
Arjuna terlihat serius dan marah usai mendengar pengakuan Trio Bali. Arjuna melihat Toras yang duduk di sebuah bangku dengan balutan di kepala karena mengalami cidera akibat aksi tiga kawannya yang mengamuk saat mencoba melumpuhkannya.
"Jadi begitu ya. Hem, kolektor. Apa Lysa dan Jonathan tahu hal ini?" tanya Arjuna menyipitkan mata ke arah Trio Bali.
"Sepertinya belum," jawab Wayan pasrah.
"Oke. Terima kasih informasinya. Aku akan menunggu Afro sampai ia siuman dan bisa dijenguk. Aku ingin memastikan keadaannya. Ia harus cepat dipindahkan dari Sudan. Tempat ini tak aman untuknya," ucap Arjuna dan orang-orang di depannya mengangguk setuju.
"Kalian bertiga pergilah ke Turki seperti kata Toras. Pastikan Toras percaya dengan kalian bertiga. Aku yakin, jika Sandara akan pergi ke Turki. Malah, jika boleh kusarankan, kalian berpura-puralah memihak padanya dalam aksi yang akan ia lakukan. Kalian harus mengusut agar tahu lebih lanjut dengan strategi Sandara dari semua persiapan yang ia rencanakan."
"Kalau itu, Nyoman setuju. Om merasa jika Sandara sudah keterlaluan. Kalau begitu, tolong jaga Mas Afro sampai dia pulih. Kali ini, kami percaya padamu. Jangan kecewakan kami seperti yang sudah-sudah," tegas Wayan.
Arjuna diam tak menjawab, tapi mengangguk pelan. Trio Bali akhirnya berpamitan dengan Toras bersama mereka.
Arjuna melihat Trio Bali dan pemimpin Red Ribbon pergi meninggalkan rumah sakit mengendarai mobil mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Bagaimana? Apakah pelacaknya aktif?" tanya Arjuna menelepon seseorang dari ponselnya.
"Yes, Boss. Aku akan mengikuti mereka," jawab pria itu serius.
"Terus kabari aku, Tulio. Terima kasih," ucapnya lalu menutup panggilan dengan embusan napas panjang.
"Sekarang bagaimana, Bos?" tanya Max menatap Arjuna yang tampak sedih.
"Minta Tessa mengirimkan 10 Bala Kurawa-ku ke tempat ini untuk mengamankan lokasi. Aku akan ke bagian administrasi mengurus kepindahan Afro nantinya," jawab Arjuna serius.
Max segera menghubungi isteri dari Arjuna untuk memproses pesanannya.
Tentu saja, Tessa yang diberikan kabar oleh Max tentang kondisi Afro terlihat sedih. Bagaimanapun, Afro pernah menjadi partnernya saat mereka berdua dulu bekerjasama dalam naungan No Face.
Tessa mengirimkan Bala Kurawa seperti permintaan Arjuna sebagai balas jasa atas pengabdian Afro padanya dulu.
Tak terasa, seminggu telah berlalu. Arjuna terlihat sedih saat kawan karibnya harus kehilangan salah satu kakinya.
Afro mengalami patah tulang parah di tulang kering. Serpihan tulangnya mengganggu fungsi syaraf bahkan merobek dagingnya.
Kaki kanan Afro terpaksa diamputasi dari bawah lutut. Afro juga mengalami patah tulang di pundak sehingga ia tak bisa menggerakkan kedua tangannya.
Sebuah keajaiban ia masih bisa hidup dan bertahan meski tulang belakangnya juga mengalami cidera, tapi tak membuatnya lumpuh.
Hari itu, Afro mulai sadar, walaupun belum bisa berkomunikasi dan belum boleh dijenguk karena dokter harus melakukan observasi lanjutan.
__ADS_1
Afro masih dalam keadaan lemah dan belum menyadari jika ia kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
Arjuna dan para dokter telah menyiapkan diri saat mereka harus jujur kepada Afro ketika pemuda itu nanti telah sadar sepenuhnya dan menerima kenyataan pahit di hidupnya.
Arjuna menunggu dengan sabar beserta Bala Kurawa menjaga sekitar rumah sakit yang berpura-pura menjadi sipil.
Max dan Simon selalu memberikan laporan pada Arjuna mengenai pergerakan Trio Bali di Turki hasil intaian Tulio.
Tanpa sepengetahuan Arjuna dan lainnya, Tessa memberikan kabar tersebut pada Sierra dan Venelope. Tentu saja, dua orang itu terkejut karena tak menyangka jika Afro ikut diserang.
Sierra dengan sigap mendatangi Jonathan yang akhirnya tahu jika salah satu tempat bisnisnya diserang Miles usai ia mendapatkan keluhan dari salah satu customer yang mengatakan jika pesanannya tak diproses oleh karyawan di penyewaan yacht miliknya melalui email perusahaan.
Jonathan segera terbang dengan The Circle pilihannya menuju ke Amerika, Louisiana. Tujuan mereka mendatangi usaha milik Jonathan bernama Blue Mermaid Hotel dan Cafe.
Sierra yang telah tiba terlebih dahulu dengan pasukan The Circle yang menjaganya, telah merampungkan keluhan dari para pelanggan.
Kecurigaan dari pelaku bisnis di sekitar karena tempat itu dibuka, tapi tak ada orang di dalamnya seperti ditinggalkan begitu saja.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami akan tutup untuk sementara waktu. Terima kasih," ucap Sierra sopan melalui panggilan telepon usai mengirim kembali uang-uang yang telah ditransfer ke rekening perusahaan.
"Sierra?" panggil Jonathan saat mendapati kekasihnya berada di ruang kerjanya dengan laptop terbuka dan sebuah buku reservasi di samping kanan.
"Bagaimana bisa kaubaru menyadari hal ini? Apa kau tak mengecek sistem keamananmu?" tanya Sierra menyipitkan mata terlihat kesal.
Jonathan tak menjawab dan malah memalingkan muka. Sierra menutup buku lalu mengambil tasnya. Jonathan menatap Sierra saksama yang terlihat seperti siap untuk pergi.
"Pulang. Aku masih harus mengurus perusahaan dan beristirahat. Aku sedang hamil, Jonathan. Aku seharusnya tak boleh bepergian jauh. Itu tak aman untuk bayiku. Fisikku tak sekuat wanita normal lainnya. Apa aku harus mengingatkan hal itu padamu?" tanya Sierra ketus.
Jonathan tertunduk diam tak bisa menjawab. Sierra melangkah dan Jonathan baru menyadari jika perut kekasihnya mulai membesar dengan calon keturunannya berkembang di dalam sana.
Seketika, langkah Sierra terhenti saat Jonathan menghadang langkahnya dan meraih tangan kanannya.
Sierra menatap Jonathan lekat saat pemuda tampan itu memintanya duduk. Sierra mengembuskan napas panjang menurut karena enggan berdebat.
"Kita tinggal bareng aja. Sierra mau 'kan?" pinta Jonathan penuh harap.
Namun, Sierra tak menjawab saat Jonathan memintanya dengan serius.
"Jika Cassie tahu, lalu dia membunuhku dengan janin di rahimku, apa yang akan kaulakukan?" tanya Sierra menatap Jonathan tajam.
"Kita bersandiwara saja. Bilang aja, kita mabuk, gak sengaja bercinta dan tau-tau kamu hamil. Gampang 'kan?" jawabnya santai, tapi membuat Sierra langsung memejamkan mata terlihat bersabar dengan kekasihnya.
"Kaupikir Cassie akan percaya?"
__ADS_1
"Mana tahu kalau belum dicoba. Jujur, Nathan masih sayang sama Sierra. Nathan pengen temenin Sierra sampai anak kita lahir. Kalau nanti Cassie datang, ya udah mau gimana lagi. Nathan yakin kok kalau Sierra bisa menanggapi masalah kita dengan bijak," ucapnya masih menggenggam tangan Sierra erat.
"Ya, aku bisa menyikapinya dengan baik, tapi Cassie?" tegas Sierra melotot.
"Percaya sama Nathan. Gak akan Nathan biarin Cassie sakitin kamu dan bayi kita. Jadi ... tinggal sama Nathan ya, please. Nathan kesepian," jawabnya sedih.
Sierra mengembuskan napas pelan dengan anggukan. Jonathan terlihat senang dan memeluk kekasihnya erat. Sierra balas memeluk dengan senyuman.
Sampai akhir bulan, Sierra dan Jonathan tinggal di usaha legal tersebut untuk mengamankan salah satu aset miliknya seraya membahas strategi balasan.
Sierra juga meminta kepada Venelope serta Click and Clack untuk datang dan membahas serangan Miles.
"Setelah diselidiki, Miles hanya mengincar sensor buatan Eiji. Entah apa yang diinginkan oleh Miles, tapi sepertinya ia akan menggunakan alat itu untuk mengamankan wilayahnya. Selain itu, dia mengambil seluruh anak buah Jonathan seperti yang sudah-sudah," ucap Venelope usai anak buah Jonathan melakukan penyelidikan dari serangan Miles di Louisiana.
"Aku berasumsi, Miles menggunakan anak buahmu untuk membentuk pasukannya. Firasatku, dia akan mendatangi markasmu lainnya, Jonathan," ucap Clack berpendapat.
Saat Jonathan mendengarkan dengan serius, tiba-tiba saja, telepon dari markas di Lebanon mendapatkan peringatan.
Beruntung, Zaid sedang berada di lokasi usai ia mengantarkan Yena ke Bandara karena ingin mengunjungi keluarga Sia di Amerika.
"Hah! Jonathan! Sepertinya Miles yang melakukan penyerangan. Aku melihat banyak mobil membawa anak buahmu. Herannya, mereka tak melawan. Miles juga tak mengambil barang berharga, senjata, atau pun meledakkan bangunan kita. Aku merasa, Miles menggunakan gas halusinasi. Aku sempat linglung selama beberapa saat. Beruntung, aku membawa serum cadangan dan segera menyuntikkannya. Apakah kita sedang diincar?" tanya Zaid terdengar panik.
"Nathan masih selidiki, Kak. Tapi, kamu gak papa 'kan, Kak?" tanya Jonathan cemas.
"Aku baik-baik saja, tapi ... bisakah kaukirimkan orang? Black Armys ibumu sedang bertugas di pesta pernikahan sampai dua hari ke depan. Aku tak bisa menarik mereka untuk mengamankan gedung. Aku akan evakuasi sampai situasi aman. Aku akan menyusul Yena."
"Oke, aku akan kirimkan. Kak Zaid tunggu anak buah Nathan dulu baru ngungsi ya. Bisa 'kan?" pintanya dan Zaid menyanggupi.
Jonathan yang men-speaker panggilannya di dengar oleh orang-orangnya. Sierra dengan sigap menyerahkan anak buahnya untuk melindungi salah satu usaha legal Jonathan dan Zaid di Lebanon.
Jonathan terlihat geram. Satu per satu jumlah anak buahnya berkurang drastis karena ulah Miles yang menculik mereka.
Dugaan Clack tentang rencana Miles makin menguatkan kesimpulan Jonathan jika pria itu menginginkan pasukannya. Ditambah, persenjataannya juga dicuri. Jonathan menunjukkan keseriusannya.
"Miles sialan. Liat aja, akan Nathan habisi kamu. Berani-beraninya nyolong aset Nathan. Gak ada ampun," ucapnya geram.
Sierra, Venelope, Click and Clack menatap Jonathan tajam.
"Lalu, apa yang akan kaulakukan?" tanya Click penasaran.
"Nathan akan tungguin si Miles di markas yang belom dicolong olehnya. Gak peduli jika dia ayah Cassie. Nathan bakal geprek," jawabnya tegas. Ternyata, empat orang itu mengangguk setuju.
***
__ADS_1
jangan lupa vote vocer keburu angus ya. tengkiyuw tips koinnya mbak Aju❤️ Mandi dulu besok lagi upnya. kalo besok ada tipsnya bisa dobel atau triple bonus upnya. Ditunggu😘