4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kiriman Miles


__ADS_3

Malam itu, Jonathan Cassie memasang alarm portabel dengan sensor gerak di beberapa sudut ruangan.


Jonathan hanya diam melihat kekasihnya bekerja sendirian karena ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu.


"Pegang ini," pinta Cassie saat memberikan sebuah ponsel kepada kekasihnya. "Jika ada yang melewati sensor, kucing atau tikus sekali pun, maka ponsel ini akan bersuara nyaring. Berisik dan menganggu, tapi untuk saat ini, kita memerlukannya," ucap Cassie seraya menunjukkan layar ponselnya yang sudah terhubung dengan sistem detektor tersebut.


"Kamu dapat software ini dari mana?" tanya Jonathan heran.


"Ayahku yang membuatnya saat bekerja pada Madam dulu. Ayahku ... sangat pintar dalam membuat sebuah alat. Ia sering menciptakan alat-alat yang digunakan oleh para Mens untuk mewujudkan mimpi mereka. Sebagai imbalannya, ayahku mendapatkan uang yang cukup banyak, tapi ... ia tak bisa menjadi salah satu Mens. Itu karena Madam melarangnya," jawab Cassie lalu berwajah murung.


"Kenapa? Bukankah Miles juga keturunan Flame?" tanya Jonathan penasaran.


Cassie mengangguk pelan. "Dalam kepemimpinan Mens, hanya anak pertama yang dijadikan pemimpin. Sedang ayahku, adalah adik dari Darwin Flame. Sepintar atau sehebat apa pun anak kedua, tiga dan seterusnya, seperti ayahku, dia tak akan memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin. Semua itu berlaku untuk orang-orang dalam jajaran Mens di The Circle. Entah siapa pencetusnya, tapi aku rasa semua ide itu dari Madam. Dia mengendalikan semua," jawab Cassie serius.


"Woah, sebegitu berkuasanya si Madam ini. Untung dia udah mati," ucap Jonathan kagum.


"Oleh karena itu, aku sangat berterima kasih padamu ibumu, Vesper, termasuk ayahku, Miles. Karena kini, ia bebas. Sayangnya, tekanan yang ia terima selama ini dalam jajaran, membuatnya bersikap semena-mena. Aku harap ayahku sadar, tapi sepertinya tidak. Melihat caranya memperlakukanku, ia tak mungkin berubah," ucap Cassie terlihat sedih meski tak menangis.


Tiba-tiba, Jonathan memeluk kekasihnya erat. Cassie terkejut, tapi balas memeluk dengan senyuman.


"Nathan akan ikut ke mana pun Cassie pergi. Kita gak akan berpisah lagi. Capek tau Nathan cari Cassie ke sana ke sini dan gak ketemu," keluhnya masih memeluk kekasihnya kuat.


Cassie hanya tersenyum tak menjawab. Tiba-tiba, Jonathan bergerak seperti kepiting karena berjalan ke samping.


Cassie terkejut, tapi mengikuti langkah Jonathan yang membawanya ke kamar dalam posisi masih memeluknya, enggan dilepaskan.


BRUKK!


Cassie semakin bingung saat Jonathan menjatuhkan tubuh keduanya ke kasur dalam posisi miring saling berhadapan.


"Nathan ngantuk banget, Yang. Besok kita harus ke rumah sakit jenguk Click and Clack," ucapnya dengan mata terpejam, tapi kedua tangannya sibuk melepaskan pengait bra* di balik kaos yang dikenakan Cassie.


Bahkan, Jonathan terlihat sangat ahli ketika melepaskan penutup buah dada itu lalu menyelipkan di bawah bantal.


"Jangan pake bra* waktu bobo. Kasian itu bakpao kegencet, nanti gak gede-gede," ucapnya seperti orang berguman dengan mata terpejam.


Cassie tersenyum seraya menatap wajah tampan kekasihnya di mana mereka belum menikah karena banyaknya masalah yang muncul saat bersama dulu.


"Jangan pergi-pergi lagi," guman Jonathan lirih seperti orang ngelindur dan kembali memeluk Cassie erat.


Cassie membiarkan Jonathan tidur. Gadis cantik itu betah memandangi wajah kekasihnya yang tampak rupawan, tak jenuh untuk ditatap terus-menerus. Hingga akhirnya, Cassie ikut tertidur pulas.


Entah sudah berapa lama gadis itu tertidur, ia merasakan jika ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya.


Praktis, Cassie langsung membuka mata saat melihat Jonathan sudah tak berbusana dan sibuk melepaskan pakaian yang dikenakannya. Cassie melotot.


"Eh, udah bangun. Olah raga dulu sebelum mandi. Masih subuh sih, soalnya matahari belom muncul, tapi udara dingin bulan Oktober sangat pas buat malas-malasan," ucap Jonathan santai dan melanjutkan aktivitasnya sembari bersenandung saat melepaskan celana da*am kekasihnya. Cassie melongo. "Hehehe," kekeh Jonathan saat ia menarik selimut dan langsung menerkam Cassie di atasnya.


"Aku belum siap punya anak lagi," ucap Cassie dengan kaos masih ia kenakan.


"Sakit ya lahirin? Nathan 'kan gak tau. Taunya cuma nyetrum-nyetrum doang. Selain itu, aki Nathan udah lama banget gak dicas, nanti mogok bahaya," ucapnya malah berkisah. Cassie diam terlihat bingung. "Mm ... nanti Nathan pipis di luar biar junior gak numbuh lagi," imbuhnya santai.

__ADS_1


Cassie mengedipkan mata mencoba menelaah ucapan dari kekasihnya itu. Belum juga Cassie bersiap, Jonathan yang sudah sangat kelaparan, dengan rakus menyantapnya.


Cassie tak berkutik ketika kedua pergelangan tangannya dipegang kuat oleh pemuda tampan itu saat menciumi tubuhnya.


Jonathan bahkan sudah mengarahkan misilnya ke selongsong itu. Cassie terlihat kaget dan berulang kali mengatur napas, meski tubuhnya menggeliat.


"Aduh," keluh Jonathan saat misilnya berhasil masuk. "Ya ampun, Nathan kangen masa-masa ini," ucapnya kemudian yang masih sanggup berbicara saat sedang bercinta.


Cassie diam menatap wajah Jonathan yang terlihat menikmati aksinya. Gadis cantik itu hanya diam terlentang seperti tak merespon. Namun tiba-tiba, ia mendorong tubuhnya dan membuat Jonathan terkejut.


Gadis berambut pirang itu duduk dipangkuan Jonathan dan melepaskan kaos yang membuatnya gerah.


Wajah Jonathan berbinar karena Cassie menyerahkan tubuhnya dengan suka rela. Bahkan, Cassie menyambut ajakan itu di mana sedari tadi ia masih diam saja tak membalas.


Jonathan yang lama tak dimanjakan, malah seperti cacing kepanasan. Ia yang awalnya bersemangat, malah menggeliat tak karuan.


Cassie yang kini mengambil alih dengan melakukan kerja keras untuk melumasi misil yang bengkok itu.


Sedang Jonathan, hanya bisa memejamkan matanya rapat dan berusaha agar erangan kenikmatan itu tak disuarakan keras-keras, takut membangunkan mayat-mayat yang telah menjadi abu.


"Sstt ... jangan berisik," ucap Cassie berbisik seraya membungkam mulut Jonathan yang tak henti-hentinya mengerang.


Jonathan menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih seraya memijat dua bakpao yang terasa padat dan nikmat.


Jonathan yang tak tahan, segera melahap salah satu bulatan menggemaskan itu, tapi ia terkejut.


"Eh, kok ada airnya?" tanya Jonathan bingung saat ia mencoba menyedot, tapi malah keluar cairan putih.


"Ah, aku lupa jika masih menyusui," jawab Cassie.


Hisapan kuat Jonathan membuat Cassie malah semakin cepat mencapai puncaknya. Pinggulnya semakin kuat bergoyang dan mendorong. Jonathan makin agresif dan menghabiskan seluruh stok ASI dari dua bulatan itu.


"Agh, Nathan," keluh Cassie yang pertahanannya sudah roboh karena keliaran suaminya.


"Terus, Yang, jangan berhenti. Enak banget ini," ucap Jonathan yang semakin kuat mencengkeram pinggul kekasihnya yang tak berhenti memuaskannya. "Aduh, aduh, awas!" pekiknya panik dan langsung menjatuhkan tubuh Cassie hingga gadis cantik itu terlentang.


Napas Cassie terengah saat Jonathan menyemprotkan pelumasnyaa ke atas perutnya. Tiba-tiba, TRINGGG!!


"Buset! Tanggung ini! Sabar!" teriak Jonathan karena alarm peringatan dari ponsel berbunyi nyaring.


Cassie langsung menoleh, tapi ia tak bisa beranjak karena Jonathan belum menuntaskan proses menyiram.


Gairah Cassie lenyap dan matanya langsung menyorot tajam ke arah pintu yang masih terbuka sedikit di mana rumah itu sepi.


Cassie terlihat tegang dan matanya tak lepas dari celah pintu. Benar saja, sebuah pergerakan terlihat. Seketika, BRUKK!


"Aduh!" keluh Jonathan ketika ia didorong ke samping oleh Cassie hingga membuatnya terlentang.


Cassie langsung bangun dan turun dari ranjang dalam posisi tak berbusana. Dengan sigap, Cassie mengambil pistol yang ia letakkan di atas meja samping ponsel alarm.


"Yang! Awas!" teriak Jonathan saat melihat sosok pria dengan seragam The Circle muncul di balik pintu kamar dan mengenakan gelang pemenggal.

__ADS_1


DUAKK!


"Agh!" erang lelaki itu saat wajahnya dihantam dari samping oleh Cassie dengan pintu.


Gadis cantik itu muncul dari balik pintu dan tak terlihat malu saat menunjukkan tubuhnya yang padat.


Cassie sengaja mengoleskan tangan kirinya dengan pelumas Jonathan lalu mengelapnya di wajah pria itu.


"Huek!" Jonathan hampir muntah karena melihat aksi Cassie yang baginya tak wajar.


DOR! DOR! DOR!


Cassie mencengkeram kuat baju pria itu di dada lalu mendorongnya kuat. Cassie melihat ada dua pria dengan kostum gagak, lengkap dengan topeng memasuki bangunan tersebut.


Cassie menembak dua pria yang terkejut melihat kawan mereka berjalan mundur. Namun siapa sangka, di balik tubuhnya, peluru tajam dilontarkan dan tepat mengenai dada mereka.


BRUKK!


DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!


Cassie menyelesaikannya dengan wajah datar. Ia menembak mati tiga pria penyusup itu dalam posisi berdiri dan masih tak berbusana.


"Ya ampun! Untung mereka mati. Kalau gak, udah Nathan congkel itu mata laknat. Berani-beraninya liat body ayang Cassie," geram Jonathan sambil berlari keluar dan membawa piyama handuk untuk menutupi tubuh indah sang kekasih.


Cassie segera memakainya, tapi keningnya berkerut.


"Seharusnya kaupakai celana. Kenapa kaupakai kaos, tapi misilmu masih siap untuk diluncurkan?" tanya Cassie menaikkan salah satu alis seraya mengarahkan ujung pistolnya ke arah keperkasaan Jonathan.


"Hahahaha! Panik! Lupa yang bawah belum dibungkus," kekeh Jonathan santai dan kembali masuk ke kamar.


Cassie geleng-geleng kepala. Ia lalu mendekati dua orang bertopeng gagak lalu melepaskannya. Semua orang kiriman ayahnya adalah mantan anak buah Jonathan yang telah dicuci otak.


Saat Cassie akan berpaling, tiba-tiba suara ponsel berdering dari salah satu tubuh mayat itu. Cassie segera mencarinya dan mendapatkan dari saku salah satu pria berkostum gagak. Gadis pirang itu terlihat ragu, tapi menerima panggilan tersebut.


"Jonathan. Kau sepertinya akan menjadi target berikutnya untuk pasien cuci otakku. Bersiaplah, aku akan datang untukmu," ucap Miles lalu menutup teleponnya.


Cassie terkejut dan spontan menjatuhkan ponsel itu. Ia melihat ke arah Jonathan yang terlihat santai tak tegang, padahal tim pembunuh baru saja masuk ke bangunannya.


Cassie bergegas masuk ke kamar dan mendatangi Jonathan yang sudah bersiap.


"Kenapa, Yang?" tanya Jonathan bingung karena Cassie terlihat panik.


"Miles akan datang padamu. Ia ... ingin mencuci otakmu. Aku tak ingin hal itu terjadi. Kita harus segera pergi," ucap Cassie. Jonathan terkejut sampai mulutnya menganga lebar.


"Oke, Nathan akan bersiap. Kamu mandi dulu. Itu ingus Nathan dicuci dulu, buruan, cepet!" jawab Jonathan seraya mendorong kekasihnya agar segera masuk ke kamar mandi.


Cassie menurut dan segera membersihkan diri. Jonathan panik dan menyiapkan tiga koper untuk mengemasi perlengkapannya.


"Enak aja mau cuci otak. Dikira gombal buluk apa otak Nathan? Dasar calon bapak mertua gak berjiwa Pancasila. Masa calon menantunya mau dibikin lupa ingatan. Bener-bener si Miles bikin mules," gerutu Jonathan seraya memasukkan barang-barang ke dalam koper-koper besar itu.


Saat ia dan Cassie telah bersiap meninggalkan restoran menuju ke mobil, tiba-tiba saja, BLUARRR!!

__ADS_1


***


lupa gak dikasih IPO IPO soalnya cuma seimprit. hahahaha😆 ss tipsnya next eps aja ya. met hari libur❤️


__ADS_2