
Tessa terlihat gugup. Arjuna berdiri tegap di depannya dengan sorot mata tajam.
"Aku mendengar yang kau bicarakan dengan Sierra saat di kamar. Apa maksudnya dengan Sierra mengatakan kau ... maaf, 'Jalaang'?" tanyanya seraya mengeluarkan alat detektor kebohongan ke meja samping mereka berdiri.
Tessa terkejut, matanya melebar seketika. Arjuna kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Pernahkah kau dipaksa melakukan sesuatu, sedang kau benar-benar membenci hal tersebut?" tanya Tessa dengan pandangan ke lain arah, meski tubuh dan wajahnya menghadap ke arah calon suaminya tersebut.
"Hem."
"Ceritakan. Bukankah ... kau menginginkan kejujuran? Aku juga ingin tahu tentang dirimu yang tak kuketahui, Arjuna," sahut Tessa yang kini berani memandangi wajah tampan lelaki pujaannya.
"Kai," jawabnya tegas. "Sampai sekarang aku tak menyukainya. Aku dipaksa menerima keberadaannya dan mengakui dirinya sebagai salah satu ayahku. Dia hidup dan berada di sekitarku. Bukan aku tak menyayangi ibuku. Aku hanya tak suka melihat ibuku bersamanya. Itu ... menyakiti perasaanku. Dia datang dan merenggut kasih sayang ibuku yang seharusnya untukku."
Tessa melirik alat detektor yang tetap menyala hijau. Ia kembali menatap Arjuna. Ia tahu jika kekasihnya itu berkata jujur, meski raut wajahnya datar.
"Begitupula denganku. Meski aku salah satu pemimpin No Face, bukan berarti aku bisa melakukan apapun layaknya pemimpin. Aku tetap menjadi pesuruh dari penguasa tertinggi. Aku yang selalu melakukan pekerjaan kotor dan membereskan kekacauan mereka." Arjuna melirik alat detektor dan tak ada bunyi nyaring yang terdengar. Mata Arjuna kembali pada Tessa. "Alasanku tetap bertahan adalah kau, Arjuna. Namun, saat aku tahu kau ternyata memanfaatkanku, aku memilih meninggalkanmu. Pikirku, kau sama saja dengan semua pria yang kukenal. Tak ada yang tulus mencintaiku, sangat menyakitkan. Hingga akhirnya kuputuskan, untuk menggadaikan semua, asal aku bisa merasakan kebahagiaan, meski aku harus berkorban banyak. Aku hanya ingin memiliki kesempatan sebelum pada akhirnya mati," ucapnya dengan pandangan tertunduk terlihat sedih.
"Bagaimana jika aku mengecewakanmu?"
"Kau sudah melakukannya, dan ternyata ... tak begitu menyakitkan. Aku bisa menerimanya," jawab Tessa kembali menaikkan pandangan dan menatap wajah kekasihnya lekat.
"Bagaimana jika kau menderita hidup bersamaku?"
"Penderitaanku dulu lebih buruk dari yang sekarang. Aku bisa mengatasinya," jawabnya yakin.
"Bagaimana jika—"
Arjuna terdiam saat Tessa menciumnya dengan mata terpejam seraya memegangi kedua pipinya lembut. Arjuna bisa merasakan jika kali ini Tessa menciumnya dengan penuh perasaan.
"Kau terlalu banyak bicara. Kenapa tak kita coba jalani dulu saja? Aku tahu, jauh di dalam hatimu, kau masih mencintai Naomi. Namun, tak akan kubiarkan kau kembali lagi padanya. Aku tak mau satu-satunya kebahagiaanku pergi dan direnggut dariku," ucapnya menatap Arjuna tajam, tak melepaskan kedua tangannya dari wajah berseri pria berparas Asia itu.
"Oke. Namun, aku sudah memperingatkanmu. Aku tak bisa menjamin kebahagiaan hidup bersamaku kelak. Karena aku, tak mencintaimu. Jadi ... berusahalah. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa mencintaimu dan melupakan Naomi," jawabnya seraya memegang kedua pergelangan tangan Tessa dan melepaskannya perlahan dari wajahnya.
Tessa terlihat kecewa, tapi ia mengangguk. Ia tahu resikonya. Kening Arjuna berkerut, saat Tessa tersenyum tipis seperti ada hal lucu dari pembicaraan mereka.
"Ucapanmu memang menyakitkan, seperti ... cinta tak terbalas? Cinta bertepuk sebelah tangan? Namun, kau jujur dengan perasaanmu. Setidaknya aku tahu di awal, jadi aku bisa mencari cara untuk merebut hatimu. Terima kasih sudah memberikan kesempatan pada si jaalang ini," ucap Tessa memeluk Arjuna dan merebahkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.
Arjuna berdiri diam, tak membalas pelukan itu, bahkan tak tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan.
Di sisi lain. Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
Sierra yang masih tak sadarkan diri, diturunkan ke sebuah padang rumput luas. Helikopter kembali melayang dan meninggalkan gadis cantik itu sendirian tergeletak di sana.
Perlahan, sinar terang matahari mulai meredup. Kegelapan menyelimuti kawasan itu secara perlahan dan pasti. Memberikan kesan sunyi di tempat tak dikenal.
"Emph," keluhnya saat membuka mata. "Hah? Di mana aku?!" pekiknya langsung duduk dengan mata terbelalak lebar seraya melihat sekitar dengan panik. "Aku dibuang? Jonathan kurang ajar! Awas saja, akan kuba—"
Amarah Sierra reda, saat salah satu tangannya menggenggam sebuah ponsel yang direkatkan ke telapak tangan. Sierra dengan cepat mengaktifkan ponsel tersebut.
"Oh. Baik sekali. Dia masih memberikanku ponsel. Dan beruntungnya, ada sinyal di sini. Baguslah," ucapnya seraya menekan sebuah nomor untuk menghubungi seseorang.
Namun, nomor itu sudah tak aktif lagi. Kening Sierra berkerut, ia terlihat bingung. Sierra berguman lirih saat menekan nomor ponsel lain, tapi ternyata tak tersambung. Ia mulai kesal karena dua panggilannya tak membuahkan hasil.
Gadis cantik itu terdiam sejenak terlihat berpikir serius di tengah padang rumput setinggi pinggang mengelilingi dirinya.
Sierra kembali menekan nomor lain seraya memegangi rambutnya yang terhempas angin kencang dan membuatnya kesulitan melihat layar ponsel.
"Hallo?"
__ADS_1
"Hai. Ini aku, Sierra. Apa kau bisa melacak di mana posisiku sekarang?"
"Kenapa kau menghubungiku? Bagaimana kau bisa ingat nomor ini?"
"Ceritanya panjang. Intinya, jemput aku sekarang, dan akan kubantu menjatuhkan 13 Demon Heads. Cepatlah, aku mulai tak nyaman di sini sendirian," jawabnya seraya melihat sekitar di mana tak terlihat jalanan aspal sejauh mata memandang.
"Oke, aku sudah mendapatkan lokasimu. Namun, aku tak bisa menjemput sekarang. Jarakmu terlalu jauh dari tempatku berada."
"Kau berani membantah permintaanku, Venelope? Kirim anak buahmu yang terdekat dari lokasiku. Aku ingin dijemput malam ini juga. Jika tak ada yang datang, aku pastikan, akan kurebut semua yang menjadi milikmu, Keturunan Palsu," ucapnya bengis.
"Kau ... sungguh Sierra?" tanyanya terdengar gugup.
"Hem, berterima kasihlah pada 13 Demon Heads. Mereka mengembalikan ingatan dan diriku yang dulu. Cepat kemari dan bawa aku pergi dari sini," tegasnya.
"Oke. Pastikan ponselmu selalu aktif. Jika kau berpindah lokasi, informasikan padaku, Puteri."
Sierra tersenyum tipis lalu menutup panggilan. Gadis berambut pirang panjang itu menarik nafas dalam dan berlahan bangun, meski dengan posisi merangkak. Sierra terlihat kesal pada dirinya yang tak berdaya.
Saat Sierra bersusah payah agar bisa berdiri tanpa benda yang membantunya menopang untuk berjalan, ia melihat pergerakan di antara semak. Matanya menyipit, dan dengan sigap ia menyalakan senter di ponselnya.
"Grrrrr ...."
"Oh. Anjiing liar?" tebaknya santai, saat hewan itu mengerang dan berjalan mengendap seperti siap untuk menerkamnya. "Aku sedang tak ingin bermain-main. Aku dalam kondisi kesal, dan ingin—"
"Harrghhh!"
BUAKK!!
BRUKK!!
Sierra memukul wajah anjingg itu dengan kepalan tangan kanannya hingga hewan berbulu itu ambruk, meski kembali berdiri.
Tangan kirinya menggenggam ponsel yang masih menyalakan senter sebagai penerangnya.
"Oh, kau boleh juga. Sial, reflekku jadi lambat. Kenapa aku jadi lemah begini? Dan kakiku, hagh!" ucapnya kesal seraya melihat kedua tangan serta kedua kakinya bergantian dengan dengusan nafas kasar.
"Harrghhh!" Hewan itu kembali berlari dan menyerangnya.
Sierra terlihat tak takut, matanya terkunci pada sosok hewan tersebut dengan sorot lampu senter ponsel ia gunakan untuk menyilaukan pandangan lawannya. Saat hewan itu akan melompat, tiba-tiba ....
DOR!
BRUKK!
Sierra tersentak. Ia menoleh ke arah suara tembakan itu berasal. Matanya menajam, karena sosok itu mulai berjalan meski ia tak bisa melihat jelas wujudnya.
Sierra mengarahkan lampu itu ke tubuh seorang pria yang mendekatinya dengan senapan laras panjang dalam genggaman.
"Nona Sierra! Anda tak apa?" tanya seorang pria dengan suara lantang di kejauhan.
Sierra mengarahkan senter ponselnya ke sekumpulan pria yang mendekat dengan pakaian hitam dan topeng burung gagak. Mata Sierra menyipit.
"Kalian siapa? Lepaskan topeng itu," pintanya tegas.
Para pria bertopeng saling memandang, meski pada akhirnya melepaskan topeng tersebut. Sierra menajamkan pandangannya ke empat orang pria yang berdiri di hadapannya. Sierra mendekat dengan menyeret kakinya.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Empat pria itu terkejut karena ditampar oleh si gadis pirang dengan nafas menderu terlihat begitu marah.
__ADS_1
"Hanya kalian yang datang menjemputku?!" pekik Sierra bertolak pinggang. Empat pria itu mengangguk pelan. "Di mana lainnya? Dan yang terpenting, aku ada di mana?"
"Anda berada di Perancis, Nona. Maaf, tapi jumlah pasukan menurun drastis. Hanya beberapa saja yang tersisa," jawab salah satu pria dengan bekas tamparan di pipi sebelah kiri berwarna merah.
Mata Sierra melebar. "Berapa?"
"Dua ... dua ratus."
Mulut Sierra mengangga lebar. Ia terlihat shock. Ia meluapkannya dengan menjambak rambut dua pria di depannya dan saling dibenturkan dengan kawan di sampingnya, hingga dua pria malang itu merintih kesakitan sampai mata keduanya terpejam.
"Siapa yang memimpin selama aku pergi?!" tanyanya melotot.
"Ve-Venelope," jawab salah seorang pria gugup.
Nafas Sierra makin menderu. Ia memberikan kedua tangannya. Dengan sigap, salah satu di antara empat pria itu mendekat dan memberikan punggungnya.
Sierra digendong di belakang dan segera dibawa pergi dari padang rumput yang tak ia kenali.
Orang-orang itu ternyata menjemputnya dengan motor trail. Sierra makin kesal. Baginya kendaraan itu sangat tak layak untuknya.
Namun, ia mencoba untuk menerima pelecehan ini sampai ia bertemu dengan Venelope dan membuat perhitungan dengannya.
Selama berkendara, Sierra ngotot agar bisa terbang dengan helikopter untuk sampai di rumahnya, Colmar.
Empat orang itu dibuat pusing. Mereka mencoba menghubungi beberapa orang agar bisa melakukan penjemputan.
Setelah satu jam menunggu di sebuah gas station, akhirnya dua buah mobil sedan datang. Sierra menyipitkan mata ketika penjemput di mobil tersebut tak turun untuk menyambutnya.
"Berani sekali dia. Siapa yang datang?" tanya Sierra kembali emosi.
"Smiley, Nona," jawab salah seorang pria penjaga yang berdiri menemani Sierra duduk di atas motor.
"Suruh ia datang kemari. Aku ingin dia yang menggendongku," pintanya tegas dengan mata terkunci pada pintu mobil yang bisa terbuka ke samping.
Pria itu mengangguk lalu berlari mendatangi mobil tersebut.
Akhirnya, Smiley keluar dengan masker menutupi hidung dan mulutnya. Mata Sierra bergerak ke arah Smiley yang berjalan mendekatinya, dan kini berdiri di sampingnya menatap tajam.
"Kau berani memintaku datang padamu? Kau dan Venelope mulai lancang. Jangan kira aku tak akan memberikan hukuman karena penghinaan ini," ucapnya dengan mata melotot menunjuk pria tua itu.
Smiley melepaskan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya dengan kening berkerut.
"Sungguh? Kau Sierra?" tanyanya terlihat tak percaya, dengan topi hitam masih ia kenakan agar sosoknya tak terlihat jelas.
"Hem. Aku sudah kembali. Berhenti bertanya dan cepat bawa aku pergi dari sini. Kalian semua membuatku muak," jawabnya geram.
Smiley kembali memakai masker wajahnya. Sierra digendong pria tua itu menuju ke mobil. Smiley duduk di sebelah Sierra dan terus menatapnya lekat.
"Minta semuanya berkumpul di rumahku. Aku ingin kalian jelaskan semua. Dan awas saja, jika sampai ada yang kalian tutupi, aku tak segan melenyapkan kalian dengan tanganku sendiri. Kau mengerti, Smiley?" ucap Sierra melirik tajam.
Pria tua itu mengangguk paham. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan terlihat sibuk mengirimkan pesan ke beberapa nomor.
Sierra terlihat masih kesal. Ia menuang vodka yang tersedia di mobil itu ke gelas crystal lalu meneguknya dengan cepat seperti kehausan. Smiley terpaku melihat gerak-gerik Sierra yang terlihat sungguh nyata untuknya.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤ maap telat up, capek dan nguantuk banget uyy hari ini. semoga jadwal up bisa kembali normal esok hari.
__ADS_1