4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kau Mengecewakan


__ADS_3

Minggu pertama bulan April.


Di tempat Jonathan berada. Black Castle, Inggris.


Pemuda itu tampak kesal karena dihajar oleh anak buah ibunya. Sierra yang sedang mengobati luka calon suaminya malah ikut terkena amukan pemuda tampan itu.


Venelope dan Click and Clack terlihat bersabar dengan sikap Jonathan yang mulai berubah.


"Baiklah jika kau tak ingin diobati," ucap Sierra menyerah seraya meletakkan perlengkapan medis dengan malas di kotak obat.


Jonathan melirik Sierra ketus seraya menahan sakit. "Keterlaluan om Eiji," ucapnya kesal.


"Apa yang akan kaulakukan sekarang?" tanya Venelope berdiri di samping ranjang.


"Para anggota dewan sudah begitu sombong dengan mengembalikan semua The Circle milikku. Lihat saja saat mereka digempur habis-habisan oleh Miles. Hah, mereka pasti akan menangis darah dan menyesal," ucap Jonathan menyindir.


"Nathan, boleh aku mengungkapkan isi pikiran yang sedikit menggangguku?" tanya Sierra dan Jonathan mengangguk pelan. "Saat Vesper mengancam kita, kenapa ketika kita berjumpa lagi dengannya, ia tak melakukan hal itu? Maksudku ... dia bilang jika akan membunuhku, Venelope dan Click and Clack. Di pemakaman, dia tak melakukannya. Bahkan Eiji mengusir kita. Padahal, bisa saja ia menugaskan Eiji, atau siapapun untuk melenyapkan kita. Itu aneh," tanya Sierra heran, tapi ucapannya dibenarkan oleh Venelope, Click and Clack.


"Karena di pemakaman ada banyak orang. Mama emang gila, tapi gak mungkin bunuh orang di depan cucunya. Gak liat, di sana banyak anak kecil? Ada King D, Fara, bahkan Otong. Kalau sampai mama melakukan hal itu, anak-anak itu pasti akan trauma. Gimana? Gitu aja gak ngerti," sahut Jonathan kesal seraya mengambil kotak obat lalu membukanya lagi.


Namun, tiga orang dari kelompok No Face tersebut seperti tak sependapat. Mereka merasa jika Vesper memiliki rencana lain.


"Kaucukup memahami watak dari ibumu. Kenapa kaubisa mengatakan membencinya? Jujur, Jonathan, kausedikit keterlaluan," tegas Click dan diangguki semua orang.


Namun, Jonathan malah bedecak kesal. Semua orang memilih tak memperpanjang urusan ibu anak itu.


"Lalu ... anak buahmu yang dipulangkan kembali akan diapakan?" tanya Clack yang berdiri di samping Venelope.


"Tugasin aja mereka semua di pos darurat Nathan. Kalau ada Black Armys, usir mereka. Orang-orang itu 'kan punya mama. Biarin mereka kembali ke habitatnya. Ngapain kita ngurusin kelompok punya orang lain?" jawab Jonathan ketus seraya mengobati lukanya sendiri sembari menahan perih.


"Kau sepertinya tak menyadari satu hal. Orang-orangmu masih belum paham betul mengelola bisnis. Selama ini, mereka dipersiapkan untuk berperang. Kita akan kesulitan mengurus usaha-usaha itu nantinya," sahut Sierra memberikan gambaran.


Jonathan mengerutkan kening terlihat kesal.


"Kenapa kalian semua bikin Nathan jadi puyeng sih? Kenapa harus Nathan yang mikirin semua?" tanyanya marah. Sierra dan lainnya terkejut.


"Itukan bisnis yang kaujalankan. Mereka orang-orangmu. Kauharus memikirkan nasib mereka. Selama ini, Vesper dan orang-orangnya yang mengelolanya. Kau memang menggelontorkan dana untuk membangun markas, melengkapi fasilitas sesuai yang dibutuhkan, tapi sebuah bisnis, tak akan bisa berjalan tanpa SDM berpengalaman yang menghidupkannya. Selama ini, Vesper yang mengatur semuanya. Kautinggal menerima gaji tiap bulan dan mengurusi hal kecil saja," sahut Venelope yang sudah membaca seluruh berkas aset milik Jonathan sejak ia dipercaya menjadi sekretaris menggantikan Hadi.


Jonathan terdiam. Ia seperti memikirkan ucapan Venelope ada benarnya.


"Itu benar, Jonathan. Bengkelmu dulu yang mengurus adalah para anggota The Kamvret. Setelah kau memutuskan untuk tak terlibat lagi dengan jajaran, kau memecat mereka. Dan lihat, mereka bahkan tak keberatan malah senang. Kini, mereka kembali bekerja untuk ibumu," sahut Click.


Jonathan menelan ludah saat dirinya ditatap tajam oleh empat orang yang kini berada di pihaknya.


"Terus ... Nathan kudu gimana?" tanyanya lugu.


Empat orang dari kelompok The Circle itu langsung memalingkan wajah dengan malas. Sierra langsung beranjak dan pergi. Jonathan terlihat bingung karena malah ditinggalkan.

__ADS_1


"Hoi! Nathan tanya. Kenapa malah ditinggal? Dijawab juga gak!" serunya lantang.


"Kau bosnya! Kau pemimpin kelompok The Cirlce. Bukankah itu yang selama ini kau gembor-gemborkan ke semua orang? Kau yang harus memikirkannya. Aku dan lainnya sebagai pelaksana," sahut Venelope kesal.


"Nathan 'kan lagi sakit," dalihnya membela diri.


"Aku juga sedang mengandung anakmu!" sahut Sierra kesal dengan mata melotot.


Jonathan terdiam terlihat sebal. Ia memilih untuk tidur dan melupakan beban yang kini harus ditanggungnya.


Sierra dan lainnya yang terlihat lelah dengan sikap pemuda itu. Mereka meninggalkan Jonathan di kamarnya sendirian. Ternyata, Jonathan masih terjaga di balik selimutnya.


"Nathan harus mikirin semuanya? Dari sekian banyak pos darurat yang udah dibikin? Gila! Bisa keriput muda kalo gini caranya. Nathan kudu gimana? Nathan harus tanya ke siapa?" rengeknya terlihat pusing dengan beban yang harus ia jalani di mana putera mendiang Erik Benedict tersebut memutuskan untuk tak terlibat lagi dengan jajaran 13 Demon Heads.


Di tempat Arjuna berada. Mansion Hong Kong. China.


Arjuna yang babak belur juga tampak pucat saat kedatangan tamu yang tak disangka. Orang-orang yang dulunya bekerja untuk Andreas ikut gugup saat ditatap tajam oleh pria berwajah Asia itu.


"Hem, jadi ... sebatas itukah, anakku di matamu? Apa kau tak tahu, betapa beruntungnya dirimu saat Sun bersedia membantumu, Kim Arjuna?" ucap Agent M berwajah dingin.


Arjuna tertunduk diam tak berani menatap wajah ayah dari asistennya itu.


"Janjimu palsu, Kim Arjuna. Kau bahkan tak membalas pesanku. Kausendiri yang mengatakan ingin membantu pencarian Sun. Kini, aku menagihnya, tapi kau mengatakan tak bisa? Wow!" sambung Agent M terlihat begitu berusaha menahan amarahnya, tapi kepalan di kedua tangannya tidak menunjukkan demikian.


"Aku minta maaf, Agent M," jawab Arjuna lesu.


"Kau menyakiti Naomi dengan sikap pengecutmu, dan kini kau mengulanginya lagi dengan mengabaikan Sun yang hilang karena melindungimu! Kau, adalah pria paling egois dan pengecut yang pernah kujumpai di dunia mengalahkan ayahmu Han!" pekiknya menyuarakan kekecewaannya dengan menunjuk anak Kim Han Bong tersebut.


Orang-orang tersentak karena ucapan yang terlontar dari mulut Agent senior tersebut.


"Kuperingatkan kau, Kim Arjuna. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, di hadapan anakku. Kau, tak akan pernah kuterima meski kau mencium kakiku. Ingat ucapanku baik-baik," ucapnya dengan napas menderu dan langsung berpaling pergi penuh kebencian di hatinya.


Tessa meninggalkan Kim Arjuna dan berlari mengejar M. Arjuna duduk mematung di pinggir ranjang terlihat shock setelah dihujat habis-habisan oleh ayah dari pemuda yang selalu mendampinginya sejak kepergian Naomi.


"Agent M, please, tunggu sebentar," pinta Tessa memohon seraya meraih tangan Agent Asia itu.


PLAK!


"Agh!" rintih Tessa saat tangannya ditampik kuat oleh M.


Tessa memegangi tangannya yang sakit dengan mata berkaca. M menatap Tessa tajam lalu melirik ke arah perutnya.


"Jangan katakan apapun padaku, Tessa. Aku memaafkanmu karena kausedang mengandung. Meskipun aku tak menyukaimu karena The Circle penyebab kematian dari kawanku W, tapi aku tak akan menyakiti perempuan. Itu janjiku pada ibu Sun, dan aku menepati janjiku yang lain dengan tak akan membiarkan siapapun menghina, merendahkan, dan mengabaikan keberadaannya. Suamimu, sangat melukai perasaanku, perasaan isteriku dan anakku, Sun. Asal kautahu, dia sudah kutemukan."


Praktis, mata Tessa melebar karena tak mengetahui hal tersebut.


"Apa ... kausengaja datang kemari, untuk ... mengetes ketulusan Kim Arjuna?" tanya Tessa menebak, dan M mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sayangnya, harapanku pada suamimu itu sirna. Kau menikahi pria yang salah, Tessa. Semoga kau tak menyesalinya," ucap M seraya pergi.


"Aku tak akan menyesal! Aku sudah memilihnya!" seru Tessa lantang mengungkapkan perasaannya, tapi Agent itu seakan tak peduli. Agent M pergi meninggalkan kediaman Arjuna bersama anak buahnya.


Di mobil.


"Sudah kukatakan padamu. Arjuna selama ini hanya memanfaatkanmu. Kau membuang waktu berhargamu bersama keparatt tengik itu. Jika bukan karena nona Lily, aku sudah menyeretmu keluar dari jeratannya," tegas M gusar di dalam mobil dengan Sun terlihat lesu dan tubuh penuh luka.


Sun tak menjawab dan hanya bisa merelakan dirinya tak kembali ke sisi tuan mudanya lagi. M membawa Sun pergi meninggalkan Hong Kong hari itu juga ke Markas Hashirama di Kyoto.


Penerbangan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Mobil penjemput di bandara sudah siap membawa rombongan itu ke tempat Sun dididik sejak kecil sejak ikut ayahnya—Agent M.


Tentu saja, kedatangan pemuda itu disambut suka cita oleh semua orang. Agent S bahkan mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai puji syukur karena kepulangannya.


"Oh, lihat! Si anak manis sudah pulang ke rumah," sambut S dengan pelukan, tapi Sun malah meringis seperti menahan sakit. "Oh, maaf. Sepertinya sakit ya? Hem, kauberhutang banyak cerita pada kami, Sun," tegas S menunjukknya dan Sun mengangguk pelan.


"Hei! Anakku baru pulang. Biarkan dia beristirahat. Menyingkir!" seru M garang dan senyum semua orang sirna karena sikap posesif pria tersebut.


Sun dimanjakan bak pangeran oleh sang ayah, tapi Sun malah merasa risih.


"Aku bisa mandi sendiri, Ayah. Kau berlebihan!" seru Sun menolak saat ayahnya sudah telanjang dan siap memandikan anak lelakinya.


"Memang kenapa? Saat kecil kauselalu minta kumandikan. Apa bedanya dengan sekarang? Oh, apa kautakut kalah saing dengan juniorku ha? Hahaha, ya begitulah. Jangan minder, Sun. Punyamu tak begitu buruk," ledek M bangga bertolak pinggang memamerkan keperkasaannya di depan sang anak.


Sun terbengong melihat tingkah ayahnya. Ia akhirnya menyerah karena tak ingin berdebat. Keduanya mandi bersama dalam bak kayu besar.


M terlihat berhati-hati saat menggosok tubuh sang anak yang meninggalkan bekas luka. Sun merasakan tangan sang ayah berhenti saat menggosok punggungnya. Sun menarik napas dalam yang duduk memunggungi sang ayah.


"Maaf sudah membuatmu cemas, Ayah," ucap Sun lirih.


M tak menjawab dan kembali menggosok punggung Sun lalu mengguyurnya dengan air hangat dengan gayung dari kayu.


"Kau mengajariku dengan baik. Kini, aku tahu rencana dari Miles," ucapnya melirik dengan tolehan sedikit.


"Hem. Aku tahu. Aku sangat yakin jika sebenarnya kaubisa kabur darinya. Aku sudah menduga jika kausengaja menyerahkan diri untuk mencari tahu. Namun, sungguh, Sun. Sikap Arjuna membuatku sakit hati. Jangan pernah menyebut namanya di hadapanku lagi," jawab M berwajah dingin.


"Aku tak menyebutnya sejak kau menyelamatkanku. Kau yang terus mengatakannya," sahut Sun cuek.


M gemas dengan anaknya yang bahkan kini sudah berani mengoloknya.


"Agh! Agh! Sakit! Ayah!" teriak Sun mengerang kesakitan karena Agent M menggosok tubuhnya yang memiliki lebam dengan kasar sebagai ekspresi kekesalannya.


***



uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2