4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tertutup


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


CEKLEK!


"Maaf mengganggu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, Nyonya Vesper. Setelah ini, aku jamin kau bisa sedikit bernafas lega," ucap Jordan seraya melangkah masuk.


Vesper yang masih berbaring di tempat tidur terlihat lesu mengangguk pelan.


Afro menutup pintu dan ikut duduk bersama Jordan di samping ranjang. Vesper menyenderkan tubuhnya dan terlihat ia begitu letih.


Jordan langsung mengutarakan pemikirannya begitu saja tanpa basa-basi. Afro dan Vesper sempat terkejut akan langkah-langkah yang akan Jordan ambil bahkan melibatkan Afro dan Naomi.


"Korban di sini adalah Naomi. Aku cukup yakin jika ia akan sedih nantinya. Namun, aku pastikan, aku akan tetap di sampingnya saat hal buruk itu terjadi. Biarkan Naomi tak tahu tentang hal ini. Dia wanita berhati lembut, jika mengetahui rencana kita, dia pasti akan terpuruk. Lebih baik, biarkan dia mengikuti ritmenya seolah memang itu kehendak Tuhan," ucap Jordan tenang.


Afro diam terlihat tertekan. Ia menatap Jordan tajam entah apa yang dipikirkan, tapi Vesper tersenyum. Sang Ratu memegang tangan kiri Jordan lembut.


"Kau tahu, Jordan. Kau dan Afro memang bukanlah anakku, tapi kalian bisa mengerti apa yang dibutuhkan seorang Ibu sepertiku. Aku sangat bersyukur adanya kalian di sisiku. Aku sangat berharap, semua yang kau rencanakan berhasil, Jordan. Dan aku sangat berharap padamu, Afro, untuk membawa Sandaraku kembali menjadi dirinya. Aku ... telah gagal sebagai Ibu. Arjuna dan Sandara sudah tak mendengarkanku lagi," ucap Vesper sedih.


"Sudahlah, Nyonya. Jangan membuat dirimu terpuruk seperti ini. Anda tak seperti Vesper yang kukenal. Bertahanlah, serahkan hal ini pada kami, para penerus generasimu. Lakukanlah apa yang sepantasnya Anda perlukan. Kami hanya butuh dukungan dan doamu agar semua yang kami rencanakan berhasil," ucap Afro menggenggam salah satu tangan Vesper erat.


Vesper mengangguk dengan air mata haru. Ia memeluk Jordan dan Afro bersamaan. Dua pemuda itu bisa merasakan harapan besar Vesper pada mereka.


Afro dan Jordan pamit agar Vesper beristirahat. Vesper tersenyum sembari membaringkan tubuhnya siap untuk tidur. Vesper memejamkan mata dengan selimut hangat serasa memeluk tubuhnya.


Jordan dan Afro berdiri di samping tempat tidur saat melihat Vesper mulai tenang tak sedih lagi. Keduanya keluar dan berdiri berdampingan di depan pintu kamar sang Ratu.


"Kau siap, Jordan?" tanya Afro memberikan kepalan tangan kirinya seraya melirik anak Boleslav.


"Hem, always," jawabnya sembari menyambut salam tos kepalan tangan dengan tangan kanannya.


Jordan dan Afro kembali ke ruang rapat. Doug, Ivan, Kai, Naomi dan Sherly sudah duduk menunggu mereka. Sherly membantu meneruskan informasi ke orang-orang dalam jajaran Vesper nantinya.


"Baiklah. Kita sudah sepakat untuk misi tertutup ini. Jangan libatkan orang lain kecuali orang-orang yang sudah kita tunjuk. Kalian mengerti?" tegas Kai dan orang-orang yang ikut rapat pada hari itu mengangguk paham.


Seoul, Korea Selatan. Kantor Management Dream High Entertainment. Awal tahun di bulan Januari.


Mereka bicara bahasa Korea.


"Apa? Kau serius, Kai-san?!" pekik Manager Park saat mendapatkan kabar mengejutkan dari Kai perihal Sandara mundur dari dunia entertainment.

__ADS_1


"Maaf, Manager Park. Aku tahu jika ini pasti akan sangat merugikan Perusahaan. Namun, aku akan terima resiko pinalti yang harus kami bayar. Sandara menghilang dan belum ditemukan. Aku tak bisa menjanjikan kapan ia bisa kembali. Kau tahu 'kan, resiko hidup menjadi mafia. Penuh dengan petaka," tegas Kai dari sambungan telepon.


"Iya, aku tahu, tapi ... agh! Apa yang harus aku katakan pada publik?" tanya Manager Park terdengar frustasi.


"Mintalah tolong pada Manager Song dan lainnya untuk pemberitaan yang kalian buat nanti. Apapun berita yang akan disampikan oleh Manajemen, akan kami terima dengan baik. Terima kasih dan aku tunggu kabar baiknya. Sampai jumpa."


Kai menutup telepon dan mengembuskan nafas panjang. Ia tahu konsekuensi yang akan diterima olehnya dan Sandara nanti. Namun, inilah salah satu rencana yang memang harus ia lakukan.


Di sisi lain tempat Sandara berada.


Mereka bicara bahasa Rusia.


"Kau akan menjadi gadis yang cantik setelah keluar dari kepompong ini, Sandara. Yang kau butuhkan hanyalah ... sabar dan patuh, maka kau akan tetap hidup untuk melihat kak Afro-mu lagi," ucap Mr. White seraya memegang dagu Sandara dan menatapnya lekat.


"Aku tak mencintainya lagi. Afro masa laluku," ucapnya tegas meski tubuhnya telah tersekap dalam kepompong dan hanya kepalanya saja yang terbebas.


"Oh, benarkah? Kenapa tiba-tiba?" tanya Mr. White heran sembari menyingkirkan rambut panjang Sandara yang menutup wajah cantiknya.


"Aku mengubah sudut pandangku dalam mencintai seorang pria, Mr. White."


"Hmm, menarik. Jadi ... sudut pandang seperti apa yang kini menjadi kriteriamu?" tanya Mr. White dengan senyuman.


"Hmm, kau sudah melihatnya, Sandara. Namun, itu harus dibuktikan dengan membawaku dalam Perusahaanmu," ucapnya seraya merapatkan tubuh dan memegang kepala Sandara erat dengan kedua tangannya.


"Kau pikir ... kau tipeku? Sombong sekali. Aku tak melihat nilai lebih darimu selain tampan dan rambut indahmu. Jujur, aku menyukainya. Apa itu asli?" tanya Sandara melirik rambut panjang Mr. White yang berkilau dan terlihat lembut.


"Kenapa semua orang menanyakan hal konyol seperti itu? Apakah sebuah kejahatan jika memiliki rambut panjang?" gerutu Mr. White langsung berpaling dan mengibaskan rambut panjangnya.


"Jika kau lahir pada jaman perang mungkin itu akan berkesan, tapi kau berada di jaman modern. Kau seperti cosplayer anime. Apa kau wibu?"


Mr. White mendengus kesal. Ia pergi meninggalkan ruangan tempat Sandara disekap dengan langkah gusar. Sandara tersenyum licik.


Di balik ruangan Sandara disekap.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Mr. White ... apa dia pedofil?" tanya Arjuna curiga setelah mendengar pembicaraan keduanya dengan alat translator di salah satu telinga.


"Yah, begitulah. Dia menyukai gadis remaja. Namun, aku baru tahu jika ia tertarik dengan rupa Asia," jawab Tessa yang berdiri di samping calon suaminya.

__ADS_1


Mata Arjuna menyipit. Ia berdiri diam menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia memandangi Sandara yang terlihat pasrah dengan dirinya. Tessa melirik Arjuna yang pergi meninggalkan ruangan begitu saja tak mengatakan apapun.


Tessa mendesah pelan dan kembali menatap Sandara, tapi ia terkejut saat gadis cantik itu seperti tahu posisinya berada karena menatapnya tajam dari balik dinding kaca yang hanya bisa dilihat dari satu sisi.


"Apa ... dia melihatku?" tanyanya lirih terlihat gugup.


Arjuna berjalan di koridor dengan langkah cepat dan langsung berhenti di persimpangan saat Mr. White baru saja keluar dari pintu tempat Sandara di sekap.


"Tak ada dalam kesepakatan kau menjalin hubungan dengan adikku, Pria Tua," tegasnya menunjuk Mr. White dengan intonasi penuh penekanan.


Mr. White melirik telunjuk Arjuna yang hampir menyentuh pakaian di dadanya dengan wajah dingin.


"Kau tak akan bisa menyentuhku, Kim Arjuna," tegasnya.


DUK!


Mr. White terkejut saat kaki kirinya di senggol dengan kaki kanan Arjuna. Nafas Mr. White menderu meski wajahnya tertunduk.


TUK!


Mata Mr. White melebar saat melihat telunjuk Arjuna menyentuh dadanya. Arjuna tersenyum miring.


"Sombong. Kau tak ingat, saat kita berkelahi di Klinik Gangnam dulu, aku hampir mencabut seluruh rambutmu, Pak Tua?" ucapnya rasis.


Mr. White menaikkan pandangan dan menatap Arjuna tajam, tapi pemuda itu tak terintimidasi dan malah makin tersenyum lebar.


"Lirikanmu tak berdampak apapun padaku, Mr. White. Kau harus tahu dan mengakui jika ada sepasang mata yang lebih mengintimidasi ketimbang mata indahmu itu," ucapnya santai sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana samping.


Mr. White menyipitkan mata terlihat penasaran. Arjuna tersenyum miring.


"Vesper. Kau harus mengakuinya, Mr. White. Ketika kau melihat bola mata ibuku tak bergerak saat menatapmu, saat itulah kau sadar jika kau akan mati."


Nafas Mr. White makin menderu meski ia hanya berdiri diam. Arjuna tersenyum tengil sembari berpaling dan pergi meninggalkan Mr. White dengan amarah di hatinya.


***


adeh lele diserang pasukan merah. kalo ada tipo2 maklum aja. lele mau rehat dulu. happy weekend😍 tengkiyuw tipsnya😘


__ADS_1


__ADS_2