
wah, webnya udah bener semoga gak kumat lagi🥳 oia, yg belom baca SIMULATION bisa bantu boom like dulu yak. kalo inget novel itu kaya nasib Vesper saat lele tulis pertama kali. yg like dan komen dikit banget tapi lele tetep pede aja dan rajin update. bisa di cek author rajin update apa gak dari tanggal publish. makasih ya. happy weekend😍
------ back to Story :
Raden terlihat begitu fokus dengan gerak-gerik orang-orang di mobilnya, begitupula di layar tablet. Jantung remaja tampan itu berdebar seketika.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Sensor panas mendeteksi ada dua orang di dalam bangunan, Kai. Di luar ada dua penjaga," lapor Click menginformasikan.
"Sipil? Bersenjata?" tanya Kai dengan wajah datar, tapi mata Raden melotot saat mendengar hal tersebut.
'Bersenjata? Ini ... penggerebekan gitu? Buset, jangan-jangan Raden nanti diliput sama media, dibawa ke Kantor Polisi buat dimintai keterangan sebagai saksi. Aduh, gaswat!' batinnya panik. 'Eh, tapi gak papa. Impian Raden jadi artis bisa terwujud. Wah, keren ini. Raden kudu ikut misi ini sampai akhir. Gak nyangka, ternyata Om Kai sama Jonathan itu orang-orang hebat. Kok ayah sama ibu gak pernah cerita sih? Ah, sengaja nih pasti,' guman Raden dalam hati sudah memiliki gambaran akan kehidupan misterius keluarganya.
"Aku sudah mengganti tampilan pada drone. Kau bisa melihatnya, Kai?" tanya Click dari sambungan earphone.
"Ya. Meski terlihat seperti warga sipil, tapi aku tak yakin. Kita harus mendekat dan mencari tahu langsung," jawab Kai tenang seraya mengamati pergerakan drone yang mengintai dari atas kawasan Villa tersebut.
"Eko, masuk. Umpan," tegas Kai.
"Siap, Nak Kai!"
Mata Raden makin membulat penuh. Ia melihat Eko berjalan keluar dari mobil dengan pakaian sipil tak memakai baju militer seperti yang lain.
Kai meneropong dari dalam mobil dan mulut Raden kembali menganga karena jenis teropong Kai seperti teropong khusus dengan lensa di bagian depannya bisa bergerak dan terlihat canggih.
'Sumpah! Ini bukan film! Ini beneran ada di dunia nyata! Raden pengen nangis rasanya. Mimpi Raden buat ikut terlibat aksi laga terkabul. Makasih ya Allah,' ucap Raden dalam hati penuh rasa syukur hingga matanya terpejam dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada.
"Hei, kamu kenapa? Gak usah takut. Ini belom ngapa-ngapain," tanya Jonathan menepuk pundak sepupunya yang terlihat seperti khawatir jika terluka. Raden membuka matanya seketika. "Mobil ini akan melindungi kita. Nathan udah lakuin modifikasi penuh setelah lihat ayah Han dan lainnya selamat berkat mobil pelindung buatan Jonathan Innovation."
"Ha?"
"Iya. Kaca ini anti peluru dan kaca filmnya sengaja Nathan bikin agak gelap. Di Indo peraturannya gak seketat di luar negeri jadi Nathan bisa bebas berekspresi di sini," jawabnya dengan senyum lebar. Raden hanya mengedipkan mata dengan wajah lugu. "Nah, kendaraan ini juga memiliki persenjataan dengan daya rusak cukup tinggi. Makanya, satu mobil cuma bisa dinaiki oleh 4 orang, biar gak overloaded," sambungnya lagi. Raden melongo. "Kalaupun kita kena serangan dahsyat misal seperti misil kaya RPG gitu, setidaknya kita masih punya peluang 50% selamat. Di balik penutup interior mobil, Nathan udah sisipin alat pemadam jenis AFF Foam (Busa). Jadi ada detektor khusus ketika mobil terbakar, busa itu akan langsung menyembur," ucapnya lagi menjelaskan dengan semangat.
"Mi-misil? Kaya ... torpedo gitu?"
"Hem. Lihat sekeliling interior mobil yang punya lubang-lubang kecil ini," jawab Jonathan sembari menunjuk bingkai atas jendela dan beberapa tempat pada dinding interior. Raden mengangguk pelan. "Nah, nanti busa pemadamnya keluar dari situ," terangnya menyampaikan.
"Ahhh, oke. Paham dikit sih," jawab Raden terlihat bingung.
"Hahaha, gak papa. Santai aja. Makanya deket-deket Nathan biar kamu ketularan pinternya aku. Oke?" ajak Jonathan sembari memberikan jempolnya.
"Ah, oke," jawabnya terlihat ragu dengan jempol sebagai pelengkapnya.
"Sttt. Fokus," sahut Kai dan dua remaja itu diam seketika.
__ADS_1
Kai dan lainnya melihat dari kamera drone saat Eko memasuki gerbang Villa dan masuk ke dalam dengan santai. Jantung Raden kembali berdebar. Kata-kata Jonathan membuatnya sulit berpikir jernih.
Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia-Jawa kombinasi.
"Pakde!" panggil Eko sok akrab.
"Njeh, sinten njeh?" tanya seorang pria mendatangi Eko dengan sarung dan terlihat sungkan.
(Ya, siapa ya?)
"Welah, gak kenal? Saya mantunya pak Adipura. Bapak ada gak ya?" jawab Eko memulai dramanya.
"Owalah, mantunya bapak. Tapi, bapak gak ada di sini. Di rumahnya, Mas," jawab pria itu terlihat santun.
"Di rumah juga gak ada, makanya saya kemari. Terus, saya kudu hubungi siapa ini? Ada urusan mendesak di Meksiko," jawab Eko memancing.
"Meksiko?" sahut pria itu terkejut dan Eko mengangguk pelan. Tiba-tiba, Eko di tarik ke dalam pos penjaga oleh Bapak itu. Eko terlihat bingung. "Masnya terlibat kasus di Meksiko juga?" tanya Bapak itu dengan mata melotot.
"Kalau gak terlibat, ngapain saya repot-repot ke sini lho," jawabnya memasang wajah sebal. Bapak itu terlihat gelisah akan sesuatu.
"Click, awasi sekitar. Umpan dimakan."
"Siap, Kai," jawab Click yang masih memantau pergerakan dengan drone-nya.
"Kemarin ada rapat di sini sama orang-orang itu. Tapi, saya gak liat ada Masnya," ucap Bapak itu menatap Eko seksama.
"Mungkin, Mas dikira ketangkep atau mati kali ya?"
"Gak usah nyumpahin saya mati kenapa, Pakde? Tar kalo mati beneran, tak gentayangi loh sampeyan (Anda)," jawabnya memasang wajah kesal.
"Ngapunten (maaf), Mas. Bukan gitu maksud saya. Cuma kemarin, saya denger, orang-orang itu kaya marah. Ada sebut-sebut nama Vesper, Arjuna, terus ada kata-kata 13-13 gitu. Saya cuma kacung (pesuruh), Mas, jadi gak tahu isi rapatnya," jawabnya membungkuk terlihat takut.
Eko dan lainnya yang mendengar pengakuan Bapak tersebut semakin yakin jika Adipura terlibat.
"Ya wes, gak papa. Terus, kemarin yang dateng siapa saja? Saya gak bisa nemuin siapapun, bingung," jawab Eko bertolak pinggang makin pintar bersandiwara.
"Banyak, Mas. Mereka pakai nama samaran. Sabu, Ganja, Mariyuana, Heroin, dan Opium. Sisanya para ajudan."
Eko terkejut begitu pula semua pendengar karena tak menyangka, jika bukan hanya nama Sabu dan Ganja saja yang terlibat. Orang itu lalu kembali menatap Eko lekat.
"Masnya, nama samarannya siapa?"
Eko terdiam dan balas menatap Bapak itu dengan wajah datar. "Rahasia. Tar Pakde bocorin ke orang lain," jawabnya beralibi sembari melihat sekitar dari pos penjagaan.
"Sampean bukan mantu pak Adipura! Penyusup!" pekiknya lantang dan langsung menekan tombol warna merah di meja samping layar yang terkoneksi dengan CCTV.
__ADS_1
TRINGGGG!
Eko terkejut, tapi dengan sigap, DUAKKK! DOR! BRUKK!
"Eko juga gak sudi jadi mantunya Adipura. Kalo Eko mantu, Eko bininya Satria atau Kai dong. Sowry lah yaw, Eko pejantan bucin sama dek Dewi," ucapnya malah bergaya melambai sembari mengibaskan kepala seakan memiliki rambut panjang seperti gadis iklan shampoo.
Eko berhasil menjatuhkan penjaga tersebut dengan mengantukkan dahi ke wajah penjaga lalu menembak perutnya dari pistol yang ia sembunyikan di balik pinggang.
Suara nyaring dari dalam Villa membuat dua orang yang tertangkap sensor panas drone berlari menuju ke suatu tempat dan tiba-tiba menghilang.
"Sepertinya ada ruangan rahasia di dalam Villa itu, Kai! Dua orang itu menghilang dari sensor panas CD!" tegas Click melaporkan.
"Eko! Masuk!" perintah Kai.
"Otewe, Nak Kai!" jawab pria gundul itu dengan pistol dalam genggaman sembari berlari kecil mendatangi Villa.
"Eko! Ada penjaga di luar Villa. Belakangmu!"
DOR! DOR!
BRUKK!
"Ada lagi?" tanya Eko saat ia berhasil melumpuhkan penjaga itu ketika mengendap dari belakang untuk menembak si gundul, tapi Eko lebih cepat dan langsung membalik tubuhnya dengan posisi berjongkok.
"Hoho! Keren, Om Eko! Tarung solo nih! Masuk, Om, masuk!" sahut Jonathan dan Eko mengangguk mantab.
"Team C, masuk ke dalam dan susuri," tegas Kai dan para Black Armys yang satu mobil dengan Eko segera menyusul ke dalam. "Clack, bersiap."
"Yes, Sir."
"Kai, Kai, ada pergerakan di bagian Barat! Ada sebuah mobil SUV hitam turun. Sensor panas melihat dua orang di dalamnya," sambung Click dari pantauan drone.
"Clack! Kejar mereka."
"Yes, Boss."
BROOMM!!
Mata Raden melebar, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat dari kamera yang ditampilkan drone dan kamera mini tersembunyi di balik kacamata yang Eko selipkan di kerah bajunya tentang pergerakan dari aksi mereka itu.
Orang-orang ditembak dan dipukul hingga mereka tewas di tempat. Hal itu, membuatnya gemetaran.
"Apa nih, kok basah?" tanya Jonathan saat merasa bangku yang didudukinya tergenang air. "Eh, kamu ngompol ya, Raden?!" pekik Jonathan dan Raden hanya mengangguk pelan dengan wajah pucat.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya. Lele padamu💋💋💋