4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
CUBA*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



------ back to Story :


Sesampainya di Cuba, Tobias tak langsung mengajak Lysa mendatangi kediamannya. Pion Dakota dan Daido pergi terlebih dahulu untuk memastikan tempat tersebut aman sebelum di tempati oleh majikannya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Toby, aku bosan. Ajak aku berjalan-jalan. Aku belum pernah ke Cuba sebelumnya," rengek Lysa manja yang mulai terbiasa melakukan acting-nya.


"Hem, ada salon dekat sini. Kita ke sana saja sembari menunggu kabar dari Dakota dan Daido," jawab Tobias dengan senyum merekah.


Lysa mengangguk senang. Tobias memberikan Lysa topi, kacamata hitam, jas panjang dan masker penutup wajah, seperti menyembunyikannya dari siapapun atau apapun yang berusaha mengambil sang isteri dari sisinya. Tobias juga melakukan hal demikian meski tanpa kacamata.


Lysa bisa merasakan genggaman erat tangan Tobias di tangannya sejak keluar dari yacht. Mata Tobias memindai sekitar, mengawasi dan terlihat waspada dalam tiap langkahnya.


"Di sana," tunjuk Tobias ke sebuah salon yang baru saja buka di pagi itu.


Mereka bicara bahasa Spanyol.


"Holla. ¿Hay algo en lo que pueda ayudarte?" tanya seorang petugas salon saat mendapati dua pelanggan masuk ke salonnya.


(Halo. Apakah ada yang bisa saya bantu?)


"Si. mi esposa quiere un corte de pelo," jawab Tobias dengan wajah datar.


(Isteri saya ingin potong rambut).


Petugas salon itu menyambut keduanya dengan ramah. Lysa sedikit kagum akan kemampuan bahasa Tobias yang menguasai cukup banyak.


Lysa duduk di sebuah bangku yang telah disediakan. Petugas wanita itu dengan sigap memasangkan kain untuk melindungi tubuh pelanggannya dari serabut potongan rambut.


Lysa terlihat bingung dalam menjawab. Ia kecewa karena tak bisa bicara bahasa Spanyol. Ia sangat berharap memiliki alat translator buatan Eiji agar tak kesulitan dalam berkomunikasi.


Lysa diajak bicara oleh petugas itu, tapi Lysa terlihat gugup. Ia berusaha menjawab dengan bahasa Inggris dan ternyata, petugas itu paham.


"Ah, oke oke," jawabnya kaku.


Lysa terlihat takut hasil potongan nanti tak sesuai harapannya. Ia melirik ke arah Tobias yang serius membaca majalah sembari menunggunya mengubah penampilan.


"Aku lagi-lagi terperangkap bersama Tobias dalam keadaan hamil. Namun, entah kenapa aku tak ingin menggugurkan kandunganku. Apa aku mencintainya? Oh, ini tidak mungkin. Aku yakin jika yang kurasakan ini karena ingin balas dendam pada Javier. Ya, dia menyakiti hatiku. Aku akan membalasnya," ucap Lysa dalam hati menatap dirinya tajam di cermin.

__ADS_1


"Mam, finish," ucap petugas salon itu sembari melepaskan sarung penutup.


Lysa terkejut. Ia sampai tak menyadari karena melamun memikirkan dirinya. Saat Lysa menoleh dan mengucapkan terima kasih pada petugas salon, ia kembali tersentak saat Tobias memeluknya dari belakang.


Jantung Lysa berdebar melihat sorot tajam mata Tobias di cermin yang menatapnya lekat.


"Kau cantik sekali, Sayang. Aku menyukai penampilan barumu. Hem, ini harus dirayakan," bisiknya dengan masker masih menutupi wajah.


Lysa tersenyum lebar sembari bergaya dengan memegangi rambut barunya. Ia sependapat dengan Tobias. Ia terlihat seperti wanita dewasa atau lebih tepatnya seorang Ibu.


Lysa kembali memakai penyamarannya saat keluar dari salon. Ia merangkul lengan Tobias mesra.


Toby juga merangkul pinggul Lysa. Keduanya terlihat begitu bahagia saat menyusuri koridor dengan bangunan berwarna-warni menyejukkan mata.


Hingga Tobias mendatangi sebuah mobil sedan kuno yang terlihat lucu dengan warna toska. Lysa melongok dan mendapati Pion Daido dan Dakota berada di bangku depan.


"Aman," ucap Dakota dari bangku kemudi.


Tobias membukakan pintu untuk isterinya. Lysa segera masuk ke dalam dan duduk di bangku tengah.


Namun, saat Lysa akan menutup jendela yang terbuka setengah, ia melihat dari seberang jalan, sosok lelaki yang dikenalinya. Mata Lysa melebar. Ia melepas kacamata untuk memastikan penglihatannya.


"Hakim?" ucapnya lirih.


"Ada apa, Sayang?" tanya Tobias.


"Nothing. Tempat ini sangat indah. Apakah ... rumah kita juga berwarna-warni seperti ini?" tanya Lysa menghalangi jendela agar Tobias tak melihat Hakim di sana.


"Sayangnya tidak. Namun, kita bisa mengecetnya. Kita akan menghabiskan waktu dengan bertukang," jawab Tobias santai dan senyum Lysa langsung hilang.


"What? Maksudmu ... kita mengecet rumah?" tanya Lysa bingung.


Tobias mengangguk dan mencium bibir isterinya sekilas. Lysa merasakan jika hari ini akan sangat melelahkan untuknya.


"Dia lagi-lagi menjadikanku pembantu. Aku yakin, jika aku akan diminta untuk memasak, membersihkan rumah dan tadi apa katanya? Menjadi tukang? Seperti tukang bangunan begitu? Ya Allah, suamiku sungguh gila," guman Lysa lirih.


Lysa menggerutu meski suaranya tak terdengar. Ia cemberut sepanjang perjalanan, tapi Tobias tak menyadarinya, sedang dua pion melihat ekspresi sebal isteri tawanan bosnya itu.


"Kita sudah sampai," ucap Dakota dan mulut Lysa menganga seketika.


"Ya Allah, kau sungguh mempermainkanku," ucap Lysa lesu langsung memejamkan mata.


Tobias menatap Lysa keheranan. Lysa sudah lemas saat turun dari mobil. Rumah Tobias di Cuba cukup besar dan luas.


Lysa berjalan dengan lunglai saat memasuki pekarangan. Ia tak menyadari jika gelagatnya dilihat oleh dua Pion termasuk Tobias.

__ADS_1


Dua Pion berbisik kepada bos besar mereka dan Tobias tersenyum miring.


"Kau bisa membuka pintu itu, Sayang? Atau kau ingin mendobraknya?!" tanya Tobias lantang dari tempatnya berdiri.


Lysa terkejut saat mendapati dirinya berdiri sendirian di depan teras dengan tiga lelaki masih berdiri di samping mobil.


Lysa terlihat malu. Ia memalingkan wajahnya dengan pandangan tak menentu.


"Oh! Lihat tingkahnya. Sungguh menggemaskan! Aku sangat mencintainya," ucap Tobias terlihat begitu gembira dan malah melompat girang ke arah sang isteri.


Tobias membuka pintu rumahnya dengan sistem keamanan berupa pemindai sidik jari menggunakan kesepuluh jarinya.


Lysa terlihat bahagia, senyumnya merekah. Tobias membuka pintu rumah untuk wanita pujaannya.



"Wow!" ucap Lysa kagum karena isi rumah itu terlihat begitu mewah dan megah, lebih hebat ketimbang tampilan luar.


Pion Dakota menutup gerbang sembari melihat sekitar untuk memastikan keadaan. Sedang Pion Daido, memarkirkan mobil ke basement.


Pion Dakota menutup pintu rumah dan membuat kediaman itu kembali sepi seperti tak berpenghuni.


Tobias mengajak Lysa berkeliling rumahnya. Terlihat, Lysa sangat nyaman berada di sana.


Entah kenapa, Lysa seperti tak takut lagi pada Tobias selama ia bisa berakting layaknya wanita tak tahu aturan, bersikap manja dan gila seperti suaminya.


Lysa bahkan melompat-lompat di atas kasur dengan wajah gembira. Tobias ikut melompat dan mereka berdua saling memukul dengan bantal hingga Lysa ambruk karena pukulan Tobias tepat mengenai wajahnya.


"Kau jahat sekali!" teriak Lysa marah dan Tobias malah menciumi wajah sang isteri dengan beringas.


Lysa tertawa terbahak. Ia seakan lupa dengan kebencian dan amarahnya selama ini pada pria bertato itu. Keduanya terlentang di atas kasur dengan nafas tersengal setelah lelah bermain.


"Jadi ... kita akan tinggal di sini sampai bayi kita lahir?" tanya Lysa memastikan.


"Hem. Hanya saja, saat natal nanti, kita akan mengadakan pesta pernikahan. Kita akan melakukannya di Paris, rumah Darwin. Aku akan mengundang semua orang," jawabnya senang.


Lysa mengangguk dan memeluk Tobias erat. Namun perlahan, Lysa mulai menyadari jika acting-nya sedikit berlebihan.


"Kenapa aku jadi sering sekali memeluknya bahkan membalas ciumannya? Oh, aku sungguh sudah tak waras. Psikopat ini meracuni pikiranku," batin Lysa keheranan saat ia memeluk Tobias dan pria itu balas memeluknya sembari menciumi kepalanya dengan rakus.


***


Makasih tips koinnya😆


jangan lupa like, komen, vote vocer, vote poin dan koin ya. Itu jumlah like njompang loh.

__ADS_1


Lele padamu💋💋💋



__ADS_2