
Mata Jordan dan semua orang terbelalak seketika karena melihat sempitnya jalan yang harus mereka lalui dengan berenang.
Mayat Darius menjadi momok bagi tim karena harus melewatinya, ditambah, besi tajam siap merobek dan menusuk tubuh mereka jika sampai terkena.
Jordan memberikan arahan agar orang-orang itu kembali ke permukaan. Para Pion dan dua algojo Amanda mengangguk.
SPLASH!
"Hah! Perangkap itu sejauh 10 meter. Kita tak tahu ada perangkap apa lagi di depan. Ini sungguh sangat membahayakan," ucap Damian dengan kepala terlihat dan tubuhnya tenggelam di air.
"Semoga saja, air yang membanjiri tempat ini memberikan peluang bagus untuk kita. Sebaiknya, segera bergegas. Pasokan udara kita semakin menipis," sahut Dexter dan semua orang mengangguk setuju.
Jordan membagi urutan. Pion Darwin siap untuk memimpin jalan. Mix and Match fokus untuk membawa pelampung yang berisi Amanda di mana Ketua Dewan Sekretariat tersebut masih tak sadarkan diri dalam kapsul transparant.
"Siap? Kita mulai dari hitungan ketika. Satu, dua, tiga!" ucap Jordan lantang dan semua orang kembali menyelam.
Orang-orang mengambil nafas dalam di mana mereka tak melengkapi diri dengan peralatan menyelam. Beruntung, sebuah kapsul penyelamat dibawa oleh Mix meski hanya satu buah.
Mereka berenang bergantian. Terlihat, orang-orang itu begitu berhati-hati dalam berenang dan berusaha untuk tak menyentuh apapun baik dinding ataupun lantai di tempat itu karena khawatir masih ada jebakan mematikan yang akan membunuh mereka.
Kapsul Amanda tetap terapung di atas dengan Mix berada di depan untuk menariknya sambil berenang dan bagian belakang dijaga oleh Match. Penutup tim dijaga oleh Pion Darwin yang berenang paling akhir.
"Hah! Ohok! Masih jauh. Lorong ini sangat panjang. Bagaiman bisa Venelope dan lainnya pergi sejauh ini?" tanya Pion Darion saat kepalanya kembali menyumbul untuk mengambil nafas.
SPLASH!
"Ya! Aku juga mencurigainya. Ini sangat aneh. Untuk sebuah lorong evakuasi, ini sangat jauh," sahut Pion Darion ikut muncul ke permukaan.
"Sebaiknya kita segera jalan. Aku melihat, kita sudah satu jam lebih di dalam sini. Semakin lama kita di dalam air, kita bisa terkena hipotermia," sahut Jordan sembari melihat jam tangannya.
Semua orang yang berenang, kembali muncul ke permukaan setelah berhasil melewati perangkap besi tajam.
Kembali, orang-orang itu menarik nafas dalam dan menyelam menyusuri lorong. Namun, mereka bertemu dengan persimpangan lagi. Semua orang kembali naik ke permukaan.
"Sial! Bagaimana ini?" pekik Pion Darwin terlihat kesal dan memukul permukaan air hingga cipratannya mengenai wajah semua orang.
"Wait. Masih ada yang menyimpan Galundeng? Bukankah benda itu bisa bergerak meski dalam air? Jika ya, kirim dua benda itu ke dua sisi lorong. Kita tunggu di sini," jawab Jordan menatap semua orang dan mereka mengangguk cepat.
Pion Dexter mengeluarkan dua buah bola hitam tersebut dan meletakkan perlahan di lantai. Pion Darwin memegang sebuah tablet begitupula Damian. Keduanya akan menjalankan dua buah bola itu sembari menyelam.
"Tablet itu tak bisa bertahan terlalu lama dalam air. Sebaiknya cepat," tegas Jordan dan dua Pion mengangguk.
Damian dan Darwin segera mengendalikan Galundeng untuk menelusuri lorong. Jordan dan lainnya masih berusaha mengambang dan tak berpegangan pada dinding ataupun menginjak lantai.
Mereka berpegangan pada kapsul yang digunakan Amanda. Jordan menatap wajah ibunya lekat yang terlihat seperti orang tertidur lelap dalam situasi kritis.
__ADS_1
SPLASH!
"JORDAN! Kau harus melihat ini!" pekik Pion Darwin yang mengejutkan semua orang.
Jordan mendatangi Darwin dan melihat dari layar tablet yang basah, beberapa jeruji besi seperti penjara dengan beberapa orang terlihat sudah tak bernyawa, terapung di dalam sel tersebut, mengenakan baju berwarna hijau seperti pasien.
"Siapa orang-orang itu?" tanya Jordan dengan mata menajam.
Pion Darion mendekati Jordan dan ikut melihat tampilan dari kamera Galundeng.
"Oh! Mereka ... kau lihat baju yang dipakai oleh orang-orang itu? Mereka pasti orang-orang yang diuji coba oleh Venelope akan reaksi dari obat-obat buatannya. Aku pernah melihat sekali, tapi itu sudah dulu sekali. Saat aku direkrut oleh Smiley menjadi salah satu pion. Ada beberapa orang dipakaikan baju seperti itu dan dibawa pergi menggunakan mobil entah menuju kemana. Kata Smiley, mereka adalah orang-orang yang gagal dalam tes dan kini menjadi kelinci percobaan Venelope. Wanita iblis itu, ternyata masih melakukannya sampai sekarang," jawab Darion yang mengejutkan semua orang.
"Jangan-jangan tempat ini adalah ... penjara bagi para pasien uji coba itu?" sahut Dexter dan semua orang menangguk setuju.
SPLASH!
"Hei! Sisi ini buntu. Tak ada jalan lagi, sama seperti saat kita berbalik untuk menyusul tim nyonya Manda," ucap Damian melaporkan dan Jordan mengangguk paham.
"Baiklah, kita telusuri jalan ini. Orang-orang ini bisa masuk ke dalam sini, pasti ada jalan yang membawa mereka kemari," tegas Jordan dan semua orang mengangguk setuju.
Darwin tetap menggerakkan Galundeng untuk memastikan jika lorong itu memang menembus ke sebuah jalan yang bisa membawa mereka pergi.
Namun tiba-tiba, Galundeng berhenti dan tak bergerak lagi. Darwin menghela nafas malas.
"Ada apa?" tanya Jordan menatap pria di sebelahnya seksama.
"Sial! Baiklah. Sejauh pengamatan Galundeng Darwin, lorong tersebut aman. Kita lanjutkan penelusuran," ucap Jordan dan semua orang mengangguk.
Galundeng milik Damian ditinggalkan dan ia memilih untuk menghemat baterai dari tablet miliknya. Ia memasukkan ke dalam tasnya yang anti air dan kembali menggendongnya.
Tim Jordan kembali melaju dengan menyelam dan berenang, ketimbang harus menaikkan kepala ke atas. Jordan dan lainnya akhirnya melewati penjara-penjara itu.
Jantung mereka berdebar kencang seketika saat melihat wajah para mayat itu pucat dengan beberapa luka di tubuh mereka. Mayat-mayat itu terperangkap dalam jeruji besi dan mengapung di dalamnya.
Hingga tiba-tiba, Pion Damian naik ke permukaan dan diikuti oleh semua orang.
"Hah! Ada apa?" tanya Jordan dengan nafas tersengal.
"Ada tangga di depan. Hanya saja, aku masih khawatir jika ada perangkap di sana. Bagaimana? Tetap akan dibuka atau diledakkan?" tanya Damian terlihat panik.
"Lelehkan saja. Mix punya senjata peleleh logam," jawab Jordan dan Damian tersenyum.
Jordan mengambil senapan khusus itu dan mengangkatnya ke atas agar tetap kering, meski senjata itu tetap bisa ditembakkan dalam air, tapi ia memilih untuk tak mengambil resiko.
Semua orang terlihat bersiap dengan senapan mereka, melindungi Jordan dengan membidik apapun yang nantinya muncul di balik pintu besi itu.
__ADS_1
"Kalian siap? Hitungan ketiga," ucap Jordan membidik pintu besi yang terlihat setengah dari tempatnya mengapung. Semua orang mengangguk pelan.
"Satu ... dua ... tiga ...."
DOR! KLEK! CESSS!
DOR! DOR!
Jordan menembakkan peluru peleleh logam sebanyak tiga kali membentuk segitiga. Pintu besi itu meleleh dan mulai membuat lubang.
Jantung semua orang berdebar, ketika melihat cahaya dari balik pintu besi itu.
"Teropong!" pinta Jordan dan Pion Dexter segera menempelkan teropong di kedua matanya menggunakan sensor panas.
"Tak ada pergerakan apapun, Jordan. Terlihat aman. Aku akan ke sana mengeceknya. Kalian, lindungi aku," jawab Dexter dan semua orang bersiap dengan senapan mereka.
"Hati-hati," pinta Damian dan Dexter mengangguk.
Terlihat Dexter sedikit tegang ketika berenang mendekati pintu besi tersebut. Ia masih tak mau menginjak tangga dan memilih menyelinap di lubang yang dibuat oleh Jordan dengan senapan khususnya.
Moncong senapan semua orang membidik sekitar Dexter saat pria tersebut berusaha masuk ke dalam, tapi terlihat ia tak bisa menerbos. Tubuhnya terlalu besar di lubang yang masih sempit itu.
"Sial! Aku tidak muat!" pekiknya yang kembali muncul ke permukaan.
"Biar aku saja," sahut Jordan yang langsung berenang mendekati Dexter.
Pion Tobias tersebut mengapung di depan pintu. Jordan yang bertubuh ramping, dengan mudah menyelinap ke dalam. Dexter kagum karena remaja itu terlihat tak kesulitan melakukan aksinya.
"Jordan? Bagaimana?" tanya Dexter yang mengapung dan kepalanya di atas permukaan air.
Tiba-tiba, NGEKKK ... BYURRR!!
Dexter terkejut, saat pintu besi itu dibuka oleh Jordan dari dalam dan malah menjatuhkannya. Gelombang air langsung terasa bagaikan ombak di tempat itu.
"Aman. Cepat!" ucapnya yang berdiri di atas lantai dengan tubuh membungkuk karena ada tangga lagi di atasnya.
Semua orang terlihat lega. Mereka segera berenang menuju ke pintu tersebut. Kapsul Manda dibopong oleh Mix and Match.
Para pria itu basah kuyup dan mulai terlihat letih. Senapan kembali di siagakan, tapi kini, Jordan memilih menggenggam pedang Silent Red di tangannya.
"Aku memimpin di depan. Waspadalah," ucap Jordan menatap semua orang yang berdiri di belakangnya dengan sorot mata tajam. Para pria itu mengangguk.
***
Tengkiyuw tips koinnya. Lele padamu Chonk. Kwkw macet lagi koinnya. Besok satu atau dua eps ya~
__ADS_1