
Empat anak Vesper berjalan tergopoh keluar dari gedung. Suara peperangan masih terdengar di dekat gedung.
Mereka sepakat untuk memburu Miles dengan mendatangi satu per satu tim dan berharap bertemu pria kejam itu di sana.
"Wait!" pinta Sandara saat mereka berjalan ke arah Barat di mana suara dentuman bom dan tembakan begitu seru terdengar.
"Ada apa?" tanya Lysa langsung menatap Sandara tajam karena sang adik terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Kalian ingat ucapan Miles sebelum mengubur kita hidup-hidup?" tanyanya menatap tiga saudaranya bergantian.
Kening Lysa, Jonathan dan Arjuna berkerut.
"Entah. Emang kenapa?" tanya Jonathan yang lupa sama sekali perkataan Miles ketika di gedung.
"Siaga! Dia pasti sudah membidik kita!" seru Sandara langsung bersiap dengan belati dan pedang Silent Blue-nya lagi.
Praktis, mata Lysa, Jonathan, Arjuna dan Sandara menajam. Mereka membentuk lingkaran dan saling memunggungi.
Hutan yang gelap membuat mereka kesulitan untuk melihat. Ditambah luka fisik yang diderita mengakibatkan ketahanan tubuh mereka melemah.
"Emang, Miles bilang apaan?" tanya Jonathan berbisik yang membidik menggunakan senapan pelontar granat yang digunakan oleh Sandara tadi.
"Dia mengatakan—"
"Awas!" teriak Arjuna saat melihat sebuah granat tabung dilemparkan dari atas pohon.
"Menghindar!" seru Lysa lantang saat benda itu mengeluarkan bunyi nyaring memekakkan telinga.
Jonathan kesulitan bergerak karena kakinya yang sakit. Namun dengan sigap, Arjuna langsung memberikan lengannya, tapi ....
PIPIPIPIPI! KLEK! DODODODODOR!
"Argh!" erang anak-anak Vesper saat mereka terkena peluru-peluru tajam yang keluar dari lubang-lubang pada besi berbentuk silinder itu.
Beruntung, jas mereka anti peluru. Sayangnya, jika terus-menerus diberondong, jas itupun tak bisa menyelamatkan tubuh mereka lagi.
"Gunakan tas kita!" seru Sandara panik.
Ia menggunakan tas ransel yang memiliki kemampuan untuk menahan peluru sebagai perisai, begitupula dengan tiga saudara lainnya.
Mereka berjongkok dan terus berjalan mundur dengan tergesa menghindari serentetan peluru yang mengincar nyawa mereka.
"Dia menggunakan persenjataan kita! Sial! Pasti senjata yang Nathan beli dan dicuri olehnya waktu itu!" seru Jonathan kesal dan berusaha keras mencari tempat perlindungan di dekatnya.
Arjuna melihat arah lemparan tersebut. Grant mini yang tak jadi digunakan oleh Lysa untuk meledakkan puing yang menghimpit kaki Jonathan, berhasil ia simpan lagi. Arjuna mulai membidik lawannya.
"Agh!" erang Arjuna melemparkan granat mini tersebut ke arah pohon yang dicurigainya.
Seketika, BLUARRR!!
"Woah! Apa yang terjadi?!" pekik Jonathan kaget karena tiba-tiba saja pohon di sisi kanannya meledak. Namun, hal aneh ikut muncul.
BRUKK!
"Arghhh!" erang seorang pria berseragam hitam dan mengenakan gelang pemenggal yang tak lain adalah anak buah Jonathan yang membelot.
"Heh, kena kau," ucap Arjuna dengan seringainya.
Dengan sigap, DOR! DOR! DOR! BRUK!!
Tembakan peluru dari granat tabung sudah mereda. Lysa dengan sigap menggunakan teropong pendeteksi panas tubuh manusia meski harus bersusah payah menahan sakit karena tangannya yang terluka.
"Kita disergap! Mereka ada di seluruh pohon di sekeliling kita!" seru Lysa yang membuat semua anak Vesper melebarkan mata.
"Serahin ke Nathan!" seru Jonathan langsung membidik pohon itu satu per satu seraya melontarkan Rainbow Gas.
BUZZ!!
Kepulan gas berwarna-warni menyeruak di pohon-pohon yang ditunjuk oleh Lysa dari tempatnya berdiri. Benar saja, suara rintihan terdengar jelas.
__ADS_1
Sandara dengan sigap menyuntikkan serum penawar warna hijau ke tubuhnya. Ia juga menyuntikkan serum warna jingga ke tubuh Lysa. Arjuna dan Jonathan juga demikian yang menyuntikkan serum warna hitam.
"Serang!" seru Jonathan mantap seraya melemparkan senjata pelontar granat ke atas tanah. Ia mengganti dengan pistol di tangan kanan dan kiri.
Mantan anak buah Jonathan jatuh satu per satu dari atas pohon. Anak-anak Vesper menembaki, menusuk, dan menebas kepala mereka tanpa ampun.
Lysa yang masih kesulitan dalam memegang senjata tak ingin kalah. Sandara memberikan idenya dengan mengikat pisau Silent Blue pada ujung sepatu magnetnya.
Lysa menggunakan dua kakinya untuk menusuk tubuh lawan dan membunuhnya. Kali ini, empat anak Vesper terlihat begitu serius bertarung.
Sayangnya, dari sekian banyak pria berseragam hitam itu, tak ada satu pun dari mereka adalah Miles. Tentu saja, empat anak Vesper geram karena merasa dipermainkan.
"Hah, hah, kita harus terus buru dia! Jangan biarkan Miles hidup! Ayo!" seru Arjuna seraya terus menebas tiap kepala lawan yang dijumpainya dengan satu tangan karena bahunya masih terluka.
"Kak Lysa! Pindai pergerakan yang mencurigakan!" pinta Sandara yang ikut membantu dengan membunuh satu per satu pria yang menghalangi jalannya.
"Ada! Arah jam 1! Aku tak tahu dia siapa, tapi ia kabur dari peperangan!" jawab Lysa dengan teropong khususnya saat mendapati seseorang berlari kencang menyelinap dalam rimbunnya hutan.
"Kejar dia!" seru Jonathan yang ingin meninggalkan pertempuran.
"Jangan! Kita harus terus bersama!" seru Sandara memperingatkan saat Jonathan sudah berlari memasuki hutan, tapi untung saja, putera Erik tersebut langsung menghentikan langkah. Sayangnya ....
SRAKK!
"AAAAA!" teriak Jonathan histeris yang mengejutkan tiga saudaranya.
"Nathan!" panggil Arjuna dengan mata melebar saat tubuh Jonathan tergantung di atas pohon dengan kaki terjerat dan kepala di bawah.
Arjuna segera berlari untuk menolong adiknya itu, tapi DODODODOOR!!
"Arghhh!"
"Juna!" panggil Lysa melebarkan mata ketika melihat Arjuna ditembaki oleh dua buah CD yang melayang di antara rimbunan dedaunan pohon.
Arjuna terkena tembakan mematikan itu termasuk Jonathan. Keduanya mengerang dan Arjuna langsung ambruk di tanah. Lysa shock melihat pembantaian itu.
Entah apa yang menggerakkannya, Lysa dengan sigap mengambil senapan laras panjang milik musuh yang tergeletak di tanah. Lysa membidik dua buah CD itu dan menekan pelatuk dengan mantap.
Aksi saling balas tembak terjadi. CD tersebut kini mengincar nyawa Lysa. Sandara yang berhasil menuntaskan untuk membunuh lawan-lawannya dengan sigap ikut mengambil senapan musuh dan ikut memberondong dua benda terbang itu.
Dua lawan dua. Percikan api dan suara memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan hampir tak berjeda. Arjuna mengerang kesakitan karena kakinya tertembus peluru-peluru tajam itu.
Beruntung, jas anti peluru masih bisa melindunginya, tapi tetap memberikan dampak sakit luar biasa dan terasa berat karena banyaknya peluru yang tersangkut di sana. Namun, keberuntungan tak berpihak pada Jonathan.
"Hah, hah, Nathan!" panggil Arjuna saat melihat adiknya yang tergantung meneteskan darah dari mulutnya. Wajah Jonathan pucat meski ia masih sadar. "Arghhh! Jonathan!" teriak Arjuna seraya melepaskan jas anti peluru miliknya dan merayap di atas rumput mendatangi Jonathan.
Arjuna berusaha berdiri dengan menahan sakit luar biasa. Ia berpegangan kuat pada batang pohon sebagai penopang tubuhnya yang rapuh.
Sayangnya, tali yang menggantung Jonathan sangat tinggi. Arjuna tak bisa menggapainya. Ia lalu menangkap tubuh Jonathan di mana darah menetes terus-menerus dari balik seragam tempur.
"Uhuk, hai ... kak Juna," panggil Jonathan tersenyum meski wajahnya kini teraliri darah.
Arjuna ketakutan. Ia mencoba mengecek tubuh Jonathan. Seketika, matanya melebar. Peluru dari CD berhasil menembus pinggangnya, begitupula dua kakinya.
Arjuna memejamkan matanya rapat dan berusaha agar tak menangis karena sang adik terlihat tak mampu bertahan lagi.
"Arghhh! Dara! Lysa!" panggil Arjuna dengan tubuh bergetar karena takut jika kehilangan adik lelakinya itu. Mata Jonathan semakin sayup dan tak terdengar rintihan kesakitan darinya. "Dara! Lysa!" panggil Arjuna untuk kesekian kali yang kali ini tak bisa menahan air matanya lagi.
"Pergilah, Kak Juna. Sampein ke mama ... Nathan minta maaf gak bisa menuhin janji. Setidaknya ... Nathan bisa ketemu papa Erik di sana. Akhirnya ... Nathan bisa ketemu papa, kakek, dan ... pustakawan Tom," ucapnya lirih lalu memejamkan mata.
"Jonathan! Jonathan!" teriak Arjuna lantang karena napas adiknya semakin lirih.
Lysa dan Sandara masih berusaha keras menjatuhkan dua drone yang menyerang mereka tadi.
Pengendali dua CD tersebut seperti mengetahui jika benda terbang milik mereka ingin dijatuhkan.
Mereka terbang berkeliling dan bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan lalu menembak lagi. Lysa dan Sandara dibuat kerepotan.
Arjuna menangis dan menyesal tak bisa menolong adiknya. Namun tiba-tiba, KRAS! BRUKK!
__ADS_1
"Agh!" erang Arjuna karena tubuh Jonathan menimpanya sebab ia berada di bawahnya. Namun, Arjuna terkejut karena tali yang menggantung Jonathan putus.
Mata Arjuna melebar saat melihat seseorang dengan kostum gagak muncul di depannya seperti menatapnya tajam dari balik topeng.
Orang itu melucuti pakaian putera ketiga Vesper dan menyisakan celana boxer-nya saja. Ia lalu menengkurapkan tubuh Jonathan di atas tumpukan pakaiannya.
Arjuna membungkam mulutnya. Ia tak menyangka jika peluru-peluru itu sangat banyak bersangkar di tubuh adiknya. Ia melihat orang bertopeng gagak itu memiringkan tubuh Jonathan.
Orang itu lalu memasangkan masker oksigen di mulut dan hidung Jonathan yang tersambung dengan tabung seukuran botol minuman.
Ia menyuntikkan sebuah cairan ke tengkuk Jonathan, lipatan siku, lipatan belakang lutut dan pinggang adiknya tersebut.
Arjuna bingung dan seolah lupa dengan sakit yang dideritanya. Matanya fokus melihat pergerakan orang itu seperti berusaha menyelamatkan Jonathan.
Tiba-tiba, pria itu memberikan sebuah tabung yang Arjuna kenali. Ia dengan sigap menerima dan mengaktifkannya.
Orang itu tak bicara, tapi memberikan kode seperti membagi tugas. Arjuna diminta menyedot peluru-peluru di bagian kaki dan orang tak dikenal itu pada bagian punggung Jonathan. Arjuna mengangguk paham dan segera melakukan yang diperintahkan.
KLANG! KLANG!
Suara besi dari peluru-peluru yang tersedot membuat perasaan lega pada Arjuna. Hingga ia menyadari jika suara tembakan tempat Sandara dan Lysa melawan drone sudah mereda. Arjuna berspekulasi jika dua saudaranya berhasil.
Orang itu lalu dengan sigap membersihkan luka dari lubang-lubang itu dengan kasa lalu menutupnya dibantu oleh Arjuna yang ikut melakukan dengan gesit.
Sayangnya, Arjuna merasa jika Jonathan seperti tak bergerak. Ia dengan sigap merebahkan tubuh Jonathan dan membuatnya terlentang. Benar saja, Jonathan memejamkan mata tak bergerak.
"Nathan ... Nathan, no! Jonathan!" panggil Arjuna panik saat ia tak merasakan denyut jantung pada leher adiknya.
Pria bertopeng gagak itu tersentak seperti ikut terkejut. Ia melepas topengnya begitu saja dan hal itu membuat mata Arjuna melebar.
"Sun?" panggil Arjuna, tapi putera dari M tersebut mengabaikannya.
Sun dengan sigap mengambil stetoskop dari dalam tas ransel yang digendongnya lalu meletakkan ke dada Jonathan.
"Aku masih bisa mendengarkan detak jantungnya, tapi terus melemah. Minggir dan berlindung," pintanya tergesa seraya mendorong dada Arjuna.
Putera dari Han tersebut bingung saat ia diminta pergi. Arjuna menurut ketika Sun mengeluarkan sebuah suntikan, tapi terlihat ragu untuk digunakan.
Mata Arjuna dan Sun saling beradu. Hingga akhirnya, Sun menyuntikkan cairan itu, tapi hanya setengah dosis. Sun dengan sigap merapikan perlengkapan medis dan berlari ke arah Arjuna.
"Dasar bodoh! Cepat pergi!" seru Sun yang membuat Arjuna panik.
Sayangnya, ia yang kesakitan karena luka tembak di kaki tak bisa berlari. Arjuna roboh dan merangkak di atas rumput saat Sun sudah berlari lebih dulu darinya seraya memakai topeng gagak lagi.
"Juna!" panggil Lysa dan Sandara yang berhasil melumpuhkan drone tersebut dan tak menyadari kehadiran Sun.
"Pergi dari sini!" teriak Arjuna dengan tangan ia ayunkan mengusir pergi.
Lysa dan Sandara mengikuti tolehan kepala Arjuna yang kini memandangi Jonathan di atas tanah masih terbaring tak bergerak. Namun tiba-tiba ....
"Dia sudah sadar! Cepat pergi dari sini!" teriak Arjuna lantang di mana sosok Sun sudah tak terlihat lagi.
"Jangan-jangan ... cepat!" ucap Sandara yang dengan sigap mendatangi Arjuna untuk menolongnya berdiri, begitupula Lysa.
Mereka bertiga berjalan tergopoh mencoba menjauh dari Jonathan yang mulai merasakan dampak dari serum yang disuntikkan oleh Sun.
Ketiganya kembali ke dalam bangunan yang runtuh dan bersembunyi di balik puing dengan napas tersengal.
"Kau gila? Kau memberikan serum monster padanya?" tanya Sandara melotot pada kakak lelakinya itu.
"Sun yang melakukannya, bukan aku. Namun, kau pernah berhasil menyembuhkan Jordan 'kan? Kulihat ia hanya memberikan setengah dosis pada Jonathan. Aku rasa, pilihannya tepat. Jika tidak, Jonathan pasti—"
"AAAA!" teriak Lysa tiba-tiba yang mengejutkan Arjuna dan Sandara saat melihat Jonathan muncul dengan napas terengah terlihat buas.
"Oh ... shitt," umpat Arjuna dengan mata melotot saat melihat adik lelakinya yang hampir mati tadi kini membidiknya.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ jangan lupa vote vocernya keburu angus😘