4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Mati Saja Kau!


__ADS_3

Arjuna berlari kencang bersama timnya membelah hutan menuju ke sungai Elbe mencari keberadaan kakak tirinya.


Suara pertarungan hingga tembakan dan erangan semakin jelas terdengar. Arjuna melihat helikopter menyorot lampu dari atas di mana ia yakin jika Lysa dan Ungu genit berada di lokasi tersebut.


Tiba-tiba saja, SHUW! DAR!


Langkah Arjuna dan timnya terhenti seketika. Mereka melihat suar ditembakkan dari arah sungai seperti memberikan tanda lokasi keberadaan Ungu genit di tempat itu.


"Dia pasti mencari bantuan atau bermaksud untuk kabur! Halangi! Berpencar!" perintah Arjuna tegas.


Dengan sigap, mereka membagi menjadi dua tim. Helikopter yang melihat tembakan peringatan itu segera terbang berputar melakukan pemindaian. Benar saja, DODODODOOR!!


"Kami diserang! Kami diserang!" teriak pilot helikopter saat benda terbang itu ditembaki dari bawah dengan serencengan peluru dari sebuah mobil Jeep. Helikopter terbang menjauh menghindari tembakan.


"Mereka sudah datang! Bersiap!" perintah Arjuna tegas ke semua sambungan radio.


Segera, Arjuna dan timnya bersiap di balik semak dan batang pohon besar untuk bersembunyi.


Mereka sudah dekat dengan lokasi Lysa dan Ungu genit bertarung. Orang-orang itu berencana untuk melindungi Lysa dari bala bantuan Ungu genit.


"Sir, sensor panas mendeteksi kedatangan manusia berjumlah empat orang dari sisi Barat," ucap salah satu anggota The Eyes yang berada di wilayah Barat Laut.


"Oke. Lumpuhkan mereka. Tak perlu interogasi, bunuh semua," tegas Arjuna berbisik yang berada di sisi Timur Laut.


"Yes, Sir."


Arjuna dan anggota tim dari kelompok The Eyes bersiap dengan senapan laras panjang karena merasakan kehadiran beberapa orang yang juga menuju ke arah mereka.


Dua anggota The Eyes melihat para pria bersenjata memasuki wilayah mereka sembari mengarahkan moncong pistol ke berbagai sudut dengan berlari mengendap.


"Now!" perintah Arjuna lantang.


Seketika, KLANGG!!


PIPIPIPI! DWUARRR!!


"Arrghh!" para pria bersenjata itu terkena ledakan dari granat tabung yang diikuti oleh lontaran peluru bagaikan biji jagung yang meledak seperti popcorn ke semua tempat.


Para pria bersenjata itu tak bisa berkutik saat peluru-peluru tajam pembunuh itu melukai tubuh mereka. Dua anak buah Lysa kembali melemparkan Rainbow Gas Bom warna hitam sebagai penyelesaian.


Dua anak buah Lysa yang bersembunyi di balik batang pohon dan semak muncul lalu menembaki orang-orang tersebut untuk memastikan mereka tak bangun lagi untuk selamanya.


Arjuna masih melakukan pengamatan di mana ia kini bisa melihat dengan jelas pergerakan dari musuh karena ia berada di atas pohon.


"Mau kabur ya, enak saja," ucapnya geram dengan mata menajam saat ia melihat dua pria bersenjata berhasil kabur dari serangan granat tabung dan rainbow gas.


Dengan senyap, SWING! JLEB!


"Aggg!"

__ADS_1


KRASS! JLEB! BRUKK!


Arjuna melempar dua buah belati dan tepat mengenai wajah dua orang yang berlari ke arahnya.


Saat dua orang itu tertegun dan merintih karena benda tajam itu menancap di wajah mereka, Arjuna melompat dari atas pohon tempat ia bersembunyi.


Pemuda bertato itu menyabetkan pedang yang didapat dari dalam tas dan menebas salah satu kepala lawan. Pria tersebut langsung roboh.


Arjuna melanjutkan aksinya dengan menusuk punggung pria terakhir yang masih berdiri hingga menembus ke dada dan menewaskannya.


DODODODOOR!


Kepala Arjuna dengan cepat menoleh ke asal suara tembakan beruntun dari Timur, tempat pria bersenjata lainnya sedang berusaha dilumpuhkan oleh anak buah Lysa yang berjaga.


"Cepat! Susul mereka!" perintah Arjuna tegas kepada dua anggota The Eyes yang berhasil melumpuhkan musuh berkat granat tabung dan rainbow gas.


Namun, Arjuna memisahkan diri. Ia berlari ke arah Lysa karena khawatir jika kakaknya itu terluka. Benar saja, Arjuna melihat Lysa dicekik dan kepalanya kini di tenggelamkan ke sungai oleh Ungu Genit dengan wajah bengisnya.


Mata Arjuna melotot seketika. Ia melihat Lysa memberontak, tapi tak mampu menandingi kekuatan Ungu genit yang besar.


Arjuna segera berlari ke arah Ungu genit siap untuk menghunuskan pedangnya, tapi ternyata, gerakan Arjuna terbaca.


Ungu genit langsung menoleh dan mendorong Lysa hingga wanita itu kini sepenuhnya tercebur ke sungai. Dengan sigap, Ungu menarik pistol dari dalam saku dalam jasnya, dan DOR!!


"Agh!" erang Arjuna saat kakinya tertembak dan membuatnya langsung jatuh tersungkur karena berlari.


Ungu genit yang tadinya berjongkok, kini berdiri perlahan dengan pistol dalam genggaman. Seringai muncul saat melihat Arjuna berdarah. Arjuna mengerang kesakitan, tapi tetap menggenggam pedang di tangan kanannya.


"Ra-ha-sia, hihihihi," kekehnya genit.


"Arrghhh!"


DOR! BRUKK!


"Uh, uh, uh, sakit ya ... hihihi, kasian," ledeknya lagi saat Arjuna berusaha bangun, tapi pria bertubuh besar itu kembali melontarkan pelurunya dan menembak kaki Arjuna yang lain.


Pria bertato itu kini tak bisa berdiri karena kedua tangannya terluka meski sudah dibalut perban seadanya, ditambah kedua kakinya tertembak, membuat Arjuna merasakan sakit luar biasa di tubuhnya.


"Arrrghhh! Sialan!" teriak Arjuna marah dengan raungan kencang seperti binatang buas di kegelapan malam.


"Hahahaha! Hihihihi, ya ampun, kamu kalau marah gemesin loh, Juna. Sayang, kamu harus mati. Bye, bye," ucap Ungu genit dengan lambaian tangan dan senyum terkembang sebagai salam perpisahan dari kematian yang akan diberikannya.


Saat Ungu genit mengarahkan moncong pistol, tiba-tiba saja dari dalam air, SPLASH!


"HARRGHHH!"


KRAUKK!


"ARGHHHH!" erangnya saat Lysa kembali muncul meski wajahnya babak belur. Isteri Tobias tersebut langsung menaiki tubuh belakang Ungu genit dan menggigit telinga kirinya.

__ADS_1


Arjuna terkejut, tapi ia melihat kesempatan. Lysa berusaha keras untuk bertahan, meski Ungu genit berusaha melepaskan tubuh anak pertama Vesper itu dengan moncong pistol ia bidik ke tubuhnya dari samping.


DOR! BYURR!


"Kak Lysa! Arrrghhh!"


JLEB!


"Ohok!"


Seketika, mata pria bertubuh besar itu terbelalak ketika Arjuna mampu berdiri meski jalannya terhuyung.


Putera Han tersebut menusuk perut Ungu genit saat pria itu berhasil menembak Lysa dari samping dan membuat gigitannya terlepas. Lysa jatuh dengan keras ke dalam sungai dan membuatnya kembali tak terlihat.


"Arrghhhh! Mati saja kau!" teriak Arjuna marah dengan wajah bengisnya terus mendorong pedangnya hingga benda tajam itu menembus sampai ke belakang.


Ungu genit terus melangkah mundur hingga akhirnya jatuh di sungai karena tak bisa melawan.


BRURR!!


DOR! DOR! DOR!


"Hah, hah," engah Arjuna saat ia menyelesaikan aksinya dengan menembak wajah Ungu genit tiga kali hingga air sungai itu tergenang oleh darahnya.


SPLASH!


"Hah, hah, uhuk!" engah Lysa sampai batuk-batuk ketika ia berhasil muncul ke permukaan dan kini merayap ke pinggiran sungai.


Dengan sigap, Arjuna membantu Kakaknya, tapi ia akhirnya roboh karena luka di kedua kakinya. Kakak beradik itu saling memandang dan tersenyum. Mereka melihat mayat Ungu genit terbawa arus sungai ke tengah dan menjauh.


"Mayatnya pasti akan menghebohkan warga yang bermukim di pinggiran sungai. Kita harus segera pergi dari sini, Juna," ucap Lysa dengan tubuh basah kuyup dan Arjuna mengangguk setuju.


Tak lama, helikopter yang menjauh dari pertempuran kembali. Benda terbang itu mendekat dan segera mendarat meski baling-balingnya masih berputar.


Lysa memapah Arjuna ke helikopter dengan tergopoh. Arjuna dibantu oleh co-pilot untuk segera masuk ke dalam. Selang beberapa menit, anak buah Lysa yang mampu bertahan segera berkumpul dan masuk ke helikopter.


"Hah, sudah semua?" tanya Lysa terengah dan memegangi lehernya yang terasa sakit karena cekikan kuat Ungu genit.


"Yes, Mam," jawab keempat orang itu terlihat berantakan dan ternyata, dua diantara mereka terluka.


"Oke. Kita pergi dari sini. Kita tak bisa melintas ke Ceko karena luka-luka kita. Kembali ke markas," perintah Lysa dan pilot mengangguk paham.


Pilot mengabarkan kondisi timnya kepada Yuki yang dipercaya menjaga markas. Tentu saja, calon isteri Torin terkejut.


Wanita berambut merah muda itu mengirimkan The Eyes untuk melakukan penjemputan ke hanggar yang nantinya tim Lysa akan langsung di bawa ke Apartemen Marlena.


Segera, empat buah mobil meluncur dan menunggu di hanggar. Lysa lega karena Arjuna selamat meski terluka parah. Ia juga merasa beruntung karena masih bisa bertahan, meski harus babak belur.


***

__ADS_1


adeh flu berat😵 kalo ada typo koreksi aja tar lele benerin pas udh sehat. ini gigiku jadi ikut kesemutan karena demam. doain cepet sembuh ya biar tetep bs up rutin daily. amin~ trims tipsnyaā¤



__ADS_2