4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Mengikuti Nasihatnya


__ADS_3

"Yeah!" seru Sun gembira saat ia melihat sekelompok orang datang untuk menolong timnya.


Tessa dan lainnya yang masih tak tahu siapa penolong itu hanya bisa bernapas lega karena mobil yang mereka tumpangi berhasil lolos dari kejaran anak buah Miles.


Sun melaju pesat kendaraan beroda empat itu ke dermaga tempat yacht yang akan membawa mereka keluar dari China.


"Bagaimana dengan Arjuna?" tanya Tessa cemas.


"Jangan khawatir. Tuan Muda akan baik-baik saja. Ayo!" jawab Sun mantap dan diangguki oleh anak buah Arjuna lainnya.


Dengan berat hati, Tessa melangkah menaiki kapal tersebut. Yacht berhasil meninggalkan dermaga tanpa harus berurusan dengan anak buah Miles berkat tim penolong.


Di tempat Arjuna berada.


Anak kedua Vesper tersebut dibuat kewalahan karena anak buah yang membelot darinya tetap gencar melakukan serangan.


"Dasar gila! Miles ingin membunuh kita!" pekik Arjuna panik karena amunisi persenjataannya mulai habis.


"Kita gunakan cara Vesper, Tuan! Gunakan senjata musuh untuk menyerang balik. Lihat! Banyak senapan laras panjang tergeletak di halaman mansion dari para penyerang. Kita bisa mengambilnya dan menggunakannya sebagai senjata kita!" seru Simon di samping majikannya.


"Vesper lagi, Vesper lagi! Kenapa cara ibuku harus diikutsertakan dalam perang ini?!" pekik Arjuna lantang melotot tajam ke arah Simon.


Tiba-tiba, DUAKKK!


"Agh!"


"Tuan!" pekik Tulio saat melihat Tuan mudanya dipukul dengan sebuah gagang pedang oleh seseorang yang muncul di samping mereka.


Praktis, mata Arjuna, Simon, dan Tulio melebar ketika mereka tahu siapa orang yang melakukan aksi kekerasan itu.


"Kukira hujan bisa menjernihkan pikiranmu yang buntu, Kim Arjuna. Namun, sepertinya percuma. Bahkan jika kepalamu disambar petir atau kubelah sekalipun, tetap tak akan merubah kebencianmu pada ibumu sendiri, Vesper. Aku menyesal datang kemari untuk menolongmu," ucap Jordan dengan wajah datarnya dan tubuh basah tersiram hujan.


Arjuna diam seketika.


"Kau tak mungkin hidup jika bukan didikan para instruktur Camp Militer di bawah naungan ibumu, Vesper. Jangan lupa, dari mana kau berasal. Kau yang bilang sendiri ingin menjadi seorang mafia ketika ibumu menawarkan hidup layaknya warga sipil. Seingatku, itu sebuah janji dan disaksikan banyak orang di hari ulang tahunmu, Kim Arjuna," sambung Jordan menatap tajam pria yang kini kepalanya berdarah karena pukulannya itu.


Praktis, Arjuna langsung menundukkan wajah.


"Berhenti mencaci dan selesaikan. Gunakan cara yang ibumu ajarkan. Jika kau bersikeras dengan egomu, aku tak keberatan untuk mengantarkan mayatmu ke Han dan Vesper. Mereka mungkin menangis, tapi ... masih banyak yang bersedia menggantikan posisimu di hati mereka. Sepertiku contohnya," imbuh Jordan seraya menaikkan salah satu alis.


"Keparatt tengik!" pekik Arjuna kesal dan langsung berdiri.


Saat Arjuna akan mencengkeram baju Jordan, dengan sigap, kedua tangannya ditangkap oleh Mix and Match.


Praktis, mata Arjuna melebar karena tak menyangka dengan kemunculan dua algojo Theresia itu.


"Selesaikan dan jangan banyak tingkah. Kami akan menonton dari sini. Kami sudah cukup banyak membantu," ucap Match seraya mendorong tangan Arjuna hingga ia hampir jatuh karena kekuatan pria besar di hadapannya.


Mix juga melakukan hal serupa. Arjuna menoleh ke arah Simon dan Tulio. Dua pria itu mengangguk siap untuk kembali bertempur. Jordan memilih duduk menyender dinding dengan Mix and Match.


Arjuna terlihat begitu marah hingga rahangnya mengeras saat menatap Jordan tajam. Namun, putera Boleslav hanya diam saja dan malah menikmati sebuah makanan kemasan yang ia ambil dari jas anti pelurunya.


"Ayo, Tuan. Kita pasti bisa!" ajak Simon dan Arjuna mengangguk mantap.


Arjuna melihat anak buahnya yang tersisa masih berusaha untuk melindungi mansion dari gempuran.


Arjuna berpendapat jika Miles mengincar mansion ayahnya mengingat jika tak ditemukannya peledak seperti yang dikatakan oleh Sun kala itu di rumahnya.


"Lindungi aku," pinta Arjuna. Simon dan Tulio mengangguk mantap dengan pistol dalam genggaman. "Now!" seru Arjuna seraya berlari dalam derasnya air hujan berpelindung jas anti peluru buatan Kai khusus untuknya berwarna hitam.


Arjuna dengan sigap mengambil senapan laras panjang dari mayat mantan anak buahnya berikut amunisi cadangan dalam rompi jas peluru mereka.


DOR! DOR!

__ADS_1


"Shitt!" pekik Arjuna saat ia mendapati hujan peluru dari anak buah Miles yang melihat sosoknya serdang berjongkok diantara mayat-mayat penyerang.


Jordan dan dua algojonya menoleh dari tempat mereka berlindung. Ketiganya memasang wajah datar seraya menikmati cemilan dalam makanan kemasan saat Arjuna tampak gugup ketika mengecek amunisi di senjata rampasannya.


"Kau seperti amatiran!" sindir Jordan di kejauhan.


"Arghhh! Sial!" gerutu Arjuna karena pandangannya terhalang oleh tetesan air hujan.


DOR! DOR! DOR!


"Agh!" erang Arjuna saat punggung tangannya terserempet peluru dari kubu musuh dan membuatnya menjatuhkan senjata.


Jordan memutar bola matanya terlihat malas. Simon dan Tulio berusaha keras melindungi majikan mereka yang kini tangannya berdarah hebat.


"Kau berhutang budi padaku, Kim Arjuna! Kucatat itu!" seru Jordan lantang saat ia keluar dari persembunyiannya bersama dengan Mix and Match dengan gusar karena gagal makan.


Seketika, mata Arjuna, Simon dan Tulio melebar ketika Mix menenteng sebuah senapan berukuran besar dalam genggamannya.


"Panggang mereka," titah Jordan dengan wajah datar saat ia menarik sebuah pistol khusus dari balik pinggang.


Seketika, KLIK! DUK! DUK! BUZZZ!


Beberapa granat dilontarkan dari salah satu jenis Rainbow Gas tanpa bom. Gas warna abu-abu itu menyeruak di sekitar kumpulan anak buah Miles.


Jordan dengan sigap menekan pelatuk pada pistol berbentuk segitiga siku dalam genggaman tangan kanannya ke kumpulan gas yang mengepung kubu lawan.


DOR! CRETT!!


"Agghhhh!"


Arjuna terkejut saat melihat pasukan dari kubu Miles seperti terkena sengatan listrik. Tubuh orang-orang itu mengejang dengan asap keluar dari pakaian tempur mereka.


Jenis senjata baru digunakan oleh kubu Boleslav dan ia tak mengetahuinya. Gas yang dihasilkan membawa elemen pengantar listrik.


Beruntung, jarak Jordan dan timnya jauh dari lokasi sengat. Terlebih, tubuh mereka tak terkena elemen khusus dari gas tersebut.


"Tangkap!" titah Mix saat melemparkan senapan besar tersebut.


Simon dengan sigap menangkapnya, tapi tak menyangka jika senjata itu berat. Termasuk Jordan saat melemparkan pistolnya kepada Tulio. Dua orang itu bingung karena diberikan senjata yang tadi digunakan oleh Jordan dan Mix.


"Selesaikan dan segeralah pergi. Polisi akan segera tiba. Biarkan Simon dan Tulio yang mengurus polisi nanti. Kau sebaiknya membuat alibi. Saranku, pergilah ke perusahaan dan bersembunyilah di sana. Gunakan alasan lembur untuk mengelabuhi polisi. Kau pintar sebagai seorang karyawan," ucap Jordan datar.


"Aku bukan karyawan! Aku seorang Bos perusahaan!" seru Arjuna memekik.


"Bos?" jawab Jordan tersenyum sinis. "Bagi kami para mafia tersohor, Bos adalah orang yang mampu menciptakan sebuah pekerjaan. Membangun perusahaan dan menggaji karyawan. Sedang kau, hanya meneruskan dari bos sesungguhnya. Yakni Kim, Han, Bong. Haruskah kuingatkan siapa pria itu? Hem, jika tidak salah, dia ayahmu. Semoga kau tak lupa karena ingatanmu cukup bermasalah, Kim Arjuna. Sampai jumpa," ucap Jordan dengan wajah datar saat menohok putera dari Han tersebut.


Napas Arjuna tersengal. Ia melangkah dengan gusar mendatangi Jordan. Kali ini, Mix and Match tak melihat pergerakan Arjuna karena mereka berdua telah melangkah lebih dulu di depan bos mereka.


GRAB!


Praktis, mata Jordan melebar saat lengannya ditangkap dan dicengkeram kuat oleh Arjuna.


"Apa tujuanmu kemari?" tanya Arjuna menatap Jordan tajam.


"Mencari pelaku yang membuatku menjadi monster. Sayangnya, dia tak ada di sini. Aku tetap memburunya," jawab Jordan tenang lalu melepaskan cengkeraman Arjuna segera.


Jordan segera berpaling dan pergi dari peperangan yang belum berakhir itu. Arjuna mengelap wajahnya yang basah karena guyuran hujan.


"Tuan! Penjaga mengatakan jika anak buah Miles berhasil memasuki rumah. Mereka sepertinya mengincar sesuatu di ruang kerja!" seru Tulio yang membuat mata Arjuna melebar seketika.


"Sial! Pasti aset yang tak kuamankan di Dewan Sekretariat! Mereka pasti mengincar aset legal yang kusimpan di Bank! Mereka mengincar brankas!" seru Arjuna panik.


Simon dan Tulio terkejut. Segera, mereka bertiga bergegas masuk ke mansion menggunakan terowongan khusus. Arjuna akan menyerang mereka dari belakang bersama dua anak buahnya.

__ADS_1


Benar saja, saat Arjuna, Tulio dan Simon keluar dari sebuah pintu rahasia di balik kaca kamar mandi dalam ruang kerja, mereka melihat anak buah Miles seperti mencari keberadaan brankas tersembunyi tersebut.


"Hanya aku dan ayah yang tahu. Dasar parasit!" geram Arjuna berbisik saat melihat orang-orang itu membongkar seluruh perabotan untuk mencari keberadaan brankas tersembunyi tersebut.


Dengan sigap, Arjuna menggunakan cara yang sama. Ia mengambil senapan besar itu dan di arahkan ke orang-orang berpakaian hitam dari kubu Miles yang tak menyadari kehadiran pemilik rumah dari pintu kamar mandi.


KLIK! DUK! DUK!


Praktis, suara lontaran itu membuat anak buah Miles menoleh ke asal suara. Arjuna tersenyum miring saat ia menembakkan peluru listrik dari pistol yang tadi Jordan gunakan.


KLEK!


Arjuna menutup pintu kamar mandinya kembali. Seketika, "Arrghhhh!!" suara erangan para pria berseragam hitam terdengar bersahut-sahutan.


Arjuna memberi kode pada Simon dan Tulio agar segera pergi ke wilayah lain untuk menyelesaikan peperangan.


Sayangnya, saat mereka tiba di luar, anak buah Miles yang tersisa melarikan diri ketika terdengar suara sirine mobil polisi dan ambulance ke arah mansion.


"Cepat pergi, Tuan! Biar kami yang urus masalah di sini! Percaya pada kami!" ucap Simon tergesa dan Arjuna mengangguk mantap.


Arjuna segera berlari ke arah hutan di mana sebuah motor disembunyikan di sana untuk evakuasi darurat, lengkap dengan tas rannsel berisi perlengkapan yang dibutuhkan saat keadaan terdesak.


Arjuna menerobos hutan menuju ke perusahaannya menuruti saran dari Jordan, meski pria bertato itu kesal karena merasa digurui.


Arjuna menggunakan akses lift khusus untuk masuk ke ruangannya. Arjuna menanggalkan pakaiannya dan mengganti dengan pakaian baru yang telah tersedia di kamar mandi khusus Presiden Direktur, termasuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Bos dari perusahaan konstruksi tersebut telah kembali rapi saat ia duduk di kursinya. Dan benar saja, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dibuka.


Arjuna terkejut dan langsung menoleh ketika mendapati satpam perusahaan dan beberapa orang berpakaian polisi masuk ke ruangannya.


"Apa kalian tak punya sopan santun untuk mengetuk?" tanya Arjuna dengan wajah dingin menyambut tamu tak diundang.


"Ma-maaf, Tuan Kim. Saya kira ... Anda ...," jawab Satpam perusahaan gugup.


"Kau tak lihat? Aku sampai lembur bekerja karena isteriku sebentar lagi akan melahirkan. Aku sudah siap untuk pulang. Kenapa kalian datang kemari?" tanya Arjuna yang mulai pintar dalam bermain drama.


"Tuan Kim. Sepertinya ... Anda tak bisa pulang sekarang. Dilaporkan oleh warga sekitar terjadi baku tembak di kediaman Anda. Kabar terbaru yang kami dapat dari petugas di lokasi, sepertinya rumah Anda diserang oleh sekelompok penjahat," jawab seorang polisi seraya berjalan mendekat.


"What?! Penjahat? Jangan bilang pesaing bisnisku lagi. Oh, mereka sekarang menggunakan semacam tentara bayaran untuk membunuhku? Sepertinya sepak terjangku di dunia bisnis mulai membuat mereka gerah," jawabnya berlagak. "Baiklah kalau begitu. Usut semua. Tangkap pelakunya, Pak Polisi. Semua hal menjijikkan ini, aku serahkan padamu. Sayangnya, aku harus segera pergi menemui isteriku. Beruntung, dia tak ada di rumah," ucap Arjuna seraya menepuk pundak polisi tersebut dengan wajah tengil.


"Di mana isteri Anda, Tuan Kim?" tanya Polisi tersebut seraya melirik pundaknya yang dipegang oleh Arjuna.


Pria bertato itu diam sejenak saat matanya beradu dengan polisi tersebut.


"Tessa pulang ke rumah ibunya. Dia mengatakan ingin melahirkan di sana. Oleh karena itu, ia tak ada di sini atau pun di rumah," jawab Arjuna tenang.


"Di mana rumahnya?" tanya Polisi itu lagi makin menyudut. Arjuna menatap mata polisi tersebut tanpa berkedip.


"Apa kau memiliki perasaan dengan isteriku? Kenapa kau ingin tahu keberadaannya? Apa kau berniat untuk menyusulnya ke sana?" tanya Arjuna mendekatkan wajahnya hingga hampir bersentuhan dengan hidung polisi tersebut.


Polisi itu memejamkan mata sejenak lalu melangkah mundur dengan mengembuskan napas pelan.


"Maaf, jika pertanyaan saya menyinggung perasaan Anda, Tuan Kim Arjuna. Sayangnya, Anda tak bisa meninggalkan Hong Kong sampai semua kesaksian Anda tercatat oleh pihak kepolisian. Silakan untuk ikut saya dan diperkenankan untuk menghubungi pengacara Anda," ucap Polisi itu sopan.


Arjuna merapikan jasnya dengan wajah dingin. Ia segera menelepon pengacaranya dengan telepon kantor.


Tentu saja, hal ini kembali mengejutkan orang-orang yang sudah terlelap itu. Para pengacara bergegas menyusul Arjuna ke kantor kepolisian untuk membebaskan client mereka dari segala macam tuduhan.


***


Uhuy makasih tipsnya😍 panjang nih hampir 2k. Yang ngerasa udah ngetips tapi belom nongol sabar ya😁


__ADS_1


Lele masih adaptasi dengan masa kehamilan dimana bawaannya laper mulu dan pengen tidur. Kwkwkw. Selain itu, lele prioritas up LIH dulu baru up novel lainnya. Trims sudah sabar menunggu❤️ Jangan lupa vote vocernya keburu angus💋


__ADS_2