
ILUSTRASI
SOURCE : INSTAGRAM dan GOOGLE
------ back to Story :
Terlihat Arjuna seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius di kamar miliknya, Apartement Theresia, New York.
Salah satu fasilitas dari Amanda Theresia di mana para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads bisa berlindung.
Arjuna sedang menunggu penyelidikan dari anak buah Sandara yang berhasil ditemuinya. Para anggota Red Ribbon membantu Arjuna agar tujuan kedatangan mereka ke negara itu tak diketahui olehnya.
"Hm, Tessa ya? Emang apa sih bedanya cinta sama suka? Sial, gini nih kalo gak pernah pacaran, brasa bego sendiri. Haish," keluh Arjuna malah kesal pada dirinya sendiri.
Arjuna lalu beranjak dari kursinya dan mematikan bara rokok di asbak dekat jendela. Ia malah sibuk mondar-mandir sembari memasukkan kedua tangan di dalam saku celana. Arjuna semakin memikirkan hal ini dengan serius.
"Terus kalo ketemu Tessa, Juna harus ngapain? Kan dia yang suka sama Juna, bukan Juna. Tapi, masa iya gak kasih apa-apa gitu? Malu lah, harga diri Juna bisa anjlok kaya saham. Tar dikira Juna pelit lagi, gak modal. Haish, ribet amat sih!" keluhnya lagi semakin kesal dan malah menggaruk rambutnya dengan kedua tangan hingga berantakan.
Arjuna bertolak pinggang dan kini mendekati jendela, menatap pemandangan kota New York yang selalu ramai, jarang sekali kesunyian ia dapati. Arjuna menghela nafas panjang.
"Apa ... Tessa bisa kasih tahu di mana Afro berada? Apa kabarmu, Sobat? Kenapa kau pergi dan menghilang lagi? Kenapa kau tak tinggal dan menetap bersamaku? Aku sungguh ingin tahu," ucap Arjuna terlihat sedih mengingat sosok sahabatnya dulu yang selalu ada di sampingnya baik suka ataupun duka.
Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua tangan berusaha agar tak bersedih jika teringat akan Afro.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," panggil Arjuna dan pintu kamar anak kedua Vesper itupun terbuka.
Arjuna menatap Sun tajam yang masuk dengan setelan hitam.
"Red Ribbon sudah menemukan bar itu, Tuan Muda. Tessa ada di sana. Anda ingin pergi sekarang? Sekitar satu setengah jam perjalanan menuju ke sana dengan mobil," tanya Sun sopan.
"Oke," jawab Arjuna lalu melangkah, tapi tiba-tiba, langkahnya terhenti. Sun menatap Tuan Mudanya seksama.
"Di mana Naomi?"
"Nona Naomi sedang menyiapkan jadwal temu dengan Tuan Yusuke Tendo. Katanya, tuan Yusuke ingin membuat usaha legal seperti Arjuna's Adventure di Hokkaido."
"What?! Tidak kuizinkan! Itu hanya akal bulus Yusuke saja. Ingat, Sun. Yusuke mengincar Naomi," jawab Arjuna tegas menunjuknya.
Kening Sun berkerut. "Oh, Anda tahu hal itu?" sahut Sun terlihat lega. Kini, gantian kening Arjuna berkerut.
"Maksudmu?"
"Tuan Yusuke menyukai nona Naomi. Setahu saya, berulang kali tuan Yusuke mengajak nona Naomi pergi dengannya jika ia sedang berada di Jepang, tapi lebih seperti, mengajak kencan. Namun, nona Naomi selalu menolaknya. Saya tahu hal itu ketika nona Naomi menggerutu ketika di Markas Hashirama. Dia pernah mengatakan keluhannya pada agent M dan S kala itu," jawab Sun santai.
"Keluhan?"
Sun mengangguk. "Ya. Nona Naomi mengatakan jika ia kerepotan dengan semua pekerjaan yang dikerjakannya. Itu, di luar kemampuannya, terlalu banyak. Oleh karena itu, ia sangat mengharapkan memiliki asisten. Mendengar hal itu, agent M mulai mempersiapkan saya dengan mengajarkan tentang dunia bisnis. Lalu, ketika Anda memberikan izin dan disetujui oleh Dewan Direksi, saya sudah siap," jawabnya dengan senyuman.
Nafas Arjuna menderu. Ia melangkah dengan gusar mendatangi kamar Naomi dan membuka pintunya kasar.
Naomi terkejut bahkan sampai tersentak ketika sedang menyelesaikan pekerjaannya di depan laptop.
"Kau sengaja? Kau sudah merencanakannya? Oh, aku tahu sekarang. Apa kau menghasut tante Shinta dengan keluhanmu yang lelah dengan semua pekerjaan di perusahaan, hem? Lalu setelah Sun hadir sesuai prediksimu, kau bisa bersenang-senang dengan Yusuke. Begitu? Wow, aku tak menyangka jika selama ini kau sudah mengelabuhiku, Naomi. Diam-diam kau sangat licik," sindir Arjuna dengan wajah tengilnya.
"Apa maksudmu, Tuan Muda?" tanya Naomi kebingungan. Sun yang berdiri di pintu diam menyimak.
"Haha, hahaha! Kau membuatku seperti orang bodoh, Naomi! Kau pasti sangat bahagia ketika melihatku merengek dan memohon padamu agar tak pergi dariku, iya kan?! Jujur saja! Kau mempermainkanku selama ini. Kau berhasil mengelabuhiku dengan air mata palsumu. Acting-mu sudah bagus, tapi ... aku sudah muak. Kau ingin pergi 'kan? Silakan saja. Kau kubebaskan. Sudah ada Sun di sampingku. Pergilah, datangilah kekasihmu si Yusuke itu," ucap Arjuna menatap Naomi tajam penuh sindiran.
Naomi menahan amarahnya. Nafasnya menderu hingga dadanya naik turun. Terlihat, ia berusaha menahan kekecewaan serta air matanya.
__ADS_1
Sun terlihat bingung dalam bersikap. Ia tak menyangka, jika ucapannya malah membuat Tuan Muda dan seniornya saling bertikai.
Naomi tersenyum kecut. Arjuna diam menatapnya tajam.
"Akhirnya, kau membuangku juga. Baiklah, jika itu maumu, Tuan Muda. Semoga sukses dengan misimu untuk menaklukkan Tessa. Semoga kau bahagia dengannya," ucap Naomi sembari menutup laptop dan kini menenteng tasnya.
Arjuna diam seketika sambil bertolak pinggang, tapi terlihat ia seperti cemas akan sesuatu. Sun berjalan tergesa mendekati Naomi yang memasukkan laptop miliknya ke tas kerja dengan wajah dingin.
"Nona Naomi," panggil Sun yang kini berdiri di samping Tuan Mudanya.
"Aku akan mengirimkan semua berkas yang nantinya akan kau kerjakan, Sun. Jangan khawatir, aku akan meminta kepada Dewan Direksi untuk memberikanmu asisten. Selamat malam," ucap Naomi dengan wajah datar sembari menenteng dua tas dalam genggamannya.
Entah kenapa, rasa sesak menyelimuti hati Arjuna. Rasa kehilangan teramat sangat menyelimuti hatinya. Ia berdiri diam melihat Naomi berjalan dengan langkah cepat keluar dari kamar.
"Tuan Muda," panggil Sun cemas, tapi Arjuna kebingungan dengan pandangan tak menentu.
Sun langsung berlari mengejar seniornya. Naomi meneteskan air mata saat menyusuri koridor menuju ke basement meski ia tetap berjalan dengan langkah tegap.
"Eh, Kak Naomi?" panggil Jason yang baru saja turun dari mobil bersama Q dan Renata di basement.
Naomi hanya tersenyum meski tak dapat ditutupi jika air matanya menetes, membasahi wajahnya.
"Naomi! Kau mau kemana?" tanya Q merasa ada hal tak beres dengan gadis cantik itu.
Namun, Naomi tetap berjalan menuju ke mobil dan langsung masuk begitu saja. Sun berlari mengejar dan kini berdiri di samping jendela kemudi.
Sun mengetuknya berulang kali terlihat cemas. Naomi diam dengan pandangan tertunduk sembari menghapus air matanya, ia tetap berusaha untuk tegar.
"Nona Naomi, sepertinya terjadi salah paham di sini. Kenapa kau diam saja tak membantah ucapannya?" tanya Sun saat kaca jendela Naomi turunkan.
"Sudahlah, Sun. Bertahanlah akan segala sikap buruk Tuan Muda padamu nanti. Kau tahu 'kan jika ia tempramental. Namun, aku yakin jika kau bisa. Oleh karena itu, aku memilihmu. Good luck," jawab Naomi tersenyum sembari menutup kaca jendela.
"Nona! Nona Naomi!" teriak Sun panik saat Naomi menginjak pedal gasnya dan kini mobil tersebut melaju kencang meninggalkan basement.
Sun terlihat frustasi, ia menggaruk kepalanya dan pada akhirnya menghembuskan nafas keras dengan kepala mendongak.
Arjuna melihat dari jendela kamarnya saat mobil Naomi keluar dari kawasan Apartement terlihat tergesa. Arjuna memejamkan mata terlihat menyesali perbuatannya.
"Apa yang sudah kukatakan? Bagaimana jika itu tidak benar? Kenapa aku begitu ceroboh?" sesalnya dengan kedua tangan mengepal di jendela besar seperti dinding di hadapannya.
Di basement. Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Sun!" panggil Q dan pria asal Korea itu segera berjalan menghampiri salah satu orang kepercayaan Amanda Theresia.
"Ya, Tuan Q," jawabnya gugup.
"Ada apa? Jangan bohong," tanyanya curiga di mana Jason dan Renata ikut mendengarkan.
Sun akhirnya menceritakan kronologi kejadian. Ia juga tak menyangka jika Tuan Mudanya menyikapinya dengan cara seperti itu.
"Ini pasti hanya salah paham. Arjuna juga, kenapa dia tidak peka dengan hal seperti itu? Dia sungguh bodoh," ucap Renata menilai.
"Lalu sekarang bagaimana, Tuan Q? Saya bingung, terlebih ada misi yang harus kami lakukan malam ini juga," tanya Sun cemas.
"Misi apa?" tanya Jason penasaran.
Sun akhirnya menceritakan lagi akan tujuan Arjuna datang ke benua Amerika. Tentu saja, kabar dari Sun mengejutkan ketiga orang tersebut.
"What? Tessa? Menikahinya?" pekik Jason kaget setengah mati.
Sun mengangguk membenarkan. "Saya melihat jika memang ada baiknya jika Tuan Muda menikahi Tessa, hanya saja ... saya tak yakin jika akan semulus prediksinya," imbuh Sun cemas.
Q, Jason dan Renata saling melirik. Q menepuk pundak Sun dengan senyuman. Sun bingung.
__ADS_1
"Ikut aku," pinta Q dan Sun mengangguk.
Di kamar Arjuna.
Terlihat, pria itu pusing dengan keputusan yang telah ia buat hingga membuat Naomi sungguh pergi darinya. Namun, ia merasa gengsi jika meminta Naomi kembali lagi padanya.
TOK! TOK! TOK!
"Ya?" panggil Arjuna dari tempatnya duduk.
"Semua sudah saya persiapkan, Tuan Muda. Kita berangkat sekarang," jawab Sun terlihat sudah siap pergi dengan sebuah tas kerja dalam genggaman.
Arjuna mengangguk dan segera bangkit dari kursinya. Selama perjalanan, Arjuna diam saja terlihat murung dengan pandangan tertunduk.
Berulang kali ia mendesah dan mengatasi kepanikannya dengan merokok dan minum. Ia memandangi botol yang sudah kosong itu, teringat akan ucapan ayahnya, Han. Arjuna meletakkannya dengan desahan panjang.
Sun diam saja melirik dari bangku samping sopir. Hingga akhirnya, mobil mereka tiba di Night Club yang telah ditandai oleh anggota Red Ribbon Sandara.
"RR, do you copy?" panggil Sun saat mobilnya sudah berhenti di depan salah satu usaha legal Tessa.
"Kami akan mengawasi kalian. Hati-hatilah," jawab Bintang Red Ribbon.
"Copy that."
Sun menoleh dan Arjuna mengangguk siap. Arjuna segera turun di dampingi oleh Sun masuk ke bar tersebut, tapi sepertinya sosok Arjuna dikenali oleh para penjaga dan petugas bar tersebut.
Ia ditatap tajam begitu memasuki bar. Arjuna melewati orang-orang yang sedang asyik berjoget karena malam itu adalah akhir pekan.
Arjuna yang tak begitu menyukai kebisingan, terlihat tak nyaman dengan suasana bar yang dipenuhi orang, suara musik yang kencang dan lampu yang menyilaukan pandangan.
Saat Arjuna berhasil keluar dari altar yang dipenuhi orang menari dan sedang mencari tempat duduk karena tak suka tubuhnya disenggol-senggol, seorang pria berkulit hitam mendatanginya dengan wajah garang. Arjuna menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu sembari membuka salah satu rompi jaket dan terlihat pistol di sana. Arjuna tersenyum tipis tak terintimidasi.
"Aku ingin bertemu Tessa, seperti janjiku. Aku akan menemuinya lagi. Dan, jika bisa, aku tak mau di sini. Berikan aku tempat privasi, terlalu berisik," jawab Arjuna angkuh.
Pria itu diam dan tiba-tiba, ia memegangi belakang telinganya. Sun dan Arjuna menatap gerak-gerik pria itu yang seperti mendapatkan instruksi dari sebuah alat yang tak terlihat karena tertutupi daun telinga.
"Oke, ikut aku," jawabnya dengan wajah datar. Arjuna dan Sun mengikutinya.
Arjuna menaiki sebuah lift di dampingi Sun dan pria berkulit hitam. Sesampainya di lantai tiga, terlihat lebih banyak penjaga di sana seperti sengaja menunggunya.
"Buka koper itu, kami harus memeriksanya," tahan seorang pria berambut pirang di hadapan Arjuna.
Sun memberikan koper itu. Arjuna dan Sun digeledah dan diperiksa oleh anak buah Tessa. Segala jenis senjata yang mereka bawa di kumpulkan.
Arjuna dan Sun pasrah karena tujuan mereka datang tak ingin membuat keributan.
"Kau, tetap di sini. Hanya Arjuna saja yang boleh menemui Tessa," tegas petugas berambut hitam berwajah Asia menunjuk Sun dan asisten Arjuna itu mengangguk.
Arjuna berjalan terlihat ragu ketika memasuki ruangan. Jantungnya berdebar kencang saat sebuah pintu berwarna merah terlihat di depannya dan kini dibuka oleh pria berkulit hitam dengan wajah datar.
Arjuna masuk dan melihat sebuah ruangan berkesan feminim di hadapannya. Lelaki berkulit hitam itu menutup pintu.
Arjuna melihat sekeliling dan betapa terkejutnya saat ia melihat Tessa duduk di sofa dengan pose menggoda mengenakan lingerie merah menyala dan terlihat jelas lekuk tubuhnya. Arjuna menelan ludah.
***
Makasih tips koinnya. Lele padamu Chonk & Kaka💋💋💋 Aduh lele pegel banget mau rehat dulu berasa mau atit. Kwkwkw
__ADS_1