
Crazy up gak yaa?? Kemarin lele up 4 naskah jadi hari ini ... berapa ya? Bau-baunya lele mau tongolin visual juna tapi mbuh bisa up hari ini apa gak ya ... intip vote koin dulu ah. Kwkwkw. Lele padamu, tnx vote koinnya๐๐๐
------ back to Story :
Arjuna kembali ke hostel tempatnya menginap. Arjuna yang tak begitu suka dengan kemewahan, berdiri sembari memegangi ponselnya menatap birunya lautan di hari yang menjelang siang.
"Hempf, kenapa dia tak mencariku? Sibuk apa sih?" desah Arjuna berulang kali menyalakan dan mematikan layar ponselnya untuk melihat notifikasi.
"Apa kutelepon saja, tapi ... masa dia gak khawatir gitu setelah seharian aku gak ada kabar? Naomi gimana sih?" keluhnya kesal melemparkan ponselnya di atas ranjang.
TREETTT!!
Mata Arjuna melebar seketika. Ia menghampiri ponselnya, tapi setelah melihat di layar, bukan Naomi yang meneleponnya. Arjuna mendesah malas sebelum menerima panggilan itu.
"Hem, ada apa, Yusuke-kun?" tanya Arjuna kembali ke balkon untuk melihat laut yang rasanya ingin ia selami.
"Kau di mana? Kudengar dari Naomi, kau masih kurang sekitar 100 orang untuk dijadikan pasukan. Jika tak sibuk, datanglah ke Jepang. Kemarin, aku bertemu para penjahat rendahan yang berusaha mengambil wilayahku. Kalau kau mau, kau ambil mereka. Lumayan, ada 10 orang. Bagaimana?"
"Oh, serius? Oke. Aku akan ke sana. Tolong simpan mereka. Terima kasih, Yusuke," jawab Arjuna tersenyum merekah.
Namun tiba-tiba, senyumnya meredup. "Kenapa Naomi malah menghubungi Yusuke, bukan aku? Eh, kok Naomi tahu jika aku masih kurang 100 orang?" guman Arjuna terlihat berpikir.
Tiba-tiba, TREEET!!
Nama yang dinantikannya akhirnya muncul, tapi entah kenapa, ia malah berdebar karena takut kena omelan sekretarisnya yang garang jika sedang mengamuk. Arjuna menarik nafas dalam sebelum menerimanya.
"Hai, Naomi," sapanya ramah.
"Yusuke sudah meneleponmu, Tuan Muda?" tanya Naomi terdengar sedikit ketus.
"Ya, begitulah," jawabnya sembari menggosok dagunya.
"Aku mempercepat jadwal ke Semarang. Aku akan pergi ke sana hari ini bersama Tante Tika dan Shinta. Lalu besoknya, aku akan terbang ke Jepang menyusulmu."
"Ka-kau, kau akan ke Jepang?"
"Hem. Lalu ... berapa yang kau dapatkan di Doha?"
Arjuna terkejut karena Naomi mengetahui rencananya. Arjuna panik. Apalagi saat Naomi mengalihkan panggilannya menjadi video call.
"Mati gua, aduh," ucapnya panik.
"Aku mendengarmu, Tuan Muda. Kau menghindariku? Baiklah, aku tak akan meneleponmu lagi."
"Eh, eh."
KLIK!
Pada akhirnya, Arjuna mengalihkan panggilannya ke video call.
Arjuna tampak gugup sembari menggaruk pinggir alisnya dengan telunjuk. Terlihat wajah dingin Naomi yang sepertinya kesal padanya.
"Aku diberitahu Tante Shinta jika kau ingin memberikanku asisten. Benarkah begitu?"
Arjuna mengangguk pelan.
"AAAA! Terima kasih, Tuan Muda! Aku sangat senang, kau sungguh mengerti yang kubutuhkan. Baiklah, kau tak perlu repot-repot untuk mencari asisten untukku. Aku sudah memiliki kandidatnya. Akan kutemukan kau dengannya besok saat di Jepang. Baiklah, semoga kau mendapatkan banyak anggota di Doha, Tuan Muda. Have a good day!" ucap Naomi sembari melambaikan tangan dengan senyum merekah.
"Bye," jawab Arjuna ikut tersenyum sembari melambaikan tangan.
Senyum Arjuna terkembang ketika panggilan itu dimatikan. Hatinya berbunga-bunga dan wajahnya merona.
__ADS_1
Arjuna segera menghubungi Biawak Putih dan Hijau yang masih mengurusi anggota rekrutan barunya di Doha.
"Bang, tar malam Juna mau ke Jepang. Bawa orang-orang itu ke Grey House. Kita akan latih mereka di Camp Militer sekaligus mendaftarkan penambahan jumlah anggota pasukan Bala Kurawa kepada One," ucap Arjuna kembali melakukan panggilan.
"Oke, Bos!" jawab Biawak Hijau semangat.
Arjuna segera menyiapkan penerbangan untuknya malam nanti. Ia tak jadi terbang ke Amerika karena urusan di Jepang dirasa lebih menjanjikan untuknya.
Arjuna bersiap untuk meninggalkan Doha malam itu ditemani oleh Biawak Putih. Sedang, Biawak Hijau akan ditugaskan ke Grey House membawa 20 anggota rekrutan baru menggunakan pesawat komersil ke China nantinya.
Malam harinya, pesawat pribadi Han bertolak ke Jepang meninggalkan Doha.
Sekitar kurang lebih 18 jam penerbangan, akhirnya pesawat Arjuna dan Biawak Putih mendarat dengan selamat di Sapporo Okadama Airport, Hokkaido, Jepang.
Anak buah Yusuke Tendo sudah siap menjemput di hanggar. Arjuna dan Biawak Putih segera meninggalkan Bandara menuju ke kediaman Yusuke yang berada di Rumoi, dekat pinggir pantai dengan konvoi mobil kurang lebih 2 jam.
Arjuna terlihat menikmati perjalanan darat itu menyusuri jalanan aspal pinggir pantai. Arjuna sengaja membuka jendela mobil untuk menikmati udara pantai dan perbukitan yang sejuk.
Arjuna tiba sore hari menjelang matahari tenggelam. Perbedaan waktu antara Doha dan Hokkaido, lebih cepat 6 jam di Jepang.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang.
"Hei, Juna! Masuklah," sambut Yusuke langsung memeluknya karena bagaimanapun, mereka masih memiliki keterikatan hubungan darah dari kakak beradik mendiang Hashirama dengan mendiang saudara lelakinya, Tendo.
"Aku masih kurang 70 orang lagi, Yusuke-kun," panggilnya akrab meski lesu. Yusuke terkekeh.
"Aku akan membantumu. Mereka aku sekap di penjara bawah tanah. Besok kita akan menemui mereka. Jadi, bagaimana jika malam ini bersenang-senang? Aku sengaja tak menghibur diri karena menunggumu," ajaknya dengan senyum penuh maksud.
"Haish, nanti Naomi marah," jawabnya garuk-garuk kepala. Yusuke makin tertawa senang.
"Haha, Naomi itu sekretarismu, tapi lagaknya sudah seperti isterimu saja. Oh, apa jangan-jangan, kalian sudah berpacaran? Menikah diam-diam mungkin?" tanya Yusuke penuh selidik.
"Tidak mungkin. Naomi itu asistenku, bodyguard-ku. Kami tak mungkin bisa menikah. Perbedaan status sosial kami terpaut jauh. Aku tak mau seperti papa Kai dan mama Lily. Aku tak mau mengulang kisah itu," jawabnya tegas.
Yusuke mengangguk begitu pula semua orang yang mendengar. Yusuke melirik CCTV yang berada di sudut atap ruangan dan tersenyum tipis.
"What?!" pekik Arjuna langsung tersulut emosi.
"Ah, sudah-sudah, tak usah dibahas lagi. Aku tahu kau tertekan dengan persyaratan untuk menjadi anggota dewan baru. Oleh karena itu, kita bersenang-senang dulu, oke? Wajahmu ini, imut sekali, tak ada garang-garangnya. Kau lelaki sungguhan atau tidak sih?" sindir Yusuke memegangi wajah Arjuna dan memiringkannya ke kanan dan ke kiri.
"Sembarangan bicara!" teriak Arjuna kesal, melepaskan kedua tangan Yusuke di wajahnya.
Yusuke makin tertawa gembira berikut beberapa orang meski hanya tersenyum saja, karena takut kena amukan Arjuna yang dikenal tempramental.
"Baiklah, ayo. Akan kuajarkan bagaimana cara agar terlihat tangguh. Sekali lihat, orang-orang akan langsung berpikir 1000 kali untuk melawanmu," ucap Yusuke merangkul pundak Arjuna sembari membawanya keluar Kastil.
Arjuna menurut. Ia merasa, jika Yusuke sangat mengerti apa yang diinginkannya setelah Afro.
Selama di perjalanan, Arjuna tampak murung teringat akan nasib sahabatnya yang sama cerewetnya dengan Naomi dan selalu memberikan nasehat.
"Hei, Juna!" panggil Yusuke yang ternyata sudah keluar dari mobil dan wajahnya kini melongok ke dalam.
"Oh," jawab Arjuna terkejut dan langsung turun.
Arjuna tampak bingung ketika Yusuke mengajaknya ke sebuah Distrik seperti tempat hiburan malam. Arjuna menghembuskan nafas pelan.
Ia tahu jika Yusuke sangat suka sekali minum, berjudi dan main perempuan. Arjuna garuk-garuk kepala karena ia pasti akan dilibatkan dan akan sangat sulit untuk menolak kali ini.
"Hallo, Tuan Yusuke," sapa para gadis cantik Jepang dengan yukata yang sengaja dibuat dengan tampilan seksi.
"Hallo, para kekasihku. Jadi, dia ini Kim Arjuna, sepupuku," ucap Yusuke mengenalkan.
Arjuna hanya tersenyum dan terlihat canggung saat dua gadis langsung merangkul kedua lengannya. Yusuke terlihat senang, karena kali ini Arjuna tak menolaknya.
__ADS_1
"Ayo kita minum!" ajak Yusuke semangat begitupula para gadis-gadis itu.
Arjuna berjalan terlihat sedikit tertekan akan hal ini. Ia melihat sebuah tempat tattoo di mana sudah lama ia ingin menorehkan sebuah gambar di tubuhnya untuk mengingat seseorang.
"Oh, Yusuke! Aku ... aku mau ke tempat tattoo. Kau duluan saja, aku akan menyusul," ucapnya langsung berhenti di depan sebuah studio tattoo dan melepaskan rangkulan dua wanita di kanan kirinya.
"Haish, dia kabur lagi. Dasar pengecut. Dia ini homo atau bagaimana ya? Seperti takut dengan perempuan," keluh Yusuke melihat Arjuna langsung berjalan tergesa memasuki studio tattoo diikuti oleh Biawak Putih.
"Ya sudah. Kita bersenang-senang dulu saja," ucap Yusuke kembali tersenyum sembari merangkul pinggang dua gadisnya.
"Ya, Tuan," jawab keduanya manja.
Arjuna mengintip dari jendela studio tattoo itu dengan menghembuskan nafas lega setelah melihat Yusuke pergi. Biawak Putih ikut melihat gambar-gambar tattoo di studio itu.
"Selamat datang. Wow, kau tampan sekali. Jadi, kau ingin di tattoo dengan lukisan seperti apa? Khusus untuk Anda yang berwajah tampan, aku berikan bonus cukur rambut. Bagaimana, Tuan?" bujuk pria yang memiliki banyak tattoo hingga kedua lengannya tertutupi.
"Boleh. Kau ... punya gambar bunga?"
"Bunga? Ya, saya punya banyak. Sebelah sini, silakan pilih," jawabnya sembari menunjukkan koleksi gambar tattoo-nya.
Biawak Putih mengikuti Arjuna yang melihat-lihat gambar bunga, tertempel pada lembaran kertas di dinding. Hingga akhirnya, Arjuna mendapati gambar yang diinginkannya.
"Aku mau yang ini," ucapnya menunjuk sebuah gambar bunga yang cukup besar.
"Wah, pilihan bagus. Lalu, kau ingin aku mentatonya di mana?" tanya lelaki itu mendekatinya. Arjuna diam sejenak dan tersenyum tipis.
Biawak Putih asyik bermain video games di ponselnya dengan serius sembari menikmati cemilan pemberian studio tattoo tersebut.
Biawak Putih dengan setia menunggu Arjuna yang sedang menjalani proses tattoo di tubuhnya.
Arjuna yang sengaja menyuntikkan dirinya dengan obat pereda nyeri, tak merasakan efek dari pengerjaan tattoo di tubuhnya. Arjuna malah tertidur karena pengerjaan yang cukup lama.
"Eh, dia ... dia tidur?" tanya tukang tattoo, karena Arjuna memejamkan mata dan mendengkur lirih.
"Haish, si Bos. Dikira dipijet malah merem," keluh Biawak Putih.
Tukang tattoo itu bingung dan terlihat kesulitan untuk melanjutkan karena kepala Arjuna bergoyang ke sana dan kemari. Seringai kejahilan Biawak Putih muncul.
Lelaki yang mentato Arjuna terkekeh saat melihat kepala pelanggannya diikat oleh sebuah tali ke besi sandaran duduk. Kepala Arjuna sengaja dimiringkan, karena tattoo itu berada di leher.
Sekitar dua jam pengerjaan, tattoo baru Arjuna telah dioleskan salep antibiotik dan juga perban agar tak infeksi.
Biawak Putih menerima obat dari seniman pembuat tattoo itu saat Arjuna masih terlelap dalam tidurnya.
"Karena Tuan Muda saya masih tidur, izinkan kami untuk di sini sebentar sampai di jemput oleh Yusuke," ucap Biawak Putih sopan.
"Oh! Kalian mengenal Yusuke Tendo? Kalau boleh tahu, kalian siapanya?" tanya lelaki itu terkejut.
"Lelaki itu bernama Kim Arjuna. Dia masih sepupu Yusuke. Tuan Tatsuya dan Vesper masih memiliki hubungan saudara," terang Biawak Putih menjelaskan.
"Oh, kalau begitu. Tak usah bayar. Sungguh, tak apa. Kalian tak bilang. Saya kira, kalian pengunjung, turis biasa. Maaf, jika saya tidak sopan," ucap lelaki itu sungkan.
Biawak Putih tersenyum dan mengangguk pelan.
"Boleh, minta makan? Saya lapar," ucapnya meringis.
Pria itu langsung membungkuk dan segera memesankan makanan untuk pelanggan VVIP-nya.
Biawak Putih merasa bagaikan di nirwana, dilayani bahkan oleh dua gadis Jepang sembari menunggu Tuan Mudanya bangun dari mimpi indahnya.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST