peka!" gertaknya kesal. Arjuna terkejut melihat Tessa yang terlihat serius dengan ancamannya.


Namun, Arjuna memilih berpaling dan mengabaikan. Ia mengajak Tessa menemui para tamu untuk bersalaman dan mengobrol hal-hal pantas selama pernikahan.


Sedang di sisi lain.


Kemunculan Cassie di dengar oleh Tobias usai mendapat laporan dari para Pion yang menghadiri pesta berikut Click and Clack.


Mereka terhubung dalam video call. Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Cassie? Gadis aneh anak Miles masih hidup?!" pekik Tobias dengan mata melotot.


"Yes. Itu benar. Dia datang. Dia menanyakan di mana Sierra. Hanya saja, kami bilang tak tahu. Namun aku yakin, jika kau tahu di mana dia berada, Tobias," jawab Clack serius.


Tobias mengangguk. "Dia ada di rumahnya. Salah satu penjaga di sana melaporkan padaku. Sierra mengajak Venelope dan lainnya berkumpul. Aku merasa hal buruk akan terjadi setelah kembalinya Sierra," ucapnya terlihat gugup memandang ke arah lain.


"Lalu sekarang bagaimana, Toby?" tanya Pion Dexter cemas.


"Cari tahu tujuannya mencari Sierra. Tanyakan misi apa yang sedang ia jalankan. Korek semua informasi darinya, jangan sampai ada yang terlewat," tegas Tobias melotot tajam.


"Kami? Menanyainya? Kau gila? Gadis itu tak takut mati. Ia bahkan bisa tahu jika kita memiliki maksud terselubung dari pertanyaan itu. Dia bisa membaca gerak-gerik kita, Tobias," jawab Pion Darwin menekankan.


"Cassie seperti manusia tak memiliki jiwa. Kita bisa dibunuhnya kapan pun ia melihat kesempatan itu," tegas Pion Darion melotot.


"Bahkan, aku cukup yakin, begitu dia melihat kami, dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gadis itu mengerikan," sahut Pion Damian menambahkan.


Para lelaki itu terlihat bingung.


"Buntuti dia," sambung Tobias.


"Percuma. Dia akan tahu," sahut Pion Daido terlihat kesal.


"Ah, aku tahu. Jonathan," timpal Click.


"Ya, itu benar. Cassie takluk dengannya. Minta Jonathan mengorek informasi darinya. Pasti Cassie akan mengatakan semuanya," sahut Pion Diego.


Tobias tersenyum miring dengan anggukan tanda setuju. Video call itupun diputus. Diam-diam, Lysa mendengarkan semuanya dari balik pintu kamar mandi ketika ia usai membersihkan diri.


"Cassie? Siapa dia? Kenapa mereka seperti takut dengannya?" gumannya lirih menerka-nerka.


***


tengkiyuw tipsnya😍 ngetik pake hp pegel uyy😵 jangan lupa boom like audio book lele dan singgah ke SIMULATION ya. lele padamu❤️

__ADS_1



__ADS_2