
Anak-anak Vesper termenung dalam penyesalan. Mereka diam saat kenangan indah bersama keluarga muncul.
Tanpa disadari, air mata menetes saat mereka mengakui dalam hati jika telah melakukan banyak hal keji untuk mencari jati diri.
Tiba-tiba saja, langit bergemuruh dengan angin dingin kencang mulai menerpa. Keempat mafia muda itu menyadari jika hujan akan segera datang.
"Kita harus berusaha! Kita harus keluar dari sini! Mama menunggu kita!" seru Sandara dari tempatnya tergeletak.
"Tapi kita terjebak. Tak ada satu pun dari kita yang bebas!" jawab Jonathan yang mulai pasrah dengan takdirnya.
Namun, Lysa terlihat begitu berusaha agar bisa lolos. Ia mulai menggerakkan kakinya untuk menggapai tasnya yang terlepas dari gendongan karena ia gunakan untuk melindungi kepala agar tak terkena puing.
Jonathan melihat sekitar hingga ia menyadari jika dalam saku jas anti peluru masih menyimpan granat mini.
"Kak Lysa! Aku sepertinya bisa menolongmu, tapi ... Nathan gak yakin," ucapnya seraya menggenggam granat mini dalam tangan kanannya.
"Bagaimana?" tanya Lysa melebarkan mata terlihat seperti mendapatkan harapan.
"Nathan akan lemparin granat ke puing batuan yang menindih tanganmu. Hanya saja, Nathan gak tahu, puingnya bisa bikin kak Lysa lolos atau malah bikin dua tanganmu ikut putus," jawab Jonathan gugup.
Lysa diam sejenak. Ia melihat jika puing yang menindihnya cukup banyak hingga ia tak bisa melihat pergerakan apapun di balik gundukan itu.
"Fifty-Fifty ya?" ucapnya miris membayangkan nasibnya jika kehilangan dua tangannya. "Hem, biarlah. Jika memang harus kehilangan dua tanganku, mungkin memang itulah dosa yang harus kutebus karena dua tangan ini sudah membunuh banyak orang," ucapnya terdengar seperti putus asa. Ketiga saudaranya terdiam dalam duka. "Lemparkan, Jonathan. Aku tanggung semua konsekuensinya. Kita sudah berjanji untuk menemui mama lagi meskipun ... aku akan cacat nantinya. Jangan takut, aku percaya padamu dan aku tak menyalahkanmu jika ledakan itu akan membunuhku nanti," ucap Lysa mulai menguatkan hatinya.
"Kau bisa, Kak Nathan!" teriak Sandara yang ikut panik karena takut Lysa malah terluka semakin parah.
Jonathan menarik napas dalam. Ia mulai mengaktifkan granat mini dalam genggaman. Arjuna yang terjebak dalam traumanya berusaha untuk bertahan dan kembali ke dunia nyata meski terasa mustahil baginya. Tragedi buruk itu begitu melekat kuat dalam pikirannya.
"Oke! Nathan hitung sampai tiga!" serunya lantang yang kini memposisikan tubuh ke arah timbunan puing yang menindih tangan kakak perempuannya.
"Lakukan!" teriak Lysa terlihat begitu siap.
Jonathan memejamkan mata sejenak dan mulai fokus pada bidikannya. "Satu! Dua! Tiga!"
SWING! BLUARR!!
Baik Jonathan, Sandara, dan Arjuna tampak tegang. Suara ledakan yang hebat membuat Arjuna seperti menyadari jika hal buruk sedang terjadi pada tiga saudaranya.
"Kak Lysa! Kak Lysa!" teriak Jonathan panik karena lemparan granat tersebut meluluhlantahkan puing-puing besar tersebut hingga terlontar jauh.
"Hah, Kak Lysa ...," panggil Sandara sedih karena Lysa tak menunjukkan tanda-tanda selamat dari ledakan itu.
Jonathan langsung ambruk. Ia merasa bersalah karena telah meledakkan kakaknya. Air matanya menetes begitu saja karena duka.
"Hiks, Nathan harus bilang apa sama D dan Fara? Nathan harus bilang apa sama mama? Hiks, Kak Lysa ... maaf," ucap Jonathan terpuruk dalam kesedihan.
"Kau menyumpahiku mati? Sialan," umpat Lysa yang suaranya tiba-tiba muncul, tapi sosoknya tak terlihat.
Praktis, mata Arjuna, Sandara dan Jonathan melebar.
"Kak Lysa! Kau masih hidup? Kau di mana?" tanya Jonathan bergegas berdiri dengan satu kaki untuk mencari sosok kakaknya.
"Hah, hah, siaal. Tanganku mati rasa. Sepertinya aku tak bisa menggunakan dua tanganku untuk sementara waktu," ucapnya dengan napas terengah yang kini bersusah-payah menaiki puing menuju ke arah Jonathan berada.
Mata Jonathan melebar. Ia melihat punggung tangan Lysa lebam dan ada luka di sana hingga warnanya merah kebiruan. Jonathan miris, tapi juga kagum karena kakaknya berhasil selamat serta mampu bertahan.
"Aku ... bagaimana caraku melepaskan kakimu itu?" tanya Lysa bingung saat melihat jika kaki Jonathan terjepit pada puing batu, sama seperti nasib kedua tangannya.
__ADS_1
"A-aku masih memiliki granat mini di saku. Ambilah," ucap Arjuna pucat yang sudah berkeringat hebat.
"Hah! Juna!" panggil Lysa panik dan segera mendatangi saudaranya dengan susah payah melewati puing.
"Hai, Kak. Emph, hal ini terjadi lagi padaku," ucapnya dengan napas tersengal.
Lysa tampak panik. Ia melihat besi fondasi menusuk bahunya. Lysa kebingungan, tapi Arjuna masih bisa menggerakkan salah satu tangannya.
Arjuna merogoh sakunya dengan tangan gemetar dan keringat dingin terus keluar membasahi tubuh.
"Bebaskan Jonathan. Cepat. Hujan sebentar lagi turun," pinta Arjuna lemah karena merasakan angin berhembus semakin kencang.
Lysa berusaha menggerakkan kedua tangannya dan menengadah. Arjuna meletakkan granat mini itu di tangan kakaknya. Lysa kembali berlari dengan terhuyung ke arah Jonathan.
"Woah, sepertinya ... aku lebih berisiko," ucap Jonathan tak yakin karena ledakan itu bisa-bisa ikut melenyapkan kakinya.
"Lihat keadaan kita, Jonathan. Aku bahkan tak bisa menggerakkan dua tanganku lagi," ucap Lysa dengan dua tangan gemetaran.
Jonathan memejamkan matanya rapat dan mengangguk. "Oke. Nathan aktifin granat itu. Hanya saja, Kak Lysa yang lempar. Nathan akan berusaha menghindar begitu ledakan terjadi," ucapnya mencoba menguatkan hati, tapi ia tak yakin akan berhasil.
Dalam hati kecilnya, Lysa juga tak yakin jika ledakan itu tak membunuh sang adik karena puing yang menimbun kaki Jonathan jaraknya sangat dekat, berbeda dengannya.
"Tidak! Ini akan membunuhmu. Aku tak mau kehilangan lagi. Tidak," ucap Lysa menolak dan malah mundur ke belakang.
Jonathan terlihat bingung dan hanya bisa memegangi kepalanya karena merasa buntu, begitupula Sandara dan Arjuna.
Saat keheningan dalam kegelapan menyelimuti ruangan dan jiwa para mafia muda itu, tiba-tiba saja, BLUARRR!!
"Hah?!" pekik Jonathan langsung menutup kepalanya agar tak terkena puing ledakan dari tembok yang jebol di sebelahnya.
Lysa langsung tiarap dan membuat granat mini di tangannya terlempar. Beruntung, granat itu belum diaktifkan sehingga tak meledak.
"Kak Nathan! Apa yang terjadi?" tanya Sandara yang sedikit demi sedikit mampu menggeser tubuhnya agar bisa meraih belati Silent Blue miliknya.
"A-ada anggota pasukan Gagak!" jawabnya panik berusaha mendorong puing besar yang menghimpit kakinya.
Lysa segera bangkit dan ikut mendorong puing besar di atas kaki adiknya menggunakan punggung.
Tiba-tiba saja, "Hei! Lepaskan kakakku!" teriak Jonathan lantang saat tubuh Lysa dipegangi kuat dan ditarik agar menjauh darinya.
Lysa memberontak mencoba melepaskan diri dengan menginjak kaki pria itu kuat menggunakan tumit kanannya.
DUAK!
Suara erangan tertahan terdengar dari balik topeng gagak. Namun, hal itu malah membuat Lysa terhuyung ke samping dan kembali jatuh.
"Hah, Nathan!" panggil Lysa panik karena dua lelaki besar itu seperti melakukan sesuatu dengan kaki adiknya.
Namun siapa sangka, BRUKK!!
"Hah, hah," engah Jonathan ketika puing besar itu diangkat dari atas kakinya sehingga ia terbebas.
Dua lelaki itu lalu berjalan mendekati Sandara. Gadis cantik itu melebarkan mata terlihat kaget akan kedatangan dua pria bertopeng tak dikenal. Sandara berusaha meraih belati Silent Blue yang hampir ia dapatkan dengan susah payah.
"Agh, argh!" erangnya.
Benar saja, SRET!
__ADS_1
"Ergh!" erang salah seorang pria ketika ia berdiri di samping Sandara di mana salah satu tangannya berhasil memegang belati tersebut lalu menyabet kaki pria itu.
Sandara berusaha untuk bangkit, tapi perutnya masih tertindih. Saat Sandara mencoba untuk melawan lagi, DUAKK! KLANG!
"Agh!" rintih Sandara karena belatinya malah ditendang oleh salah satu pria itu hingga terlempar jauh.
Sandara ketakutan dan berusaha untuk menggapai dua kaki pria tak dikenalnya itu yang berada di kanan serta kirinya.
Namun, hal buruk yang ia bayangkan tak terjadi. Balok kayu itu diangkat dan dipindahkan. Sandara tertegun dan menatap dua orang itu saksama.
Dua orang itu tak bicara atau membantunya berdiri. Mereka lalu berjalan menuju ke arah Arjuna.
Jonathan berjalan pincang karena merasakan sakit di kakinya yang telah terbebas. Lysa mendatangi Sandara untuk mengecek kondisinya. Sandara bernapas lega, tapi merasa perutnya sakit karena tergencet terlalu lama.
"Kau tak apa?" tanya Lysa cemas. Sandara mengangguk pelan dengan wajah berkerut seraya memegangi perut.
"Kurasa ... mereka tak bermaksud jahat," ucap Jonathan ketika melihat dua orang tak dikenalnya itu memotong besi yang menusuk bahu Arjuna lalu mencabutnya paksa.
CRAT!
"Argh! Agh," teriaknya yang langsung tergeletak lemas menyandar pada puing usai terbebas dari besi itu.
"Kalian siapa?" tanya Arjuna dengan napas tersengal saat bajunya dilepaskan agar lukanya bisa diobati.
Dua orang itu tak menjawab saat menyuntikkan sebuah serum di dekat luka tusukan Arjuna seraya meninggalkan sebuah tas seperti perlengkapan medis.
Mereka bertindak seperti orang bertopeng gagak sebelumnya yang pergi begitu saja tak mengatakan apapun atau melakukan bantuan selanjutnya.
"Terima kasih," ucap Arjuna. Dua orang itu menghentikan langkah sejenak lalu kembali berjalan.
"Juna! Kau tak apa?" tanya Lysa yang kini mendatangi Arjuna dengan dua tangan berayun-ayun di depan tubuhnya karena tak bisa digerakkan.
"Hempf, ya. Ini menyakitkan, tapi ... aku tak apa," jawabnya seraya mengambil tas kecil itu lalu membuka isinya. "Kita harus segera pergi dari sini dan membantu yang lain. Sepertinya ... aku akan menyusul mama dan ayah Han jika benar harus mati," ucapnya dengan wajah pucat.
"Ya, aku juga," sahut Sandara berjalan mendekat dengan membungkuk karena sakit di perutnya.
"Aku ...," ucap Lysa bingung.
"Kau harus hidup, Kak. Demi D, Fara dan ... aku titipkan Loria padamu jika nyawaku terenggut. Aku percaya padamu," ucap Arjuna seraya memegang lutut kakak perempuannya yang berjongkok di depannya.
"Kau juga tak boleh mati, Kak Nathan. Kau memiliki anak. Jangan seperti Erik Benedict yang sangat mencintai puteranya, tapi anak yang dicintai tak mengenal ayahnya. Biarkan anak-anakmu nanti mengenalmu. Dan tolong, ceritakan tentangku. Katakan pada mereka, Bibi Dara menyayangi mereka," ucap Sandara berlinang air mata.
Jonathan tak menjawab. Ia memalingkan wajah dengan mata berlinang, begitupula Lysa. Empat anak Vesper berkumpul dan duduk saling berhadapan memandangi saudara mereka masing-masing.
"Inikah, akhir dari petualangan dan hidup kita?" tanya Jonathan dengan wajah sudah tergenang air mata.
"Entahlah. Namun, aku harus hidup sampai mama mendengar kita berhasil mengalahkan Miles. Jadi ... ayo! Perjuangan terakhir," ucap Arjuna berusaha bangkit seraya menekan luka di pundaknya dengan sebuah perban.
"Ya. Nathan harus berusaha sampai akhir. Kita harus pulang dengan selamat," ucapnya.
Sandara yang merasa beruntung karena tak terluka parah. Ia bergegas mengobati bahu Arjuna yang terluka. Ia juga membalut dua tangan Lysa dan juga kaki Jonathan yang dirasa retak karena tertimpa puing.
"Ayo!" ajak Lysa dan diangguki oleh tiga saudara lainnya.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ ngantuk uyy. mau bobo cantik dl dan smg gak ada typo. amin~