4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Musim Dingin Yang Panas*


__ADS_3

Kediaman Jonathan, Ceko. Awal tahun bulan Januari.


Pemuda tampan itu duduk dengan wajah serius saat menerima panggilan dari Yudhi.


"Barter sebagai permintaan maaf? Sorry, Yud. Gak ada dalam sejarah Nathan cara begituan. Nathan udah kasih 1 kelompok Pria Tampan dan itu setara 50 anggota The Circle," jawabnya tegas.


"Oke. Kau sendiri yang membuat petaka di hidupmu, Benedict. Terakhir kalinya aku meneleponmu. Sampai jumpa."


KLEK. TUT ... TUT ... TUT!


Jonathan menghembuskan napas panjang. Ia terlihat gelisah akan sesuatu. Tak lama, Sierra datang dengan kursi roda elektrik di temani oleh Click and Clack.


"Jo. Timmu sudah menelusuri Denmark, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Miles dan Cassie. Bisa jadi, mereka hanya singgah di dermaga dengan meninggalkan kapal, lalu pergi ke suatu tempat," ucap Clack menjelaskan.


Jonathan memejamkan mata dengan wajah tertunduk usai mendengar penjelasan dari salah satu bodyguard-nya.


"Aku sedang melakukan analisis penelusuran dengan wilayah sekitar. Aku sudah memasukkan Miles dan Cassie dalam daftar pencarian utama GIGA IGOR. Setidaknya, kami telah melakukan sesuatu untuk mencari kekasihmu," sambung Sierra dengan wajah datar. Jonathan mengangguk.


"Kau baik-baik saja? Kau terlihat lesu. Sudah minum vitaminmu?" tanya Venelope ikut masuk seraya membawa tablet dalam genggamannya.


"Belom," jawab Jonathan malas.


Sierra memutar bola matanya karena kedatangan sang rival. "Itu saja laporan dari kami. Ayo pergi," ajak Sierra kepada dua pria gundul tersebut. Venelope melirik Sierra yang terlihat masih tak menyukainya.


Venelope dengan telaten meletakkan kapsul-kapsul vitamin ke piring kecil dan botol air mineral untuk Jonathan konsumsi. Pemuda itu segera meminumnya meski terlihat murung.


"Ada apa? Katakan saja, mungkin aku bisa membantu," tanya Venelope. Jonathan diam sejenak.


"Gak ada. Cassie dan Miles belum ditemukan. Petakan seluruh tempat yang kamu ketahui milik The Cirle, No Face dan anak pak Sutejo yang masuk dalam kelompok nama Narkotika itu. Baik udah hancur atau bangunan itu berdiri. Cepat," perintahnya.


"Oke. Aku akan meminta bantuan Sierra dan Click and Clack untuk hal ini. Sabarlah menunggu," jawab Venelope seraya merapikan meja kerja Jonathan usai mengkonsumsi vitamin. Pemuda itu mengangguk.


Venelope keluar untuk melaksanakan perintah Bosnya. Jonathan masih diam memikirkan ucapan Yudhi padanya.


"Kenapa perasaan Nathan gak enak ya denger kata-kata Yudhi? Nathan gak salah kok. Cuma kayaknya, Yudhi emang udah gak kaya dulu. Dia berubah. Apa karena ... Nathan mihak orang-orang No Face itu?" tanya Jonathan terlihat tertekan dengan keputusannya.


Di tempat Yudhi berada, Kediaman Ahmed, Turki.


TUT .... KLEK!


"Hallo? Bagaimana?"


"Dia menyatakan perang, Dara. Dia tak memikirkan penderitaanmu dan kita selama dalam cengkeraman No Face. Dia harus diberi peringatan," jawab Yudhi dengan wajah dingin.


"Oke. Beri kak Nathan hukuman. Dara tak peduli meski kami lahir dari rahim yang sama. Kenyataannya, ayah kami berbeda. Mungkin karena itulah, ikatan persaudaraan kami tak kuat. Lakukan yang dirasa perlu. Biarkan kak Nathan merasakan penderitaan seperti yang kita rasakan, Sayang."


Senyum Yudhi terkembang. "Oke. Jaga kesehatan, dan ... selamat tahun baru. Aku menyayangimu, Dara."


"Hem, aku juga. Sampai jumpa."


Senyum Yudhi merekah. Sandara akhirnya membuka hati untuknya. Yudhi memasukkan ponselnya lagi di saku celana. Ia beranjak dari ruang kerja.


"Om Eko. Yudhi penasaran sama perusahaan Sandara dari aset pemberian Afro di Italia. Yudhi pengen ke sana. Boleh?" tanya Yudhi berjalan mendekati Eko yang terlihat sibuk bersama kelima puluh anggota Mirror sedang melakukan senam di tengah cuaca dingin di pinggir pantai.


"Ya boleh aja. Yang nemenin kamu siapa?" tanya Eko bingung.


"Yudhi akan baik-baik aja. Yudhi bisa pergi sendirian. Minta tolong aja sama anak buah Jordan buat jemput Yudhi kalau udah sampai di Italia," jawabnya dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

__ADS_1


"Oke. Ya udah siap-siap. Kamu bisa urus keberangkatanmu sendiri 'kan?" Yudhi mengangguk.


Ia mempercayakan kelima puluh anak buah barunya kepada Eko. Salah satu bodyguard kepercayaan Vesper tersebut menatap Yudhi seksama di mana sejak ia bertemu lagi dengannya, Eko menganggap Yudhi telah berubah baik perilaku atau ucapan.


Keesokan harinya, Yudhi terbang seorang diri ke Italia dengan tujuan Perusahaan Elios yang kini dikelola oleh Naomi dan Jordan.


Yudhi bagaikan tangan kanan Sandara Liu. Yudhi merasa, jika Sandara satu-satunya orang yang mengerti sakit yang dirasakannya, dan kesedihan itu tak mudah untuk dihilangkan.


Setibanya di Italia setelah menempuh penerbangan kurang lebih 2 jam penerbangan, Yudhi telah dijemput oleh Bayu, di mana pria itu sedang menikmati libur di akhir pekan.


"Ealah, udah gede aja loh kamu, Yud. Wah sekarang gantiin usaha Ahmed ya? Semangat ya," ucap Bayu dengan senyum terkembang dan Yudhi berterima kasih dengan anggukan.


"Om. Bisa gak kita ke perusahaan Elios dulu? Yudhi penasaran sama perusahaan farmasi itu. Biar Yudhi ngobrolnya nanti nyambung sama Naomi dan Jordan. Biar Yudhi gak keliatan bego-bego banget gitu," pintanya memelas.


Bayu diam sejenak terlihat berpikir, tapi akhirnya senyumnya terkembang. "Boleh dong," jawabnya dengan anggukan. Yudhi berterima kasih.


Siang itu, mereka tiba di Perusahaan Farmasi Elios. Terlihat beberapa petugas dan pegawai yang melakukan lembur di hari sabtu tersebut.



*Ilustrasi skema kinerja di perusahaan farmasi. Picture by dreamstime.com


Bayu mengajak Yudhi untuk melakukan tour. Yudhi mengenakan pakaian khusus dan juga masker selama memasuki beberapa ruangan terutama bagian produksi obat dengan bantuan robot di sana.


Hingga pandangan Yudhi terfokus pada sebuah proses pembuatan serum. Yudhi menunjuk dari balik kaca saat ia melihat mesin-mesin itu bergerak dengan menuang cairan berwarna merah sesuai dosis.



"Itu apa, Om?"


Bayu terlihat pucat. Ia mendekat dengan telunjuk di depan bibir seperti ingin mengatakan hal rahasia. Yudhi menyipitkan mata.


"Serum pengering?" tanya Yudhi berkerut kening dan Bayu mengangguk cepat.


"Jadi, kalau manusia atau hewan kena serum itu, tubuhnya mengalami penyusutan. Jadi kisut, mm ... keriput gitu. Ibarat kaya lahan subur tau-tau jadi tandus dan kering kerontang. Serem lah pokoknya," jawab Bayu bergidik ngeri.


"Udah uji coba?"


"Udah. Ke hewan doang. Semuanya langsung kering kaya ikan asin dijemur. Lama-lama mati. Tapi bagusnya, mayatnya itu gak bau. Nanti bangkainya jadi tinggal kulit dan tulang, kaya mumi," jawab Bayu mantap. "Kalau yang biru, itu serum penawarnya," sambungnya berbisik seraya menunjuk ruangan di sebelah pembuatan serum berwarna merah, hanya terpisah dinding kaca dan terlihat satu petugas di masing-masing ruangan.



Yudhi mengangguk pelan. Ia memuji kehebatan temuan Yu Jie. Keduanya kembali berjalan. Yudhi melirik ke arah laboratorium tempat diproduksinya serum tersebut.


Akhirnya usai berkeliling, Bayu mengajak Yudhi ke rumah Amanda yang kini ditempati oleh Jordan dan Naomi.


"Om, Yudhi pipis bentar. Di mana toiletnya?" tanyanya meringis.


"Pipis di pohon aja blagu amat cari toilet." Wajah Yudhi berubah aneh dengan kerutan terlihat jelas di parasnya. "Hahaha! Bercanda. Masuk aja tar belok kiri ada tulisan 'Telolet'. Cepet ya, jangan nyasar," serunya mantap.


"Oke, Om!" jawab Yudhi segera berlari masuk ke dalam gedung lagi.


Sepuluh menit kemudian, Yudhi kembali dengan senyuman, terlihat sudah puas dengan kegiatannya barusan.


Mobil melaju meninggalkan perusahaan farmasi. Jarak kantor dengan kediaman Amanda di Napoli tak terlalu jauh. Mereka tiba di rumah megah itu dengan Naomi dan Jordan telah menyambut kedatangan mereka di pintu utama.


"Hai, Yudhi!" sapa Naomi dengan senyum terkembang.

__ADS_1


"Hallo, Kak. Ternyata kak Naomi awet cantiknya, padahal lagi hamil. Iya 'kan?" tanyanya dengan senyum merekah seraya mengajak berjabat tangan.


Naomi tersipu malu. Jordan ikut menjabat dengan wajah datar tak ada senyuman di wajahnya. Yudhi menatap Jordan lekat entah apa yang dipikirkannya.


"Ayo masuk. Laper 'kan?" tanya Naomi ramah dan Yudhi mengangguk lugu.


Naomi menyambut tamunya dengan makan siang hidangan Italia. Terlihat, Yudhi menikmati sajian menggunggah selera itu. Jordan menatap gerak-gerik Yudhi, dan pemuda tersebut menyadarinya.


"Di mana Sandara?" tanya Jordan tiba-tiba dan mengejutkan semua orang.


"Kayaknya kurang tepat pertanyaanmu, Jordy. Ada Naomi di sini," jawab Yudhi melirik Jordan sekilas dan melanjutkan menikmati pasta.


"Oh, gak papa kok. Memang kenapa? Aku juga udah tau kisah masa lalu Jordan dan Sandara," jawab Naomi dengan senyuman meski terlihat kaku.


"Sungguh? Oh, baguslah. Walaupun kak Naomi tersenyum, tapi pasti ... ada perasaan nyesek dikit 'kan denger nama Sandara disebut. Bagaimanapun, Jordan dan Dara pernah deket, bahkan suamimu itu pernah berniat menikahinya."


"Keluar!" tegas Jordan menunjuk pintu.


"Kamu yang mulai. Kenapa marah? Berarti bener 'kan omongan Yudhi. Apa masih ada perasaan? Sebaiknya lupakan. Kamu bakal jadi Ayah, jangan bikin malu nama Boleslav," jawab Yudhi ketus seraya mengambil gelas berisi air mineral di sampingnya.


Suasana canggung seketika. Jordan menatap Yudhi tajam yang terlihat santai dengan tatapan ancamannya.


"Mm, Yudhi, kalau boleh tau, ada apa ya kamu dateng kemari. Tumben," tanya Naomi canggung.


Yudhi mengelap mulutnya dengan serbet yang tersedia lalu duduk tegak. Semua orang memandanginya saksama penuh tanda tanya.


"Yudhi cuma mau ngucapin terima kasih pada kalian semua karena sudah menjalankan perusahaan farmasi Elios dengan baik." Kening Jordan, Naomi dan Bayu berkerut. "Hanya saja, seperti yang kalian tahu, bosnya tetep Sandara, dia pemiliknya. Jadi ... bersiap saja misal suatu saat nanti Dara kembali lalu melakukan ya ... pergeseran pekerjanya. Sebaiknya mulai dipikirkan kalian akan ke mana setelah ini."


Praktis, mata semua orang melebar seketika.


"Habis manis sepah dibuang?" tanya Bayu ikut melotot.


"Yang kalian lakukan selama ini gak sepadan dengan penderitaan yang Dara terima. Ia terluka dan hampir mati di luar sana. Kalian tetap berhak untuk mendapatkan segala fasilitas, gaji, pesangon, tunjangan dan lain-lain selama berkontribusi dalam perusahaan, tapi, setelah Dara kembali, sebaiknya uang-uang yang kalian terima selama ini disimpan jika tak menemukan pekerjaan di luar sana sebagai penggantinya."


Semua orang tertegun dengan ucapan Yudhi barusan. Perasaan sesak dan sakit hati menyelimuti hati para pendengar yang telah bekerja keras menjalankan Perusahaan tersebut.


"Namun, Yudhi yakin, kalau perusahaan Boleslav bisa menampung kalian nantinya karena Jordan salah satu penerusnya. Sebentar lagi, ia akan menjadi pemilik sah perusahaan tersebut," jawab Yudhi santai.


Naomi terlihat shock. Ia sampai tak bisa melanjutkan makan dan hanya bisa terus minum.


Jordan akhirnya meminta Naomi untuk kembali ke kamar untuk beristirahat. Naomi pamit karena terlihat pucat. Bayu tetap duduk dan menatap Yudhi tajam seperti memiliki maksud.


"Maumu apa, Yud?" tanya Bayu to the point.


"Simple. Kembalikan, apa yang seharusnya menjadi milik Sandara. Om Bayu bisa tetep kerja di sini bareng Yu Jie. Yudhi bisa liat, om Bayu suka 'kan sama cewek itu, sayangnya ... Yu Jie udah punya pacar. Itu ... masalah mudah. Yudhi yakin, kalau Yu Jie dan pion itu akan segera putus," jawab Yudhi santai lalu meneguk gelas di sampingnya. Bayu menyipitkan mata.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Tengkiyuw tipsnya dan selamat akhir pekan❤️ Lele padamu💋


Oia udah intip belom? Novel ini didubbing sama abang Sin loh. Boleh ya diintip dan tinggalkan komen serta likenya sebagai bentuk dukungan. Cuma lele ketawa pas suara si abang berubah jadi ganjen pas Vesper dan tokoh cewek lainnya muncul. Kwkwkw😆

__ADS_1



__ADS_2