4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tears*


__ADS_3

Black Castle, Inggris. Ruang Pertemuan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Selama kami belum menemukan penggantimu, kau tak boleh meninggalkan kursi Ketua Dewan, Vesper. Kami semua tahu kau lelah, tapi ini bukan sebuah keputusan yang bisa kau ajukan dan langsung diterima semua orang. Kau senior dan tahu peraturannya. Jangan merusak kode yang sudah disusun sejak 13 Demon Heads dibentuk," tegas Martin dan Vesper mengangguk paham.


"Aku tahu, aku minta maaf. Aku ... hanya merasa letih dan butuh waktu untuk menenangkan pikiran," jawabnya lesu dan semua orang yang ikut dalam rapat mengangguk paham.


"Apa kau sudah menunjuk seseorang untuk menerima segala laporan kami ketika misi kita dijalankan nanti?" tanya Bojan dan Vesper mengangguk pelan.


Kai berdiri dari kursi yang ia duduki di belakang sang isteri. Semua orang mengangguk paham.


"Lalu, Han. Semua petaka ini karena anakmu pemicunya. Kau, sebagai Ayah, malah menambahnya dengan memprovokatori Arjuna dengan memintanya menikahi Tessa. Kau tak memikirkan jangka panjang dari kegoisanmu ini," tegas Amanda dari bangkunya.


"Oke. Aku tahu ini semua salahku. Namun, yang kulakukan karena aku ingin menyatukan No Face dengan 13 Demon Heads. Sebelum semua ini terungkap, aku pikir Jonathan telah diakui oleh The Circle, tapi ternyata aku salah. Maaf, aku terlalu dangkal dalam berpikir, tapi aku akan memperbaikinya," jawabnya tegas.


"Caranya?" sahut Yusuke memicingkan mata.


Han menghela nafas panjang. "Kugagalkan pernikahan mereka yang seharusnya kujadwalkan musim gugur awal tahun nanti."


"Jangan. Kau malah semakin memperburuk keadaan, Kak Han. Cukup aku saja yang dibenci oleh anak kita, kau jangan. Tetap nikahkan mereka. Kau harus menepati janjimu," sahut Vesper cepat dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kau menyutujuinya? Kau merestui pernikahan mereka? Apa kau berubah pikiran?" tanya Han menatap Vesper heran.


"Tidak. Aku tak pernah merestuinya. Hanya saja, biarkan. Aku ingin melihat sejauh mana Arjuna bisa mempertahankan pernikahannya. Dia harus tahu bagaimana rasanya membina rumah tangga di balik keinginannya berkuasa," jawab Vesper dengan pandangan tertunduk.


Semua orang diam. Mereka seakan bisa merasakan kesedihan yang Vesper rasakan.


"Baiklah. Kita sudah sepakat. Kim Han Bong. Kau dalam pengawasan ketat 13 Demon Heads di bawah tim Silhouette Jordan. Jika kau terbukti mengkhianati kami dan berpihak pada musuh, hukumanmu adalah pengasingan. Hanya orang bodoh yang melakukan kesalahan sama. Aku yakin, kau tak ingin kembali ke masa-masa kelammu dulu bukan?" tanya Martin menyindir dan Han menarik nafas dalam seraya mengangguk pelan.


"Kita sudah membuat keputusan dan semua sudah disahkan dengan darah dalam buku hitam Pertemuan Rapat Dewan. Kita akan mulai pergerakan setelah rapat ini dibubarkan," tegas Amanda dan semua orang mengangguk paham.


Siang itu, usai rapat. Pemakaman Akbar dilakukan di halaman belakang Black Castle untuk melakukan penghormatan terakhir kepada Tuan Robert dan Wilson yang kuburannya berdampingan di bawah pohon Oak.


Terlihat pula beberapa nisan dari para pendahulu dan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads yang telah tewas.



Bojan memimpin pemakaman dan semua pelayat tertunduk diam dengan perasaan duka menyelimuti hati mereka karena satu persatu orang-orang dalam jajaran mereka telah tiada.

__ADS_1


"Hubungi Arjuna. Aku ingin tahu seperti apa reaksinya. Entah ia tahu atau tidak dengan tragedi ini," pinta Vesper saat acara pemakaman telah selesai.


Han dengan sigap menghubungi anak lelakinya dari ponsel dalam genggaman. Martin mendesak untuk men-speaker panggilan tersebut dan Han terpaksa melakukannya.


"Ya, Ayah. Tumben kau menelepon. Ada apa?" tanya Arjuna dari sambungan telepon. Semua orang hening mendengarkan.


"Apa kau tahu jika Tuan Robert dan Wilson tewas karena serangan No Face?"


Arjuna diam sejenak. Orang-orang di sekeliling Han saling melirik dengan wajah dingin. Vesper berdiri diam dengan pandangan tertunduk di depan suami tertuanya.


"Mm, aku tak tahu," jawabnya gugup.


"Kau tahu di mana Sandara sekarang?" tanya Han lagi.


"Aku ... tidak tahu. Kenapa kau menanyakan semua hal ini padaku?" tanya Arjuna terdengar gelisah.


"Kau ... sudah berani berbohong pada Ayah. Kau tahu semua dan tak memberitahukan hal ini padaku. Apa kau kini berpihak pada No Face? Kelompok yang kau pilih itu adalah musuh kita, Arjuna. Jika kau masih menganggap 13 Demon Heads sebagai rumahmu, segeralah kembali tanpa Tessa. Tinggalkan yang No Face janjikan padamu. Bawa Sandara kembali bersamamu," tegas Han dan praktis, pandangan Vesper terangkat. Han tak mengindahkan ucapan sang isteri tentang menikahkan Arjuna dengan Tessa.


"Tidak bisa. Aku tak bisa pulang sekarang. Ada yang harus aku selesaikan," jawabnya mantab.


"Kau tak kembali sekarang juga, mulai detik ini, kau dikeluarkan dari keanggotaan 13 Demon Heads. Kau diasingkan dan masuk dalam daftar pengkhianat. Kau dibutakan kekuasaan, Arjuna," tegas Han.


"No! Apa yang kau lakukan, Kak Han?!" pekik Vesper langsung melebarkan mata dan memegang kedua lengan suaminya gemetaran. Han tersenyum.


"Kau mengecewakanku, Arjuna. Ibumu dan juga jajaran 13 Demon Heads. Kau bahkan tak patuh padaku," jawab Han dengan sorot mata tajam. Vesper meneteskan air mata dan perlahan roboh di hadapan suaminya.


Kai segera memegangi Vesper yang membungkam mulutnya rapat menahan isak tangis. Kai memeluk isterinya erat dan menatap Han tajam dari tempatnya berjongkok.


"Jadi begitu. Baiklah. Aku mengerti. Aku ucapkan terima kasih atas semua yang kau berikan padaku dan juga semua orang di sekitarku. Aku ... sudah mengatakannya. Aku tak bisa kembali sekarang. Jika kita berumur panjang, kita akan bertemu lagi, Ayah. Titip salamku untuk mama. Katakan ... aku membencinya."


"Arjuna!"


KLEK! TUT ... TUT ... TUT.


Vesper menangis. Wajah semua orang tegang seketika. Nafas Han menderu, ia terlihat begitu marah atas keputusan anaknya.


"Kau gila, Han! Jika Arjuna dikeluarkan dari kursi Dewan, dia bisa menyerang kita! Satu-satunya alasan kita mempertahankannya untuk membuat No Face lenyap melalui Arjuna!" ucap Kai lantang mencengkeram kuat jas di dadanya.


"Aku tahu, Kai. Aku paham hal itu," jawabnya sendu.

__ADS_1


"Lalu kenapa?" tanya Kai sampai wajahnya merah menahan marah.


"Aku yang akan menghentikannya, Kai. Dia anakku. Dia tanggung jawabku. Dan aku berjanji akan membawa Sandara pulang. Tolong, jaga Lily. Pastikan saat aku pulang nanti, ia tetap berada di rumah untuk menyambutku," pintanys sedih.


Kai melepaskan cengkeramannya. Semua orang terdiam saat Han berjongkok dan memandangi wajah sang isteri yang terlihat begitu sedih.


"Aku minta maaf, Lily. Aku yang merusak semuanya. Keegoisan dan ambisiku, membawa Arjuna pergi dari sisi kita. Aku minta maaf jika Arjuna mengatakan hal buruk tentangmu, itu semua salahku. Kebenciannya berasal dariku. Namun aku pastikan, Arjuna, dia menyayangimu," ucapnya sendu.


Vesper menangis dan memeluk Han erat. Han balas memeluk isterinya yang meluapkan semua kesedihan yang ia pendam dalam tangisannya. Han ikut meneteskan air mata penyesalan.


Hal buruk yang menimpa keluarga Vesper dirasakan lebih menyedihkan ketimbang kematian Wilson dan Robert di pemakaman sore itu.


Vesper terlihat pucat dan lesu usai mendengar penuturan Arjuna dari panggilan telepon. Vesper berbaring di kamarnya dengan mata terpejam ditemani Jonathan dan Lysa di sampingnya.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.


"Mah ... Nathan tahu kalau Mama gak tidur. Udah, Mah, jangan sedih lagi. Nathan ikut nangis kalau Mama begini," ucap Jonathan menatap wajah Ibunya yang kembali meneteskan air mata meski matanya terpejam.


Jonathan memeluk Ibunya erat dengan air mata yang sama. Lysa memalingkan wajah sembari mengusap air mata yang menetes di wajah cantiknya.


Lysa beranjak dan mengambil sebuah buku di rak kamar Ibunya itu. Lysa kembali duduk di samping ranjang dan terlihat berusaha untuk tenang.


Jonathan melirik Lysa saat Kakak perempuannya itu membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk Ibunya.


Jonathan perlahan menghentikan tangisannya. Ia menghapus air matanya berikut sang Ibu. Senyum Jonathan merekah saat melihat Vesper tak menangis lagi dan perlahan nafasnya tenang.


Jonathan menyelimuti tubuh Ibunya dan mengelus kepalanya lembut. Perlahan, tubuh tegang Vesper melemah.


Lysa melirik saat merasakan tangan sang Ibu dalam genggamannya mulai lesu. Jonathan melihat jika Ibunya mulai tertidur.


Lysa tetap membacakan ayat-ayat itu dengan suara merdunya. Ternyata, Jonathan ikut terbuai dan malah menemani Vesper tidur di sebelahnya.


"Istirahatlah, Mah. Aku dan lainnya akan menemanimu," ucap Lysa lirih seraya menutup kitabnya dan memasukkan tangan Vesper ke dalam selimut. "Aku menyayangimu, Mah," sambungnya dengan senyuman dan mengecup kening Vesper lembut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋💋💋



__ADS_2