
Vesper terbangun saat ia mendengar suara tangisan menyayat hati dari orang yang ia kenal. Vesper membuka matanya perlahan, tapi ucapannya malah membuat kaget semua orang.
"Oh, Erik. Apakah kaudatang menjemputku?" tanyanya seperti orang mengigau.
Praktis, tangis Jonathan langsung reda, termasuk tiga anak Vesper yang lain. Lysa langsung berdiri dan membiarkan air mata itu menggenangi wajahnya.
"No, no, Mom ... Mom!" panggil Lysa panik karena Vesper tersenyum tipis seperti berbicara dengan seseorang.
"Joel ...," panggilnya pada sosok mendiang suaminya yang telah tiada.
"Tidak, tidak, Lily!" teriak Han panik dan segera masuk ke dalam ruangan karena ikut mendengar hal tersebut.
Vesper menggerakkan tangannya seperti ingin meraih sesuatu. Kai dengan sigap memegang tangan sang isteri yang terasa dingin dan keriput.
"Nona Lily ... bertahanlah," pinta Kai dengan mata berlinang seakan tak siap untuk ditinggal pergi selamanya.
"Liu ...," jawabnya dengan senyuman. Seketika, tangis Kai meledak.
"Tidak! Kau tak boleh membawa nona Lily sekarang, Liu! Tidak boleh!" teriak Kai lantang dan berusaha untuk menyadarkan Vesper kembali.
Segera, tim medis yang telah siap di kapal tersebut meminta kepada semua orang untuk menyingkir karena ingin memeriksa kondisi sang ratu yang mulai melemah.
"Mama ...," panggil Dara sedih yang memegangi wajahnya dengan tangan gemetaran.
Kai membungkam mulutnya rapat karena Vesper terus menyebutkan satu per satu nama orang-orang yang telah pergi lebih dulu darinya.
Semua orang hanya bisa memandangi Vesper dari kejauhan tak berani mendekat karena khawatir proses pemeriksaannya akan terhambat.
"Kami butuh darah lagi. Ambilkan semua stok yang ada!" ucap salah seorang petugas medis.
Dengan sigap, para Black Armys didikan Jeremy segera berlari ke tempat penyimpanan darah. Arjuna memeluk Sandara erat karena adiknya menangis terisak.
Arjuna hanya bisa diam saat melihat Vesper terus menggerakkan bibirnya yang kering meski yang ia ucapkan tak terdengar jelas.
"Jangan biarkan dia mati. Lakukan yang diperlukan!" pinta Kai memaksa dan tak peduli jika wajahnya sudah tergenang air mata.
Saat semua orang dibuat panik karena Vesper tak henti-hentinya memanggil nama orang-orang yang tewas, tiba-tiba Yusuke Tendo masuk ke ruangan.
"Gawat!" ucapnya yang membuat wajah semua orang kembali tegang dan isak tangis mulai diredam.
"Ada apa?" tanya Han menatap putera Tatsuya saksama.
"Miles sudah memulai serangan. Eko dan timnya kalah jumlah dan persenjataan. Miles benar-benar ingin melenyapkan kita untuk selama-lamanya," jawab Yusuke yang membuat mata Han melebar.
"Aku percayakan Lily pada kalian. Pastikan dia selamat! Dia berjanji pada D dan lainnya untuk bertemu lagi. Dia sudah berjanji!" paksa Han kepada para petugas medis.
"Baik, Tuan Han. Akan kami lakukan semampu kami," ucap petugas medis usai menyuntikkan serum penguat syaraf di tengkuk Vesper.
"Ayo! Demi Lily, kita harus selesaikan pertikaian ini!" seru Han lantang.
"Ya!" jawab semua orang serempak.
Sandara, Jonathan, Arjuna dan Lysa, kini bergabung dengan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang telah bersiap untuk bertempur melawan Miles serta pasukannya.
Di mana tentaranya itu adalah orang-orang dari kubu anak-anak Vesper yang sudah terkena gas halusinasi dan dicuci otak olehnya untuk membelot.
Benar saja, dari kejauhan, suara tembakan dan dentuman bom terdengar jelas. Para mafia itu khawatir jika militer akan datang ke lokasi tersebut. Namun anehnya, hal itu tidak terjadi.
"Padahal sangat mencolok perhatian. Kenapa tak ada polisi yang datang?" tanya Han seraya meneropong dari atas kapal saat benda yang mengapung di atas permukaan laut itu mulai merapat di dermaga.
"Han! Q menginformasikan dari pelacakan database di kepolisan setempat jika tempat pertempuran itu diberikan izin atas dasar kegiatan shooting film laga. Mungkin karena itulah para polisi dan pihak berwenang membiarkan hal itu. Miles sepertinya yang sudah merencanakan hal ini," ucap Seif mantap.
"Miles? Aku rasa tidak," sahut Sandara tiba-tiba yang sudah bisa mengendalikan tangisannya.
"Apa maksudmu?" tanya Arjuna menatap adiknya lekat.
"Bukankah tempat itu pilihan mama? Pasti dia sudah merencanakannya. Dia sudah mempersiapkan hal ini. Dia sengaja menggiring kita dan Miles ke sini dan menyelesaikan pertempuran agar tak ada yang mengganggu. Meski demikian, seharusnya tetap ada petugas kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi. Apa mungkin ... siapa yang diutus mama ke tempat ini untuk memancing Miles?" tanya Sandara menatap para senior di depannya.
"Souta," jawab Buffalo, Drake, Seif dan James bersamaan.
__ADS_1
James dengan sigap mencoba menghubungi Souta. Ternyata, pemuda itu langsung menerima panggilan tersebut.
"Souta!" panggil James lantang seraya memperdengarkan panggilan teleponnya.
"Kalian datang tepat waktu. Jangan khawatir, aku sudah mengamankan tempat ini. Segeralah bergerak, tapi hati-hati. Anak buah Miles sangat banyak. Kulihat para pasukan yang disebut Pria Tampan mulai kewalahan. Mereka luka-luka dan sepertinya tak bisa bertahan lebih lama. Miles memecah pasukannya menjadi 10 bagian dan jumlah mereka sangat banyak," jawab Souta menginformasikan, tapi membuat orang-orang di atas geladak kapal itu tegang seketika.
"Kami mengerti, Souta. Terima kasih banyak atas informasimu. Sisanya, biar kami yang selesaikan," jawab James mantap lalu menutup panggilan telepon.
"Kalian dengar yang Souta katakan?! Miles memecah pasukannya menjadi 10 bagian. Jika selama ini dia berhasil mengambil anak buah dari Jonathan, Arjuna, Lysa dan Sandara, ditambah terakhir kali yang ia culik dari mansion Victor di Australia, seharusnya pasukan Miles berjumlah 1000 orang," tegas Han yang membuat semua mafia itu melebarkan mata.
"Se-seribu orang?!" pekik Jonathan langsung melotot.
"Takut, ha? Buktikan jika tak hanya omonganmu yang besar, Jonathan Benedict. Sebaiknya kau berhasil melakukannya dan katakan pada ibumu jika kau tak mengecewakan harapan dari Erik. Agar saat ibumu pergi, dia bisa menyampaikan pada Erik jika anaknya tumbuh seperti ayahnya. Pria yang berkuasa, kuat, pintar dan ... eh, kenapa aku malah memujinya? Lupakan saja," sahut Han yang langsung pergi meninggalkan kerumunan orang-orang itu.
Jonathan bingung, tapi orang-orang terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Aku awalnya tegang, tapi setelah mendengar pidato dari Han tadi, aku jadi santai menanggapi pertempuran ini," sahut Drake dan diangguki sang isteri dengan senyuman.
"Pertempuran terakhir. Jangan mati, Sayang," ucap Buffalo pada suaminya. Drake mengangguk lalu mencium bibir Fal lembut.
"Jangan coba-coba menciumku, Seif," ancam James menunjuk kawan berambut gimbalnya.
Seif malah meledek dan memonyongkan bibirnya. James terlihat jijik dan segera pergi. Seif terkekeh.
"Bagaimana bisa mereka tetap bercanda di tengah keadaan genting ini?" tanya Arjuna terheran-heran.
"Itu karena kau kehilangan selera humormu, Kim Arjuna," ledek Lysa yang ikut masuk ke dalam kapal untuk bersiap.
Sandara dan Jonathan segera menyusul. Yusuke Tendo terlihat tetap siaga di geladak kapal seraya meneropong untuk melihat keadaan.
Di anjungan kapal.
"Q sudah memantau pergerakan Miles dan pasukannya. Tim Eko dan lainnya dikeroyok. Mereka tak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi terlebih dengan pasukan sebanyak itu yang menyerang. Jadi, meskipun jumlah kita sedikit, tapi kita memiliki kemampuan di atas para prajurit itu. Bukan menyombong, tapi memang itulah faktanya," tegas Kai saat menunjukkan dari layar monitor 50 inch pada dinding kapal.
"Aku setuju. Semuanya segera bersiap. Kita akan membagi tim menjadi 10 sama seperti Miles. Segera bantu tim pertama dan selesaikan. Kita harus pulang dan bertemu dengan Lily untuk memberikan kabar baik supaya saat ia pergi, ia meninggal dengan tenang tak meninggalkan hutang," sahut Han dan diangguki semua orang dengan wajah sendu.
"Demi Vesper!" teriak Buffalo lantang mengulurkan tangan kanannya ke depan.
Lingkaran tangan itu bergabung untuk menguatkan semangat para mafia demi mengakhiri konflik yang sudah menimbun hingga puluhan tahun lama.
"Let's go!" seru Drake mantap.
Namun, saat Kai akan beranjak, Han menahannya. Kai terkejut dan menatapnya lekat.
"Kepalamu bisa pecah sekali senggol saja, Anak muda. Tak usah berlagak. Sebaiknya kau menjadi penghubung kami dan mata dari GIGA. Kudengar, Eiji sudah memperbaiki sistem komunikasi usai para agent Colombia mendapatkan telepon darinya, entah Eiji mendapatkan sambungan itu dari mana. Jaga Lily untukku, dan pastikan dia tetap hidup sampai kami kembali," tegas Han menahan dada Kai dengan tangan kekarnya.
Kai memejamkan mata sejenak dan mengangguk pelan. Han tersenyum dan pergi dari ruangan itu meninggalkan rivalnya tersebut.
Han dan timnya bersiap. Sebagian dari mereka mengendarai jet ski ke titik yang telah dipetakan oleh Q. Sedang sisanya mengendarai kapal karet.
Keempat anak Vesper yang merasa harus membalas aksi bodoh mereka turun tangan dengan terjun ke pertempuran.
Mereka sudah bersiap dengan tas berisi persenjataan dan amunisi penuh. Mereka bergerak menjadi satu tim dan sasarannya adalah Miles yang berada di sebuah gedung di tengah hutan.
Kabarnya, Cassie, Afro dan Eko sedang bertarung sengit dengan keturunan Flame tersebut. Sayangnya, Miles yang licik membuat tiga orang itu kerepotan dan hampir terbunuh.
Di gedung tempat Miles berada.
"Asuuuu, sakit banget, Suuu!" umpat Eko saat tubuhnya sudah penuh luka akibat peluru dan sebuah pisau yang menusuk pahanya. Eko menggelepar di lantai dengan darah sudah mengotori lantai.
"Hem, hanya segini saja kemampuan bodyguard Vesper yang konon katanya tak terkalahkan? Oh, aku sangat kecewa," sindir Miles saat ia bersiap dengan sebuah pisau baru yang diambil dari dalam sebuah tas koper.
"Cassie! Bapakmu edian!" teriak Eko marah seraya menyeret kakinya yang berdarah hebat.
Cassie yang sebelumnya ikut terluka di kaki karena ditembak oleh ayahnya sendiri terlihat pucat.
Wajahnya sudah babak belur karena Miles tega menghajar anak perempuannya dan dianggap berkhianat tak ingin bersekutu dengannya.
Sedang Afro, ikut mengerang kesakitan karena salah satu sepatu robotnya dirusak oleh Miles sehingga membuat kakinya tersengat akibat sistem elektrikal yang mengalami korsleting.
__ADS_1
"Sayangnya ... Vesper tak ada di sini. Hem, aku merasa dibodohi. Licik juga pemimpin kalian itu," ucap Miles yang kini membidik Afro saat ia berusaha untuk melepaskan sepatu robotnya yang rusak.
Miles mempertajam bidikannya dan SWING! CLEB!
"ARGHHH!"
CRATT! KLANG!!
"AGH! AGGG!" erang Afro saat Miles sengaja menyiksanya, tak langsung membunuhnya karena pisau itu tertancap di salah satu dada samping dan beruntung tak mengenai organ vital.
Afro mencabut pisau itu dan melemparkannya jauh. Afro semakin tak berdaya. Tiga orang itu menggelepar di lantai tak mampu melawan Miles karena sudah kehabisan persenjataan dan ternyata, Miles sangat kuat.
"Aku kecewa padamu, Cassie. Padahal, kau bisa menjadi ratu mafia suatu saat nanti, menggantikan kedudukan Vesper. Namun, kau malah memilih untuk mengabdi padanya dengan menyebutnya apa? Mom? Dia bukan ibumu!" teriak Miles marah besar hingga matanya melotot.
Napas Cassie tersengal. Ia merasakan jika tangannya patah karena Miles melemparkannya kuat hingga tubuhnya menghantam beberapa perabotan dalam gedung itu sampai rusak.
Gedung terbengkalai itu semakin terlihat mencekam karena telah merenggut banyak korban jiwa terutama dari kubu Miles.
"Hemf. Aku bosan, sudah tak menarik lagi. Tak ada yang mampu melawanku. Jadi, kupercepat saja agar aku bisa mengunjungi Vesper," ucapnya yang kini mengambil pistol dalam koper hitam yang ia letakkan pada anak tangga.
Eko, Cassie dan Afro terkejut. Ketiganya saling bertatapan dan berusaha untuk menghindar dengan merayap untuk mencari tempat perlindungan.
Namun, gerakan Miles sangat cepat. Pria itu dengan sigap membidik Eko tepat di belakang kepala gundulnya. "Hem, mati kau," ucapnya bengis dengan tangan kanan terjulur mantap.
DOR!
"Agh!" erang Miles saat tiba-tiba saja tangannya terserempet oleh peluru yang ditembakkan ke arahnya dari samping di kejauhan.
Miles langsung menoleh dan memegangi tangannya yang sakit hingga pistolnya terjatuh. Praktis, matanya melebar saat melihat Jonathan membidiknya dengan pistol yang sama.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Miles dengan sigap menghindar ke balik sebuah pilar dalam gedung berbentuk silinder besar bagaikan pohon.
Cassie dan lainnya menoleh seketika saat menyadari ada seseorang yang datang menolong mereka.
"Jojon! Kamu udah insaf, Nak?!" teriak Eko senang yang seolah lupa jika dirinya sudah sekarat.
"Ish, Jojon," desis Jonathan kesal saat aksi heroiknya tiba-tiba saja lenyap ketika berusaha menggagalkan Miles untuk membunuh pria gundul tersebut. "Ayang Cassie!" teriak Jonathan senang saat mendapati ibu dari puteranya masih hidup meski terlihat berantakan.
"Aggg," rintih Cassie saat Jonathan mencoba untuk mengangkatnya.
"Kau kenapa?" tanya Jonathan panik.
"Miles ingin membunuhku. Aku tak bisa bertarung lagi. Kakiku terkilir dan tanganku sepertinya patah," jawab Cassie menahan sakit teramat sangat di tubuhnya.
"What?! Dasar ayah mertua ti—"
DOR! DOR! DOR!
"ARGH!"
"JONATHAN!" teriak Cassie dengan mata melotot karena Jonathan mengerang ketika punggungnya kini menjadi sasaran tembak dari Miles akibat lengah.
Mata Cassie terbelalak karena peluru-peluru itu tepat mengenai punggung kekasihnya.
"Nathan, Na—"
"Gak papa. Untung jasnya anti peluru, tapi masih kerasa sakitnya. Ayo, cepat pergi. Nathan lindungin Ayang Cassie dari bokap gila," ucapnya seraya menahan sakit hingga wajahnya berkerut.
Cassie mengangguk dan berusaha untuk bangun dengan susah payah. Miles kesal karena pistolnya macet.
Ia segera mengganti dengan senapan laras panjang yang kali ini pelurunya bisa menembus jas itu.
"Jojon! Awas!" teriak Eko dengan mata terbelalak lebar saat Miles membidik pemuda itu ketika berusaha membopong tubuh Cassie untuk dibawa pergi dari gedung kematian.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya mbk Yuki😍 besok lagi ya🤭 udah nangisnya tar banjir hp lele karena komen-komen kalian. konslet wasalam gak bisa up nanti. lele padamu❤️