
Info. Simulation udh up ya. Lele up 2 naskah di sana jm8 pagi dan jm5 sore. Kwkw kalo bikin SIMULATION itu rasanya kaya di negeri khayalan dg kata2 "Seandainya ...." kwkwkw krn sulit direalisasikan dalam dunia nyata, seneng aja gitu bisa ditulis meski hanya dalam sebuah novel.
Baiklah semoga suka dan Simulation masih belom tentu jadwal up karena lele fokus di 4YMS2 meski smpi skg level masih stuck di 7 begitupula SM. Sedihnya😩
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
------- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
Naomi dan asisten barunya yang dipanggil Sun terkejut. Arjuna menatap Sun tajam, terlihat seperti tak menyukainya.
"Ke-kenapa, Tuan Muda?" tanya Naomi gugup.
"Tak perlu tanya kenapa. Aku bilang tidak ya tidak!" jawabnya langsung bernada tinggi.
Naomi menatap Tuan Mudanya tajam.
"Namun sayangnya, para Dewan Direksi setuju, termasuk nyonya Vesper dan tuan Han."
"What? Kenapa melibatkan ayah dan ibu? Dan kenapa tak menghubungiku?" tanya Arjuna langsung melotot tajam pada asistennya.
"Aku sudah meneleponmu, tapi tak kau angkat. GPS menunjukkan kau berada di Kastil Hokkaido dan saat aku mengkonfirmasi ke petugas penjaga, mereka mengatakan kau sedang sibuk berduel. Nyonya Vesper dan tuan Han tak bisa menunggu lebih lama lagi. Teleconference sudah dilakukan. Kau tak membaca pesanku?" tanya Naomi tegas.
Nafas Arjuna menderu. Ia langsung duduk dengan menahan sakit di kepalanya. Naomi menatap Tuan Mudanya seksama yang meliriknya dan Sun bergantian.
"Baiklah jika begitu. Terserah saja jika Dewan Direksi mau mempekerjakannya, tapi aku, tak mau mengakuinya," tegas Arjuna menunjuk Sun.
Asisten baru Naomi langsung berwajah serius seketika, begitupula Naomi.
"Jika kau tak mengakuinya, kau sama saja tak mengakuiku, Tuan Muda. Sebelum kemari, Sun sudah membantuku menyelesaikan berkas-berkas yang seharusnya baru selesai minggu depan. Dengan hadirnya Sun, pekerjaan itu selesai dalam beberapa jam saja. Apa kau tak bisa melihatnya begitu berarti?" tanya Naomi menunjuk Sun yang masih duduk bersimpuh dengan wajah memerah seperti akan menangis.
"Sun berarti untukmu? Sebegitu pentingnya kah dia bagimu?" tanya Arjuna terheran-heran.
Naomi menarik nafas dalam.
"Sepertinya, kau memang tak ada niatan untuk mengurangi bebanku mengurus perusahaanmu, Tuan Muda. Aku tak menyangka jika ucapan nyonya Vesper benar, jika kau pasti tak akan menyetujui keputusanku memilih Sun untuk membantuku. Baiklah. Aku juga telah memutuskan. Aku akan menyerahkan semua pekerjaanku kembali pada Tuan Alex. Aku sudah tak sanggup. Aku keluar," ucap Naomi langsung berdiri dan berjalan begitu saja.
"Na-Naomi!" teriak Arjuna panik.
Namun saat akan berdiri, Arjuna kembali roboh dengan mata terpejam memegangi kepalanya yang sakit.
Sun segera menolong Tuan Mudanya, tapi Arjuna menampik tangannya. Sun menarik nafas dalam.
"Tuan Muda. Maaf jika saya lancang berbicara. Anda tak perlu cemburu dengan kehadiran saya sebagai asisten nona Naomi. Saya sudah menganggap dia sebagai adik. Saya juga telah memiliki kekasih. Selain itu ... saya mengetahui taruhan Anda dengan tuan Yusuke," jawab Sun tersenyum tipis.
Mata Arjuna terbelalak. Ia langsung duduk dan menatap Sun tajam yang duduk bersimpuh di depannya.
"Jika nona Naomi tahu, Anda menjadikannya sebagai taruhan, Anda pasti dibenci olehnya. Tak ada satupun wanita di dunia yang sudi dijadikan barang taruhan kecuali memang dia yang memintanya sendiri. Apakah Anda sudah meminta izin padanya jika Naomi dijadikan taruhan?" tanya Sun berkesan menyindir.
"Kau ... mengancamku?"
__ADS_1
Sun menggeleng. "Saya menyelamatkan harga diri Anda, Tuan. Saya bisa melindungi Anda dari hal-hal seperti ini dari Nona Naomi. Sekali lihat, saya bisa tahu, jika Anda ... menyukainya."
DEG.
Arjuna diam mematung. Sun mengatakannya dengan sangat jelas dan tersenyum. Bagi Arjuna, ini sungguh sangat memalukan dan seperti hinaan.
"Menjadi asisten nona Naomi, adalah sebuah capaian besar bagi saya yang selama ini hanya menjadi prajurit dalam Black Armys. Saya masih muda seperti Anda. Saya juga ingin berpetualang di luar sana. Saya belajar dan saya bisa diandalkan. Jadi, mohon pertimbangkan kembali untuk menerima saya bergabung dalam jajaran Anda, Tuan Arjuna. Saya bisa membantu Anda untuk membawa nona Naomi kembali," ucapnya yang diakhiri dengan membungkuk hormat dan senyuman.
Arjuna tampak bingung dalam bersikap. Saat Arjuna sedang terlihat serius berpikir, tiba-tiba ....
"Junet! Naomi pergi!" teriak Biawak Putih langsung menggeser pintu lebih lebar.
"What?!" pekik Arjuna kaget.
Sun memegangi Arjuna meski masih terlihat anak kedua Vesper tersebut tak menyukainya. Arjuna berjalan tergesa dan terlihat kecemasan dalam dirinya.
BROOM!!
"NAOMI!" teriak Arjuna panik saat mobil yang dikendarai Naomi melaju kencang meninggalkan Kastil.
Dengan sigap, Sun mendatangi sebuah motor sport dan mengambil helm di atasnya. Arjuna bingung saat Sun malah memberikan benda itu padanya.
"Kejar dia. Katakan, Anda menyesal. Bilang saja, Anda sedang tertekan karena harus mengumpulkan anggota pasukan. Lalu katakan, bahwa Anda menerimaku dan mintalah dengan sangat agar dia kembali padamu," ucap Sun mantap menatap wajah Arjuna lekat.
Arjuna mengedipkan mata. Namun, Biawak Putih setuju dengan ucapan Sun. Arjuna mendesah kesal. Ia segera memakai helm itu untuk melindungi kepalanya.
"Kejar dia, Tuan Muda! Aku sangat yakin jika nona Naomi akan ke Bandara. Cepat!" teriak Sun lantang.
Arjuna mengangguk. Ia segera menekan penuh gas motor milik anak buah Yusuke. Semua orang terlihat tegang. Ketika mereka akan menyusul, Yusuke menghentikannya.
Yusuke melirik Sun yang berdiri di samping Biawak Putih lalu kembali masuk ke dalam Kastil.
"Heh, Anak baru. Kamu lumayan juga," senggol Biawak Putih.
Sun tersenyum terlihat malu karena dipuji. Sun pamit masuk ke dalam di mana masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan mengingat Naomi pergi dan Tuan Mudanya sedang mengejarnya.
Di jalan raya.
NGENGGG!!!
Baik Naomi ataupun Arjuna, sama-sama tak mau mengalah. Naomi yang diliputi kekecewaan, tak peduli saat Arjuna mengklasonnya berulang kali.
Naomi tetap melaju mobilnya kencang, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Hingga akhirnya, Arjuna mendapatkan peluang saat kemacetan terjadi di traffic light.
Arjuna segera memepet mobil Naomi dan menggedor jendelanya. Naomi tetap diam saja dengan kedua tangan mencengkeram kuat stir mobil dan pandangan tajam ke depan.
"Naomi! Hei! Naomi!"
DOK! DOK! DOK!
Perbuatan Arjuna menarik perhatian. Naomi tetap tak menggubris panggilan Tuan Mudanya. Arjuna kesal. Ia menaikkan motornya ke atas trotoar yang tak memiliki level.
Naomi dan semua pengendara menoleh, melihat gerak-gerik lelaki yang mengarahkan motornya dalam posisi melintang. Semua orang bingung. Tiba-tiba ....
NGENGG!!
__ADS_1
BRAKKK!!
"Agh! Dasar gila!" pekik Naomi karena Arjuna menabrakkan moncong motornya ke pintu mobil hingga dua body kendaraan itu penyok.
"Keluar!" teriak Arjuna marah dengan mata melotot.
Naomi tetap enggan melakukannya. Arjuna memundurkan motornya lagi. Ia kini memaksa pengendara lain untuk menyingkir. Merekapun melakukannya dengan ketakutan karena Arjuna seperti berandalan.
Arjuna menggeletakkan motornya begitu saja di depan mobil Naomi, menghalangi jalannya.
Naomi kesal bukan main, ditambah, Arjuna melepaskan helmnya dan menentengnya sembari menaiki kap mesin mobil sedan yang dikendarai Naomi.
BRANGG!!!
"AAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" jerit Naomi karena Arjuna menggunakan helmnya untuk memecahkan kaca depan mobil.
Para pengendara lainnya panik. Mereka segera menghindar. Bahkan, petugas polisi lalu lintas langsung mendekatinya karena mendapat laporan dari pengguna jalan akibat aksi rusuh yang dilakukan Kim Arjuna.
BRANGG!! PRANGG!!
"AAAA!" jerit Naomi.
"Keluar!" teriak Arjuna saat kaca bagian depan mobil pecah dan terbentuk lubang di sana.
Nafas Naomi menderu. Ia melihat Arjuna menginjak kaca bagian depan mobil dengan kuat sampai remuk dan terlepas dari bingkainya.
Arjuna menariknya paksa dan melemparkan kaca ke trotoar dengan kedua tangannya.
Naomi menutupi kepalanya agar tak terkena pecahan. Ia tak bisa keluar, karena pintunya macet akibat benturan kuat yang dilakukan Arjuna pada pintu mobilnya menggunakan motor.
"Hah! Hah, Naomi," panggil Arjuna dengan nafas tersengal yang menerobos masuk ke dalam, melewati bagian depan kaca mobil yang sudah tak memiliki kaca lagi.
Naomi menutupi wajah dengan kedua tangan. Ia menangis. Amarah Arjuna reda seketika. Ia duduk di sebelah Naomi dan menatapnya dengan sendu.
"Hei! Angkat tangan!" panggil petugas polisi lalu lintas mengarahkan pistol ke tubuh Arjuna.
Arjuna melirik para polisi yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata tajam. Arjuna tersenyum miring, para polisi itu tegang seketika.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang.
"Berani menggangguku, kalian akan berurusan dengan keluarga Tendo," ancamnya.
Para polisi itu gugup seketika. Arjuna tersenyum tipis saat para polisi itu saling memandang dan pada akhirnya, malah mengatur lalu lintas agar tak menimbulkan kemacetan.
Arjuna kembali pada Naomi di mana kawan semasa sekolahnya itu terlihat begitu sedih. Tak henti-hentinya ia menangis bahkan sampai sesenggukan.
Arjuna menarik nafas dalam, ia siap mempraktekkan ucapan dari Sun.
"Naomi ...."
***
tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋💋
__ADS_1